Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Kunjungan Mendadak


__ADS_3

"Tika!" sapa Nissa, Tika menoleh seraya mengangguk. Tika berjalan menghampiri Nissa yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.


Malam yang indah, serasa semakin indah. Ketika bulan dan bintang bersinar menerangi malam yang gelap. Layaknya senyum Hana dan Hanif yang terutas melupakan sejenak kepenatan dalam hidup Tika. Setelah Hana dan Hanif tinggal bersama Agam. Tika mulai merasakan sepi, tapi tak pernah Tika mengeluh atau menangis. Sebaliknya Tika selalu tegar dengan tasbih dan zikir yang selalu terucap dari bibir mungilnya.


Setelah mengantar Hana dan Hanif ke rumah Agam. Lebih tepatnya rumah kedua orang tua Agam. Tika langsung pulang menuju rumahnya. Tika sempat melaksanakan sholat magrib dan berbuka dengan air mineral. Namun Tika belum mengkonsumsi makanan berat. Tika menanti sampai di rumah. Sebab sampai detik ini, Tika masih sangat nyaman dengan masakan Nissa.


Masakkan sederhana Nissa, bak kasih sayang tak terelakkan dari Nissa. Sejak dulu sampai sekarang, bahkan meski Tika bertemu dengan Siska ibu kandungnya. Tika tetap menyayangi Nissa layaknya ibu kandungnya. Jadi sangat wajar bila dimasa rapuhnya sekarang. Nissa menjadi satu-satunya sandaran. Tempat Tika mengharap dukungan dan kasih sayang. Agar Tika mampu berdiri di atas kedua kakinya.


"Iya bunda, ada apa?" ujar Tika, lalu mencium punggung tangan Nissa. Dia duduk tepat di samping Nissa. Sejenak Tika menyadarkan kepalanya di pundak Nissa. Melepaskan lelah dan penatnya hari ini.


Semenjak Tika menggantikan sementara Dimas memimpin perusahaan Anggara. Waktu Tika lebih banyak tersita di luar rumah. Tika tidak lagi bisa menulis. Meski beban yang ditanggungnya semakin berat. Tika tidak pernah mengeluh atas semua tanggungjawabnya. Bahkan kesibukannya sedikit menghibur Tika akan rasa sepi yang menyergap.


"Kamu pasti lelah seharian bekerja. Lalu bermain dengan Hana dan Hanif. Sekarang bersihkan dirimu, kita makan malam bersama. Bunda yakin kamu belum berbuka puasa!" ujar Nissa lirih, Tika mengangguk mengiyakan. Namun Tika belum ingin menjauh dari Nissa. Dia menyandarkan kepalanya, seraya menutup kedua mata indahnya.

__ADS_1


Nissa mampu merasakan betapa lelah dan sulitnya hidup Tika saat ini. Dia harus ikhlas dan dipaksa ikhlas melepaskan dua hati yang pernah diperjuangkannya. Tika bukan gadis kecilnya dulu. Dia kini kuat dan tegar, layaknya karang di tepi pantai. Karang yang menerima terpaan ombak tanpa henti. Selamanya karang takkan pernah hancur, meski dalamnya tak lagi utuh. Tika tak akan hancur meski kini hatinya tak lagi utuh. Semua demi dua buah hati yang ada sebagai bukti cinta tulusnya pada Agam dulu.


"Sayang, kamu sudah pulang!" ujar Dimas, sontak Tika membuka kedua mata indahnya. Tika menoleh pada Dimas yang berjalan beriringan dengan Dirga.


Kedua bola mata Tika membulat sempurna. Dia tidak menyangka akan ada Dirga di rumahnya. Laki-laki yang tadi menyapa dan memeluk kedua buah hatinya dengan sangat hangat. Pantas saja Tika melihat beberapa pengawal pribadi di depan rumahnya. Awalnya Tika heran, tapi sekarang dia mengerti. Jika keberadaan mereka tak lain, karena ada Dirga di rumahnya.


Tika berdiri mundur beberapa langkah. Tepat ketika Dirga duduk tak jauh darinya. Sekilas Dirga menyapa Tika dengan mengutas senyum dan dibalas anggukan oleh Tika. Nissa melihat sekilas senyum Dirga. Tersirat rasa kagum pada Tika yang dengan mudah dilihat oleh Nissa. Namun Nissa tetap diam, dia tidak ingin mencampuri urusan Dirga dengan Tika. Apalagi di saat Tika masih bestatus istri Agam. Meski status itu hanya ada di atas kertas.


"Tika, kamu sudah bertemu dengannya. Dia pemilik Mahendra Gruop, perusahaan yang akan menjadi rekan kita dalam pembangun Mall. Proyek yang kebetulan akan dikerjakan oleh Agam dan Zalwa sebagai perusahaan kontraktor. Dirga datang kemari menjenguk papa. Dia khawatir akan kondisi papa!" ujar Dimas, Dirga mengangguk lemah. Sebaliknya Tika mengangguk pelan ke arah Dirga.


"Tidak perlu kata terima kasih, aku bukan orang lain bagi tuan Dimas. Meski kami berbeda usia, aku sudah menganggap tuan Dimas layaknya saudara kandung. Kebetulan juga aku belum pulang. Sebab malam ini aku akan kembali ke negaraku. Jadi tidak ada salahnya bila aku berkunjung!" ujar Dirga lirih, Dimas mengangguk serempak dengan Tika.


Terlihat Nissa berdiri menjauh, dia berjalan menuju meja makan. Nissa hendak menyiapkan makan malam. Sedangkan Tika berjalan perlahan menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti, ketika Dimas memanggilnya. Tika menoleh ke arah Dimas.

__ADS_1


"Segera turun ke bawah, jika kamu sudah membersihkan diri. Kita makan malam bersama. Kamu belum buka puasa, papa yakin itu!" ujar Dimas, Tika mengangguk ragu. Dirga melihat kehangatan Dimas pada Tika. Tidak berubah meski Tika bukan lagi anak kecil. Sebaliknya sikap sopan Tika, seolah mengingatkan dirinya yang penuh dosa. Sejenak Dirga mengingat sikap-sikap kasarnya pada orang tuanya. Meski ada alasan dalam setiap sikap kasarnya.


"Tapi Tika belum sholat isya. Jika boleh Tika sholat dulu, baru setelah itu Tika makan bersama papa!" ujar Tika, Dimas mengangguk pelan. Dirga bak rumput putri malu yang langsung menguncup ketika tersentuh. Iman Tika membuat Dirga malu, dia tak menyangka Tika memang wanita yang teguh akan imannya.


"Iman inilah yang membedakan kita. Iman itulah yang membuatku sadar, betapa hinanya diriku. Rasa cintaku yang suci, tak sesuci hatiku. Teguh rasa yang kupegang untukmu, tak seteguh iman yang kumiliki. Ketika tanganmu begitu ringan menolong orang. Sebaliknya tanganku begitu ringan menghancurkan orang. Betapa banyaknya perbedaan diantara kita. Namun sebanyak perbedaan itu, sebanyak itu pula rasaku. Seandainya aku bisa memilih. Ingin kugapai bahagia akan rasa cinta. Tapi kenapa harus kamu wanita yang mengusik hatiku? Meski hanya sesaat aku bersamamu, takkan pernah aku melupakannya. Semoga bahagia ada selalu bersamamu. Karena cintaku yang tak sempurna untukmu. Akan serasa sempurna ketika melihat senyum dan bahagia. Walau senyum itu harus kulihat sembari hati yang menangis!" batin Dirga.


Tika berjalan menjauh dari ruang tengah. Dirga menatap punggung Tika tanpa berkedip. Dimas melihat jelas sikap Dirga pada Tika. Seketika Dimas mengangguk pelan, seraya tersenyum simpul.


"Kartika Putri Anggara, wanita yang mengusik hatimu!" ujar Dimas, sontak Dirga menoleh. Tanpa dia sadari, Dimas memperhatikan gerak-gerik Tika. Lalu dengan pelan, Dirga mengangguk mengiyakan perkataan Dimas.


"Kenapa dulu kamu tidak berjuang? Sekarang semua sudah terlambat. Tika bukan lagi gadis kecilku!" ujar Dimas lirih. Dirga menunduk, lalu tersenyum ke arah Dimas.


"Aku tak pernah pantas untuknya. Sebab itu aku tidak pernah berjuang menggapainya. Dia berhak mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dariku. Cintaku tanpa balasan, tak pernah aku berharap Tika membalas atau terpaksa menerimanya. Meski bukan denganku, selama Tika bahagia. Aku akan bahagia untuknya. Itulah caraku mencintai putrimu selama ini!" ujar Dirga tegas, Dimas tersenyum bahagia. Dia melihat ada seseorang yang mencintai Tika bukan dengan niat bersama. Cinta yang ada hanya untuk melihat bahagia Tika.

__ADS_1


"Dia pria yang baik, maafkan aku yang tak mengenalmu lebih dulu. Semoga akan ada hubungan yang lebih baik diantara kita kelak!"


__ADS_2