
Setelah beberapa jam akhirnya tersisa 10 peserta, Wasit memanggil 10 peserta tersebut untuk naik ke atas panggung.
Setelah semua naik ke atas panggung, 10 peserta tersebut disuruh untuk mengambil masing-masing 1 stik, Yang dimana 1 stik tersebut akan berisi nomor ada yang tidak. Bila ada peserta yang mendapatkan stik yang tidak ada nomor makan peserta tersebut akan langsung lolos dan otomatis akan menjadi perwakilan sekte.
Setelah mengambil masing-masing, Koji cen mendapatkan nomor ke 4 distiknya dan Chao Guo tidak ada nomor di stiknya berarti Chao Guo otomatis akan lanjut dan menjadi perwakilan sekte.
"Siapa yang mendapat stik tidak bernomor?" Tanya wasit.
Chao Guo langsung mengacungkan diri dan setelah itu ia disuruh untuk duduk menonton pertandingan atau beristirahat di ruang istirahat sendiri.
Chao Guo sendiri memilih menonton pertandingan Koji Cen, Karena Chao Guo sendiri sangat ingin tau jenis teknik apa saja yang dipakai Koji Cen.
Setelah pertandingan pertama selesai dan Yin Su memenangkan pertandingan tersebut, Koji Cen naik ke atas panggung karena nomor distiknya disebutkan oleh wasit.
Setelah wasit menyatakan pertandingan dimulai entah lawannya langsung angkat berbicara dan berkata 'Aku menyerah'.
"Hah, Padahal aku penasaran teknik apa yang digunakan saudara Cen." Ucap Chao Guo.
Koji Cen juga menghela nafas Dan duduk disamping Chao Guo.
Setelah semua pertandingan selesai, akhirnya ada 5 peserta yang akan menjadi perwakilan diantara lain, Yin Su, Chao Guo, Koji Cen, Wen Lie, dan Xue Yien.
Ke esokan harinya para tetua berkumpul kembali diruang rapat seperti kemarin, Setelah patriak sudah datang para tetua memberi hormat dan duduk kembali.
"2 Bulan lagi Seleksi muda-mudi perwakilan sekte ke pusat kota, Mohon untuk para guru yang pesertanya masuk untuk perwakilan sekte melatih lebih keras lagi." Ucap Tetua agung Xim Bai.
__ADS_1
Semua para tetua mengangguk dan Tetua agung Xim Bai kembali menjelaskan, Jika yang akan mengawal para murid sekte perwakilan ialah dirinya sendiri.
Dihalaman belakang sekte
Koji Cen sedang berlatih pedang dihalam belakang sekte.
"Saudara Cen!" Panggil Chao Guo.
Koji Cen menoleh ke arah sumber suara tersebut dan tersenyum ramah.
"Saudara Cen, Apa mau dilanjutkan latihan ketangkasan pedangnya?"
"Baiklah."
Koji Cen mengambil batang kayu dan begitu pula dengan Chao Guo ,Mereka tetap diam belum ada yang menyerang.
Chao Guo yang melihat lawan tandingnya bergerak maju, Ia langsung mengambil kuda-kuda.
Koji Cen yang melihat banyak celah pada Chao Guo langsung saja pemuda itu bergerak dan mengambil celah dengan mudah, dan pemuda itu langsung menghunuskan pedang kayunya kepada batang leher Chao Guo.
"Saudara Chao, Kamu terlalu banyak celah."
"Hah memang aku tidak berbakat pada pedang, Saudara Cen bisa ajarkan aku menggunakan pedang dengan baik?"
"Emm gimana yah... Oke kalau begitu."
__ADS_1
Terima Koji Cen.
Koji Cen duduk di atas batu besar lalu ia menjelaskan gerakan-gerakan yang salah pada Chao Guo.
"Pegang pedang dengan kuat, Lalu kecoh lawan dengan lari zig-zag dan jika perlu kamu pakai teknik ilusi mu mungkin itu akan membantu saudara Chao."
"Emm... Aku akan maju, Anggap saja aku lawanmu dan pertama-tama kamu lari zig-zag untuk mengecoh lawan jika lawan sudah terkecoh itu ialah celah untuk menggunakan teknik ilusi, Sehabis itu kamu kunci pergerakan ku dengan teknik ilusi ,Lalu arah kan pedang ke lawan, Itu sangat mudah saudara Chao."
Chao Guo mengangguk dan langsung mempraktikkan kepada Koji Cen.
Mereka berdua berlatih sampai lupa waktu, Matahari sudah mulai terbenam dan Chao Guo sudah lelah.
"Saudara Cen, Terimakasih atas bimbingannya."
"Tidak apa-apa saudara Chao, Ingatlah dengan kata-kata ku jangan terpengaruh dengan emosi, Amarah atau emosi anggaplah hanya sebuah beban."
"Baik saudara Cen akan ku ingat kata-kata mu."
Setelah itu mereka berdua balik ke ruang istirahat masing-masing.
...****************...
Jangan lupa
Vote
__ADS_1
Like
Rate bintang 5 nya😉👍