
"Selamat pagi, maaf saya datang terlambat!" ujar Tika ramah, seketika semua peserta rapat berdiri. Terlihat mereka membungkuk, seakan menghormati Tika. Meski sebagian dari mereka ada yang tidak mengenal Tika.
"Tidak perlu berdiri, silahkan duduk!" ujar Tika, seketika semua orang duduk.
Tika duduk di tempat paling ujung. Tika menatap satu per satu peserta rapat yang sebaian besar tidak di kenalnya. Tak berapa lama tatapannya bertemu dengan mata indah Agam. Dia melihat Agam duduk di kursi paljng ujung. Sekilas Tika melihat Agam mengangkat tangan hormat padanya. Isyarat Agam menyambut kembalinya Tika di perusahaan Anggara. Tika mengangguk seraya tersenyum dibalik cadarnya. Menyambut hangat kepedulian Agam.
"Maaf sebelumnya, mungkin anda sekalian tidak mengenal saya. Kartika Putri Anggara, saya mewakili tuan Dimas. Beliau sedang ada urusan yang mendesak. Saya hanya sementara dan mohon bantuannya!" ujar Tika ramah, semua orang mengangguk mengiyakan. Tak terkecuali Agam.
Senyum Agam terpancar dengan tulus. Menyambut kembali Tika sang gadis senjanya. Jika dulu Agam merasa takut akan popularitas Tika. Namun kini tak ada lagi kecemburuan itu. Bukan Agam merasa hebat, tapi Agam mulai belajar memahami. Tika tidak pernah ingin berada di atasnya, jika hanya untuk menghina Agam.
"Aku merindukan suara tegas ini. Terima kasih telah kembali menyapa dunia dengan senyum yang kamu simpan untukku. Meski kamu bukan milikku, setidaknya kini aku akan selalu dekat denganmu. Menatapmu sudah cukup membayar kerinduan yang ada di hatiku. Aku tidak akan menyia-nyiakan pertemuan denganmu. Jika mencintai tak harus memiliki, maka aku akan belajar memahaminya. Aku yakin bisa terus menyimpan rasa ini untukmu. Tanpa harus memiliki atau bersamamu!" batin Agam seraya mendengarkan ulasan dari Tika.
Tika memimpin rapat dengan sangat terampil. Meski dia tak pernah terjun sepenuhnya dalam dunia bisnis. Darah keluarga Anggara nyata mengalir dalam tubuhnya. Kehebatan dalam dunia bisnis yang menurun tanpa bisa diragukan lagi. Agam menatap kagum pada Tika. Kecantikan yang nyata tertutup cadar. Pribadi yang sempurna dan pernah ada dalam hidupnya. Penyesalan Agam yang pernah kehilangan Tika. Tidak akan membuatnya semakin rapuh dan hancur. Sebaliknya Agam belajar memahami hubungan diantara keduanya. Mencari arti sejati rasanya pada Tika.
Satu jam lebih rapat berlangsung. Semua oranf terdiam melihat pesona sekaligus wibawa Tika. Mereka tak menyangka, jika Tika mampu memimpin rapat dengan begitu baik. Ketegasan dan kebijaksanaan Tika terpancar nyata selama rapat. Tak ada satupun yang luput dari perhatiannya. Setiap kesalahan dijabarkan dengan sangat baik. Bukan dengan amarah melainkan arahan yang penuh kehangatan.
"Sekian rapat hari ini, saya akan melaporkan langsung pada tuan Dimas. Jika ada yang kurang berkenan. Silahkan hubungi asisten tuan Dimas!"
"Maaf ibu Tika, apa anda tidak akan bergabung dengan perusahaan? Cara pandang anda sangat dibutuhkan di perusahaan!" ujar salah satu peserta rapat. Tika menunduk terdiam, lalu menggeleng lemah. Agam sudah menduga, Tika masih tetap sama. Dia tidak pernah berniat ikut dalam perusahaan Dima.
"Kenapa?"
"Saya hanya membantu tuan Dimas. Jika harus menggeluti bidang ini. Saya tidak sanggup, generasi lebih muda yang harus mengambil alih. Saya hanya akan membantu sebisa mungkin!" ujar Tika, semua orang mengangguk dengan menyimpan kebanggaan yang tak terucap untuk Tika. Pemikiran terbuka Tika menyadarkan mereka. Jika setiap masa ada saatnya.
__ADS_1
Satu per satu anggota rapat keluar. Tika mundur beberapa langkah. Sembari menangkupkan tangan di depan dadanya. Tika tidak bisa menerima uluran tangan mereka. Semua anggota keluar dengan kekaguman yang teramat pada Tika. Bukan hanya pandai, Tika sangat sopan sebagai seseoarang yang memiliki kedudukan.
"Jika perkataanmu benar, minta putra atau putrimu menggantikanku. Sudah saatnya aku pensiun. Aku ingin berada di sampingmu, menganggumimu tanpa ada halangan dari pekerjaan!" ujar Agam, Tika mendongak seraya menggelengkan kepala.
"Aku sudah menduganya. Kamu tidak akan membantuku!" ujar Agam lirih, Tika tersenyum simpul.
"Mas Agam, mereka harua memutuskan sendiri. Jangan paksa mereka menggantikanmu. Jika nyatanya mereka tidak bahagia. Biarkan mereka mencari kebahagiannya. Setelah mereka bosan dan banyak pengalaman. Aku yakin mereka akan segera menggantikanmu. Saat itu tiba, bersiaplah melepaskan singgsanamu!" ujar Tika ramah, Agam mengangguk tanpa ragu.
"Detik ini aku siap meninggalkan singgasanaku. Semua yang aku miliki hanya untuk mereka. Aku tidak akan keberatan melepas semuanya!" sahut Agam, Tika mengangguk pelan.
Agam dan Tika berbicara dengan santai dan hangat. Mereka larut dalam pembicaraan yang seharusnya ada sejak dulu. Agam dan Tika layaknya suami istri yang sedang merencanakam kehidupan kedua buah hatinya. Kedekatan yang seakan terlambat, tapi tak pernah terlambat. Seandainya cinta yang bicara dan ada diantara keduanya.
"Om Agam, maaf mengganggu. Saya pamit pulang lebih dulu!" ujar Hafidz menyela pembicaraan Agam dan Tika. Sontak keduanya menoleh dan tersadar jika ada orang lain selain mereka di dalam ruangan itu.
Hafidz sudah menunggu lama, dia merasa tidak nyaman berada diantara Agam dan Tika. Sebab itu Hafidz memberanikan diri menyela. Seandainya dia pulang tanpa pamit pada Agam. Hafidz merasa kurang sopan, selain Agam rekan dalam bisnisnya. Jika Allah SWT berkehendak, maka Agam akan menjadi ayah mertuanya.
Tika diam membisu, dia tidak mengerti maksud perkataan Agam. Namun Tika tetaplah Tika, dia tidak akan bertanya sebelum Agam mengatakannya sendiri. Sebaliknya Hafidz mengeryitkan dahinya tidak mengerti arah pembicaraan Agam. Selama ini hanya Agam yang dikenal oleh Hafidz. Sesekali dia bertemu Tika, tapi tidak pernah menyadari sosok Tika.
"Kenapa kamu malah menunduk? Aku bicara sebenarnya. Jika hanya restuku, Hanna tidak akan menerimamu. Restunya yang akan membuatmu mudah mendapatkan Hanna. Dia yang bisa menyakinkan Hanna putri ceriaku!" ujar Agam ramah dan hangat.
Hafidz semakin menunduk, dia tidak mengerti maksud yang tersirat dalam perkataan Agam. Sepintas dia berpikir Tika ibu kandung Hanna. Namun pemikiran itu terbantahkan. Ketika dia melihat karakter yang jauh berbeda diantara keduanya. Hafidz hanya bisa menerka, siapa Tika sebenarnya?
"Siapa dia mas Agam?" ujar Tika, Agam tersenyum sembari menepuk pundak Hafidz pelan.
__ADS_1
"Dia Hafidz calon menantu kita. Dia juga teman Arkan putra kita!"
"Ibu Tika, benar-benar ibu kandung Hanna. Mimpikah aku atau memang nyata semua ini. Pantas saja dalam keceriaan dan sikap ramainya tersimpan hati yang lembut. Semua tak lain menurun dari ibu Tika. Jika Arkan aku tidak meragukannya. Dia pendiam dan tegas layaknya ibu Tika!" batin Hafidz tak percaya.
Braaaakkkkk
"Mamaaaaa!" teriak Hanna lantang, sesaat setelah membuka pintu. Hanna masuk tanpa mengucap salam, dia langsung memeluk Tika. Bahkan Hanna tidak menyadari kehadiran Hafidz.
"Sayang, tidak baik bersikap seperti itu. Ketuk pintu terlebih dahulu. Lalu buka pintu perlahan dan ucapkan salam. Kamu tidak malu ada Hafidz disini. Sikapmu tidak mencerminkan wanita muslimah!" ujar Tika lembut, sembari mengusap rambut hitam legam Hanna.
"Kamu!" ujar Hanna ketus, Hafidz mengangguk pelan.
"Aku akan sopan, jika tidak ada dia!" sahut Hanna ketus, Tika menggelengkan kepalanya pelan. Tak percaya melihat putrinya yang selalu ramai dan ceroboh.
"Hafidz, kuatkan hatimu. Jika cinta kamu harus maju!" bisik Agam, Hafidz mengangguk pelan.
"Entah apa yang istimewa dalam dirimu? Sehingga aku begitu luluh di depanmu. Namun apapun itu, aku percaya bahagiaku ada bersama senyummu!" batin Hafidz.
"Kenapa diam saja? Kamu sedang menyumpahiku!" ujar Hanna kesal.
"Hanna, sudah mama katakan. Bicara yang sopan!"
"Padanya, tidak akan!" sahut Hanna dingin, Hafidz berjalan menghampiri Hanna. Dia berada sangat dekat dengan Hanna.
__ADS_1
"Aku memang menyumpahimu agar kita bisa segera bersatu. Aku ingin kamu menjadi tulang rusukku!" sahut Hafidz tegas dan dingin. Hanna terdiam membisu.
"Hafidz, kamu hebat!" sahut Agam.