Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hana Tertidur


__ADS_3

Setelah menunggu hampir satu jam lebih. Akhirnya Hanif dipindahkan ke ruang rawat biasa. Tika dan Agam berjalan beriringan mengantar Hanif masuk ke dalam kamar yang dipesan oleh Agam. Tak ketinggalan ibunda Agam yang terus mengekor di belakang Agam putranya. Seakan dia takut Tika memiliki waktu berdua dengan Agam. Meski sebenarnya Tika tidak ingin berada dekat dengan Agam.


Status tanpa kejelasan yang disandang Tika. Seakan menjadi jarak yang tak bisa dianggap sepele. Tika dan Agam telah berpisah secara agama. Meski secara hukum negara mereka masih terikat tali pernikahan. Namun jauh dalam hati Tika. Tidak mungkin ada jalan dia dan Agam bersatu. Selain rasa diantara mereka sudah mulai terkikis. Kebencian dan pikiran picik ibunda Agam. Tidak akan dengan mudah dihilangkan dari pikirannya. Satu-satunya masalah yang tidak akan pernah bisa diselesaikan. Apalagi sikap Agam yang selalu bimbang.


"Tika!" panggil Dirga lirih, seketika Tika menoleh. Sekilas Agam melihat sikap Tika yang berbeda pada Dirga. Ibunda Agam tersenyum sinis, ketika melihat Tika merasa nyaman bersama laki-laki lain.


Dirga menghampiri Tika, sembari menggendong Hana yang tertidur di pundaknya. Terlihat kedua tangan Dirga menopang tubuh mungil Hana, sedangkan kepala Hana bersandar pada pundak Dirga. Kehangatan jelas terlihat dari sikap Dirga pada Hana. Tepat di depan Tika dan Agam, Dirga berhenti lalu menoleh ke arah Agam.


Dirga membungkuk perlahan ke arah Agam. Seakan Dirga sedang menyapa Agam. Dirga lalu tersenyum ke arah ibunda Agam. Sebaliknya senyum Dirga dibalas sikap acuh yang tak sepantasnya dilakukan oleh ibunda Agam. Dirga menghormati Agam dan ibunya, tapi sikap yang tak seharusnya diperlihatkan ibunda Agam. Anehnya Dirga tak merasa keberatan atau marah. Dirga merasa sikap ibunda Agam wajar saja. Ketika melihat Tika datang bersama laki-laki asing.


"Beginikah rasanya, ketika kita bersikap baik tapi dibalas dengan sikap buruk. Bukan hanya rasa malu, tapi terhina dan tak dihargai. Betapa kejamnya aku, berapa banyak hati karyawan dan orang-orang terdekatku yang terluka karena sikap kasarku. Sungguh kini aku bisa merasakan, betapa aku tak berhati. Mereka menghormatiku, tapi aku menghina mereka dengan sikap dingin dan kasarku!" batin Dirga sesaat setelah melihat sikap ibunda Agam.


"Tika, aku akan membawa Hana pulang. Tidak baik dia berada di rumah sakit terlalu lama. Aku akan mengantarnya ke rumah tuan Dimas. Aku akan meminta bunda Nissa membawakan keperluanmu selama disini!" ujar Dirga lirih, Tika mengangguk mengerti. Agam mendekat pada Dirga, lalu mengulurkan tangannya. Seakan meminta Dirga memberikan Hana padanya.

__ADS_1


Tanpa bicara Agam meminta Hana dari Dirga. Sikap dingin yang tak seharusnya diperlihatkan Agam. Namun seakan benar, saat rasa cemburu sudah mengusai hatinya. Dirga tersenyum ke arah Agam. Lalu menoleh ke arah Tika, seolah meminta persetujuan Tika. Dengan satu anggukan Tika, Dirga memberikan Hana pada Agam.


"Dia putriku, masih ada aku ayahnya yang akan terus melindunginya. Aku mengetahui apa yang baik dan buruk untuknya? Biarkan Hana disini, Hanif membutuhkannya!" tutur Agam, sesaat setelah menggendong Hana. Tika tersenyum sinis mendengar perkataan Agam.


Tika mulai menyadari, Agam tak lebih dari laki-laki yang tak pernah mengerti posisinya. Ketika Hana dan Hanif membutuhkan perlindungan. Agam hanya diam, seolah mata dan telinganya tertutup. Sebaliknya disaat Hana dan Hanif tidak membutuhkan perlindungannya. Justru Agam membuat Hana dan Hanif dalam masalah besar.


"Kak Dirga terima kasih, tidak perlu mampir ke rumah. Kakak butuh istirahat, bukankah besok pagi kakak harus kembali. Hana biarkan tetap disini. Ayahnya merasa Hana aman berada di tempat yang penuh dengan penyakit!" ujar Tika menyindir Agam. Sontak Agam menoleh ke arah Tika.


Ibunda Agam merasa sikap Tika keterlaluan. Dengan paksa ibunda Agam menggendong Hana yang tertidur pulas. Ibunda Agam merasa perkataan Tika tidak benar. Dia menganggap Hana akan aman bersama Agam dan dirinya. Agam tertunduk lesu mendengar perkataan Tika yang memang benar adanya. Apa yang Dirga katakan memang benar? Namun hati seorang ayah tidak akan terima. Ketika melihat putrinya merasa nyaman bersama orang asing.


"Baiklah Tika, aku pulang sekarang. Aku akan meninggalkan beberapa orang di luar rumah sakit. Kamu bisa menghubungi mereka bila membutuhkan sesuatu. Aku akan pulang dengan taxi!" ujar Dirga, Tika mengangguk pelan. Agam tertegun melihat perhatian Dirga. Sangat sederhana tapi seakan Tika nyaman akan perhatian itu.


"Tuan Agam, semoga Hanif lekas sembuh. Maaf saya tidak bisa berlama-lama disini. Besok pagi saya harus kembali ke negara saya!" pamit Dirga sembari mengulurkan tangan ke arah Agam. Lama Dirga menanti uluran tangan Agam. Entah kenapa Agam begitu ragu membalas uluran tangan Dirga? Tika hanya diam menatap Agam yang penuh rasa takut dan cemburu.

__ADS_1


"Terima kasih tuan Dirga, sekali lagi terima kasih atas rasa pedulimu. Setelah ini saya tidak akan merepotkan anda lagi!" ujar Agam dingin, Dirga mengangguk pelan. Dia memahami perasaan Agam saat ini.


Dirga berjalan menjauh dari Agam dan Tika. Kebetulan ibunda Agam sudah membawa Hana masuk ke dalam kamar Hanif. Sebelas dua belas dengan Agam. Ibunda Agam seakan takut akan keberadaan Dirga yang terlihat begitu dekat dengan Hana. Mereka berdua tidak ingin Hana atau Hanif berpaling kepada Dirga. Malam ini dia melihat betapa nyamannya Hana tidur dalam gendongan Dirga. Kedekatan Hana yang belum sepenuhnya terjalin dengan Agam dan ibunda Agam.


Kreeeekkkk


Terdengar suara pintu kamar yang dibuka paksa. Tika dan Agam menoleh bersamaan. Mereka heran ketika mendengar pintu kamar yang seolah dipaksa untuk terbuka. Lalu tak berapa lama, kepala Hana keluar dari balik pintu yang terbuka. Sontak kedua bola mataTika dan Agam membulat sempurna. Mereka terkejut melihat Hana terbangun dan memaksa keluar dari ruangan Hanif. Padahal tadi Hana tidur sangat pulas dalam gendongan Dirga.


"Om Dirgaaaaaa…!" teriak Hana lantang, seketika Dirga menghentikan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya 180° ke arah Hana. Dirga bengong ketika melihat Hana berlari ke arahnya.


Ibunda Agam keluar dengan napas yang tersengal-sengal. Sepertinya ibunda Agam kewalahan menahan tubuh Hana yang meronta ingin keluar dari kamar Hanif. Ibunda Agam melihat Hana yang sudah berada di gendongan Dirga. Pupus sudah harapannya menahan Hana, untuk tidak bertemu Dirga. Tika berjalan menghampiri Dirga dan Hana. Agam hanya mampu menatap punggung Tika yang kuat dan keras. Bukan lagi tulang rusuknya yang dulu hilang.


"Kak Dirga, aku minta tolong. Antar Hana ke rumah, aku yang akan menjelaskan pada mas Agam. Tidak baik bagi Hana berada di rumah sakit!" ujar Tika, Hana mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, Dirga membawa Hana keluar dari rumah sakit. Agam hanya terdiam mematung. Melihat Hana pergi dengan Dirga.

__ADS_1


"Tidak perlu merasa cemburu akan kedekatan Hana dengan kak Dirga. Selama kamu mampu menunjukkan posisimu sebagai ayahnya. Tidak akan pernah Hana merasa nyaman dengan orang lain. Senyaman apapun Hana dengan orang lain. Dia akan lebih merasa nyaman dan tenang dalam pelukanmu. Karena darahmu yang mengalir dalam nadinya. Bukan darah Dirga atau laki-laki lain!" ujar Tika, lalu masuk ke dalam ruangan Hanif. Sekilas Tika melirik ibunda Agam yang tak berhati.


__ADS_2