
Pagi itu di meja kerja Lika, ada sebuah kotak berwarna pink dengan pita warna biru, terletak dengan indahnya di meja yang biasanya kosong itu.
Perlahan Lika, mendekati kotak itu, lalu membukanya pelan-pelan, ternyata ada beberapa coklat yang cantik beraneka bentuk yang begitu menarik. Di atas kotak terselip sebuah surat kecil.
Untuk yang selalu di hati...
Memberikan kesejukan batin
Bagai cahaya mentari
Menyinari ruang jiwaku...
Lika tersenyum membaca surat kecil itu, dia terus berpikir siapa yang mengiriminya surat dan coklat itu.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru Lika.
Pintu ruangan Lika terbuka, masuklah Wati dengan membawa beberapa berkas.
"Bu Lika...ini tolong di bagikan ke tiap kelas...pak Ferry yang suruh..." Kata Wati. Kemudian dia melirik ke arah meja Lika.
"Wow...coklat...dari siapa Bu?" Tanya Wati ingin tahu.
"Entahlah...aku juga bingung...lihat nih Bu...suratnya puitis banget..." Jawab Lika sambil menunjuk secarik kertas.
"Jangan-jangan dari pacarmu Bu..." Tebak Wati.
"Tidak mungkin...ini hanya satu kotak...tidak ada alamat atau apa...pasti orangnya dekat...dan biasa keruangan ini...hmm...jadi penasaran..." Gumam Lika.
"Udah deh Bu...mendingan kita makan saja coklatnya...dari pada di anggurin..." Ujar Wati sambil mencomot satu dan memasukan ke mulutnya.
"Ambilah sesukamu...aku mau ke kelas dulu membagikan ini ...nanti pak Ferry marah lagi..." Kata Lika sambil beranjak dari tempatnya, sedangkan Wati masih mencomot beberapa coklat kemudian berlari kecil menyusul Lika ke luar.
**********
Pada saat menjelang malam, di meja makan, Lika, Lia dan Nenek sedang makan bersama. Kesehatan Nenek semakin membaik, bahkan kini dia sudah bisa masak dan tertawa.
"Nek...aku senang Nenek semakin sehat, karena... beberapa hari lagi Pak Ricky dan anak-anaknya akan ke Jogja..." Ucap Lika.
"Hah...yang bener kak? Wah...bakalan rame nih...gimana ya sekarang anak-anak itu? Kangen....sudah lama gak ketemu..." Ungkap Lia senang.
"Kamu beneran serius dengan Pak Ricky?" Tanya Nenek.
"Iya Nek..." Jawab Lika singkat.
"Sudah kau pikirkan baik buruknya?" Tanya Nenek lagi.
"Sudah Nek...Aku selalu aman dan nyaman kalau ada dekat dia...walaupun tantangan akan selalu ada...aku lihat pak Ricky begitu sungguh-sungguh terhadapku..." Ungkap Lika.
__ADS_1
"Duh...yang lagi jatuh cinta...kalah nih yang ABG ..." Ledek Lia.
"Berisik!!" Ketus Lika.
"Nenek doakan kau mendapatkan kebahagiaanmu Lika..." Ucap Nenek.
Tok...tok...tok...
Tiba-tiba pintu rumah di ketuk, spontan ketiganya segera menoleh ke arah pintu, Lia dengan sigap membuka pintu rumah itu.
"Oh...pak Ferry...kepala sekolah....masuk Pak...kakak!! Ini ada pak Ferry datang!!" Seru Lia sambil beranjak ke belakang.
Kemudian Lika segera menyelesaikan makannya dan dengan cepat berjalan ke depan menemui pak Ferry.
"Selamat malam Pak...maaf tadi aku sedang makan...ada kabar apa ya pak?" Tanya Lika.
"Lika...ada yang ingin aku bicarakan penting...bisakah ikut aku keluar sebentar?" Ucap Pak Ferry.
"Oh...baik pak...aku pamit dulu dengan Nenek...." Lika beranjak dari duduknya dan setelah mereka pamit, mereka segera pergi ke luar dengan mobil pak Ferry.
Pak Ferry mengajak Lika ke sebuah restoran yang cukup ramai di kota itu, lalu mereka duduk dan memesan minuman hangat.
"Pak...ada apa bapak menemui ku? Apa ada masalah di sekolah?" Tanya Lika.
"Lika...apakah kau sudah menerima pemberianku?"
"Satu kotak besar coklat...apa kau suka?" Lika melotot mendengar pernyataan pak Ferry. Laki-laki dihadapannya bersikap sangat berbeda dari biasanya di sekolah.
"Jadi...jadi...itu semua dari bapak?" Tanya Lika tak percaya.
"Iya...Lika, aku tidak suka basa basi...aku jujur sangat menyukaimu saat pertama kali kau datang ke sekolah...aku berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius denganmu...apakah kau bersedia?" Tanya Pak Ferry sambil menatap dalam wajah Lika.
"Pak Ferry...mohon maaf....aku tidak bisa..." Ucap Lika tertunduk.
"Kenapa? Selama ini aku mencari calon pendamping, dan kamulah yang cocok jadi calon pendampingku...aku masih muda, sepadan denganmu...profesi kita sama...menjunjung tinggi pendidikan...apa lagi?" Ungkap Pak Ferry. Suaranya mulai bergetar.
"Tidak pak...aku tidak bisa..." Sahut Lika. Lidahnya begitu Kelu untuk berbicara lebih lanjut.
"Katakan padaku...mengapa kau tidak membuka hatimu untukku? Semua guru mengatakan aku tampan dan berwibawa, tidakkah sedikit kau memandangku...?" Tanya Pak Ferry sambil menangkup wajah Lika, lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya ingin mencium Lika, dengan reflek Lika menampar keras pipi pak Ferry, pak Ferry terkejut, lalu melepaskan tangannya dan mengusap pipinya yang merah bekas di tampar Lika.
"Kalau bapak bilang menjunjung tinggi pendidikan, tak sepatutnya seorang kepala sekolah yang di segani dan di hormati berlaku seperti ini terhadap seorang guru...seorang yang berwibawa akan menjaga harkat dan martabat seorang guru, bukan mencoreng dunia pendidikan dengan hawa nafsunya...guru adalah teladan buat murid...teladan dalam segala hal, termasuk mengendalikan hawa nafsu...trimakasih atas pemberianmu...semua yang bapak beri sudah dimakan oleh Bu Wati dan murid-murid...maafkan saya...kalau bapak memberikan surat peringatan, saya sudah siap...!" Ungkap Lika sambil berjalan pergi meninggalkan pak Ferry yang masih termangu berdiri.
Lika terus berjalan menyusuri pinggir jalan Malioboro yang ramai, orang yang selama ini dia hormati sudah mengecewakannya.
Drrt....drrrrrt....drrrrt...
Suara getar ponsel Lika berbunyi dari dalam tasnya. Lika mengusap air matanya yang sempat menetes karena ulah pak Ferry.
"Halo..."
__ADS_1
"Halo sayang...kamu dimana? Aku sudah tak sabar menunggu Jumat Besok...anak-anak juga tak sabar..." Ternyata Ricky yang meneleponnya.
"Eh...ya...ya pak..."
"Kamu kenapa sih...aneh banget kok kurang semangat gitu..."
"Gak apa-apa pak..aku masih di jalan..." Sahut Lika.
"Oh...apa kamu sudah bilang ke Nenek maksud dan tujuanku?" Tanya Ricky.
"Sudah..."
"Lalu...apakah Nenek setuju aku melamarmu?"
"Iya...Nenek setuju..."
"Syukurlah...aku bahagia sekali...aku tidak ingin bertunangan dulu ya...aku mau kita langsung menikah...aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi..." Ucap Ricky.
"Iya Pak...cepatlah menikahi ku...supaya aku punya status dan orang lain tidak bisa sembarangan menggangguku...!" Kata Lika, dia teringat kejadian barusan yang ia alami dengan pak Ferry.
"Aku senang mendengarnya...akhirnya kau bisa agresif juga...aku sayang kamu..." Ucap Ricky.
"Hmm....ya sudah...aku mau pulang, minta mbok Narti membuatkanmu susu hangat ya..."
"Tidak...aku ingin kau yang buatkan untukku..."
"Hadeh...mulai lagi...sudah...aku mau pulang sekarang, ini sudah kemaleman..."
"Tunggu....cium aku dulu lewat telepon..." Pinta Ricky.
"No...nanti aja kalau bapak udah di sini...sudah ah...kapan pulang ya ngomong melulu!" Cetus Lika sambil mematikan ponselnya.
Tiba-tiba sudah ada seseorang yang berdiri di hadapan Lika.
"Hah? Pak Ferry!" Pekik Lika, dia mundur beberapa langkah.
"Bu Lika...aku minta maaf...aku khilaf..." Ungkap pak Ferry menyesal.
"Iya pak...sama-sama..." Balas Lika.
"Aku sangat menyesal...bolehkah aku mengantarmu pulang sebagai bentuk tanggung jawabku?"
"Maaf pak...sepertinya lebih baik saya pulang sendiri...trimakasih..." Sahut Lika yang kemudian langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pak Ferry, dan tak lama kemudian dia sudah menaiki sebuah angkutan umum.
************
Trimakasih Author ucapkan untuk segala dukungannya...🙏🙏🙏
Jangan lupa mampir ke karya Author yang lain ya ...
__ADS_1