
BANDARA INTERNASIONAL, PUKUL 15.00 WIB.
"Hanna, tenang dan duduklah. Percuma kamu gelisah, hujan tidak akan berhenti secepat itu!" Ujar Agam lantang, Hanna menoleh dingin. Dia merasa Agam tak menenangkan hatinya yang gelisah. Malah Agam sengaja membuatnya semakin cemas.
Hanna merasakan kedua kakinya tak sanggup lagi berdiri di kota ini. Meski pergi dari kota ini, takkan pernah membuatnya bahagia. Banyak kenangan di kota ini, banyak cinta yang ditinggalkan. Hanya demi menghindari satu cinta. seorang Hafidz. Hanna tak ingin bertemu lagi dengan Hafidz. Tekadnya sudah bulat untuk melupakan Hafidz. Tak pernah Hanna ingin melihat Hafidz sakit hati dan memilih. Baik Hanna atau Hafidz, tak pernah ditakdirkan bersama.
Hanna berjalan bolak-balik di depan Agam dan Tika. Hanna gelisah sekaligus cemas, karena penerbangannya tiba-tiba di tunda. Hujan lebat turun dengan derasnya. Kilat menyambar tak henti-henti, cahayanya menyinari langit yang mendung. Suara petir terdengar nyaring, memecah kesunyian di bandara. Aktivitas yang semula sibuk, seketika terhenti. Kala langit mulai menangis tanpa henti. Memberikan rasa gelisah teramat di hati Hanna.
Sebuah kegelisahan akan pertemuan dengan Hafidz. Meski Hanna menyadari, tidak mungkin Hafidz menemuinya di bandara. Sebab Hafidz tak pernah tahu keberangkatan Hanna saat ini. Namun ketenangan Hanna terusik, kala dia teringat surat yang sengaja dititipkan Hanna pada Arkan. Dia takut Hafidz akan semakin yakin pada cintanya. Jika Hafidz mengetahui cinta Hafidz tak bertepuk sebelah tangan.
Meski Hanna tak pernah mengenal Hafidz. Namun Hanna memahami sikap keras dan pantang mundur Hafidz. Segala cara akan dilakukan Hafidz. Demi mendapatkan kepercayaan Hanna. Bahkan jika diperlukan Hafidz akan melawan bundanya yang tak pernah menyukai Hanna. Alasan yang membuat Hanna merasa harus menjauh dari Hafidz. Pergi sejauh mungkin dari tatapan penuh cinta Hafidz.
"Hanna, mama mohoh duduklah. Kamu akan tetap berangkat!" Ujar Tika, Hanna hanya menoleh. Tak ada yang mengerti kegelisahan Hanna. Bukan kepastian dia berangkat, tapi ketakutan Hafidz yang akan datang menemuinya di bandara.
Tika dan Agam tak habis pikir dengan Hanna. Mereka merasa Hanna tak lagi betah berada di kota ini. Seolah Hanna ingin menjauh dari pandangan mereka. Jelas tak ada kesedihan Hanna, malah sebaliknya yang terlihat. Hanna yang gelisah, takut kalau dia tak jadi pergi. Meski penerbangan Hanna hanya di tunda beberapa waktu. Tika dan Agam tak pernah menyadari, jika Hanna bukan menjauh darinya. Melainkan menjauh dari Hafidz, laki-laki yang mulai mengusik hati dan pikirannya.
"Hufff!" Suara ******* Hanna yang menunjukkan betapa gelisah hatinya. Sebuah ketakutan akan pertemuan yang nyata membuatnya bahagia kelak.
Terdengar helaan napas Hanna yang sedikit berbeda. Agam dan Tika tidak mengerti alasan gelisah Hanna. Namun helaan napas Hanna, jelas jawaban yang paling tepat. Jika ada yang sedang disembunyikan Hanna. Alasan yang membuat Hanna benar-benar gelisah dan bingung. Hanna tak lagi bisa berdiri tegak. Hanya pergi sejauh mungkin yang diinginkan Hanna saat ini.
"Sayang, kenapa putrimu sangat gelisah?" Bisik Agam, Tika mengangkat kedua bahunya pelan. Agam menghela napas pendek. Dia sudah menduga, Hanna tidak akan menceritakan apapun pada Tika.
Hanna tak pernah jujur akan gelisah hatinya. Hanya pada Arkan, Hanna sesekali bercerita. Bahkan hanya Arkan yang menyadari cintanya pada Hafidz. Semua seolah bersambut, ketika Tika memberikan kepercayaan penuh pada Hanna. Percaya jika Hanna bisa membedakan, mana yang benar dan salah? Sebuah kepercayaan yang didasari dengan tanggungjawab penuh. Bukan tanpa aturan yang membuat Hanna bersikap seenaknya saja.
"Sayang!" Bisik Agam mesra, Tika menoleh dingin. Tatapan dua bola mata Tika, menghipnotis Agam. Seketika Agam terdiam, bibirnya kelu tanpa bisa bicara. Tubuhnya terasa kaku, tak lagi bisa digerakkan. Tatapan Hanna membuatnya terhipnotis. Ada rasa kagum yang tak bisa dijelaskan. Sebuah cinta yang begitu besar dan indah. Abadi tumbuh di hati Agam hanya untuk satu nama. Kartika Putri Anggara, wanita bercadar penyuka senja.
"Mata yang selalu membuatku lemah. Saat jauh aku tak mampu melupakannya. Sedangkan sekarang, mata itu begitu dekat. Rasanya tak sanggup aku menahan hasrat cinta ini!" Batin Agam lirih. Tika terus menatap Agam, menanti kata yang terucap. Alasan Agam memanggilnya tadi.
"Kenapa diam?" Ujar Tika dingin, Agam langsung berdiri.
Dia memegang dadanya yang berdetak hebat. Jantung yang seakan ingin melompat dari tempatnya. Agam tak lagi bisa menahan hasratnya, kala dia melihat Tika bicara dengan mesra dan lembut. Kemesraan yang selalu Agam rindukan. Kelembutan Tika yang nyata membuatnya kalah. Agam tak mampu menolak pesona Tika. Sejak dulu sampai sekarang, hanya Tika satu wanita yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Teguh menggenggam cinta dan setia menanti hari bersama.
"Sayang, lebih baik aku mencari kopi. Jika tidak aku bisa stress duduk di dekatmu. Seandainya bukan Hanna yang akan pergi. Aku sudah membawamu pulang!" Ujar Agam dingin, Tika mendengarkan perkataan Agam dengan seksama.
Tika tak memahami arah perkataan Agam. Hanya dengan senyum simpul yang tak terlihat. Tika menanggapi perkataan Agam. Pribadi Tika yang tenang, selalu membuatnya terlihat acuh. Meski sesungguhnya Tika sangat peduli pada masalah yang terjadi. Tika tak pernah ingin membuat orang lain cemas. Setiap yang dia pikirkan selalu disimpannya sendiri.
"Untuk apa?" Sahut Tika heran, Agam tersenyum simpul. Hanna menoleh saat mendengar kedua orang tuanya bicara. Hanna menangkap rayuan maut Agam pada Tika. Sedangkan Tika begitu polos, tidak mengerti arti perkataan Agam.
Tika seolah tak pernah mengerti arti tatapan dan rayuan Agam. Kepolosan Tika yang lebih kepada sikap acuh. Terkadang membuat Agam lelah menunggu. Namun kepolosan yang sama, membuat Agam bertahan dan menyakini hanya Tika yang dia cintai selama ini.
"Mama polos atau bodoh!" Ujar Hanna lirih, Tika menoleh heran ke arah Hanna bergantian ke arah Agam.
Hanna menyahuti tanpa banyak berpikir. Dia merasa geram melihat Agam yang terus menggoda. Sedangkan Hanna hanya diam dan dingin menyahuti perkataan Agam. Hanna merasa ada yang selalu sama dari dulu. Sehingga tak pernah mudah Agam mengatakan cinta. Sikap Tika yang tenang dan acuh. Selalu membuat Agam harua memiliki hati yang besar dan kuat.
"Kalian bicara apa?" Sahut Tika bingung. Hanna menoleh seraya mengangkat kedua bahunya. Dengan tegas Hanna mengakhiri rasa ingin ikut campurnya. Hanna tak lagi peduli pada keromantisan Agam dan Tika yang berjalan timpang.
"Mas Agam jawab sekarang atau aku pulang tanpamu!" Ancam Tika, seketika Agam berjongkok di depan Tika.
Dengan tangan menangkup tepat di dada, Agam memohon pada Tika. Dia tak pernah ingin menggoda Tika. Apa yang dikatakan Agam nyata sebuah kejujuran? Namun kepolosan Tika membuat hasrat Agam tak beralasan. Tika tak pernah menyadari, sikapnya yang polos mengecewakan Agam. Sebaliknya besar cinta Agam, mampu membuat Agam bersabar menanti balasan cinta dari Tika.
"Aku bercanda!"
"Bicara atau aku pulang!" Sahut Tika, Hanna menggeleng tak percaya melihat sikap genit Agam.
Sebaliknya Tika terlalu polos dan seakan tak pernah tahu maksud perkataan Agam. Meski Agam terus merayu, Tika tidak dengan mudah memahami arah perkataan Agam. Sungguh hubungan yang penuh dengan pengertian. Tidak mudah menjalaninya, tapi terasa bahagia dirasakannya. Tika yang polos dan acuh, selalu mendapatkan kehangatan dari Agam yang haus akan belaian kasih sayang Tika.
"Aku ingin membawamu ke kamar. Kedua bola matamu membangunkan hasratku!" Ujar Agam lirih sembari tersipu malu.
Kedua bola mata Tika membulat sempurna. Sesaat setelah Agam mengatakan isi hati yang sebenarnya. Tika hanya mampu menggeleng lemah. Mendengar arti sikap Agam yang aneh sejak tadi. Meski jauh di dalam hatinya, Tika tak pernah keberatan akan pemikiran seperti itu. Namun mengatakan semuanya saat ini. Seolah bukan waktu yang tepat dan pantas.
Tika tak percaya Agam mampu berpikir sejauh itu. Meski mereka telah menikah kembali, tapi menjadi suami istri layaknya anak muda. Menurut Tika semua itu sudah tak lagi pantas. Hanna begidik ngeri melihat Agam yang berjiwa muda. Namun jauh di lubuk terdalam Hanna, ada rasa bahagia. Akhirnya penantiannya berakhir. Agam dan Tika bersatu kembali, meski harus melewati banyak rintangan.
__ADS_1
Impian kedua orang tuanya bersatu telah terwujud. Keluarga lengkap yang selalu diimpikannya telah tergapai. Tak lagi ada air mata penantian. Kini Hanna bahagia melihat kebersamaan Tika dan Agam. Meski terkadang Hanna takut, kebersamaan ini akan menghilang kelak. Namun Hanna selalu berdoa, agar semua berjalan demi yang terbaik.
"Sudah tua, jangan banyak berpikir. Aku tidak berminat dengan kehangatan itu. Jadi kendalikan pikiran mas Agam. Jika tidak kamu tidur sendirian setiap malam!" Sahut Tika dingin. Agam menghela napas panjang. Jawaban Tika memutus hasrat yang menggebu. Namun Agam bahagia, saat mengingat dirinya bukan lagi orang lain bagi Tika. Namun kini Agam telah resmi menjadi suami Tika.
"Tika, aku bercanda tadi. Jangan diambil hati!" Ujar Agam memelas, Tika berdiri tanpa peduli pada rengekan Agam. Hanna hanya bisa menggeleng melihat sikap kedua orang tuanya.
Hubungan yang seolah jauh dan terpisah. Namun nyatanya selalu dekat, sangat dekat. Lima belas tahun Tika dan Agam membuktikan abadi cinta itu. Rasa sakit dan air mata yang ada, tak lagi mampu membuatnya terpisah. Kini kebersamaan itu ada dengan sebuah kata satu. Pengertian dan saling memahami. Agar tak ada kesalahpahamam yang terjadi.
"Hanna, bantu papa bicara pada mama. Kamu yang tadi mengompori!" Ujar Agam, Hanna menggeleng dengan tegas.
Dia tidak peduli dengan Agam dan Tika. Sontak Agam menepuk pelan pelipisnya. Tak percaya Hanna bisa melakukan semua itu. Sebenarnya tanpa bantuan Hanna. Agam bisa menyelesaikannya. Namun semua akan semakin mudah, bila Hanna membantunya. Perkataan Hanna akan membuat Tika mengerti. Sebab Hanna juga yang membuat kedua orang tuanya bersatu.
"Papa yang memulai, papa sendiri yang harus mengakhiri. Sudah tahu, mama tidak suka diajak bercanda. Masih saja bersikap seperti itu!" Ujar Hanna acuh, Agam menggeleng tak percaya.
Namun yang dikatakan Hanna memang benar. Tika bukan wanita yang suka diajak bercanda, apalagi di tempat umum. Ketegasan Tika tak pernah tergoyahkan. Dia hanya akan peduli pada kesungguhan dengan pertanggungjawaban. Sikap Agam seakan tak pantas bagi Tika. Sebab semuanya dilakukan di tempat yang tidak tepat.
"Sudah diam semua, tidak perlu berdebat!" Sahut Tika dingin, lalu berlalu dari hadapan Agam dan Hanna.
Tika berjalan menjauh dari Agam. Menghentikan pembicaraan yang tak tentu arah. Lebih tepatnya Tika ingin menjauh dari sikap aneh Agam. Tika tak ingin larut dalam rayuan maut Agam.
"Sayang, kamu ingin kemana?" Teriak Agam, saat melihat Tika berjalan menjauh. Tika menoleh, dengan senyum yang tak tertutup cadar. Dia membalas perkataan Agam. Lalu dengan lantang, Tika menjawab pertanyaan Agam.
"Aku mencari kopi untukmu, katanya mengantuk. Sebelum pikiranmu kemana-mana? Lebih baik di dinginkan dengan secangkir kopi!" Ujar Tika dingin, lalu berlalu pergi.
Tika tak lagi menoleh ke arah Agam. Tika juga tak melihat Hanna yang berjalan menjauh darinya dan Agam. Tanpa Tika sadari, Hanna sudah berjalan jauh meninggalkan mereka. Hanna mencari tempat paling nyaman yang bisa membuatnya tenang.
Hanna berjalan menjauh dari Agam dan Tika. Dia memberikan waktu dan ruang untuk kedua orang tuanya. Namun sebenarnya Hanna sedang mencari ketenangan. Gelisah hatinya nyata tak dapat dipungkiri. Hanna benar-benar cemas, bukan karena penerbangannya yang ditunda. Namun semakin lama Hanna berada di negara ini. Semakin besar kesempatan Hafidz bertemu dengannya. Semakin nyata pula ketakutakan Hanna akan cinta yang kembali muncul.
Duuuuuaaaarrr
Suara petir yang mengiri cahaya kilat. Nampak jelas di kedua mata indah Hanna. Dengan tatapan sayu, Hanna melihat ke luar bandara. Hujan turun dengan derasnya, membasahi landasan pesawat di depannya. Hanna menatap lekat pesawat yang akan membawanya pergi jauh. Meninggalkan cinta yang nyata mulai terasa dihatinya. Berkali-kali Hanna menghela napas panjang. Membuang rasa gelisah yang teramat besar di hatinya.
"Kenapa saat aku yakin ingin pergi? Waktu seolah tak ingin aku menjauh. Ada saja yang membuatku harus bertahan di negara ini. Semakin lama aku disini, semakin besar kemungkinan dia datang. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan, bila dia ada di depanku. YA RABB mungkin aku bukan hamba yang taat. Namun bisakah aku memohon sekali saja pada-MU. Jangan tuntun dia datang kemari. Agar imam impianku, tetap dengan iman sempurnanya. Tak ternoda dengan makmum tanpa iman sepertiku!" Batin Hanna pilu sembari menatap tetes air hujan yang turun membasahi bumi.
"Kenapa hujan tidak berhenti?" Ujar Hanna kesal, sesaat setelah menghentakan kakinya ke lantai.
Agam menoleh ke arah Hanna, suara hentakan kaki Hanna membuatnya terkejut. Jelas Agam melihat kekesalan Hanna yang tak lagi bisa ditutupi. Agam berjalan perlahan ke arah Hanna, dengan lembut dan hangat Agam merangkul Hanna. Seketika Hanna menyandarkan kepalanya di bahu Agam. Kedekatan Hanna dan Agam yang lebih dari seorang ayah, tapi lebih sebagai seorang teman kala gelisah.
"Katakan pada papa, kenapa kamu sangat kesal? Apa kamu begitu ingin pergi dari kami? Sampai penundaan kepergianmu, membuatmu begitu kesal!"
"Papa diamlah, aku benar-benar kesal!" Sahut Hanna ketus, Agam tersenyum lalu membelai lengan Hanna. Memberikan kehangatan yang mungkin mampu membuat Hanna tenang.
Cup
"Hafidz, alasan kegelisahanmu!" Ujar Agam lirih, sesaat setelah mengecup puncak kepala Hanna. Tercium harum rambut Hanna, hitam legam rambut Hanna terurai indah.
Sontak Hanna melepaskan pelukan Agam. Dia berjalan beberapa langkah ke depan. Hanna berdiri tepat di depan dinding kaca tebal bandara. Tatapannya lurus ke langit mendung, guyuran hujan yang terdengar oleh telinganya. Semakin menambah ketakutan Hanna akan bertemu dengan Hafidz. Apalagi dengan lantangnya, Agam mengatakan nama yang begitu ditakutinya.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya!" Ujar Hanna lirih, tangannya menggenggam erat pagar pembatas di depannya. Dingin besi tak terasa ditangannya. Hanya dingin hati yang menyelimuti benaknya.
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin!" Ujar Hanna final tanpa alasan.
Genggaman Hanna semakin erat, Agam melihat jelas Hanna meremas pagar besi dengan sekuat tenaga. Nampak Hanna menunduk, menutupi ketakutan dan kegelisahan hatinya. Hanna terlalu takut mengecewakan Hafidz dengan cinta yang terlanjur diutarakannya. Seandainya Hafidz ada di depannya sekarang. Hanna takut tidak bisa mengendalikan hatinya. Hanna takut tak mampu lagi menolak cinta Hafidz.
"Sekuat apapun kamu melawan, takkan mampu melawan jalan yang tertulis!" Ujar Agam lirih, Hanna menggeleng tanpa menoleh. Ada rasa sesak yang menusik ke dalam hatinya. Hanna gelisah, sangat gelisah terlihat jelas dari cengkraman tangannya pada pagar besi bandara
"Aku harus melawannya, jika tidak cinta ini akan menghancurkan iman seseorang!"
"Siapa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kamu salah Hanna, cinta itu suci dan indah. Ketulusannya menuntun insan pada iman. Kenyataan cinta itu ada, menyempurnakan iman kita. Karena penyatuan cinta alasan kita menuju jannah-NYA!" Tutur Agam, sembari menatap lekat punggung Hanna.
__ADS_1
"Tapi bukan denganku kak Hafidz menuju jannah-NYA. Aku bukan wanita yang pantas. Tak ada iman dalam diriku. Aku tak mengenal iman, banyak kekurangan dalam jiwa kosong ini!"
"Namun Hafidz tak melihat itu, layaknya Tika yang tak pernah peduli akan kelemahanku. Terkadang iman sempurna tak lantas membuat seorang insan sangat berharga. Sebaliknya insan dengan iman yang lemah. Mampu menghargai banyak orang dengan ketidaktahuannya!" Sahut Agam tegas, Hanna menoleh ke arah Agam.
"Maksud papa?" Sahut Hanna bingung.
"Tika mengenalku tanpa peduli usia atau ketampananku. Dia memilihku karena yakin aku imam yang tepat untuknya. Namun kenyataannya, aku tak lebih dari suami yang pengecut. Kalah oleh tekanan dan tanggungjawab yang akhirnya membuatmu kehilangan mama dan saudara!"
"Papa!" Ujar Hanna lirih, seakan dia merasa bersalah telah membuat Agam bicara tentang kepahitan masa lalu.
"Semua itu benar Hanna. Hubungan papa dan mama hancur, bukan karena perbedaan diantara kami. Namun tak lain karena sikap lemah papa. Tak berani berjuang mempertahankan ketulusan cinta mama. Kebodohan dan penyesalan seumur hidup papa. Belasan tahun papa terpisah dengan mama, sakitnya tak sebanding dengan luka yang telah papa torehkan dihati mama. Namun lihat sekarang, papa dan mama bersatu. Tak ada yang bisa menolak semua itu!"
"Tapi kak Hafidz berhak bahagia!" Ujar Hanna, Agam mengangguk pelan.
"Hanna sayang, jika memang kamu merasa tak pantas untuk Hafidz. Kenapa tidak mencoba mengenal iman demi Hafidz?"
"Tidak, aku tidak akan menggadaikan imanku demi cinta semu. Hubunganku dengan Allah SWT jauh lebih suci. Mungkin hari ini imanku lemah, tapi akan kuperbaiki semua itu bukan demi janji hidup bersama Hafidz!" Sahut Hanna tegas, Agam mengangguk setuju. Dengan senyum simpul penuh kebanggaan. Agam memeluk Hanna.
"Sayang, kamu mirip mama. Mungkin imanmu masih lemah dan jauh dari kata sempurna. Namun kemurnian hati yang mampu membedakan posisi cinta. Prinsip yang takkan mudah dipahami, meski dengan kepintaran yang tinggi!"
"Mama!" Ujar Hanna singkat, Agam mengangguk pelan.
"Saat semua orang termasuk papa mempertanyakan imanmu. Mama satu-satunya orang yang tidak pernah bertanya atau ragu akan imanmu. Mama selalu mengatakan pada papa. Hatimu yang tulus jauh lebih murni dari iman yang nampak. Sebab hatimu kelak akan menemukan iman yang paling sempurna!"
"Apa itu alasan mama tak pernah memintaku berhijab atau memakai cadar sepertinya!"
"Iya!"
"Aku salah sangka pada mama. Padahal dia yang selalu percaya padaku!" Ujar Hanna lirih, Agam diam menatap Hanna. Seakan dia heran dengan perkataan Hanna.
"Kenapa sayang?"
"Aku berpikir selama ini mama tak pernah tulus mencintaiku. Dia hanya peduli pada kak Arkan dan Vahira. Mama tak pernah memintaku berhijab atau memaksaku untuk sholat. Aku selalu berpikir, mama malu dengan sikapku. Dia tak pernah peduli padaku. Mama alasanku menolak cinta kak Hafidz!" Tutur Hanna lirih, terdengar suara isak tangis. Suara hati yang lama terpendam. Tersimpan dilubuk hati Hanna, kini terkuak dengan kenyataan yang berbeda.
"Hanna, mama tidak pernah menyalahkanmu. Apapun yang kamu pikirkan, itu hakmu dan mama menghargai itu!"
"Mama menyadari kekecewaanku!" Ujar Hanna, Agam mengangguk pelan mengiyakan perkataan Hanna. Anggukan kepala yang menyadarkan Hanna, betapa bodoh dirinya?
"Mama bisa melihat jarak yang nyata kamu jaga. Mama merasa tak berhak mengaturmu, setelah dia meninggalkanmu selama belasan tahun. Mama percaya pada dengan sepenuh hati. Jika kelak akan ada iman yang mengetuk hatimu. Cara mama menyayangimu, tanpa kamu sadari betapa tulus kasih sayang itu!"
"Aku salah!"
"Kamu tidak salah sayang, butuh banyak waktu memahami mama. Papa butuh belasan tahun, baru mampu menyadari betapa berharganya mama. Betapa murni hati dan cinta mama pada papa? Semurni cintamu pada Hafidz. Cinta yang tak memaksakan, karena tak ada kebahagian dalam paksaan!" Ujar Agam, Hanna terdiam membisu.
"Kemurnian cinta akan nyata bila jujur mengakui keberadaannya. Bukan kabur layaknya pengecut. Meninggalkan hati yang bimbang, menghancurkan hati yang tak salah. Sebab cinta tak pernah salah dalam memilih hati!" Sahut Tika, Agam dan Hanna menoleh. Hanna berlari memeluk Tika. Dia menangis dalam pelukan Tika.
Hanna merasa bersalah telah salah sangka pada Tika. Kekecewaan yang dia simpan dalam cintanya pada Tika. Kini telah terjawab dengan ketulusan cinta seorang ibu. Kasih sayang ibu yang selalu memahami hati anaknya. Meski tak pernah bersama selama belasan tahun lamanya.
"Maafkan Hanna!"
"Tidak perlu meminta maaf, Hanna tidak salah. Namun pergi tanpa berani bertanggungjawab. Bukan hal yang pantas dilakukan!" Ujar Tika, Hanna diam tak mengerti maksud perkataan Hanna.
"Mama tidak akan memaksa Hanna menerima cinta Hafidz. Namun alangkah baik dan bijaknya. Jika Hanna mengucapkan perpisahan bukan dengan surat, tapi langsung pada orangnya!"
"Maksud mama!" Sahut Hanna mengerti.
"Hafidz!" Panggil Tika ramah, Hanna melepaskan pelukan Tika. Hanna berjalan mundur menjauh, tubuhnya terbentur dinding tebal bandara. Tatapannya lurus ke arah Hafidz. Laki-laki yang ingin dihindarinya.
"Kak Hafidz!"
"Kita harus bicara!" Ujar Hafidz memelas, Hanna menggeleng lemah.
__ADS_1
"Bicaralah Hanna, kamu putri mama yang pemberani!" Ujar Tika tegas.