
Sekarang Koji Cen ingin beranjak keluar dari penginapan itu dan melanjutkan tetapi dari arah belakang ada yang memanggilkan, terdengar suara berat dan serak dari pemilik penginapan tersebut.
Kakek paru baya tersebut memanggil Koji Cen yang hendak keluar dari penginapan, ia dengan segera menyuruh Koji Cen untuk duduk terlebih dahulu karena ada yang ingin ia bicarakan.
"Nak, Bisa ceritakan bagaimana kau melewati Hutan Kematian itu?"
'Hutan kematian? Pantas saja auranya negatif sekali'
"Hmm.. Aku juga tidak tahu kalau itu hutan kematian, tapi aku melawan banyak macan tutul disana."
"Sudah kuduga."
"Maksudnya Kek?."
"Ada berapa kira-kira kau melawan macan tutul itu"
"Mungkin 200 lebih."
Mendengar itu sang kakek tersedak ludahnya sendiri, karena dulu ia pernah juga melawan macan tutul itu namun tidak sebanyak Koji Cen lawan.
"Kau tahu? Disana terdapat kitab aliran sesat, Namun aku tidak tahu dimana letak kitab tersebut, Tetapi kitab tersebut Dijaga oleh tupai yang sangat perkasa."
"Kitab itu bisa kau lacak dengan aura negatif nya." Ucap sembunyi-sembunyi sang kakek.
"Tapi kenapa kakek membicarakan kepada saya?"
"Kau harus mengambilnya jika tidak peperangan akan segera muncul."
"Tapi kenapa kakek membicarakannya dengan bisik-bisik." Bisik Koji Cen
__ADS_1
"Kalau ketahuan dengan istri ku, tamat riwayat ku."
Mendengar hal itu, Koji Cen hampir ketawa karena ia merasa kakek tersebut seperti anak kecil yang sedang bergurau.
"Sao'er apa yang kau bicarakan ke anak muda itu" Ucap Dari istri kakek tersebut.
"Tidak!, Hanya obrolan lelaki saja"
Setelah berbincang-bincang ini dan itu, akhirnya Koji Cen melangkah keluar disusul oleh pria paru baya tersebut.
"Jangan lupa mengambilnya ya!"
"Ya, Setelah urusan ku selesai"
Koji Cen pun berjalan ke arah Sekte Gunung Kilat. Di tengah-tengah perjalanan ada seorang pria paru baya yang tergeletak di terik nya siang hari.
Koji Cen langsung menghampiri kakek tersebut dan membawanya ke gubuk kecil di seberang jalan.
Koji Cen langsung mengeluarkan pil obat dan meminumkan nya ke mulut kakek tersebut.
Setelah itu wajah kakek tersebut membaik, nafasnya yang teratur dan detak jantungnya kembali normal.
Setelah 3 jam kakek tersebut siuman dan kepalanya yang masih pusing.
"Air.. Airr..." Ucap serak kakek tersebut.
Mendengar jeritan kecil dari sang kakek itu Koji Cen langsung menghampiri nya dan mengeluarkan air dari cincin Samudra Langit nya.
Kakek itu langsung segera mengambil air yang ada di genggaman Koji Cen dan meminumnya, melihat hal itu Koji Cen tersenyum kecut karena itu air ialah persediaan terakhir nya.
__ADS_1
"Terimakasih kasanak, untuk air minumnya."
"Tongkat.. Tongkatku mana" Sambungnya.
"Disana" Ucap Koji Cen sambil menunjuk ke arah tongkat yang tergeletak ditengah jalanan.
Kakek tersebut langsung mengambilnya dan mengecek kantong-kantongnya. Setelah mengecek kantong nya ia tersenyum lega karena semua utuh seperti sebelumnya.
"Kakek mau kemana? biar kisanak mengantarkannya." Ucap Koji Cen.
"Ke Kota mading"
"Baik mari saya antar, Selagi searah dengan tujuan saya"
"Memang tujuan kamu kemana?."
"Sekte Gunung Petir."
"Untuk apa kau kesana" Tatap Tajam sang kakek.
"Untuk menemui kakek angkat ku."
"Oh begitu?, Siapa nama kakek mu itu?"
"Kakek Suxian" Senyum ramah Koji Cen.
"Benarkah? Si tua bangka itu punya cucu angkat?."
...****************...
__ADS_1
Maaf hari ini hanya bisa 1 Ch.
Jangan lupa Vote, Like Di setiap Ch nya, dan Rating bintang 5 nya🙏😉.