Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dia Terlalu Berharga


__ADS_3

"Bunda!"


"Bunda!"


"Bunda!" Teriak Shaila berkali-kali, Hafidz hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Shaila.


Setelah perdebatan sengit yang membuat Hafidz menampar Shaila. Hafidz mengantar pulang Shaila. Selama di perjalanan, Shaila diam membisu. Sepintas terlihat air mata menetes dari dua mata indahnya. Shaila merasa sakit hati, ketika Hafidz menamparnya demi membela Hanna. Shaila merasa Hafidz mulai mengacuhkannya. Semenjak Hanna menjadi istrinya, Shaila merasa Hafidz tak lagi menyayanginya. Jangankan menampar Shaila, memarahi atau berkata tidak untuk permintaan Shaila saja Hafidz tidak pernah. Rasa sakit tersisih yang dirasakan Shaila, membuatnya tak terima dan berniat mengadukannya pada Sinta.


Sebaliknya Hafidz hanya bisa pasrah melihat sikap manja Shaila. Tamparan yang diberikan Hafidz pada Shaila. Tidak akan mudah terlupakan. Apalagi teriakan Shaila yang menggema, seolah pertanda akan ada perdebatan lagi. Bunda Hafidz tidak akan melupakan begitu saja sikap kasar Hafidz. Shaila mungkin sudah dewasa, tapi bila dia merajuk semua orang dibuat kalang kabut. Termasuk malam ini saat Shaila pulang bersama Hafidz. Tentu akan ada rengekan manja Shaila yang membuat Sinta marah dan semakin membenci Hanna.


"Shaila, pelankan suaramu!"


"Bundaaaaa!" Teriak Shaila semakin kencang, Hafidz hanya bisa diam. Dengan perlahan Hafidz mengikuti langkah kaki Shaila. Hafidz masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan campur aduk.


"Shaila, kakak mohon pelankan suaramu. Kamu bisa mengganggu om Dirga. Mungkin dia sudah istirahat!"


"Aku tidak peduli!" Sahut Shaila ketus, Shaila berteriak memanggil Sinta.


Suara Shaila menggema di seluruh bagian rumah Hafidz. Keras suaranya membangunkan seluruh penghuni rumah. Dalam beberapa detik, Shaila sudah menciptakan kepanikan yang dahsyat. Beberapa ART sempat keluar melihat, apa yang sedang terjadi? Hafidz hanya bisa pasrah melihat Shaila yang terus berteriak penuh amarah.


"Ada apa kamu berteriak?"


"Bunda!" Teriak Shaila manja, sesaat setelah dia melihat Sinta keluar dari kamarnya. Seketika Shaila berhambur memeluk bundanya.


Shaila menangis dalam pelukan Sinta. Dia mencurahkan sakit hatinya. Bukan karena sakit tamparan Hafidz. Melainkan sikap kasar yang tak pernah Shaila bayangkan dilakukan oleh Hafidz. Kakak yang selalu melindunginya, dengan mudahnya mengangkat tangan. Menampar dan membentaknya di depan umum. Mempermalukan dirinya dan menyakiti hatinya yang merasa tersisih.


Sinta keluar dengan mukena yang masih utuh. Dia merasa khawatir mendengar teriakan Shaila. Tanpa berpikir melepas mukenanya, Sinta keluar menemui Shaila. Rasa khawatir seorang ibu yang tak ingin terjadi sesuatu pada putrinya. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Sinta memeluk Shaila. Membelai lembut kepalanya, memberikan ketenangan yang nyata dibutuhkan oleh Shaila.


"Sekarang katakan pada bunda. Kenapa kamu datang sembari menangis?" Ujar Sinta lirih, Shaila diam tak menyahuti. Shaila terus memeluk Sinta, mencari ketenangan sekaligus obat penyembuh rasa sakitnya.


Sinta bingung melihat diam Shaila. Namun sebagai seorang ibu, dia hanya bisa menunggu Shaila mengatakannya sendiri. Sinta berusaha tenang dan sabar menanti kejujuran Shaila. Sinta mencoba menenangkan hati Shaila yang kacau. Sesekali Sinta melihat ke arah Hafidz yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan naluri seorang ibu, dia merasakan ada masalah diantara Hafidz dan Shaila. Sebab tak pernah sekalipun dia melihat Shaila menangis. Ketika ada Hafidz yang menjaganya. Jika bukan masalah yang ada disebabkan oleh Hafidz.


"Duduklah, bunda akan mengambilkan air untukmu!" Ujar Sinta hangat, sembari menuntun Shaila duduk di sofa tengah.


"Ada apa dengannya? Kalian berdua bertengkar!" Ujar Dirga tiba-tiba, Hafidz langsung menoleh. Dia melihat Dirga sudah berdiri tepat di sampingnya. Lalu tak berapa lama, Hafidz menganggukan kepalanya. Hafidz mengiyakan perkataan Dirga.


"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Kita tahu sifat Shaila, dia hanya bisa menangis dan mengadu. Tanpa berpikir dirinya yang salah!" Ujar Dirga, sembari menepuk pundak Hafidz perlahan.


Dirga mengajak Hafidz duduk tepat di depan Shaila. Dirga sudah bisa membayangkan, siapa yang salah dan benar? Hanya saja Dirga pesimis, Sinta adiknya bisa melihat kebenaran. Bukan malah terus membela Shaila yang salah. Sejak dulu Sinta selalu memanjakan Shaila, apapun yang dikatakan Shaila selalu menjadi kebenaran? Apa yang benar selalu salah dimata Sinta? Ketakutan yang jelas Dirga lihat di kedua mata Hafidz. Gelisah memikirkan amarah Sinta yang akan diterimanya.


"Kenapa kamu menangis?" Ujar Dirga dingin, Shaila mendongak menatap tajam Hafidz. Lalu Shaila menoleh ke arah Dirga. Air mata Shaila seolah jawaban akan rasa sakitnya.


"Kamu bisu atau tuli. Jawab pertanyaanku, kenapa kamu menangis? Jawab, bukan malah menatap Hafidz tajam!" Ujar Dirga dingin, Shaila menghapus air matanya. Mengatur napas yang mulai tak teratur. Suara isak tangis Shaila mulai melemah.


"Kak Hafidz menamparku!" Teriak Shaila lantang, Dirga langsung menatap Hafidz. Dirga melihat sebuah pembenaran dan penyesalan dari sikap diam Hafidz.


Praaayyyyrrrr


Suara pecahan gelas menggema di seluruh rumah. Sinta terkejut sekaligus tak menyangka. Saat telinganya mendengar perkataan Shaila. Sinta merasa marah dan sakit, ketika dia tahu Hafidz menampar Shaila. Seorang kakak yang seharusnya menyayangi, malah tega menampar adik kandungnya sendiri.


"Bunda!" Teriak Hafidz cemas, dia berlari menghampiri Sinta.


Hafidz menarik tubuh Sinta menjauh dari pecahan gelas. Hafidz memeriksa setiap inci tubuh Sinta. Takut pecahan kaca melukai Sinta. Kecemasan yang nyata sebagai bentuk kasih sayang Hafidz pada ibunya. Hafidz memeluk Sinta erat, saat dia tahu tidak ada tubuh Sinta yang terluka.


"Apa benar yang dikatakan Shaila?" Ujar Sinta dingin, sembari tangannya mendorong tubuh Hafidz menjauh. Sinta menolak pelukan Hafidz, dia marah pada Hafidz.


"Maaf!"


"Jadi benar kamu menamparnya?" Ujar Sinta dingin, Hafidz mengangguk pelan.


Plaakkk


"Bunda!" Ujar Hafidz tak percaya.


"Sejak kapan tanganmu mulai terangkat di depan Shaila? Apa kamu lupa Shaila itu adik kandungmu? Apa alasan yang membuatmu setega itu? Lupakah kamu akan amanah papapmu? Jika sampai kapanpun kamu harus menjaga Shaila? Kamu tidak akan menyakiti hatinya. Kamu akan menjaga dan menyayanginya!"


"Hafidz khilaf!"


"Kamu khilaf, sejak kapan itu menjadi jawaban? Apa kelak kamu akan khilaf? Ketika tanganmu mulai terangkat pada bunda!" Ujar Sinta marah, Hafidz menunduk menyesal. Dia tak sanggup melihat amarah Sinta. Hafidz sangat menghormati Sinta. Dia tidak ingin menyakiti Sinta.

__ADS_1


"Bukan begitu bunda, Hafidz bisa menjelaskan semuanya. Shaila juga tahu alasan aku menamparnya?"


"Apapun alasanmu Hafidz, tak seharusnya kamu menampar Shaila. Dia adik kandungmu yang harus kamu sayangi. Tamparanmu bukan hanya terasa sakit di pipinya, tapi hatinya menjerit melihat sikap kasarmu!"


"Maafkan Hafidz bunda, sungguh Hafidz tidak sengaja!"


"Cukup Sinta, tidak seharusnya kamu menyalahkan Hafidz. Tanpa mendengar alasan sikapnya. Dia sudah meminta maaf, biarkan dia menjelaskan alasannya. Aku percaya Hafidz melakukannya, karena marah melihat sikap Sinta yang tak pantas!"


"Tapi apapun kesalahan Shaila? Tak sepantasnya Hafidz bersikap kasar. Dia bisa mengatakan baik-baik pada Shaila!"


"Sinta, kamu lugu atau pura-pura bodoh. Sejak kapan Shaila bersedia mendengar pendapat orang lain? Dia hanya peduli pada pikiran kotornya saja. Sudah saatnya kamu mendengar kesalahannya, bukan terus membelanya!"


Sinta terdiam, perkataan Dirga menyudutkan dirinya. Diakui atau tidak, perkataan Dirga benar adanya. Dia selalu membela Shaila, tak pernah sekalipun Sinta membuka pikirannya. Mengakui jika Shaila bisa berbuat salah. Selalu saja Sinta menganggap Shaila benar. Termasuk saat masalah keluarga Shaila mencuat. Sinta mendukung Shaila, meski jelas Shaila yang telah salah. Shaila yang melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, terasa benar di hadapan Sinta. Alasan yang membuat Sinta membiarkan Shaila tinggal bersamanya.


"Shaila, katakan kenapa Hafidz menamparmu? Dia bukan pribadi yang kasar. Aku yakin ada alasan yang kuat dia menamparmu!" Ujar Dirga bijak, Shaila menatap lekat Dirga. Hafidz menunduk, dia pasrah apapun perkataan Shaila. Dia sudah menduga akan resika yang dia terima.


"Aku berdebat dengan Hanna, lalu kak Hafidz membelanya dan menamparku!"


"Kak Hanna, dia kakak iparmu!" Sahut Dirga.


"Aku tak pernah mengakuinya. Apalagi demi dirinya, kak Hafidz menamparku di depan umum. Kak Hafidz membentakku, dia menjadikanku badut tontonan!"


"Kamu menampar Shaila, hanya demi Hanna. Apa kamu kehilangan akal? Secinta itukah kamu pada Hanna. Sampai kamu lupa kentalnya darah diantara kamu dan Shaila!" Ujar Sinta penuh emosi, Hafidz diam mendengarkan.


Amarah Sinta tak bisa dibantahnya, bukan membenarkan pendapat Hanna. Namun menyanggah perkataan Sinta, tak pernah bisa dilakukan Hafidz. Dia sangat menghormati Sinta. Perjuangan Sinta membesarkannya, tak pernah bisa dibalas oleh Hafidz. Hanya Dirga yang berpikir jernih, menganggap perkataan Shaila hanya alasan tanpa kebenaran.


"Bukan itu saja, Hanna mempertanyakan penghasilan kak Hafidz. Dia mempermasalahkan penghasilan kakak yang diberikan pada kita. Hanna tak terima kakak memberikan sebagian penghasilannya untuk kita!" Ujar Shaila tanpa dosa, Hafidz menggeleng lemah. Dia tak setuju dengan perkataan Shaila. Nyatanya Hanna tak pernah mempermasalahkan semua itu.


"Siapa Hanna sampai bertanya seperti itu? Baru beberapa hari dia menjadi istrimu. Dia sudah berani mempertanyakan penghasilanmu. Hanna ingin mengusaimu, apa dia baru puas saat kamu jauh dariku?"


"Bunda, Hanna tidak seperti itu? Shaila yang terlalu mengada-ada. Hanna tak pernah bertanya penghasilanku. Dia tak pernah mempermasalahkan, kemana aku membagi penghasilanku?" Ujar Hafidz lirih, Sinta menatap tajam Hafidz. Seakan tak terima Hafidz membela Hanna.


"Bunda dengar sendiri, kak Hafidz membela Hanna. Dia membantah perkataan bunda. Hanna tak pernah salah di mata kak Hafidz. Sebaliknya kita yang selalu salah telah berpikur jahat tentang Hanna!" Ujar Shaila memanasi, Hafidz hanya bisa menggelengkan kepala tak setuju. Dia tak mampu membantah Sinta. Apalagi perkataan Shaila terus menyudutkan Hanna. Tidak ada celah Hafidz membela Hanna.


"Diam kamu Shaila!" Teriak Dirga emosi, dia mengacungkan telunjuknya ke arah Shaila. Dirga tak sanggup lagi, mendengar Shaila menyudutkan Hanna.


"Kamu terlalu banyak bicara, sedangkan perkataanmu tak lebih dari kebohongan. Apa kamu pikir aku akan percaya? Jika Hanna mempermasalahkan penghasilan Hafidz. Sedangkan tanpa penghasilan Hafidz, Hanna mampu berdiri sendiri!"


"Maksud om Dirga!"


"Kenapa kamu terkejut Hafidz? Apa yang kukatakan memang benar? Bukankah Hanna tak pernah bertanya tentang pekerjaan atau penghasilanmu. Sebaliknya kamu juga tak pernah tahu, apa saja bisnis yang dikelola Hanna? Kamu terlalu larut dalam cintamu, sampai kami lupa arti cinta itu sendiri!"


"Hanna bukan wanita sembarangan. Dia bukan anak manja, layaknya Shaila adikmu. Wanita yang hanya bisa menghabiskan uang, tanpa tahu susahnya mendapatkan semua itu. Hanna seorang yang pekerja keras. Kemewahan yang dimilikinya, tak pernah membuatnya tamak. Dia selalu hidup sederhana dengan jerih payahnya!"


"Kakak terlalu berlebihan. Dia hanya anak manja yang bisanya belanja. Buktinya dia mempermasalahkan penghasilan Hafidz!" Sahut Sinta ketus, Dirga menggeleng lemah.


Braakkkk


"Lihat video itu baik-baik, setelah itu kamu bicara. Siapa yang salah? Putri manjamu Shaila atau menantu yang kamu ragukan Hanna!" Ujar Dirga, seraya melempar ponselnya ke arah Sinta.


Dengan tangan bergetar, Sinta melihat isi video yang ditunjukkan Dirga. Jelas terlihat awal mula pertikai Hanna dengan Shaila. Bahkan keras tamparan Hafidz, terdengar nyaring di telinga Sinta. Hafidz menunduk terdiam, ketika dia melihat Sinta memegang dadanya. Suara keras tamparan Hafidz. Bak petir yang menyambar tubuh Sinta. Sekilas air mata Sinta menetes, kala dia melihat dua buah hatinya bertengkar. Seakan sebuah gelas retak, awal hubungan Shaila dan Hafidz yang mulai merenggang.


"Tidak mungkin!"


"Sinta, buka mata hatimu. Hanna tidak serendah pendapatmu. Hafidz memang salah telah menampar Shaila. Namun aku akan lakukan hal yang sama. Ketika istriku tak lagi dihargai. Termasuk oleh adik dan ibuku sendiri. Ketahuilah satu hal Sinta. Hafidz menikah dengan Hanna, karena dia mencintai Hanna. Bukan untuk kamu ragukan dan kamu hina!"


"Aku tidak akan meragukannya, bila memang dia pantas. Seharusnya sebagai seorang kakak, Hanna bisa mengalah pada Shaila. Sebaliknya sebagai seorang istri, Hanna harus bisa menyatukan Hafidz dan Shaila. Bukan menjadi penonton, seakan pertengkaran Hafidz dan Shaila itu sesuatu yang menyenangkan!"


"Bunda cukup!"


"Kenapa kamu marah? Bukankah bunda benar, Hanna diam saja saat kamu menampar Shaila. Hanna tetap berdebat dengan Shaila. Seharusnya dia bijak, mengalah dan mengakui salah. Selama itu bisa menghindari pertengkaran!"


"Bunda salah, Hanna tidak diam saat aku manampar Shaila. Hanna tak pernah menyalahkan Shaila. Dia diam setiap kali Shaila menghinanya. Hanna tak seburuk itu, dia wanita yang berharga. Bunda tak mengenalnya, begitu juga aku. Jika bunda berpikir, Hanna yang beruntung menikah denganku. Bunda salah besar? Sebaliknya aku yang tak pantas menjadi imamnya!" Ujar Hafidz lirih, setetes air mata bening membasahi pipinya.


Hafidz menunduk seraya menutup wajahnya. Sinta mendengar isak tangis Hafidz. Sekian lama dia tak pernah melihat Hafidz menangis. Malam ini, kedua telinganya mendengar jeritan terdalam Hafidz. Rasa sakit yang entah kenapa mulai mengusik hatinya? Sinta terdiam membisu, air mata Hafidz menusuk relung hatinya. Sinta mulai merasakan sesak di dadanya. Dia melihat putranya sakit, sangat sakit.


"Hafidz!"


"Bunda, Hanna bukan wanita biasa. Dia terlalu berharga, untuk terus bunda hina. Hanna tak pantas terus disalahkan. Dia tak pernah menyudutkan bunda, kenapa bunda selalu merendahkannya? Bodohnya aku yang memaksa menikahinya. Jika nyata harga diri ya terus terhina oleh orang-orang yang kusayangi!" Ujar Hafidz lirih, Shaila dan Sinta tak lagi bisa berkata. Bibirnya kelu melihat air mata Hafidz.

__ADS_1


"Hafidz, kenapa kamu menangis demi Hanna? kamu laki-laki, tak pantas kamu menangisi wanita!"


"Kenapa bunda?"


"Apa maksudmu?" Sahut Sinta tak mengerti.


"Kenapa Hafidz harus mengenal Hanna? Jika nyatanya, Hafidz orang yang membuatnya terhina. Cinta bodoh Hafidz yang membuat Hanna tak berharga di mata keluarga ini!"


"Hafidz, maafkan bunda!"


"Hanna bak permata murni yang berkilau. Hatinya lembut dan hangat. Hafidz bak butiran debu di hadapannya. Saat Hafidz mengejar dunia tanpa henti. Menggapai kesuksesaan demi bunda. Agar bunda tak kekurangan. Di saat yang sama, Hanna bekerja demi kemanusian. Membiayai banyak yayasan dan panti asuhan. Melupakan hidup mewah, demi memberikan hidup layak bagi yang kekurangan!"


"Hafidz kamu bercanda!" Ujar Sinta tak percaya, Hafidz tersenyum sinis.


"Bukan Hanna yang hina, tapi Hafidz putramu yang tamak!"


"Sinta, aku tidak akan memintamu belajar menerima Hanna. Sebab Hanna pantas mendapatkan ibu mertua yang jauh lebih baik darimu. Hanna terlalu berharga!" Ujar Dirga, lalu berdiri meninggalkan Sinta.


"Shaila, sekali lagi kamu menghina Hanna. Om akan pastikan kamu hidup sengsara. Agar kamu tahu arti sebuah kerja keras!" Ujar Dirga dingib pada Shaila.


"Bunda, Hafidz pulang!"


"Hafidz menginaplah!" Ujar Sinta, Hafidz menggeleng lemah.


"Aku mulai bergantung pada Hanna. Aku mulai merasa nyaman di sampingnya dan merasa asing tanpanya!"


"Tapi ini rumahmu!"


"Rumahku tak lagi menghangatkanku. Rumah ini mulai asing, semenjak Hanna tersisih dari rumah ini!"


"Bunda mohon, menginaplah setidaknya demi kerinduan bunda!" Ujar Sinta memaksa, Hafidz terdiam. Hati dan pikirannya hanya bersama Hanna.


"Menginaplah, jangan biarkan seorang ibu memohon!"


"Hanna!"


"Aku kemari hanya ingin meminta maaf!"


"Sayang!"


"Bunda, jangan pernah salahkan kak Hafidz akan sikap kasarnya. Amarahnya hanya sesaat, selamanya Shaila adiknya. Tak pernah ada seorang kakak yang dengan sengaja menyakiti adiknya!" Ujar Hanna sembari menangkupkan kedua tangan tepat di depan dadanya. Hanna berdiri tepat di depan Sinta.


"Sayang!"


"Kak Hafidz sudah sangat lelah. Izinkan aku yang menerima amarah bunda. Aku tulang rusuknya kini, jadi biarkan aku yang menanggung semua salahnya!" Ujar Hanna lantang, Hafidz menggeleng seraya menatap Hanna. Dengan kedipan mata, Hanna seolah mengatakan semua baik-baik saja.


"Kenapa kamu menerima hinaan ini?"


"Karena dia suamiku, pemimpin yang tak pantas terhina. Biarkan dia berdiri tegak dengan segala kekurangannya!"


"Bunda, wanita munafik ini hanya bersilat lidah!"


"Shaila diam!" Teriak Sinta lantang.


"Sudah sangat malam, saya permisi pulang!"


"Kak Hafidz, menginaplah di sini. Bunda membutuhkanmu, terlalu banyak yang di dengarnya!"


"Selamat malam!" Ujar Hanna lalu melangkah menjauh.


"Maafkan aku!" Bisik Hafidz tepat di telinga Hanna. Hafidz memeluk erat Hanna dari belakang, bersandar di pundak Hanna.


"Aku harus pulang!" Ujar Hanna lirih, seraya melepaskan pelukan Hafidz.


"Sayang, kita pulang bersama!"


"Percayalah, aku baik-baik saja. Aku takkan lemah, hanya karena keraguan keluargamu. Cintaku tak serapuh itu!"


"Maafkan aku, maaf!" Ujar Hafidz, seraya menatap punggung Hanna yang menjauh.

__ADS_1


__ADS_2