Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pelindungku


__ADS_3

Langit malam terlihat sangat indah, seindah malamku hari ini. Suara hewan malam terdengar merdu, seperti suara hatiku yang gembira. Paduan indah malam hari yang indah, membuat hatiku semakin bahagia. Malam ini akhir semua perjuanganku. Jawaban dari setiap doa dalam setiap sujudku.


Ketulusan dalam pernikahanku, akhirnya terjawab sudah. Semua berakhir dengan rasa bahagia, seiring doa tulus dalam pernikahanku. Kelahiran dua buah hatiku, semangat dalam setiap napas hidupku. Keajaiban sebuah doa dan harapan dari seorang ibu.


Malam ini aku dan kedua bayiku berada dalam satu kamar. Bunda setia menemaniku, mas Agam siaga menjagaku. Papa Dimas setia mendampingi bunda, tapi besok pagi papa dan bunda akan pulang. Sebab terjadi suatu masalah di perusahaan papa yang mengharuskan beliau harus segera kembali.


Aku terbangun saat mendengar suara tangis baby Hanif dan baby Hanna. Mereka menangis sangat keras. Mas Agam dengan sigap langsung terbangun, dia melihat kondisi kedua bayi mungilku. Dia bingung harus melakukan apa?


"Mas Agam!" sapaku, terlihat dia berjalan mendekat padaku.


"Sayang, mereka membangunkanmu. Aku bingung harus bagaimana? Bunda tertidur, aku takut membangunkan bunda!"


" Mas Agam, jika kamu takut menggendong mereka. Kamu buatkan susu saja, nanti berikan pada mereka. Mungkin mereka menangis, karena kehausan!"


"Sayang, bagaimana cara membuat susu? Aku bingung, takut salah." ujarnya bingung, aku tersenyum melihat mas Agam kebingungan. Aku mencoba duduk, mas Agam berlari menghampiriku.


"Sayang, kamu akan kemana? Kamu tidak perlu turun, biarkan aku yang membuatnya. Kamu hanya memberikan perintah, aku akan melakukan sesuai perintahmu."


"Aku hanya ingin duduk, agar aku bisa membantumu membuat susu." ujarku, mas Agam mengangguk. Dia membantuku duduk dengan sangat telaten.


"Mas Agam, berikan botol susu, susu, dan, air panasnya. Aku akan membuatnya, nanti kamu bisa membuatnya sendiri. Seandainya mereka menangis lagi!" ujarku, mas Agam mengangguk.


Mas Agam memberikan semua perlengkapan yang aku minta. Aku melihat mas Agam cekatan membantuku membuat susu. Dia begitu telaten merawat kedua buah hatiku.


Setelah susu yang aku buat siap, mas Agam memberikan susu pada kedua buah hati kami. Tangan kanannya memberikan susu pada baby Hanif, tangan kirinya memberikan susu pada baby Hanna. Aku melihat mas Agam kebingungan, memberikan susu pada kedua anak kami. Sungguh pemandangan yang mengharukan, aku melihat kasih sayang seorang ayah yang begitu tulus. Meski dia tidak mengetahui cara membuat susu, tapi dia bertekad agar bisa membantu membuatkan susu.


Setelah susu habis, kedua babyku tertidur kembali. Mas Agam mamandang lekat kedua bauh hati kami. Aku melihat mas Agam mengusap lembut pipi gembul mereka. Lalu mencium lembut pipi mereka. Kasih sayang mas Agam terlihat jelas dalam tatapanku.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya mereka bisa tertidur. Aku takut jika mereka tidak bisa tidur kembali. Beruntungnya mereka tidak rewel. Mereka mengetahui jika papanya belum bisa merawat mereka dengan baik!"


"Mas Agam, semua ini salahku. ASI ku belum bisa keluar, mungkin juga ASI ku tidak bisa untuk mereka. Maafkan aku jika mereka harus minum susu formula. Mas Agam juga harus repot membuatkan susu!"


"Sayang, sudah cukup pengorbananmu untuk kami. Meski mereka tidak meminum ASI, tapi kasih sayang kita yang akan membesarkan mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka kekurangan kasih sayang. Jika mereka bisa meminum ASI, itu sudah menjadi rejeki mereka."


"Seharusnya mereka bisa meminum ASI, supaya mereka bisa tumbuh dengan baik. Namun sepertinya, pengobatanku akan mengganggu kelancaran ASI ku. Takutnya obat-obatan yang aku minum, akan mengganggu perkembangan mereka."


"Sayang, aku cukup bahagia melihat mereka terlahir sempurna. Semua semakin terasa lengkap, dengan hadirnya dirimu di tengah-tengah kami. Jadi tidak akan ada penyesalan lagi, semua sudah lebih dari cukup untuk kami. Mereka akan tumbuh dengan kasih sayang lengkap dan sempurna dari kita."


"Mas Agam akan memiliki pekerjaan baru. Bangun tengah malam untuk membuatkan susu kedua baby kita. Pasti mas Agam akan kurang istirahat. Apa mas Agam sanggup melakukannya?" ujarku, mas Agam menggeleng seraya tersenyum.


"Jauh lebih berat dirimu daripada yang akan aku lakukan. Selama sembilan bulan kamu mengandung mereka, menahan setiap rasa sakit. Sudah cukup pengorbananmu, sekarang gantian aku yang melakukannya!"


"Mas Agam, tidak akan pernah cukup kasih sayang kita. Mereka yang harus kita jaga dan kita lindungi mulai hari ini. Penyatu cinta kita!"


"Mas Agam yang membuatku menjadi istri yang sempurna. Kesabaranmu menghadapi sifat manjaku dan keras kepalaku. Sehingga pernikahan kita bisa bertahan sampai hari ini!"


"Sayang, sudah larut malam kamu segera tidur. Aku akan menjaga mereka, supaya tidak mengganggu tidurmu!" ujarnya lirih, aku mengangguk. Mas Agam mengecup keningku lembut. Kecupan hangat yang pernah sempat hilang dari diriku.


Mas Agam sengaja tidur di dekat box bayiku. Mas Agam tidak ingin mereka menangis lagi, lalu membangunkan tidurku. Aku melihat sisi lain seorang Abdillah Abqari Agam. Laki-laki yang telah menikahiku selama dua tahun lebih. Imam sholatku sekaligus panutan dalam setiap langkahku.


Jodoh tidak pernah salah, aku bertemu dan menikah dengan laki-laki yang tepat. Aku menikah karena iman, aku bersamanya juga demi kesempurnaan iman. Sebanyak ujian yang menerpa kehidupan rumah tangga kami. Seteguh itu pula kami tetap bersatu. Tak akan kubiarkan kisah kami berakhir dengan mudah.


Mas Agam laki-laki yang mampu mengetuk pintu hatiku dengan iman. Seorang suami yang menerima kelemahanku sebagai seorang istri. Seorang ayah yang akan siaga demi anak-anakku. Ketulusan kasih sayangnya, tak mengharapkan balasan.


Malam ini aku melihat, betapa tulus dia menyayangiku. Mas Agam seakan ingin menghadang semua rasa sakit. Hanya demi sebuah senyum dan ketenangan dari wajahku. Dia menjadi pelindung dan penjaga untukku dan bayiku.

__ADS_1


Rasa kantuk mulai menyergapku, entah jam berapa aku mulai tertidur kembali? Obat-obatan yang aku minum, memiliki reaksi penenang. Jadi dengan mudah akan membuatku tertidur. Sekitar pukul 03.00 wib, aku terbangun karena haus. Aku menoleh ke arah box bayi. Aku melihat mas Agam tertidur sembari duduk, di samping mereka. Ternyata mas Agam benar-benar menjaga mereka.


"Mas Agam, maafkan aku jika belum bisa membantumu merawat mereka. Bahkan demi kenyamananku, kamu harus tidur sembari duduk. Kamu harus kesusahan hanya agar aku merasa nyaman. Sungguh aku beruntung menikah dengan laki-laki sepertimu. Kamu mampu mengimbangi sikap manjaku. Kamu menjadikanku wanita yang berarti dalam hidupmu. Semoga cinta dan ketulusan kita tetap bertahan! Semoga takkan lagi ada ujian dalam pernikahan kita." batinku.


"Tika!" sapa bunda, aku menoleh padanya.


"Bunda!" sahutku, aku terkejut melihat bunda belum tidur. Beliau mendekat padaku.


"Tika butuh sesuatu, biar bunda ambilka!" ujarnya, aku mengangguk pelan.


"Tika haus!" ujarku, bunda mengambilkan segelas air minum. Setelah aku meminumnya, bunda mengambil kembali gelas yang aku pegang.


"Bunda kenapa bangun? Apa tika membuat bunda kaget?"


"Bunda sudah bangun sejak si kembar menangis, tapi bunda sengaja tidak bangun untuk melihat Agam merawatmu dan kedua bayimu. Bunda bisa tenang meninggalkanmu besok, Agam membuktikan pada bunda. Bahwa dia tidak hanya menyayangimu, tapi dia mampu menjadi pelindung yang tepat untukmu dan kedua anakmu. Bunda berharap, apa yang bunda lihat tadi? Tidak akan berubah sampai kapanpun? Jaga ketulusan pernikahan kalian, jangan biarkan apapun menghancurkannya."


"Bunda akan meninggalkan Tika!"


"Sayang, kewajiban bunda dan papa sudah selesai padamu. Sekarang hidupmu dan anak-anakmu akan menjadi tanggung jawab Agam. Dia yang lebih berhak akan dirimu. Bunda berpesan padamu, jadilah istri yang mengutamakan kepentingan suami. Sehingga kamu akan senantiasa menerima berkah darinya!"


"Tika akan mengingat pesan bunda!" sahutku.


"Sayang, kamu sudah dewasa. Bunda menyayangimu. Agam laki-laki yang tepat untukmu. Jaga kehormatannya seperti kamu menjaga kehormatan kedua orang tuamu." ujar bunda singkat, lalu memelukku erat. Aku mengangguk dalam pelukan hangatnya.


" Tidurlah, bunda akan menjagamu!" ujarnya, aku mengangguk pelan. Kupejamkan kedua mataku. Malamku dipenuhi kasih sayang. Aku mendapatkan banyak cinta, dari dua orang yang paling penting dalam hidupku.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2