Pendekar Langit Yang Agung

Pendekar Langit Yang Agung
Ch-49. Memahami Kitab Gerakan Kilat


__ADS_3

"Chao Guo, Yin Su kalian tidak apa-apa?." Ucap Koji Cen seolah tidak tahu apa-apa.


"Ya, Cuma saja aku sedikit pusing."


Ujar Chao Guo.


"Ya, Aku pusing juga." Ucap Yin Su.


"Baiklah ayo keluar dari goa ini, Seperti nya akan runtuh." Ucap Koji Cen sambil melihat sisi-sisi goa yang sudah menjatuhkan batu-batu kecil.


Chao Guo dan Yin Su mengangguk, Setelah keluar dari goa tersebut. Ternyata benar, Setelah beberapa saat goa tersebut runtuh dan mengakibatkan tanah longsor.


Dari sisi lain, Betapa terkejutnya patriak melihat 2 anggota murid sekte nya bersama Koji Cen keluar dari goa, apalagi goa tersebut yang mengeluarkan aura yang sangat menekan orang untuk tidak memasuki goa tersebut.


Dengan segera kakek Suxian selaku patriak menghampiri mereka bertiga, "Kalian, Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya kakek Suxian.


"Kakek?"


"Patriak?!" Ucap serempak Chao Guo dan Yin Su.


"Tidak apa-apa Kek, Kami disini han-"


"Tidak apa-apa nya, Lihat kamu terluka' dan Chao Guo, Yin Su lemas sekali, Cepat kembali ke sekte."


Memang Koji Cen terluka namun hanya luka ringan saja jadi ia tidak menghiraukan nya, Dengan segera mereka berempat kembali ke sekte.


Sesampainya di sekte, Banyak pasang mata melihat Chao Guo,Yin Su dan Koji Cen karena mereka bertiga keluar dari goa yang terlarang itu.


"Kalian urus tanah longsor untuk tidak menyebar ke arah sekte dan permukiman warga!"


"Baik patriak!" Ucap serentak tetua Sekte Gunung Petir.


***


Sehabisnya di ruang istirahat masing-masing, Koji Cen membersihkan badan sebentar lalu membuka Kitab Gerakan Kilat.


"Aku hampir lupa dengan Kitab ini."


Halaman 1 di Kitab Gerakan Kilat berisi,


Cepat lambat hanya sebuah ketentuan.


Pikiran dan akal hanyalah sebuah trik.

__ADS_1


Koji Cen bergumam, "Apa maksudnya?"


Tiba-tiba di alam sadar, Terdengar suara yang tidak asing, Yaitu suara patung Ular Mahkota Hitam.


"Biar saya jelaskan dari makna kata tersebut tuan."


"Baiklah." Jawab Koji Cen.


"Arti dari kedua syair tersebut ialah Cepat tentu sebuah ketentuan dan lambat hanyalah beban, Namun jika memakai pikiran dan akal pasti semua bisa diatasi."


Mendengar penjelasan tersebut Koji Cen mengangguk mengerti, Kemudian ia melihat dibawah syair tersebut terdapat gambar yang di gambar memakai tinta.


Koji Cen sesekali mempraktikkan jurus-jurus tersebut namun ia juga sesekali kebingungan karena dari gambar tersebut seperti menunjukan otak yang ada di kepala.


"Apa maksudnya gambar ini?" gumam Koji Cen.


"Itu artinya tuan jangan selalu mengandalkan kecepatan, Tuan juga harus sesekali memakai akal dan pikiran karena jika tidak memakai tuan akan tahu apa yang akan terjadi."


Koji Cen mengangguk mengerti dan bergumam, "Berarti Kitab ini tidak semua mengajarkan kecepatan, Tapi akal juga?"


"Benar tuan." Jawab Ular Mahkota Ular.


Koji Cen sekarang mengerti isi Kitab tersebut, Pemuda itu juga ingin mempraktikkan jurus-jurus nya di tempat latihan Sekte Gunung Petir agar leluasa belajarnya.


Setelah sampai di tempat latihan Koji Cen langsung mempraktikkan nya, Pagi terganti menjadi sore.


"Koji Cen!" Teriak Chao Guo.


"Saudara Chao!"


"Kamu sedang apa?" tanya Chao Guo


"Ah, hanya berlatih sebentar saja."


Jawab Koji Cen.


"Apa saudara Cen ingin berlatih ketangkasan dengan ku?" Tawar Chao Guo.


Koji Cen mengangguk dan melemparkan dahan kayu yang sudah terpotong sebagai pedang latihan.


"Saudara Cen hati-hati lah... "


"Mohon bimbingannya saudara Chao... "

__ADS_1


Setelah 5 menit terlihat dari wajah Chao Guo yang sudah lusuh, dan berkeringat.


"Sepertinya kita sudahi berlatih nya dulu saudara Cen,Kita lanjutkan besok lagi saudara Cen."


"Baiklah."


Chao Guo sendiri tidak percaya dengan dirinya karena kalah dari pemuda yang lebih muda darinya.


Setelah Chao Guo menghilang dari pandangannya, Koji Cen melanjutkan latihannya yang sempat berhenti tadi.


"Aku harus lebih kuat!" Gumam Koji Cen.


Tidak terasa matahari sudah tenggelam dan terganti menjadi bulan yang indah, Koji Cen berhenti setelah mendengar teriakan dari kakek Suxian.


"Cen'er sudah, Besok kamu bisa lanjutkan."


"Kakek?, Baiklah... "


...****************...


Terimakasih yang sudah vote novel saya :


- santri laras


- Sismanto S. Uka


- Narendra


- arema mlg


- Gito Chan


- Tengku Amir


- Wila


- hasan basri


- K4Z4MI-Kun


- Wizy Angrian


Terimakasih ya yang sudah Vote, like, rate bintang 5 nya😉.

__ADS_1


Waduh maaf kemarin ga up, Gara" Kemarin error di riview jadi ga up deh😔😑


__ADS_2