
"Ayo cepat tunjukan dimana goa yang kamu maksud itu Chao Guo!."
"Ba-baiklah." Ucap terbata-bata Chao Guo.
Akhirnya setelah suasana hati nya Chao Guo tenang mereka bertiga menuju ke arah goa.
Setelah sampai didepan goa Chao Guo dan Yin Su merasakan seperti ada tekanan berat di pundak mereka masing-masing.
"Koji Cen, Yin Su , Apa kalian merasakan sesuatu?." Tanya Chao Guo.
"Ya, aku merasakannya."
"Tidak, Tetapi aku merasakan aura yang nyaman sekali."
Chao Guo dan Yin Su langsung menatap Koji Cen dengan tatapan yang sulit diartikan.
Disisi lain, didalam goa.
"Aku merasakan aura seperti yang mulia."
"Kau jangan berkhayal, Yang mulia sudah punah 100 juta tahun yang lalu."
"Diam, Kau baru hanya hidup 1000 tahun saja sok tahu, Aku sebagai mantan prajurit yang mulia bisa merasakan auranya."
"Benarkah?, Dari mana aura itu berasal."
"Dari luar goa ini."
Dua sosok yang sedang berbicara itu segera menuju keluar goa untuk memastikan aura yang dirasakan oleh salah satu dari mereka.
Disisi lain, Chao Guo dan Yin Su merasakan bertambahnya beban yang ada di pundak mereka seperti ditimpa oleh batu besar yang beratnya ber ton-ton.
Bruk
Bruk
Chao Guo dan Yin Su pingsan seketika.
__ADS_1
"Apa yang terja-" Ucap Koji Cen yang segera melihat dua ular besar yang keluar dari goa tersebut.
"Siapa kau." Tanya salah satu ular yaitu Fuu.
Koji Cen terkejut dengan Fuu karena bisa berkomunikasi memakai bahasa manusia, biasanya siluman yang bisa memakai manusia itu sudah berumur 1000 tahun. Sebenarnya Fuu berumur jutaan tahun jadi tidak heran ia bisa berbicara memakai bahasa manusia.
Dua ular itu saling bertatapan dan berkomunikasi memakai jiwa Batin mereka masing-masing.
Jiwa Batin biasanya dipakai oleh seseorang untuk berbicara kepada orang lain dengan batin mereka masing-masing, Biasanya Jiwa Batin dipakai oleh seseorang yang sudah pendekar tingkat raja.
'Aneh sekali, Pemuda satu itu tidak tertekan oleh aura kita? apa dia sudah di tingkat suci?'
Tanya Fuu kepada temannya memakai Jiwa Batin.
'Tidak, Mungkin dia memakai artefak langka untuk menekan aura kita.' Ucap temannya yaitu Gong.
'Untuk memastikan pemuda itu memakai artefak langka kita bawa masuk saja, Jika sudah di dalam pasti artefak itu pecah karena tertekan oleh aura darah yang mulia.' Ucap Fuu.
'Baiklah.'
Koji Cen yang melihat dua ular besar didepannya berubah menjadi manusia sangat terkejut karena jarang atau tidak ada siluman bisa berubah wujud ke manusia.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu." Ucap terbata-bata Koji Cen.
"Tenanglah." Seketika Fuu dan Gong membawa Koji Cen dan dua temannya kedalam goa.
Koji Cen yang dibawa dengan kecepatan sangat cepat hanya bisa menutup mata, Karena angin yang berhembus ke arah badan pemuda itu.
Sesudahnya di dalam Goa, Koji Cen merasa dantian nya seketika hangat dan nyaman. Dan seketika Koji Cen pingsan.
Tiba-tiba angin berhembus kencang dan masuk kedalam goa, Petir yang menjadi bertambah banyak menyambar Goa yang sedang di pijaki oleh Koji Cen.
"Lihat lah itu Fuu." Ucap Gong menunjuk Koji Cen yang sedang terbang di atas.
Benar, Koji Cen sedang terbang diatas langit dengan mata seperti ular dan berwarna hitam yang mengerikan, Diselimuti oleh aura hitam.
Seketika Koji Cen terbang ke sesuatu tempat.
__ADS_1
"Itu, Jangan sampai pemuda itu mengambil darah yang mulia!" Teriak Fuu, Seketika itu juga banyak ular yang keluar dari sela-sela goa dan membentuk dinding pertahanan memakai badan mereka masing-masing.
"Tenang saja Fuu, Pemuda itu pasti tidak bisa menerobos dinding pertahanan yang kuat itu." Ucap Gong.
Bamm
Suara ledakan dinding pertahanan hancur dengan mudah, Fuu dan Gong hanya bisa menatap tak percaya karena itu ialah dinding pertahanan yang di pelajari keduanya selama 100 tahun yang lalu.
Setelah itu Koji Cen melihat didepan terdapat buntelan kecil dengan isi botol berwarna hijau zamrud. Koji Cen langsung mengambil botol tersebut dan meresap isinya.
Seketika Gunung Petir diselimuti awan gelap dan Petir yang menyambar juga bertambah, Koji Cen yang sudah selesai meresap isi botol hijau zamrud tersebut seketika rambutnya berwarna Perak, Mempunyai buntut yang panjang berwarna hitam, Aura yang menyelimuti tubuh Koji Cen berubah menjadi baju perisai, Dan di kening pemuda itu terdapat garis hitam, ditambah dengan mahkota hitam.
Didalam dantian Koji Cen, Terdapat patung ular yang tumbuh dengan tegak dan mengeluarkan aura yang mengerikan.
Fuu dan Gong yang melihat itu perubahan wujud dengan segera mereka berdua berlutut.
"Ampun yang mulia, Ampuni hamba ini yang tidak mengenali yang mulia." Ucap serentak Fuu dan Gong karena mereka sudah tahu jika pemuda didepannya ialah raja mereka.
"Aku adalah raja kalian, Perintahkan pada Ras ular bahwa aku sudah kembali dan kalian juga harus patuh terhadap pemuda yang aku pakai raganya ini, Sebagaimana kalian patuh terhadap ku."
"Siap laksanakan yang mulia."
Disisi lain, Tepatnya Sekte Gunung Petir semua anggota melihat fenomena alam yang sangat menakutkan.
"Apa yang sedang terjadi dengan Gunung Petir."
"Aku tidak tahu, Semoga saja tidak ada hal buruk."
"Ya, Semoga saja."
Disisi lain, Tepatnya Alam Dewa , didalam Istana yang megah dan berkilauan emas, Dewa Semesta yang melihat kejadian di Gunung Petir dari kejauhan, langsung berdiri dan bergumam, "Darah pemimpin Ular Mahkota Hitam sudah menemukan tuannya."
Balik ketempat Koji Cen berada, Pemuda itu langsung kehilangan kesadarannya dan mendarat dengan kasar.
"Yang Mulia!." Ucap serentak Fuu dan Gong yang melihat Koji Cen jatuh.
...****************...
__ADS_1