Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Taman


__ADS_3

"Butuh pundak untuk bersandar!"


"Aura!" Sapa Arkan ramah, sesaat setelah dia mendengar suara Aura.


Arkan mendongak menatap Hanna yang tengah berdiri tepat di depannya. Arkan menggeleng lemah, dia tak percaya telah salah mengenali orang lain. Suara yang dia dengar sangat mirip dengan Aura. Ditambah pikirannya hanya ada Aura dan Aura, tidak ada yang lain.


"Hanna kakak!"


"Hmmmmm!" Sahut Arkan lesu.


"Air matamu tak bersalah, sehingga pantas kamu tahan. Keluarkan air mata yang seharusnya keluar. Jika kakak malu, bersandarlah pada pundakku. Kalau perlu bersembunyilah dalam dekapanku!" Ujar Hanna hangat, Arkan menggeleng lemah.


Arkan merasa bingung dengan sikapnya. Dalam benaknya penuh tanda tanya yang tak bertepi. Arkan tak memahami jalan pikiran Aura. Rasa khawatir Arkan jauh lebih besar dari kegelisahan Aura akan hadirnya momongan. Hanna menatap diam Arkan saudara kandungnya. Kegelisahan yang tersembunyi dalam kalut pikiran Arkan. Nampak jelas dilihat Hanna.


"Katakan pada kak Aura yang sebenarnya! Diam menutupi perhatianmu, terkadang membuatnya salah paham. Sebaliknya memutuskan pemikiranmu benar bagi kak Aura. Itu sangat salah, jika tak pernah ada diskusi diantara kalian!"


"Maksudmu!"


"Kakak jauh lebih mengerti, apa yang sedang aku katakan? Aku lahir beberapa menit setelah dirimu. Kita mungkin tidak tumbuh bersama, tapi sembilan bulan lebih kita berbagi di rahim yang sama. Alasan dimana aku bisa merasakan, apa yang tersembunyi dalam pikiranmu? Jujurlah pada kak Aura, agar dia melihat pengorbanan yang sedang kakak lakukan!"


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" Sahut Arkan dingin, tanpa sedikitpun menoleh pada Hanna.


"Sejak aku datang ke ruanganmu dan tanpa sengaja melihat laporan kak Aura!"


"Pada siapa kamu bercerita?"


"Tak ada satupun orang yang berhak mengetahuinya. Fakta yang kakak sembunyikan, selamanya akan aman bersamaku. Namun sebagai adik aku tidak ingin melihatmu hancur. Katakan pada kak Aura, apa yang kini ada di hatimu?" Ujar Hanna sembari menepuk pundak Arkan pelan.


Arkan menutup wajahnya dengan tangan. Menyembunyikan air mata yang sejak tadi ingin keluar. Hanna menatap punggung tegap Arkan yang nampak lemah. Getaran pelan tubuh Arkan, jelas mengatakan isak tangis yang tersembunyi di punggung tangan Arkan. Tangisan yang menandakan beban berat yang ditanggung Arkan.


"Apa yang harus aku katakan? Jujur artinya aku menghancurkan harapannya. Diam hanya akan membuat Aura terus berharap dalam gelisah. Tahukah kamu Hanna, sejak aku mengenal Aura. Hanya satu yang ingin aku lihat darinya!"

__ADS_1


"Senyum kak Aura!" Sahut Hanna lugas, Arkan mengangguk tanpa ragu.


"Senyum manis Aura sang hafidzah yang aku kenal!"


"Kalau begitu wujudkan, katakan pada kak Aura semuanya. Agar dia mengerti, tak pernah kakak meragukan dirinya. Sebaliknya kakak selalu menjaga cinta suci kalian. Percayalah padaku, sepahit apapun kejujuran. Akan terasa manis dibandingkan sebuah kebohongan. Pernikahan ada sebagai wadah dua insan saling memahami. Jangan ambil beban yang seharusnya ditanggung bersama!" Tutur Hanna bijak, Arkan menoleh menatap Hanna.


Sepintas Arkan tak percaya dengan perkataan Hanna. Bukan menyalahkan apa yang dikatakan Hanna? Sebaliknya Arkan meras heran dengan cara pandang Hanna yang dewasa dan bijak. Sosok adik yang dulu manja, nampak dewasa dan penuh pengertian.


"Darimana pemikiran bijak itu? Aku seolah tak mengenalmu, kamu bukan Hanna adik kecilku!"


"Menjadi istri seorang Hafidz, tidaklah mudah. Butuh hati yang besar untuk mengerti. Jiwa yang lapang untuk memahami. Pemikiran yang bijak, demi ketenangan hidup yang kami jalani. Agar pernikahan kami, berjalan tanpa ada yang terluka!"


"Hafidz menyulitkanmu!" Ujar Arkan, Hanna menggeleng lemah.


Hanna menatap kosong langit yang ada di depannya. Indah taman tak seindah kisah cinta yang kini dijalaninya. Lama Hanna terdiam, terdengar helaan napas panjang dari hidungnya. "Lelah" mungkin satu kata yang tersimpan dalam hati dan benaknya. Kata yang ingin Hanna teriakan sekuat tenaganya.


"Dia tak pernah menyulitkanku, tapi kasih sayang ibunya yang menyulitkan hubungan kami. Layaknya perahu yang berlayar di tengah ombak samudra. Aku harus selalu menenangkan hatiku, di kala jiwanya goyang. Semua demi satu tujuan yang sama. Tak jatuh dalam samudra yang dalam. Sehingga menyisakan luka tak terobati. Bahkan mungkin berakhir dengan kematian!"


"Hanna, kenapa aku merasa beban yang kamu tanggung lebih berat dariku?" Sahut Arkan lemah.


"Dik!" Sahut Arkan tak percaya, Hanna tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya.


"Ujian yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya? Mengeluhkah di saat susah, tak bersyukur di kala hidup penuh dengan nikmat. Menangis saat hati tersakiti atau tersenyum dengan kesabaran menerima luka yang terpatri!"


"Hanna, kamu menyadarkan kakak satu hal!"


"Apa itu?"


"Jika dewasa bukan melihat usia, tapi cara berpikir di kala hidup terkoyak beban!"


"Mama mengajarkan aku cara bekorban. Papa menunjukkan aku, apa itu cinta sejati? Dua cara yang membuatku tenang dan kuat saat ini. Agar tak ada Arkan dan Hanna yang terlahir kembali. Bukan lagi ego yang harus aku pegang teguh, tapi kepercayaan cinta yang kelak menyatukanku dengan kak Hafidz dalam bahagia!" Ujar Hanna lantang.

__ADS_1


"Haruskah aku jujur pada Aura. Jika kami tak mungkin memiliki keturunan!" Ujar Arkan, Hanna mengangguk tanpa ragu.


"Jujurlah, agar kak Aura menyadari arti pernikahan kalian. Buktikan padanya, cintamu bukan demi keturunan. Melainkan ibadah menuju jannah-NYA. Namun jika kelak kalian tak sepaham. Sadarilah, bukan cinta kalian tidak kuat. Melainkan tali jodoh yang belum kuat menautkan kalian!"


"Kamu benar Hanna!" Ujar Arkan sembari menunduk.


"Kak Aura berhak mengetahui semuanya. Waktu yang akan menyembuhkan lukanya. Waktu pula yang akan membuktikan cinta kak Arkan. Namun hanya Allah SWT yang berkehendak akan hidup Hamba-NYA. Semua akan mungkin, jika Allah SWT menghendakinya. Sabar dan ikhitiar, cara yang harus kakak tempuh. Agar jalan terjal yang gelap menjadi terang!"


"Adik kakak pintar!" ujar Arkan, lalu merangkul tubuh Hanna erat. Hanna menggeliat geli berada dalam pelukan Arkan.


"Lepaskan!" Teriak Hanna histeris.


"Kakak semakin sayang padamu!" Ujar Arkan sembari terus merangkul Hanna. Mengurung Hanna dalam himpitan tangannya.


"Lepaskan!" Teriak Hanna.


Hueeekkk Hueeeekkk Hueeekkk


"Dik, kamu kenapa?" Ujar Arkan cemas, sesaat setelah melepaskan rangkulannya. Nampak Hanna menutup mulutnya dengan tangan.


"Aku alergi dengan bau harum. Apalagi parfum laki-laki!"


"Serius!" Ujar Arkan tak percaya, Hanna mengangguk tegas.


"Bagaimana dengan Hafidz?"


"Dia tak kuizinkan memakai parfum selama di dekatku. Jika tidak kak Hafidz harus tidur di luar!"


"Derita seorang ayah!" Sahut Arkan sembari menggeleng tak percaya.


...**☆☆☆☆☆...

__ADS_1


MAAF, SATU KATA YANG SANGGUP AUTHOR KATAKAN. SELAMAT MEMBACA, HAPPY READING**.


"


__ADS_2