
Semua persiapan telah rampung, tinggal menunggu hari H segera tiba, Lika, Lia dan Nenek juga sudah pindah kerumah baru itu.
Sore ini Ricky dan kedua anaknya serta kedua orang tuanya yang baru datang dari luar negri akan tiba di Jogja. Rencananya besok akan di langsungkan pernikahan Ricky dan Lika, memang agak terkesan mendadak karena ini adalah permintaan Ricky yang memang ingin segera menikahi Lika.
Saudara dan kerabat Lika juga sudah berkumpul di rumah itu untuk membantu persiapan pernikahan mereka.
"Lia...kau sudah siapkan kamar di atas kan untuk Pak Ricky dan keluarganya?" Tanya Nenek.
"Siap Nek...pokoknya mereka datang semua sudah ready...sementara kak Lika tidur sama Nenek dulu ya...kan belum jadi suami istri..." Jawab Lia.
"Ya iya lah...siapa juga yang mau tidur bareng!" Cetus Lika yang sedang menyantap makan siangnya.
"Jangan makan terus kak....nanti gak muat gaunnya...biasanya mau jadi pengantin kan diet dulu...ini kenapa makan melulu?" Celetuk Lia.
"Ah...dasar kau suka sekali berkomentar..." Sahut Lika.
Sore harinya rombongan keluarga Ricky sudah datang, Kezia dan Nando nampak antusias, ada orang tua Ricky, mereka adalah Tuan Hans dan Nyonya Mei.
Lika baru menyadari ternyata orang tua Ricky asli orang Taiwan. Pantas saja Ricky dan kedua anaknya kulitnya nampak putih bersinar. Mereka berkumpul dengan kebudayaan yang berbeda, namun semua dapat di lebur jadi satu oleh karena Cinta.
"Bu Lika...Oma sama Opa beliin kita hadiah banyaaak sekali..." Cerita Nando malam itu di pinggir kolam renang.
"Oya...senang dong kalian bisa berjumpa dengan Opa dan Oma..." Jawab Lika sambil mengusap rambut Nando.
"Iya...nanti kapan-kapan Opa dan Oma ajak kita main ke rumahnya...rumahnya besaaar sekali....dulu aku pernah kesana Bu..." Ungkap Nando dengan gembira.
"Lika..." Tiba-tiba Ricky sudah memanggil di belakangnya.
"Eh...Papa...kok Papa kesini? Mau ikutan ngobrol ya..." Cetus Nando. Ricky tersenyum sambil membelai kepala putranya itu.
"Nando bermainlah di dalam sama kak Kezia ya...Papa mau bicara sama ibu dulu..." Ucap Ricky lembut. Kemudian Nando segera berlari masuk meninggalkan mereka.
"Kau sudah makan belum? Kalau capek beristirahatlah...Seharian ini kau pasti sangat capek...apalagi di tambah besok..." Ucap Lika sambil memandang permukaan air kolam yang beriak kecil.
__ADS_1
"Kau sudah siap menjadi istriku Lika? Menjadi ibu dari anak-anakku?" Tanya Ricky sambil menatap dalam wajah Lika.
"Si..siap kok...cuma aku gugup saja...belum pernah begini..." Sahut Lika menunduk.
"Papa Mamaku sedang istirahat di kamar, nanti setelah mereka selesai istirahat, mereka mau bicara denganmu..."
"Ah...aku malu Pak...aku bingung mau ngomong apa..." Sahut Lika.
"Kenapa bingung? Mereka kan calon mertuamu..mereka cukup mahir kok berbahasa Indonesia..."
"Pak...aku sungguh deg degan menghadapi hari esok...malam ini aku pasti tidak bisa tidur..." Gumam Lika.
"Dan besok malam kau tidur bersamaku..." Tambah Ricky. Lika mencubit tangan Ricky.
"Bagaimana kabar mbak Sarah Pak...apa sudah ada beritanya?" Tanya Lika tiba-tiba.
"Di saat hari bahagia begini kau malah menanyakan dia...aku bahkan sudah tidak perduli dia mau menghilang atau tidak...malah lebih baik dia tidak usah ada kabar..."
"Jangan begitu Pak...kasihan Kezia dan Nando...mbak Sarah kan Mama kandungnya..." Sergah Lika.
"Jangan Pak...sabar dulu...malu dilihat orang..." Kata Lika sambil mengelap bibirnya dengan tangannya.
"Awas saja kau malam pertama nanti....aku tidak akan memberimu ampun..." Bisik Ricky lirih.
"Papa!" Panggil Kezia tiba-tiba dari belakang. Ricky dan Lika menoleh.
"Ada apa sayang?" Tanya Lika.
"Oma dan Opa memanggil Papa dan ibu ke kamar atas..." Kata Kezia.
"Oh...iya...kami segera ke atas Nak..." Ujar Ricky sambil menarik lembut tangan Lika menuju ke lantai atas.
Di sebuah sofa di depan kamar, di dekat balkon Tuan Hans dan Nyonya Mei sudah duduk menunggu Ricky dan Lika. Setelah mereka sampai di atas, Ricky membimbing Lika untuk duduk di hadapan orang tuanya.
__ADS_1
"Ricky...kami berharap pernikahanmu kali ini membawa kebahagiaan untuk kamu dan cucu-cucuku..." Kata Papa Hans.
"Iya Pa...ini pilihan Ricky yang terakhir..." Sahut Ricky.
"Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian...dan kamu Lika...trimakasih sudah dengan sepenuh hati mencintai putra saya dan cucu-cucu saya..." Tambah Mama Mei. Lika tertunduk terharu.
"Iya...saya berjanji akan mencintai mereka sampai akhir hidup nanti..." Ucap Lika sambil meneteskan air mata.
"Ini sebagai tanda cinta kalian...perhiasan warisan turun temurun...dulu waktu Ricky menikah, kami tidak memberikan ini...tapi sekarang...kau layak menerima ini semua..." Kata Mama Mei sambil menyodorkan sekotak perhiasan yang cahayanya menyilaukan mata, Sebuah kalung dari batu permata asli dan beberapa gelang dari batu giok.
"Trimakasih..." Ungkap Lika yang tak dapat lagi membendung air matanya. Ricky merengkuh tubuh Lika kedalam pelukannya.
************
Di sini, di sebuah ballroom hotel di kota Jogjakarta, Ricky dan Lika melangsungkan pernikahan mereka, diatas pelaminan itu, mereka berdua telah melabuhkan hatinya masing-masing dalam ikatan pernikahan suci. Tidak begitu banyak yang hadir, karena memang sengaja undangan di batasi. Intinya Ricky hanya mau menikahi Lika, bukan memamerkan kemewahan pestanya, Lika juga tidak mau pernikahannya besar-besaran, karena di dalam benaknya masih tersimpan tanda tanya besar mengenai keberadaan Sarah. Lika tidak ingin pernikahannya ini melukai pihak-pihak tertentu.
Ricky menggenggam erat tangan Lika, senyum kebahagian memancar dari wajah tampannya, akhirnya dengan perjuangan yang cukup melelahkan, ia berhasil mendapatkan cinta seorang guru itu.
"Aku bahagia sayang...bahkan tidak sabar menunggu malam nanti..." Bisik Ricky masih di atas pelaminan.
"Hush...jaga kata-katamu...bahkan tamu masih berdatangan kau malah membicarakan soal nanti malam..." Sahut Lika.
"Ah...lihat Kezia dan Nando...mereka kelihatan bahagia sekali...padahal dulu mereka selalu murung dan bersedih...ini semua berkat kamu guruku sayang..." Ucap Ricky.
"Sudahlah Pak...jangan ungkit masa lalu...yang penting mereka bahagia saat ini..."
"Kau terlalu....bahkan sudah menjadi istriku tetap saja memanggil bapak...apa aku setua itu kah?" Sungut Ricky.
"Habis...aku bingung mau panggil apa...kalo panggil Mas...aneh...kau bukan orang Jawa, mau panggil Abang lebih aneh...kalau Kakak...aneh juga...kalau panggil Koko...aku nya yang aneh..." Jawab Lika polos.
"Hahaha....terserah mau panggil apa saja asal jangan bapak...aku bukan bapakmu..." Cetus Ricky.
"Bagaiman kalau aku panggil Papa saja? Seperti Kezia dan Nando memanggilmu...Papa Ricky..." Kata Lika tersenyum.
__ADS_1
"Nah...itu aku setuju...apalagi kalau panggilnya ada embel-embelnya...misalnya Papa ganteng....papa sayang...papa cinta..." Ujar Ricky. Spontan Lika langsung meninju perut Ricky hingga pria itu meringis.
************