Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Tamparan


__ADS_3

Tak terasa pernikahan Agam dan Tika menginjak usia lima tahun. Si kembar sekarang berusia tiga tahun. Mereka tumbuh dengan sehat dan lucu. Tika selalu memperhatikan kebutuhan mereka secara langsung. Pernikahan yang mereka jalani berjalan dengan sangat harmonis.


Agam menjadi suami terbaik untuk Tika. Sekaligus menjadi ayah terbaik untuk kedua putra-putri mereka. Bik Asih dan Zahro setia menemani mereka. Baik Agam dan Tika tidak pernah menganggap mereka orang lain. Kehidupan penuh dengan kebahagian yang selalu didambakan oleh setiap orang.


Namun kebahagian itu mulai terusik. Ketenangan dalam rumah tangga mereka mulai goyah. Permasalahan mulai menyeruak mengusik pondasi rumah tangga yang kokoh. Badai dalam rumah tangga Tika yang tak mampu dibendung.


Pagi yang cerah menjadi suram bagi Tika. Tidak angin atau hujan, kedua orang tua Agam datang berkunjung. Permasalahan bukan pada kunjungan mereka, tapi dengan siapa mereka datang? Orang tua Agam datang membawa seorang wanita muda, cantik dan pintar. Dia Zalwa Ainun Azizah, masih saudara jauh dari Agam.


Kebetulan Agam belum berangkat menuju kantor. Sehingga dia sempat bertemu dengan kedua orang tuanya. Tika yang kebetulan sedang memandikan si kembar, belum bertemu dengan kedua mertuanya. Bik Asih yang membuka pintu keheranan, melihat wanita cantik yang datang membawa koper.


"Agam, kamu masih mengingat Zalwa. Dia putri sahabat ayah dari kota L. Sengaja datang kemari ingin mencari pekerjaan!" ujar ayah Ilham serius, Agam terdiam mendengarkan perkataan ayahnya.


"Lantas hubungannya dengan kedatangan ayah kemari apa? Jangan katakan ayah akan menitipkannya padaku!" sahut Agam sinis, ayah Ilham mengangguk lemah.


"Kedatangan ayah ingin menitipkannya di rumahmu. Sekaligus ayah ingin meminta bantuanmu mendapatkan pekerjaan di perusahaanmu!"


"Ayah bercanda, aku tidak akan memenuhi permintaan ayah. Sudah cukup permasalahanku dengan Annisa dulu. Aku tidak ingin ada wanita lain dalam rumah tanggaku!"


"Agam, kamu jangan keterlaluan. Ayah berhutang budi pada orang tua Zalwa. Apa salahnya jika kamu membantu mereka sekarang? Sebagai bentuk balas budi ayah pada mereka!"


"Ayahmu benar Agam, Zalwa wanita yang baik. Bunda yakin tidak akan dia mengganggu rumah tanggamu. Kamu bisa menempatkan Zalwa di paviliun depan. Jadi Zalwa tidak perlu masuk ke dalam rumahmu!"


"Ayah, membalas budi pada mereka juga tidak harus menerima putrinya di rumahku. Ayah mengetahui dengan jelas, bagaimana dulu Annisa hadir diantara aku dan Tika? Aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Aku mohon ayah, jangan paksa Agam!"


"Selama hidup ayah, tidak pernah sekalipun meminta bantuanmu. Kenapa untuk masalah sekecil ini kamu tidak mengabulkannya? Jika semua ini karena Tika. Biar ayah sendiri yanga mengatakannya. Jika perlu ayah akan mrnyembah padanya!" ujar ayah Ilham marah, suaranya begitu keras sehingga terdengar oleh Tika yang berada di dalam kamar.


Seketika Tika kaget, jantungnya berdebar hebat. Ada rasa tidak nyaman yang dia rasakan. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba gelisah? Sontak saja Tika keluar dari kamar. Tepat saat membuka pintu kamar, dia bertemu dengan bik Asih.

__ADS_1


"Bik Asih, siapa yang berteriak marah?"


"Itu mbak Tika, ayahnya mas Agam. Beliau datang bersama bundanya mas Agam dan seorang wanita. Anehnya Wanita itu membawa koper besar, seakan ingin tinggal disini!"


"Bik Asih kenal dengan wanita itu? Apa dia pernah datang kemari?" tanya Tika, bik Asih menggeleng lemah.


"Bik Asih tolong jaga si kembar. Aku akan menyapa orang tua mas Agam!" ujar Tika, bik Asih mengangguk. Tika berjalan perlahan menuju ruang tamu. Tubunya tiba-tiba bergetar hebat, saat kedua mata indahnya melihat wanita cantik duduk di samping bunda Salwa.


"Assalamualaikum!" ujar Tika, lalu mencium punggung tangan kedua orang tua Agam. Tika tersenyum pada wanita cantik di sebelah bunda Agam.


"Waalaikumsalam!" sahut mereka serempak.


Tika memilih duduk dekat Agam, sedangkan wanita yang entah siapa namanya? Menatap Tika tanpa berkedip. Tika merasa risih, saat wanita itu menatapnya.


"Tika, kebetulan kamu datang kemari. Ayah ingin menyampaikan sesuatu!"


"Ayah, Agam sudah katakan tidak bisa. Jangan memaksa Tika untuk menerima permintaan kalian yang tidak masuk akal!"


"Silahkan ayah katakan, aku siap mendengarkannya!" ujar Tika lirih, Agam tertunduk lesu. Ketenangan pernikahannya dipertaruhkan hanya karena sebuah balas budi.


"Tika, dia Zalwa Ainun Azizah. Dia putri sahabat ayah, dulu keluarga mereka selalu membantu ayah di masa terpuruk. Sekarang mereka butuh bantuan ayah. Zalwa putri sulung keluarga ini. Dia harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Ayah hanya minta Agam menerima dia sebagai pegawai, sekaligus memberi tempat tinggal sementara!"


"Tika, bunda tahu kamu pasti marah dengan permintaan ayah. Namun kami juga harus membalas budi baik mereka. Tidak mungkin kami diam saja, tanpa sedikitpun membantu. Padahal dulu mereka yang sering membantu kami!" ujar bunda Salwa, Tika menunduk lemas. Dia memegang dadanya yang tiba-tiba ngilu. Kini dia tahu, alasan kegelisahan hatinya. Pernikahannya terkoyak oleh kehadiran wanita lain.


"Sayang, jangan dengarkan perkataan ayah dan bunda. Aku sudah menolak dengan tegas permintaan mereka!"


"Agam, kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu keterlaluan Agam!" ujar Ayah Ilham emosi.

__ADS_1


"Om, aku kemari bukan mengemis. Jika kak Agam tidak ingin membantuku, tidak apa-apa? Aku bisa mencari pekerjaan di tempat lain!" sahut wanita itu sopan, suaranya sangat merdu. Hanya dengan mendengar suaranya, kita mampu mengerti betapa cantiknya dia.


"Tika, katakan apa jawabanmu atas permintaan kami?"


"Ayah, semua tergantung keputusan mas Agam. Dia kepala keluarga dalam rumah tangga kami. Namun ayah jangan salah sangka atas jawaban saya. Secara pribadi saya tidak keberatan mbak Zalwa bekerja dan tinggal di rumah ini. Sebaliknya saya sangat senang, jika mas Agam bisa membalas budi baik kedua orang tua mbak Zalwa. Itu artinya mas Agam sudah bisa menggantikan ayah membalas budi."


"Itu artinya kamu setuju Zalwa tinggal di sini!" ujar bunda Salwa senang, ayah Ilham dan Zalwa terlihat tersenyum penuh kemenangan. Agam menunduk seakan malu dengan permintaan orang tuanya.


"Bunda Salwa, sudah kukatakan semua tergantung mas Agam. Aku tidak akan menentang keputusannya. Aku selalu mengingatkan kepadanya. Bahwa kalian berdua lebih utama dibandingkan diriku dan anak-anak. Jadi mas Agam sudah bisa memutuskan. Namun sebelum semua berjalan di jalan yang salah" ujarku, berhenti sejenak sekadar untuk mengambil napas dan memantapkan hati.


"Apakah kalian yakin membawa seorang wanita masuk ke dalam rumah putra kalian yang sudah beristri? Tidakkah pernah terbesit satu pemikiran, bahwa wanita lain berada di bawah atap yang sama dengan suami wanita lain itu sangatlah tidak pantas. Jika sekarang semua terbalik. Zalwa berada pada posisiku, sedangkan aku berada diposisinya. Mungkinkah Zalwa akan menerima permintaan ini! Tidakkah Zalwa menganggapku tak lebih dari wanita murahan!" tutur Tika, bunda Salwa marah. Dia berdiri menghampiri Tika, dengan sekuat tenaga dia mengangkat tangan.


Plakk


"Jaga bicaramu Tika, kamu masih anak kecil. Jadi jangan mengajariku, apa yang baik dan benar? Kamu lupa seandainya terjadi sesuatu diantara Agam dan Zalwa. Semua itu karena kelemahanmu, yang membuat Agam berpindah ke lain hati!"


"Bunda cukup, kenapa bunda marah pada Tika? Apa yang dikatakan dia benar?"


"Agam, sekarang kamu harus memilih. Menerima Zalwa di rumahmu atau bunda akan pergi jauh dari hidupmu!"


"Tunggu, hentikan semua ini! Zalwa akan tinggal di rumah ini. Tika akan menyetujui permintaan kalian!"


"Bunda!" panggil Tika dan Agam bersama.


"Tika sayang, bunda bangga kamu bisa membela diri. Namun kamu harus ingat, sampai kapanpun orang tua Agam jauh lebiu berharga dari kamu. Biarkan wanita itu tinggal di sini. Buktikan pada orang tua yang tidak pernah menghargai ketulusanmu. Bahwa cinta kalian tidak rapuh, tapi jika wanita ini mampu memutuskan tali perjodohan diantara kalian. Masih ada si kembar, harapanmu tetap bisa bertahan!" ujar Bunda Nissa yang tiba-tiba datang. Dia mengelus lembut pipi Tika, lalu memeluknya.


"Pengorbananmu tidak akan sia-sia, mereka akan menyesal melakukan semua ini padamu!" bisik bunda Nissa, akhirnya Tika dan bunda Nissa masuk ke dalam rumah. Sengaja Nissa datang ingin melihat kedua cucu kecilnya.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😋😋😋


__ADS_2