
"Aura, boleh mama masuk!" Sapa Tika, Aura seketika menoleh. Dia melihat Tika berdiri tepat di depan kamarnya.
Tika sengaja menemui Aura, setelah Arkan mengatakan semua yang terjadi di rumah sakit. Arkan merasa perlu mengatakan pada Tika semua yang terjadi. Arkan cemas melihat kegelisahan Aura. Hanya wanita yang bisa memahami luka hati wanita. Sebab itu, Arkan percaya hanya Tika yang bisa memahami Aura. Rasa takut yang ada dalam hati Aura. Hanya Tika yang mampu menyembuhkan, bahkan menghilangkannya.
"Silahkan ma!"
"Bisa mama bicara denganmu, tapi jika kamu sibuk. Mama bisa kembali nanti!" Ujar Tika, Aura mengangguk lemah. Semburat pikiran dalam benaknya mengacaukan hidupnya. Aura hidup, tapi tak bernyawa. Waktu yang berjalan seakan begitu saja pergi.
Aura merasa sepi dalam ramai dunia. Kalut pikiran yang mengisi benaknya. Nyata membuat hidupnya cemas dan gelisah. Keraguan dan tatapan sebelah mata orang-orang di sekitarnya. Melemahkan cinta tulusnya pada Arkan. Meski tak pernah Arkan menuntut akan cintanya. Namun sebagai wanita yang berhati rapuh. Aura merasa rendah dan tak sempurna. Walau Aura tak pernah menuntut pada Allah SWT akan lemah dan tak senpurnanya. Namun terkadang Aura merasa tak adil dalam hidupnya. Sebuah anugrah yang menjadi kebahagian seorang wanita. Menjadi ibu dan istri yang sempurna bagi keluarga kecilnya.
"Aura!" Sapa Tika lirih, sembari menepuk pelan tangan Aura. Tika merasakan dingin, kala menyentuh punggung tangan Aura.
Seandainya Arkan tak mengatakan alasan gelisah Aura. Mungkin takkan pernah Tika menyadari dingin hati dan sikap Aura. Sedingin tangan yang digenggamnya kini. Kesepian yang membuat Aura merasa sendiri. Walau tak ada yang menyisihkannya. Tika mengangguk pelan, menggenggam erat tangan Aura menantu tercantiknya. Menantu yang tak pernah dia tanyakan asalnya. Hanya kepercayaan akan ketulusan cinta Arkan putranya. Sebuah keyakinan yang membuatnya tanpa ragu menerima Aura sebagai bagian dalam kehidupan putranya.
Lama keduanya terdiam, hening tanpa ada suara. Hembusan napas Aura yang nyata terdengar di telinga Tika. Keluhan terdalam atau mungkin jeritan hati seorang wanita. Istri yang tersisih akan pendapat masyarakat. Walau lemah dan tak sempurnanya. Bukan hak Aura memilih, tapi ketetapan-NYA yang tak mampu dibantah.
"Aura!" Sapa Tika penuh kasih sayang, Aura mendongak menatap dua bola mata indah Tika. Dengan tatapan penuh cinta, Tika menatap Aura menantunya. Dua wanita bercadar yang saling menyayangi tanpa batasan. Tika tidak pernah menganggap Aura menantu. Dengan sepenuh hati, Tika menganggap Aura seperti putrinya sendiri.
"Sayang, takkan ada masalah yang selesai dengan diam. Ceritakan pada orang lain, jika hatimu tak lagi mampu menampungnya. Memang ada batasan dalam bercerita, tapi diam hanya akan membuatmu hancur. Terkadang kita perlu bertukar pikiran. Bukan untuk mengumbar aib, tapi sekadar mencurahkan kegelisahan hati yang tak bertepi!"
"Mama!" Sahut Aura, lirih suara Aura menggetarkan hati terdalam Tika. Panggilan yang seolah butuh dekapannya.
Setetes bening air mata Aura jatuh. Tika melihat jelas butiran suci dari dua mata indah Aura. Ungkapan rasa sakit dan gelisah yang menyiksa Aura. Dengan sigap Tika mengusap air mata Aura. Dua tangan hangat Tika, mengusap air mata yang terlanjur terjatuh. Tika menangkup wajah Aura, menatap penuh hangat dan cinta.
"Mama ada di sini, jangan menangis. Katakan luka yang selama ini kamu simpan!" Ujar Tika hangat, tangannya menangkup wajah Aura. Air mata yang semakin deras menetes. Bersamaan dengan kepala Aura yang menunduk. Aura menangis tepat di depan Tika. Wanita yang membuatnya tegar, tapi kini menjadi wanita yang melihat lemahnya.
"Aura, tatap mama. Katakan semua pada mama. Jangan simpan apapun, mama ada buat Aura!" Ujar Tika, Aura menggeleng sembari tetap menunduk. Aura merasa tak pantas mengatakan isi hatinya pada Tika. Tak ada alasan yang membuatnya benar mengatakan masalah rumah tangganya pada Tika.
"Aura, tatap mama!" Ujar Tika tegas, Aura mendongak. Kedua matanya memerah, air mata membasahi cadarnya. Tangannya menepuk pelan dadanya.
Dugh Dugh Dugh
"Mama, sakit!" Ujar Aura lirih, sembari menekan dadanya pelan. Aura menunjukkan rasa sakit yang membuatnya sesak.
Tika menarik tubuh Aura ke dalam dekapannya. Tika mencium puncak kepala Aura. Air mata Tika menetes tanpa permisi. Rasa sakit yang dirasakan Aura. Nyata terasa oleh hati terdalamnya. Dekapan hangat Tika semakin erat. Kala tubuh Aura mulai bergetar hebat. Sakit yang teramat jelas dirasakan Aura.
"Mama, hati Aura sakit!" Ujar Aura lirih dalam dekapan Tika. Tika mendekap kepala Aura semakin dalam.
"Sayang, mama ada untuk Aura!"
"Sakit!" Suara rintihan Aura menusuk tepat hati terdalam Tika.
"Aura, mama dan Arkan ada untuk menyembuhkan sakitmu!" Ujar Tika, Aura menggeleng lemah.
"Aura tak sempurna, tak pantas Aura menemani kak Arkan!"
__ADS_1
"Siapa yang mengatkan itu? Kamu tak sempurna, tapi Arkan sempurna bersamamu!" Sahut Tika menguatkan hati Aura.
"Mama, tak penting siapa yang mengatakan hal itu? Namun kenyataan aku tak sempurna. Tak bisa ditepis, aku takkan pernah bisa membahagiakan kak Arkan!"
"Arkan bahagia bersamamu!"
"Saat ini mungkin kak Arkan bahagia. Di saat usia pernikahan kami masih seumur jagung. Namun kelak saat sepi mulai menyapa hidup kami. Kerinduan akan suara tangis bayi. Kecerian yang menghidupkan keluarga kecil kami. Harapan dari sebuah pernikahan. Hadirnya buah cinta pengikat kesucian cinta kami!"
"Aura, Arkan tak selemah itu. Dia tidak akan melupakan cinta kalian begitu saja. Mama percaya cinta kalian kuat!" Ujar Tika, Aura menggeleng lemah. Tak ada lagi keyakinan Aura melangkah bersama Arkan. Keyakinannya goyah tanpa pegangan. Tawa Arkan yang terlihat jelas di kedua matanya kala itu. Meruntuhkan keyakinan yang sedari awal rapuh.
"Kak Arkan takkan pernah lemah, tapi hatiku tak lagi mampu bertahan. Tatapan dan pertanyaan orang akan kesempurnaan pernikahan kami. Menyiksa hatiku perlahan, sampai batas sakit yang kini tak lagi mampu aku tahan!"
"Kenapa kamu peduli perkataan orang lain? Sedangkan Arkan tak pernah menanyakan semua itu. Dia yakin mampu bahagia bersamamu. Meski tanpa buah hati sekalipun!"
"Mama, terima kasih telah menghiburku. Namun lemahku bukan alasan aku mengurung kak Arkan dalam cintaku. Kak Arkan berhak bahagia. Dia pantas bahagia, walau tanpa diriku!" Ujar Aura tegas, sesaat setelah melepaskan pelukan Tika.
"Aura, tak pantas kamu bicara seperti itu. Arkam bahagia hanya bersamamu!"
"Mama, aku tak mampu menahan sakit ini. Lebih baik aku mundur, ketika langkahku telah menemui jalan buntu. Tak ada lagi bahagia dalam hidupku. Aku tak sempurna!"
"Kamu akan pergi, lantas Arkan bagaimana? Apa kamu yakin dia bahagia tanpamu?" Ujar Tika lantang, Aura menggeleng lemah.
"Takkan ada bahagia saat kami bersama. Sebaliknya perpisahan semakin membuat kami semakin tersakiti!"
"Kak Arkan berhak bahagia. Dia pantas menjadi seorang ayah yang baik. Menggandeng tangan mungil seorang anak. Menggendong penuh kehangatan keturunanan yang nyata dirindukan hatinya. Aku mencintai kak Arkan, tapi aku lebih merindukan senyum bahagianya!" Ujar Aura lemah, Tika menatap nanar Aura yang melantur.
Aura berdiri tepat di jendela kamarnya. Hanya punggung yang terlihat oleh Tika. Air mata yang berusaha di simpan oleh Aura. Tangan mungilnya menepuk dadanya pelan. Dada yang terasa sakit dan menyesakkannya. Sedangkan tangan yang lain memegang teralis jendelanya. Menopang tubuh lemahnya yang tak lagi mampu berdiri.
"Aura, jangan ingkari kata hatimu. Kamu terluka dengan perkataanmu. Untuk apa bicara banyak hal? Jika kamu menambah sakit hatimu!"
"Hatiku sakit, sangat sakit. Namun tak sesakit, ketika aku menyadari cintaku yang membelenggu kak Arkan. Penjara cinta yang menjauhkan kak Arkan dari kebahagian sejati!" Ujar Aura dingin, Tika diam membisu.
Ketegasan Aura tak lebih dari lukanya sebagai seorang wanita. Tika mencoba bersabar dan tenang. Kekalutan yang jelas diperlihatkan oleh Aura tak bisa disikapi dengan terburu-buru. Hanya ketenangan yang bisa membuat Aura sadar akan pemikirannya yang salah.
"Aura, pikirkan kembali dengan tenang. Mama akan meninggalkanmu. Apapun keputusanmu, jangan pernah berpikir kami menyisihkanmu. Sebab semua itu tidak benar, kamu bagian dari keluarga ini. Tak ada yang ingin jauh dari keluarganya!"
"Mama!" Panggil Aura, saat melihat Tika berjalan menjauh dari kamarnya.
"Ada apa?" Sahut Tika tenang.
"Jika mama tidak ingin menyisihkanku. Maka minta kak Arkan menjadikanku yang kedua!"
"Aura, tutup mulutmu!" Teriak Tika penuh emosi.
"Hanya itu cara kak Arkan bahagia. Memiliki keluarga lain yang lebih sempurna!"
__ADS_1
"Aura cukup!" Ujar Tika lirih sembari menggelengkan kepalanya pelan. Tak ada kata setuju akan keputusan bodoh Aura.
"Jika aku menikah, apa kamu akan bahagia? Bersediakah kamu tertawa bersama madumu? Sanggupkah kamu duduk di meja yang sama dengan ibu dari anakku? Mampukah kamu sendiri tanpaku, seraya melihatku bersama wanita lain?"
"Kak Arkan!" Sahut Aura lemah, Tika diam membisu.
Tap Tap Tap
"Jika kamu mampu melakukan semua itu. Sebaliknya aku tak mampu. Tak ada bahagiaku, ketika aku menyadari air matamu menetes!" Ujar Arkan dingin, tepat di depan Aura.
"Tapi kakak berhak bahagia!"
"Jika kebahagian itu ada ketika hadirnya buah hati. Kenapa aku menjadi anak tanpa kasih sayang lengkap? Aku jauh dari papa selama belasan tahun. Menangis menanti pertemuan dengan ayah yang selalu kurindukan. Katakan apa aku pantas terlahir hanya untuk terpisah dari ayah dan saudaraku?"
"Kak Arkan!"
"Jawab Aura, jangan hanya diam. Angkat kepalamu, jawab pertanyaanku selantang kamu menginginkan aku menikah lagi!" Teriak Arkan emosi.
"Arkan, tahan emosimu!"
"Mama lihat Aura, dia memintaku menikah. Berpikir aku bahagia, dia lupa, aku hancur melihat air matanya!" Teriak Arkan lantang.
"Kamu berhak bahagia!"
"Aku pantas bahagia. Memang aku pantas bahagia, tapi bagaimana aku bahagia? Bukan dirimu yang memutuskan. Selama ini aku bahagia dengan pernikahan ini. Namun semua musnah dengan pikiran bodohmu!"
"Aku memang bodoh. Aku wanita tak sempurna!" Ujar Aura dingin, Arkan menggeleng tak percaya. Dia mengusap wajahnya kasar, emosi dan kekecewaannya memuncak. Arkan merasa sakit dengan keinginan bodoh Aura.
"Cukup Aura, cukup kamu bicara. Perkataanmu hanya menyakitiku. Jika memang kamu ingin aku menikah. Aku akan menikah sesuai keinginanmu, tapi dengan syarat. Jika aku yang terbukti lemah dan tak sempurna. Saat itu juga kamu tinggalkan aku. Jangan menoleh atau mengasihaniku!"
"Kak Arkan!" Sahut Aura sembari menggeleng lemah.
"Kenapa kamu heran? Selama ini kita belum mengetahui, siapa yang tak sempurna? Jika aku bisa menikah dengan orang lain dan bahagia bersamanya. Maka kamu pantas bahagia juga, seandainya aku yang tak sempurna!" Ujar Arkan dingin, Aura menatap nanar Arkan.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Kenapa tidak? Jika aku harus menyakitimu, kenapa kamu tidak bisa menyakitiku?"
"Aku tidak akan pergi, aku akan bersamamu selamanya!" Sahut Aura lirih.
"Aura, pernikahan bukan hanya semata demi keturunan. Namun ada hal lain yang jauh lebih penting. Kamu terlahir bukan untuk terhina, karena setiap wanita terlahir sempurna. Bukan dengan pendapat orang lain. Pikirkan kembali permintaan bodohmu. Tak seharusnya kamu meragukan ketetapan-NYA. Setiap jodoh ada dengan jalan sendiri. Rejeki yang kita dapat bukan untuk digugat, tapi disyukuri dan dinikmati. Jernihkan pikiranmu, jangan jadi hamba yang lupa akan kata syukur. Hanyut dalam ambisi tanpa batas. Allah SWT memberikan yang terbaik buat kita. Meski itu bukan yang kita harapkan!" Tutur Arkan dingin, sembari melangkah menjauh dari Aura.
"Kak Arkan!"
"Aku akan tinggal di apartement, sampai kamu merasa nyaman ada di sampingku!" Sahut Arkan dingin, tanpa menoleh pada Aura.
__ADS_1