Pendekar Langit Yang Agung

Pendekar Langit Yang Agung
Ch-153. Pecahan Jiwa Yang Lainnya ( 1 )


__ADS_3

Ke esokan harinya.


"Kemarin kata Dewa Laut di sisi selatan ada tempat yang banyak Qi murni, jika begitu aku akan kesana dengan segera, bagaimana juga Qi ku ini sudah tercampur Surya Biru, jika ku menyerap Qi lebih murni maka Qi Surya Biru milikku akan cepat penuh dan dantian ku akan bertambah luas..."


"...dan juga aku penasaran, jika aku sudah menghancurkan patung para-para Binatang Tuhan apa yang terjadi ya? bukankah itu akan menjadikan darah Binatang Tuhanku menjadi menghilang?" ujar Lian Zheng seraya keluar dari kamarnya dan disambut oleh para pelayan di Istana.


"Tuan..." para pelayan segera membungkuk kan kepalanya.


Lian Zheng sedikit mengangguk kepalanya, kemudian ia berjalan ke arah aula yang sangat besar di ikuti oleh para pelayan, Lian Zheng mendapatkan Zhishu yang sedang duduk santai di kursi aula, ia kemudian mendatanginya.


"Yang Mulia..." Zhishu segera bangkit dari duduknya dan memberi salam pada Lian Zheng.


"Zhishu, siapkan aku beberapa Sumber Daya yang minimal berumur 100 tahun, dan juga kalian siapkan aku beberapa pakaian untuk sehari-hari..."


Lian Zheng tentu tau siapa didepannya karena sebelumnya ia dijelaskan oleh Zhishu dari semua hal tentang Istana sampai tentang Zhishu sendiri.


Zhishu yang mendengar itu kebingungan kemudian ia bertanya pada Lian Zheng, "Yang Mulia... hendak kemana? jika Yang Mulia ingin bermeditasi disini saja aku akan menyiapkan keperluan yang lebih dari itu semua..."


Lian Zheng menggeleng kan kepalanya dengan pelan kemudian menjawab, "Tidak, hanya saja aku memerlukan ketenangan yang lebih, dan juga aku ingin lebih mendapatkan pengalaman bertarung, aku akan ke sisi selatan dari sini, kemungkinan aku akan bermeditasi selama beberapa tahun atau mungkin lebih."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia, sesuai keinginan Tuan..."


Zhishu segera memberi kode pada pelayan untuk menyiapkan keperluan yang diucapkan Lian Zheng, dan juga Zhishu menambahkan lebih dari Lian Zheng pinta.


***


"Baiklah, aku akan pergi, kalian jagalah diri baik-baik..." Lian Zheng pergi melewati jalan yang diberikan Zhishu, sebelumnya juga Lian Zheng meminta saat ia berpergian ia tidak mau ada yang melihatnya dengan banyak.


"Yang Mulia jaga diri baik-baik..." ujar semua yang ada di halaman belakang istana.


Zhishu kemudian mendekati Lian Zheng dan berkata, "Tuan jika ada hal yang mendesak tinggallah Tuan meminta bantuan, di cincin penyimpanan itu terdapat artefak langka yang bisa tuan manfaatkan saat bermeditasi..."


"Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja, baiklah aku pergi dulu." ujar Lian Zheng sebelum melesat dengan kecepatan tinggi.


"Baiklah saatnya!"


Lian Zheng mempercepat laju terbangnya, benar perkataan Dewa Laut terdapat Qi Murni yang sangat berlimpah di hutan ini namun Lian Zheng cukup bingung kenapa tidak ada yang mengetahui harta Kultivator seperti ini.


Lian Zheng pun mendarat dari langit secara perlahan, ia merasakan aura aneh namun lembut menembus dirinya dan masuk begitu saja, Lian Zheng pun menyebarkan kesadaran spiritual nya lagi untuk melacak asal aura tersebut setelah dapat ia berjalan ke arah tujuannya.

__ADS_1


Setelah 15 menit berlalu, Lian Zheng akhirnya berada di asal aura aneh itu muncul, aura aneh itu bukan mengintimidasi namun ia memberikan kenyamanan, aura itu berasal dari suatu Goa yang terbilang cukup bersih tidak banyak lumut yang menempel pada goa itu.


Lian Zheng masuk ke Goa itu, Lian Zheng cukup bingung karena tidak ada satu pun binatang yang bersemayam pada Goa yang ia masuki, namun secara tiba-tiba Dewa Langit keluar dari tubuh Lian Zheng, Lian Zheng tersentak kaget.


"Tunggulah disini..." ujar Dewa Langit.


Lian Zheng mengangguk kecil, ia kemudian duduk disalah satu batu besar, seraya menunggu ia melihat isi cincin penyimpanan, pemuda itu pun melotot tak percaya dengan isi cincin penyimpanan yang diberikan Zhishu.


Setelah itu terlihatlah Dewa Langit yang membawa sesuatu ditangannya, walaupun Dewa Langit masihlah roh akan tetapi ia bisa memegang sesuatu, kemudian ia pun menunjukan pada Lian Zheng.


"Lihatlah aku menemukan Pecahan Jiwa yang lainnya disini, sungguh benar-benar kebetulan, dengan ini aku bisa mengingat apa yang terjadi saat perang itu dan langkah terakhir yaitu tubuh yang pantas untuk ku..."


"Benarkah guru?"


Dewa Langit sedikit mengangguk, ia kemudian menyuruh Lian Zheng untuk keluar dari Goa, setelah itu ia melihat Pecahan Jiwa yang berbentuk mangkuk emas ditangannya dengan mata yang berbinar-binar, setelah itu ia melakukan ancang-ancang untuk menyerap inti Pecahan Jiwa nya.


...****************...


See you in the next chapter

__ADS_1


Jangan Lupa Vote, Like dan Rating bintang 5 nya.


Maafkan author karna kemarin tidak upload, di RL ku banyak kegiatan, ini aja ku sempet" nulis, jadi maaf ya.


__ADS_2