Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Menginap


__ADS_3

"Om Dirga, sudah sangat malam. Aku dan Hanna pamit pulang!" Pamit Hafidz ramah, Dirga mengangguk mengiyakan. Sedangkan Sinta langsung berdiri. Dia terkejut dengan perkataan Hafidz.


"Kamu akan pergi!" Ujar Sinta lirih, Hafidz menatap lekat bundanya. Lalu tak berapa lama, terlihat kepala Hafidz mengangguk pelan.


Hafidz memutuskan untuk pulang. Dia tidak ingin Hanna merasa tidak nyaman di rumahnya. Meski Hanna sudah mengatakan dirinya baik-baik saja. Namun Hafidz seolah tak percaya, dia terus memaksa Hanna untuk pulang. Sikap Sinta jelas mengatakan rasa tidak sukanya pada Hanna.


"Besok Hafidz harus ke luar kota. Jadi Hafidz menunda untuk menginap. Kalau nanti Hafidz ada waktu. Insyaallah Hafidz akan menginap, tapi tidak sekarang!" Tutur Hafidz menjelaskan, Sinta menggeleng tak setuju. Dia merasa sedih saat Hafidz mengatakan akan pergi. Sinta merasa putranya tak lagi peduli padanya.


"Kamu tega Hafidz!"


"Bunda, Hafidz harus pulang sekarang!"


"Kamu mulai menganggap rumah ini asing. Secepat itukah kamu melupakan rumah ini. Seakan rumah ini tak pernah memberikan rasa nyaman bagimu!"


"Bunda, Hafidz tak bermaksud seperti itu!" Sahut Hafidz, Sinta menunduk sembari mengusap air matanya.


Sinta merasa tersisih dengan keberadaan Hanna. Kepedulian Hafidz mulai berkurang padanya. Dia tak lagi melihat kasih sayang Hafidz. Meski sebenarnya bukan Hafidz yang berubah, tapi hati Sinta yang penuh dengan kecemburuan pada Hanna. Sehingga dia merasa, Hafidz mulai melupakannya.


"Kamu melupakan bunda demi Hanna!"


"Bunda, Hanna istri Hafidz. Sudah kewajiban Hafidz menjaga dan membahagiakannya. Dia wanita pilihan Hafidz. Makmum yang Hafidz percaya menjaga dan menopang tubuh lemah Hafidz. Sebaliknya bunda ibu yang melahirkan Hafidz. Tempat surga dan ridho Allah SWT, selamanya Hafidz akan menghormati dan menghargai bunda. Namun tidak dengan melukai hati Hanna!"


"Apa Hanna yang meminta pulang?"


"Bunda, Hanna tak mengatakan apapun? Sejak tadi, dia diam menerima perlakuan bunda dan Shaila. Dia tak pernah mengajakku pulang. Hanya saja, rumah ternyaman seorang laki-laki. Kala rumah itu menerima istrinya dengan penuh kasih sayang. Bukan rumah yang di dalamnya penuh dengan keraguan!"


"Kamu marah pada bunda?"


"Tidak pernah Hafidz marah pada bunda. Namun sikap bunda pada Hanna. Sejujurnya Hafidz tak pernah menyukainya. Hanna bukan orang lain, dia menantu perempuan keluarga ini. Jadi sudah sepantasnya dia diperlakukan sama!" Sahut Hafidz lantang.


"Kak Dirga, kenapa kakak diam saja? Bujuk Hafidz untuk tinggal sementara di rumah ini!"


"Hafidz sudah besar, di bisa memutuskan benar dan salah!" Sahut Dirga acuh, Sinta terdiam. Dia sedih melihat putranya berpamitan padanya.

__ADS_1


"Kak, lebih baik kita menginap. Kakak bisa berangkat dari sini!" Sahut Hanna sembari berjalan menghampiri Hafidz.


Hanna mendengar perdebatan yang mulai memanas. Sebab itu Hanna memutuskan untuk menginap. Hanna akan menerima resiko apapun yang terjadi. Dia tak mungkin diam, ketika tangis seorang ibu terdengar oleh telinganya.


"Sayang, kita pulang!" Sahut Hafidz tegas, Hanna menggeleng lemah.


"Aku mohon, kita menginap malam ini. Aku ingin mellhat kamar kakak!" Bujuk Hanna, Hafidz mengangguk lemah. Meski dia tahu, Hanna sedang mencari alasan saja. Hafidz gelisah membayangkan rasa tidak nyaman Hanna.


"Baiklah, kjta menginap!"


"Terima kasih!" Sahut Hanna dengan wajah penuh senyum.


"Hafidz, bawa Hanna ke kamarmu. Dia butuh istirhat!" Ujar Dirga, tanpa menyahuti perkataan Dirga. Hafidz membawa Hanna menuju kamarnya.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Hanna dan Hafidz menggema di seluruh bagian rumah. Langkah yang terdengar berirama. Bak simfoni lagu yang sangat indah. Suara tawa dalam hati Hafidz, seolah ingin menunjukkan kebahagian Hafidz. Genggaman tangan Hanna, terasa hangat dan menenangkan dihati Hafidz.


"Kamar kakak rapi!"


Sebuah kamar yang besar bagi orang lain. Namun tak sebesar kamar Hanna, karena kamar paling besar di rumah Hafidz ditempati Dirga. Hanna melihat susunan barang yang begitu rapi. Tak ada banyak barang, menunjukkan pribadi pemilik kamarnya yang sangat sederhana.


"Bukan besar atau kecil sebuah kamar yang menjadi tolak ukur. Namun seberapa nyaman kamar itu untuk ditinggali. Aku merasa nyaman di kamar ini!"


"Kamar atau orangnya yang membuatmu nyaman!" Ujar Hafidz, sembari menyandarkan kepalanya di pundak Hanna. Sedangkan tangannya memeluk erat Hanna.


"Dimanapun kamu? Insyaallah aku akan merasa nyaman!"


"Sayang, kamu menggodaku!"


"Aku serius!"


"Perkataanmu baru saja membangkitkan hasrat yang tertunda. Kamu membuatku melayang, dengan kata sederhanamu!" Bisik Hafidz tepat di telinga Hanna.

__ADS_1


"Hmmm!" Sahut Hanna dingin.


"Sayang!"


"Bisa aku membersihkan diri. Kita harus istirahat lebih awal. Jangan lupa, kakak besok pagi akan pergi ke luar kota. Jadi kakak butuh istirahat!" Ujar Hanna tegas, sembari melepaskan diri dari pelukan Hafidz.


Hanna berusaha melepaskan pelukan Hafidz yang sangat erat. Dengan sedikit usaha, akhirnya Hafidz bisa melepaskan pelukan Hafidz. Hanna ingin membersihkan diri dan langsung tidur. Sejak dulu Hanna tidak terbiasa tidur tengah malam. Dia selalu tidur lebih awal, bahkan terkadang Hanna tidur setelah suara adzan sholat isya berkumandang.


"Sayang!" Panggil Hafidz, sembari menahan tangan Hanna. Tepat saat Hanna lepas dari pelukannya. Hafifz malah menggenggan tangan Hanna. Hafidz menahan Hanna, dia menatap Hanna dengan penuh cinta.


"Ada apa?"


"Terima kasih, kamu sudah mengerti bunda!"


"Maksud kakak!"


"Sayang, aku melihat pengorbananmu. Kamu memilih tetap merasa nyaman di rumah ini. Hanya demi menghapus air mata bunda!"


"Kak Hafidz!"


"Terima kasih!"


"Kakak, dia bunda yang melahirkamu. Tidak mungkin aku berebut dirimu dengannya!" Ujar Hanna lirih, sembari menangkup wajah tampan Hafidz. Napas hangat Hanna berhembus menerpa wajah tampan Hafidz. Membangkitkan gairah yang tertunda.


"Tapi dia menyakitimu!"


"Bunda belum mengenalku, jadi pantas dia bersikap seperti itu. Aku harus bersabar memahaminya. Bunda jauh lebih terluka, dia harus jauh dari putra kesayangannya!"


"Sayang, kamu membuatku bahagia!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng lemah.


"Bukan aku, tapi kita yang akan menggapai bahagia bersama!" Ujar Hanna singkat, lalu berjalan menuju kamar mandi


"Aku bahagia bersamamu!" Teriak Hafidz, saat Hanna akan masuk ke dalan kamar mandi!"

__ADS_1


"Aku lebih bahagia menjadi makmummu!" Ujar Hanna lirih, Hafidz mengedipkan kedua matanya. Hafidz percaya dengan cinta tulus diantara mereka. Cinta yang akan menemukan kebahagiannya.


"Kamu segalanya Hanna, aku sangat mencintaimu" Batin Hafidz tegas.


__ADS_2