Pendekar Langit Yang Agung

Pendekar Langit Yang Agung
Ch-98. Batu Bantuan Menyala


__ADS_3

Setelah beberapa jam menunggu di depan gerbang, akhirnya suara terompet peringatan pun berbunyi, tanda jika gerbang akan di buka.


Semuanya sudah menyiapkan alat pertarungan masing-masing, namun tidak dengan Lian Zheng pemuda itu tidak memegang apa-apa.


Walaupun begitu Lian Zheng tidak pernah meremehkan lawannya sekalipun karena ia percaya jika masih ada yang kuat daripadanya, buktinya ialah Shen Tian, pemuda itu sebenarnya merasa malu karena kekuatannya lebih rendah dari pada Shen Tian namun ia mempercayakan diri untuk menjadi yang terkuat.


Entah menjadi yang terkuat akan bisa menciptakan dunia yang damai dan indah atau tidak, semua itu tergantung dengan takdir tuhan.


'Dumm!'


Tanah bergetar hebat, membuat semua orang sedikit gugup karena mereka tau apa yang terjadi tanah bergetar, sampai akhirnya jutaan monster berwarna coklat kayu berlarian ke arah gerbang perbatasan.


Semua orang berlarian menyerang, Lian Zheng pun ikut serta pemuda itu memisahkan diri, agar ia leluasa melampiaskan kekuatannya.


Lian Zheng bisa merasakan jika ada monster dari radius meter yang mempunyai kekuatan yang kuat, namun tentu saja ia harus menghabisi monster jelek itu agar ia bisa mendapatkan kekuatan lebih.


Tanpa Lian Zheng sadari jika di dalam tubuhnya ada pergerakan aneh, dan juga pemuda itu sedikit merasakan sakit didalam hulu hatinya.


Lian Zheng mengayunkan pedangnya dengan lincah membuat dirinya seperti menari dan gerakannya juga seperti air yang mengalir tidak ada yang putus-putus.


Lian Zheng memang menggunakan teknik terlarang tersebut untuk membuatnya kuat namun ia nantinya harus menanggung resiko yang hebat, Lian Zheng juga jika ia di dalam area pertarungan maka dirinya juga akan kuat karena banyak sekali aura kematian yang keluar.

__ADS_1


'Slaassh!'


Sekali tebasan Lian Zheng bisa membunuh 3 monster sekaligus, hal itu membuat sedikit diperhatikan orang, namun mereka semua segera memberhentikan menonton Lian Zheng karena mereka tidak harus lengah.


Lian Zheng sangat fokus sampai-sampai monster menghampiri nya dengan jumlah yang sangat banyak, Lian Zheng pun akhirnya tertindih oleh ratusan monster karena ia sedikit lengah.


"Dasar satu-Hujan Petir Naga Langit-!"


Tiba-tiba langit bergemuruh, awan hitam menutupi area lapangan luas serta banyak petir keluar dari awan hitam tersebut dan menyambar monster yang menindih Lian Zheng.


Akhirnya Lian Zheng terlepas dari dekapan para monster tersebut, tanpa ia sadari ia terlalu berlebihan membuat sebagian tanah menjadi kawah kecil karena ledakan petir Lian Zheng keluarkan tadi.


Semua orang pun tadi memperhatikannya, saat berselang lama akhirnya mereka tau jika petir-petir tadi milik dari ras manusia.


Lian Zheng sudah menebas ribuan kepala monster kayu dan monster perak, tentu itu membuat tingkat kultivasinya menaik dengan cepat, kini pemuda itu sudah di tingkat Dewa Kuno.


Tingkat misterius dimana tingkatan tersebut belum diketahui oleh semua orang hanya saja diketahui oleh orang-orang hebat, monster emas dan kristal tidak menampakkan diri membuat beberapa orang kecewa sedikit pasalnya jika ada seseorang yang dapat membunuh 5 monster emas dan 2 monster kristal akan mendapatkan harta yang besar atau pedang pusaka tingkat tinggi.


Sekarang sudah menjelang malam, sedikit lagi monster tingkat kayu dan perak akan habis, namun tentu saja esok harinya akan datang lagi seolah mereka mempunyai reinkarnasi yang banyak.


Saat semua selesai, monster yang berserakan menjadi abu dan bertebangan, bahkan darah para monster pun menjadi abu dan untuk para kultivator yang gugur semuanya dikubur dengan cara terhormat, mereka dikuburkan secara massal.

__ADS_1


Lian Zheng kembali ke tenda kelompok Elang Emas, saat sampai di tenda yang besar Lian Zheng melihat semua orang begitu kelelahan namun mereka memasang ekspresi ceria.


"Apa yang kalian pegang?" tanya Lian Zheng melihat batu dengan angka tertentu.


Lian Zheng tidak tau fungsi batu tersebut, sebelumnya juga ia tidak mendapatkan batu tersebut.


"Ini batu penghitung, untuk menentukan berapa monster yang mati ditangan kalian." jawab Ku Liang.


Ku Liang sempat bingung karena Lian Zheng tidak ada batu penghitung di tangannya lalu ia bertanya, "Saudara Lian apa kau mendapatkan nya?"


Lian Zheng menggelengkan kepalanya sedangkan Ku Liang menepuk dahinya ia terlupa membagikan batu penghitung pada Lian Zheng.


"Maafkan aku..." ucapnya sambil menyodorkan batu penghitung ke Lian Zheng.


Lian Zheng hanya menerima dengan senyuman kecil, tenagh malam pun tiba semua orang tertidur untuk membasmi monster esok harinya nanti.


Saat Lian Zheng ingin tidur, ia melihat jika batu yang terhubung oleh batu bantuan menyala terang, tanda jika ada yang sedang diserang atau nyawanya terancam.


...****************...


See you in the next chapter

__ADS_1


Jangan Lupa Vote, Like dan Rating bintang 5 nya.


Note : Novel ini terinspirasi oleh Novel-novel yang terpopuler dari readers, Mohon bantuannya!


__ADS_2