Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hanif Arkan Khairullanam


__ADS_3

"Dokter Arkan!" panggil Bayu, Arkan menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan 180°, dia melihat dokter Bayu sedang berjalan ke arahnya.


"Ada apa dokter?" ujar Arkan ramah, Bayu mengangguk pelan menyahuti perkataan Arkan. Dengan hangat Bayu merangkul Arkan. Mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan VVIP. Meski Arkan tak mengetahui alasan Bayu mengajaknya. Namun sebagai seorang dokter, Arkan harus siap kapanpun dibutuhkan? Serta merawat siapapun yang membutuhkan bantuannya?


Kreeekk


"Assalammualaikum!" ucap Bayu, terdengar sahutan dari dalam kamar. Arkan terus mengikuti langkah kaki Bayu. Meski dia tak pernah mengetahui alasan kedatangan ke ruangan ini. Sekilas Arkan melihat isi dari ruangan yang di datanginya.


Sebuah ruangan berukuran besar, sebesar kamar kostnya saat ini. Fasilitas yang ada tidak biasa. Semuanya mewah dan sangat lengkap. Sepintas Arkan berpikir yang ada di ruangan ini bukan orang sembarangan. Dengan fasilitas layaknya hotel dan perawatan langsung oleh dokter sekelas Bayu. Bukanlah hal yang bisa dianggap biasa saja.


Deg Deg Deg


Arkan menekan dadanya yang tiba-tiba berdetak sangat cepat. Detak jantung Arkan berpacu tanpa bisa dikendalikan. Tubuhnya mulai bergetar, seolah Arkan akan mengalamu sesuatu yang tak biasa. Arkan mencoba menenangkan diri, dia berusaha mencari alasan kegelisahannya.


"Dokter Arkan!" panggil Bayu ramah, Arkan mengangkat kepalanya perlahan.


Kedua bola mata Arkan membulat sempurna. Ketika dia melihat laki-laki paruh baya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Meski usianya tak lagi muda, tapi ketampanannya masih jelas terlihat. Sosok yang dirindukannya selama bertahun-tahun. Dekapan dan pelukan hangat yang senantiasa diharapkan oleh Arkan.

__ADS_1


"papa!" batin Arkan.


Tubuh Arkan membeku, bibirnya kelu tak lagi mampu bicara. Sosok yang lama dirindukan tengah terbaring lemah. Tubuh yang dulunya kekar, kini lemah tak bertenaga. Selang infus terpasang di telapak kirinya. Penopang hidup sang ayah kini. Semua terasa menyakitkan bagi Arkan. Namun tak ada yang bisa dilakukan Arkan. Hanya diam membisu, menepati janjinya pada Tika. Untuk tetap diam tanpa mengatakan siapa jati dirinya.


"Dokter Arkan, dia pak Agam. Pasien yang ingin saya pertemukan dengan anda. Beliau mengalami gagal ginjal dan harus menerima transplantasi ginjal. Sudah sebulan terakhir beliau dirawat. Dia sedang menunggu donor ginjal yang cocok!" ujar Bayu lirih, Arkan diam membisu.


Tubuhnya bergetar hebat, tulangnya terasa lemah tak bertenaga. Kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Kedua matanya terasa panas. Air mata murninya memaksa untuk menetes. Namun Arkan mencoba untuk tenang, dia tidak boleh lemah. Arkan harus kuat demi memenuhi amanah sang mama.


"Agam, bagaimana kondisimu sekarang?" ujar Bayu, Agam membuka kedua matanya perlahan. Agam melihat Bayu yang tak lain paman Tika datang bersama dokter muda.


Sontak Agam membuka matanya lebar-lebar. Tenaga yang tak pernah ada, entah kenapa tiba-tiba muncul? Seakan Agam baru saja meminum pil penambah tenaga dosis tinggi. Dengan sekuat tenaga Agam duduk di atas tempat tidurnya. Agam menatap lekat Arkan yang berdiri di samping Bayu. Ada rasa hangat dalam hati Agam yang telah lama membeku.


Bayu kaget melihat sikap Agam, jelas yang di sampingnya bukan Hanif melainkan Arkan. Naluri seorang ayah dengan mudah mengenali darah daginya. Agam melihat mata yang sama dengan kedua mata Tika. Hanif putranya sangat mirip dengan Tika. Keyakinan Agam memang tidak salah. Hati Agam mampu mengenali putranya tanpa perlu mengetahui siapa dia sebenarnya?


Sebaliknya Arkan mundur beberapa langkah. Dia takut mendekat pada Agam. Dia tidak ingin Agam menyentuhnya. Tanpa mengenal Arkan, Agam mampu mengenalinya. Apalagi menyentuh dirinya, Arkan takut Agam semakin yakin dengan dugaannya. Arkan mencoba bersikap setenang mungkin. Mengubur jauh rasa rindunya, menyembuyikan kebahagian sekaligus kesedihannya. Ketika memlihat Agam dan Hanna. Dua orang yang belasan tahun Arkan dan Tika tinggalkan tanpa kata.


"Agam, dia bukan Hanif. Dia dokter Arkan yang akan membantuku dalam merawatmu. Memang dia masih sangat muda. Namun dis sudah menjadi dokter muda dan sekarang sedang mengejar dokter spesialisnya!" sahut Bayu, seketika Arkan menghela napas lega.

__ADS_1


Terlihat Agam menunduk lesu, harapannya bertemu Hanif yang putra pupus sudah. Agam tak lagi tersenyum, sesaat setelah Bayu mengatakan Arkan bukanlah Hanif. Sebaliknya Arkan memegang dadanya yang terasa sesak. Tak pernah dia membayangkan, akan melihat papa yang begitu hebat dimatanya dulu. Kini lemah tak berdaya. Menanti belas kasih seseorang sekadar untuk tetap hidup.


"Agam, kamu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Jika kamu terus bersemangat. Kamu akan bisa sembuh tanpa operasi!" ujar Bayu memberikan harapan kosong pada Agam. Dengan lemah Agam menggelengkan kepalanya yang mulai terasa berat. Agam menyandarkan kepalanya, lalu menghela napas panjang.


"Aku tidak akan pernah baik-baik saja. Selama Tika keponakanmu tidak ada di sampingku. Dia pergi membawa separuh hidupku. Aku mungkin kuat, tapi aku lemah tanpanya. Aku hidup hanya dengan harapan. Tika kembali menemuiku bersama Hanif putraku!" ujar Agam, Bayu menunduk lemah. Arkan tak lagi mampu menatap Agam yang lemah tak berdaya.


"Seandainya tuan Dimas memaafkanku. Mungkin aku bisa mengetahui keberadaan Tika dan Hanif. Namun aku merasa, diam tuan Dimas seolah wajar. Melihat betapa kejam kedua orang tuaku pada Tika. Mungkin ini jalan yang harus aku lalui. Ketika aku tak berharta, Tika setia mendampingiku. Namun kini ketika aku berharta, dia jauh tanpa aku bisa menemukannya. Harta yang memisahkan kami, harta pula yang tak mampu menyatukan kami!" ujar Agam lirih.


"Papa!" teriak Hanna lantang, Bayu dan Arkan menoleh ke arah Hanna.


"Pak Arkan!" ujar Hanna heran, sekilas Arkan mengangguk.


Hanna mendekat pada Agam. Mencium telapak tangan Agam, lalu beranjak kepada Bayu yang tak lain kakeknya. Adik dari Dimas ayah dari Tika mama tercintanya.


"Kakek dokter, kapan papa bisa dioperasi? Apa sudah ada donor untuk papa?" ujar Hanna antusias, Bayu menggeleng lemah. Jawaban yang membuat harapan Hanna hancur tak bersisa.


"Kakek belum menemukan donor yang cocok untuk papamu. Kakek datang bersama dokter Arkan hanya ingin memeriksa kondisi papamu. Dokter Arkan yang akan merawat papamu mulai hari ini. Dia juga dokter yang akan ikut dalam operasi papa nanti!" ujar Bayu, Hanna hanya mengangguk pelan. Lalu Bayu mendekat pada Agam. Bayu menepuk pundak Agam pelan. Seakan ingin memberikan semangat pada Agam. Bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Agam, sudah pernah kukatakan. Bukan hanya kamu yang kehilangan Tika mas Dimas dan Nissa juga merasakan hal yang sama. Sejak dulu sampai sekarang, mas Dimas tidak pernah ikut campur urusan kalian. Kamu kehilangan istri dan putramu, tapi mas Agam kehilangan hidupnya. Tika segalanya dalam hidup mas Dimas!" ujar Bayu, Agam mengangguk mengerti.


"Maaf, hanya itu yang mungkin bisa aku katakan. Mama memiliki alasan yang kuat pergi. Dia tidak salah, tapi keadaan yang salah dan seakan menyalahkannya. Namun mama tetap benar dimataku, sebab aku ada di saat bahagia dan sedihnya. Aku Hanif Arkan Khairullanam, putra yang akan selalu bersamanya!" batin Arkan.


__ADS_2