
Lima hari kemudian Nenek sudah di perbolehkan pulang menjalani rawat jalan di rumah.
Pagi itu, Lika dan Lia membuat jadwal untuk menjaga Nenek bergantian.
"Lia...kakak kan ngajar pagi sampai sore...jadi kakak baru bisa jaga nenek di Jam 3 sore...kamu gimana?" Tanya Lika.
"Aku kuliah mulai jam 2 siang, jadi dari pagi sampai jam 1 aku yang jagain Nenek...tapi...diselang jam itu Nenek sendirian dong..." Ujar Lia.
"Tenang aja Lia...nanti kakak akan carikan perawat untuk Nenek..." Ucap Lika. Tangannya meraih tasnya lalu membawanya untuk berangkat kesekolah.
Lika mengayuh sepedanya cepat, kemarin kata Bu Wati, Pak Ferry mencarinya ketika Lika sibuk bolak balik ke rumah sakit mengurus neneknya.
Setelah memarkir sepedanya, Lika berjalan menuju ruangannya, ternyata Pak Ferry sudah menunggu di depan ruangan Lika.
"Selamat pagi Pak Ferry...maaf jadi nungguin saya..." Kata Lika.
"Oh...tidak apa-apa Bu Lika...gimana kondisi Neneknya?" Tanya pak Ferry.
"Nenek saya udah mendingan pak...sudah rawat jalan di rumah...oya, katanya ada yang mau bapak bicarakan ke saya?" Tanya Lika balik.
"Oh...itu Bu...Minggu depan, sekolah kita di undang untuk mengikuti seminar ekslusif mengenai psikologi anak...saya mau mengutus Bu Lika mewakili sekolah untuk datang menghadiri acara tersebut..." Jelas Pak Ferry.
"Di mana seminarnya pak?" Tanya Lika.
"Di Bandung..."
"Bandung?"
"Iya Bu...ini sudah dapat voucher menginap 2 hari dari sponsor...kesempatan bagus lho Bu...untuk menambah ilmu dan wawasan..." Jelas Pak Ferry.
"Saya pergi sendirian pak?"
"Tidak...saya yang akan mendampingi...bagaimana Bu Lika?"
"Hmm...nanti saya pertimbangkan lagi pak...mengingat saya harus bergantian dengan adik saya menjaga nenek saya..." Ujar Lika.
"Baiklah....saya tunggu kabarnya ya Bu... saya pamit ke ruangan saya dulu..." Ucap pak Ferry yang segera pergi kembali ke ruangannya.
Lika menimbang nimbang tawaran yang di berikan oleh pak Ferry, akankah dirinya akan menginjakan kakinya di Bandung lagi, walau sebenarnya hatinya mengatakan rindu untuk sekedar melihat kota itu, kota yang sudah dia tinggalkan.
"Halo Bu...slamat pagi...!!"
__ADS_1
Lika menoleh kaget, karena melamun tak sadar dengan kehadiran seseorang.
"Pagi...eh kamu Alex...rapi sekali hari ini..." Kata Lika.
"Iya Bu...mau sungguh-sunguh belajar, biar cepat lulus dari sini..." Sahut Alex.
"Wah...bagus Nak...fokus ke tujuan, jangan terganggu dengan hal-hal negatif di sekelilingmu...ayo semangat!" Ucap Lika sambil mengangkat kedua tangannya.
"Trimakasih Bu...aku masuk dulu ya..." Kemudian Alex segera berlalu dari hadapan Lika.
************
Siang sepulang mengajar, Lika menghentikan sepedanya karena tiba-tiba ban sepedanya kempes, lalu dia menuntun sepedanya berjalan kaki mencari bengkel sepeda.
Tin....tin....tin....
Suara klakson mobil mengagetkan Lika, dia menoleh, sebuah mobil sedan berhenti disampingnya.
"Sepedanya kenapa Bu? Ayo ku antar...!" Teriak Pak Ferry dari dalam mobilnya.
"Eh...ini pak...ban ku kempes...bapak duluan saja...aku mau cari bengkel!" Kilah Lika.
"Di sini tidak ada bengkel sepeda Bu...ayolah..." Tiba-tiba mobil pak Ferry berhenti tepat di depan Lika. Sehingga Lika terpaksa menghentikan langkahnya.
"Trimakasih Pak..."
"Iya Lika...nanti setelah kita ketemu bengkel, baru sepedamu di turunkan...sekarang biar kau pulang bersamaku..." Sahut Pak Ferry yang langsung membuka pintu mobilnya, akhirnya Lika naik juga ke mobil pak Ferry.
"Bu Lika..."
"Iya pak..."
"Di CV mu, aku lihat statusmu masih single...benarkah begitu? Apakah kau tidak punya pacar atau calon suami?" Tanya pak Ferry yang begitu to the point, sehingga membuat Lika menjadi salah tingkah.
"Eh...I...iya pak..." Sahut Lika canggung.
"Jangan sungkan padaku Bu...aku juga single...aku masih muda lho Bu...mungkin kita seumuran..." Kata Pak Ferry.
Tak lama kemudian mereka menemukan bengkel sepeda, dengan cekatan pak Ferry menurunkan sepeda Lika dan menaruhnya di bengkel itu.
"Sudah aman Bu...Ditunggu 15 menit selesai..." Kata Pak Ferry sambil mengibaskan debu di tangannya. Sementara menunggu sepeda selesai, mereka mengobrol di sebuah warung kopi di sebelah bengkel.
__ADS_1
"Maaf lho pak, saya jadi merepotkan bapak..." Ucap Lika.
"Ah...tidak merepotkan kok Bu...oya, bagaimana mengenai seminar di Bandung...Bu Lika tidak keberatan kan mewakili sekolah?" Tanya Pak Ferry.
"Tidak pak...saya akan ikut...oya, kalo bisa saya butuh guru perempuan pak buat menemani saya, jangan cuma kita berdua...tidak enak dilihatnya pak..." Kata Lika.
"Lho...tapi kan tiketnya cuma satu..."
"Tidak apa-apa...kami bisa sekamar berdua kok...asal jangan cuma kita yang pergi..." Jelas Lika.
"Hmm...baiklah....nanti ku atur...tuh sepedanya sudah selesai Bu..." Ujar Pak Ferry sambil menunjuk ke arah sepeda.
*************
Malam itu sebelum beranjak tidur, Lika meraih ponselnya yang ada di atas meja kamar, lalu dia mulai menekan nomor telepon mbok Narti.
"Halo..."
"Halo mbok....ini Lika, minggu depan aku akan ke Bandung...tapi cuma dua hari..." Kata Lika.
"Oh...Minggu depan ya...apa yang bisa mbok Narti bantu?" Tanya Mbok Narti.
"Aku kangen sama anak-anak Mbok...bisa tolong aturkan pertemuanku dengan Kezia dan Nando..."
"Bisa...bisa mbak...nanti mbok akan atur, wah...mereka pasti senang..." Sahut Mbok Narti.
"Iya mbok...aku juga udah kangen banget sama mereka..." Lirih Lika.
"Anak-anak juga mbak...mereka hampir tiap hari selalu menceritakan mbak Lika terus..."
"Mbak Sarah apa kabarnya mbok?" Tanya Lika.
"Ibu Sarah makin galak mbak...kasihan bapak dan anak-anak...mereka jadi tertekan...kalo untuk kesehatannya sih sepertinya belum ada masalah..." Jelas mbok Narti.
"Ya sudah...trimakasih infonya mbok...nanti aku kabari lagi...oya...tolong buatkan susu hangat buat bapak ya mbok...biar dia tenang..."
"Mbak Lika...kenapa selalu minta mbok untuk bikin susu hangat? Bapak mulai curiga mbak...kalo mbok buatkan susu, dia selalu tanya siapa yang suruh...mbok bingung mau jawab apa..." Kata Mbok Narti.
"Nggak apa-apa mbok...kalo dia tanya lagi, bilang saja tanyakan pada hatinya..." Ucap Lika.
"Mbok Narti mulai paham...antara mbak Lika dan pak Ricky... ada cinta yang saling terpendam..."
__ADS_1
Setelah telepon di tutup, Lika langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, entah kenapa hatinya mulai merasakan debaran aneh lagi seperti dulu.
'Sebenarnya aku kenapa sih...kangen sama anak-anak kenapa sampai berdebar begini? Kenapa wajah pak Ricky yang ada di pikiranku sekarang? Ah...sungguh menyebalkan!' Gumam Lika sambil menutup wajahnya dengan bantal.