Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
[POV Ricky] Mulai Terbiasa


__ADS_3

Sore itu sepulang dari kantor proyek, aku tidak melihat motor Guru manis itu terparkir di depan rumahku, biasanya dari sebrang jalan, sudah terlihat motor itu, dan biasanya aku selalu menunggunya keluar sambil melihat wajahnya dari kejauhan.


Akhirnya aku masuk kedalam rumahku, Kezia dan Nando nampak sedang belajar sendirian tanpa guru itu.


"Kezia...Nando...kalian belajar sendiri? Dimana Bu Lika?" Tanyaku. Mereka menggelengkan kepalanya.


"Tidak tau Pa...biasanya ibu guru udah datang jam segini..." Jawab Kezia.


"Ya sudah...mungkin Bu guru sibuk..paling besok juga dia datang...kalian tenang saja..." Kataku berusaha menghibur.


Keesokan harinya, Bu Lika juga tidak datang kerumah, hatiku mulai bertanya-tanya. Tiba-tiba aku merasa kehilangan sosok itu, padahal aku baru bahagia bisa mengajaknya dinner waktu itu.


Sampai satu Minggu Bu Lika tidak datang ke rumah, aku tanya Nando, Nando bilang gurunya sedang sibuk. Ah, apakah guru itu mulai bosan mengajari anak-anakku? Atau aku dan anak-anak yang mulai terbiasa dengan kehadirannya?


Akhirnya aku beranikan untuk menghubungi ponselnya, hati ini juga sangat rindu mendengar suaranya.


"Maaf Bu Guru...anak-anak bilang, sudah beberapa hari ini ini Bu guru tidak datang...anak-anak sangat membutuhkan ibu guru...maaf...untuk bayarannya saya akan bayar di muka...yang penting anak-anak bisa belajar Bu..." Mohon ku pada guru itu.


"Maaf Pak, bukan karena itu..." Jawabnya.


"Lalu kenapa? Apa Bu guru sudah bosan?"


Ah, kenapa aku jadi negatif thinking begini sama Bu Lika. Kenapa aku harus memaksa dia datang kerumahku?


"Begini Pak...saya dapat surat peringatan dari sekolah, karena telah melanggar aturan dari sekolah..." Tuturnya.


Aku terkejut mendengar pengakuannya, ya...ya...aku ingat, sekolah memang tidak memperbolehkan guru mengajar private ke murid. Bahkan guru manis ini rela berkorban untuk kemajuan anak-anakku, kini dia dalam masalah mendapat surat peringatan dari sekolah.


Tiba-tiba aku begitu geram terhadap sekolah, berani-beraninya dia memberikan guru itu surat peringatan.


Bahkan menurutnya, ada orang yang sengaja mengambil foto kami saat kami dinner beberapa waktu lalu, dan kini foto kami ini sudah viral dan menjadi perbincangan banyak orang.

__ADS_1


"Besok aku akan menghadap kepala sekolah..." Tegasku.


Bu Lika nampak ketakutan, bahkan dia menyarankan aku mencari guru pengganti buat anak-anakku. Tentu saja aku tidak mau, aku hanya menginginkan dia yang menjadi guru anak-anakku.


"Bu guru...maukah ibu keluar dari sekolah itu dan khusus mengajari anak-anakku? Aku akan bayar dua kali lipat dari gaji yang ibu terima dari sekolah ini..." Kataku serius.


Guru manis itu nampak shock, tapi yang lebih menyakitkan dia menolak tawaranku.


Aku langsung naik pitam,aku tidak ingin kehilangan guru itu hanya karena masalah sepele, besoknya kuputuskan untuk datang kesekolah menghadap kepala sekolah untuk membicarakan masalah ini.


Bu Lika mati-matian mencegahku untuk datang kesekolah, tapi aku tidak perduli, selain bertemu dengan kepala sekolah sebenarnya aku juga sangat ingin melihatnya, kangen.


Pagi itu aku sangat cepat mengantar anak-anak ke sekolah, bahkan banyak guru dan murid yang belum datang. Dari kejauhan aku sudah melihatnya sedang celingukan di dekat ruang kepsek. Aku berniat menggodanya dengan mengagetkannya.


"Pagi Bu Guru...!" Sapaku.


Dia sangat kaget saat menoleh ternyata aku sudah ada di belakangnya. Ekspresinya sungguh sangat menggemaskan. Wajahnya bersemu merah.


"Pak Ricky? Ngapain kesini pagi-pagi?" Tanyanya cemas.


"Kan sudah kubilang semalam, aku mau menghadap kepala sekolah..." Sahutku enteng.


Aih, dia nampak ketakutan. Padahal aku hanya ngobrol biasa dengan Pak Johan, sambil ku gertak supaya jangan memberikan surat peringatan itu lagi, dan pak Johan pun menyetujuinya.


*********


Siang itu saat aku memantau perkembangan proyek perumahan di kota ini, perkembangan perumahan ini di luar dugaan, mungkin karena di peruntukan bagi kaum menengah, banyak orang yang sudah boking sehingga dari proyek ini aku meraih banyak keuntungan.


Aku memantau gambar plan yang di buat oleh Bayu beberapa waktu lalu, daerah ini akan memiliki prospek bagus karena akses tol dalam yang membuat daya jual meningkat.


Sayup-sayup aku mendengar suara marketingku dari arah belakangku. Saat aku menoleh ternyata bidadariku sudah berdiri dengan wajah terkejut melihatku.

__ADS_1


"Pak Ricky!" Seru guru itu kaget. Aku tersenyum melihat kedatangannya. Ah, jodoh memang tak kemana.


"Lho...Bu guru ada di sini?" Tanyaku berpura-pura terkejut, padahal dalam hati aku sangat senang.


Aku langsung menyambut ramah gadis manis itu, menyuruh marketingku untuk memberikannya minuman dingin, sungguh hatiku bagai mendapat durian runtuh.


Ternyata guru manis ku ini ingin mengambil rumah dengan tipe yang paling minimalis, entah kenapa hatiku begitu sedih, dia dengan mengandalkan uang hasil gusuran rumah berusaha untuk mendapatkan rumah yang lebih baik walaupun dengan luas yang menurutku tidak layak untuk dia dan keluarganya.


Sedangkan aku, properti ku ada di mana-mana, mau model dan ukuran apa saja aku pasti bisa, karena memang aku developernya, tapi sepertinya Lika tidak menyadari itu.


Aku berjanji padanya untuk memberikan dia kemudahan, dan merekomendasikan ukuran rumah yang lebih besar, dia nampak ragu-ragu, menimbang-nimbang biayanya, dari sorot matanya, aku tau dia sangat ingin mengambil rumah yang aku tawarkan. Rasanya aku ingin memberinya langsung rumah gratis untuknya, tapi tidak..aku harus bermain halus untuk mendapatkan hatinya. Dia bukan wanita kebanyakan yang melihat dari sisi uang.


Setelah kami selesai berbincang, dengan senang hati aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Namun dia menolak ku dengan alasan takut soal tumor yang beredar di sekolah.


Ah, aku muak dengan rumor murahan itu, tanpa sadar aku mengatakan ingin mewujudkan rumor itu menjadi kenyataan, dia sangat kaget mendengarnya.


Dadaku bergetar melihat wajahnya yang bersemu merah menahan malu, mungkinkah dia punya getaran yang sama terhadapku? Kenapa aku begitu cepat mengutarakan maksud hatiku, dengan alasan anak-anakku yang menginginkannya, padahal aku yang sangat membutuhkannya.


Saat dia akan berbalik dan melangkah pergi, tanganku menahan tangannya, sehingga mata kami saling bertatapan. Gemuruh dalam dada semakin kuat berguncang.


"Beri aku kesempatan untuk mengenalmu Bu guru..." Ucapku dengan tatapan yang masih tajam menatapnya, dia menundukkan wajahnya. Makin menggemaskan.


Aku semakin penasaran terhadapnya, meskipun dia berusaha menolakku.


"Tidak Pak...aku seorang pendidik, tidak pantas rasanya..." Oh, suara itu sungguh-sungguh menggetarkan hatiku.


Aku terus menatap wajahnya dengan segenap keberanian ku, dia makin salah tingkah. Wajahnya makin memerah, mungkinkah dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, aku sangat berharap akan hal itu.


Ya Tuhan, saat ini aku yakin bahwa aku sedang jatuh cinta padanya, pada seorang guru sederhana yang berdiri di hadapanku itu.


"Aku mau kita mencobanya...." Ucapku dengan penuh keyakinan sambil terus menatap hangat wajahnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2