Pendekar Langit Yang Agung

Pendekar Langit Yang Agung
Ch-79. Ji Chen


__ADS_3

Sesampainya di gunung Sampirura, lalu Lian Zheng mencari goa yang cukup untuk dihuni olehnya.


Saat itu Lian Zheng terpikir jika ia kembali ke Cincin Samudra Langit namun Pecahan Jiwa menolaknya karena ia ingin melatih Lian Zheng di alam sekitar agar leluasa mengetahui keadaannya.


Shen Tian pun hanya menuruti dan mengikuti Lian Zheng lakukan, Ia tunduk penuh oleh dewa-dewi apalagi tuannya yaitu Lian Zheng.


"Sepertinya ini cukup..." ujar Lian Zheng dengan melihat goa yang cukup bersih.


Lalu Lian Zheng masuk kedalam goa tersebut ia menciptakan api ditangannya untuk menerangkan jalannya.


Setelah memeriksa lebih dalam Lian Zheng rasa goa tersebut cukup aman, Walaupun gelap gulita namun Lian Zheng bisa menciptakan obor untuk menerangkannya.


3 Jam kemudian, Lian Zheng sudah menata batu untuk tempat tidurnya, Pemuda itu sudah menangkap hewan liar yang sempat lewat di luar goa dan dijadikan santapan.


***


"Baiklah, Anak muda kau sudah cukup tau jurus ini, Cobalah sekarang!"


"Baiklah guru, Tapi apa tidak ada nama lain?"


Sudah 1 Minggu Lian Zheng memahami dan mendengarkan penjelasan jurus dari Pecahan Jiwa Dewa Langit, pemuda itu sudah menganggap Pecahan Jiwa Dewa Langit sebagai gurunya.


"Tebasan Pembelah Hati!"


Gelombang energi tak kasat mata melesat, gelombang energi tersebut berjumlah 10 sebenarnya harapan Pecahan Jiwa Lian Zheng harus menciptakan gelombang energi sebanyak 20.


Tapi walaupun percobaan pertama, Pecahan Jiwa cukup kagum karena Lian Zheng langsung menciptakan 10 gelombang energi dan itupun cukup terbilang kuat.


'Duaar!'


'Duaar!'


'Duaar!'


....


Dalam sekali tebasan puluhan pohon hancur berkeping-keping karena terkena gelombang energi yang tadi dihasilkan oleh Lian Zheng.


"Walaupun namanya cukup konyol tapi kekuatannya sangat kuat, Padahal tadi aku hanya sedikit menggunakan Qi." gumam Lian Zheng.


"Wajar, Karena Qi kau sudah tercampur oleh Surya Biru."


"Maksudnya guru?"


"Ya begitulah, Surya itu bersifat memberontak, bisa saja Surya itu bisa tercampur dengan tulang, darah dan Surya milikmu itu tercampur dengan Qi."


"Pantas saja tadi aku alirkan Qi kepada Fuu dan Gong berwarna biru."

__ADS_1


Lian Zheng pun mengangguk mengerti, Sekarang terjawab saat ia mengalirkan Qi berwarna biru itu.


"Baiklah jurus kedua." Lian Zheng pun mengangguk.


"Pukulan Cinta Pertama!"


'Wussshh!'


Gelombang energi berbentuk kepalan tangan melesat sampai menghantam beberapa pohon.


"Ah memang jurus yang kuat." puas Lian Zheng.


"Aku tidak menyangka jurus yang namanya konyol ini dibuat oleh Dewa nan agung..." sambung Lian Zheng.


"Hei! murid tidak tau diri!"


"Maaf guru, Baiklah sebaiknya ganti saja namanya!"


"Hei jurus ini aku buat bersama kekasihku, Yasudah aku tarik kembali ingatanmu agar lupa dengan jurusnya!"


"Ampun guru, Jangan... baiklah jurus ini sangat keren..."


"Hahaha..."


Sungguh konyol memang dengan nama jurus itu, pikir Lian Zheng. Saat hendak kembali kedalam goa.


"Jika kau tidak ada uang, Maka aku hanya membutuhkan usahamu saja."


Lian Zheng pun samar-samar mendengar keributan tersebut, pemuda itu menatap jalanan dari kejauhan, Terdapat seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang sedang dikejar oleh pria besar.


Lian Zheng pun berjalan mengendap-endap dengan menatap terus kejadian tersebut, Sebenarnya Lian Zheng cukup bingung karena terdapat manusia yang lewat di gunung tersebut.


"Huh..." gumam Lian Zheng.


Disisi lain pria besar tersebut mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, Pria besar tersebut cukup emosi karena anak laki-laki tersebut menendang masa depannya.


"Heh, Cepatlah jika tidak akan kupenggal palamu!" ujar pria besar.


Anak kecil itu ketakutan saat melihat pedang pria besar tersebut keluar dan juga anak kecil itu takut dengan ancam pria besar tersebut.


Anak kecil tersebut pun mulai merasakan jika penglihatannya memburam dan tubuhnya terasa lemas, Saat pria besar tersebut ingin memenggal kepala anak kecil itu seseorang pun menangkisnya dan mengalahkannya dengan mudah.


2 menit sebelumnya


Lian Zheng terus mengamati dari kejauhan, ia bersiap saat pria besar tersebut mengangkat pedangnya dan hendak menebas kepala anak kecil itu.


'Tranng!'

__ADS_1


Pedang pria besar hancur berkeping-keping, Pria besar langsung menatap tajam pemuda didepannya, Pemuda tersebut tidak lah lain Lian Zheng.


Lian Zheng tidak ingin membuang waktu, Ia langsung mengeluarkan api Phoenix biru dan mengkombinasi dengan jurus Pukulan Cinta Pertama.


Alhasil gelombang energi berbentuk kepalan tangan diselimuti api biru pun melesat dan mengenai pria besar itu.


'Duaar!'


Pria besar tersebut hancur, Namun anehnya tidak ada darah melainkan abu saja yang bertebaran.


Lian Zheng pun merangkul tubuh kecil dari anak kecil tersebut yang sudah kehilangan kesadaran nya.


***


"Apakah aku sudah disurga?"


Lian Zheng pun langsung berbalik arah dan menatap anak kecil yang sedang terbaring di batu besarnya.


"Tidak, Kau masih diberi kesempatan hidup." ujar Lian Zheng.


"Ha! Ampuni aku paman aku tidak ada uang..."


"Eh? Aku tidak seperti pria besar tadi, Aku menolongmu tadi."


Anak kecil itu pun mencoba mengingat dan ia teringat jika ada seseorang yang menolongnya tadi.


"Terimakasih paman, Terimakasih..."


"Ya,ya sekarang aku akan mengantarkanmu pulang, Ayo!"


Anak kecil tersebut pun langsung menunduk, Terlihat dari matanya seperti ada kejadian yang menyakitkan.


"Aku tidak ada rumah paman..." gumam sendu dari anak kecil itu.


"Baiklah, Namamu siapa?"


"Ji Chen..."


"Baiklah Ji Chen, Jangan bersedih lagi paman mu ini akan merawatmu oke?"


Ji Chen pun mengangkat kepalanya ia sangat senang masih ada yang peduli padanya, Ji Chen sendiri ialah anak dari keluarga menengah namun pada saat itu keluarganya dibantai abis oleh sekelompok aliran hitam dan tersisa dirinya sendiri.


"Oke paman." ujar Ji Chen dengan mengacungkan jempolnya.


...****************...


See you in the next chapter

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like semua chapternya dan Rating bintang 5 nya 😙, Sekian Terimakasih~


__ADS_2