Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pertemuan....


__ADS_3

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN


"Dokter Hanna Santika Ramaniya!" Sapa Savira ramah, seraya mengalungkan tangannya di leher Hanna dari arah belakang.


Savira memeluk erat Hanna sahabatnya sejak SMU. Dengan penuh kasih sayang, Savira menggoyangkan kepala Hanna ke kanan dan kiri. Keduanya sudah lama tidak bertemu. Beberapa bulan yang lalu saat Hanna mengalami kecelakaan. Savira sudah tidak ada di kota ini. Dia tinggal di luar kota yanga ada di pulau yang berbeda dengan Hanna. Sehingga sangat sulit bagi keduanya bertemu.


"Savira, lepaskan pelukanmu. Aku merasa pusing!" Ujar Hanna lirih, seketika Savira melepaskan pelukannya.


Savira menatap aneh Hanna, cara bicara dan sikap Hanna berbeda. Dia bukan Hanna sahabatnya, melainkan orang lain yang memiliki nama yang sama. Savira seolah tak mengenal Hanna. Dengan perlahan Savira menarik kursi tepat di depan Hanna.


Savira menatap lekat sahabatnya, dia mengamati seluruh bagian wajah Hanna. Sekilas dia tak melihat perubahan Hanna. Hanya cara bicara dan sikap Hanna yang terlihat tenang. Bukan Hanna yang ceria dan selalu bersikap sembarangan. Savira merasa Hanna berubah, karena sesuatu yang tak pernah dikatakan padanya.


"Kamu berbeda!"


"Kenapa aku? Tidak ada yang berubah dariku. Kamu yang terlalu banyak berpikir!" Sahut Hanna, Savira diam menatap Hanna.


Sebaliknya Hanna acuh dengan rasa heran Savita. Dia terus saja mengutak-atik keyboard laptop miliknya. Hanna tengah mengerjakan tugas kuliah. Status Hanna memang seorang dokter. Namun sejak beberapa bulan yang lalu. Hanna memutuskan kuliah kembali dengan jurusan yang berbeda. Hanna akan menggantikan Agam mengelola perusahaan. Sebab itu Hanna kembali kuliah di jurusan yang berbeda.


"Kamu bukan Hanna yang dulu. Ketenangan dan cara bicaramu tak lagi sembrono. Jauh lebih tenang dan tertata. Sungguh Hanna, jika perubahanmu dari dirimu sendiri bukan karena orang lain. Aku sangat senang, bahkan mendukungmu. Namun jika semua ini terpaksa, aku mohon hentikan. Aku mengenal siapa dirimu?" Ujar Savira lirih, Hanna mendongak menatap Savira. Terutas senyum simpul di wajah Hanna.


Sebuah senyum yang menjadi jawaban Hanna. Senyum yang tanpa sengaja mengisyaratkan perubahan dari diri Hanna. Tidak ada pembenaran dari Hanna. Seakan perkataan Savira benar adanya, tapi Hanna menutupi kegelisahannya dengan sebuah senyum. Berharap Savira melupakan keluh kesahnya.


"Tenanglah Savira, aku Hanna yang sama. Hanya saja aku sedang pusing dengan tugas kuliahku. Dua tahun yang aku punya untuk lulus kuliah. Agar aku bisa menggantikan papa. Semua orang harus berusaha mengerti kewajiban masing-masing!" Ujar Hanna tegas, Savira mengangguk mengerti.


"Fix, kamu berubah. Aku tidak mengenal Hanna yang ini. Kamu bukan Hanna yang ceria dan seenaknya sendiri!"


"Setiap orang harus berubah seiring bertambahnya usia. Begitu juga aku yang harus mulai memahami tugas dan kewajibanku. Sudah saatnya aku menyadari, tugasku sebagai seorang anak. Tidak selamanya aku bersikap manja, tanpa menyadari banyak hal yang harus aku tangung!" Ujar Hanna lirih, lalu kembali menatap layar laptop yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan kecewa dengan perubahanmu. Selama kamu nyaman dengan perubahan itu. Sejatinya tanggungjawab bisa tetap kamu lakukan. Tanpa harus kamu berubah!" Sahut Savira, Hanna mengangguk tanpa menoleh ke arah Savira.


Hanna tetap fokus pada layar laptop miliknya. Jari jemarinya bermain dengan indah. Sedikitpun Hanna tak terusik dengan suasana cafe yang ramai. Malam yang dingin, mengalahkan ramainya suasana sekelilingnya. Hanna larut dalam dunianya sendiri. Meninggalkan Savira jauh di belakangnya.


"Entah kenapa aku merasa ada yang salah denganmu? Apa alasan perubahanmu? Nyata bukan hanya karena tanggungjawab. Siapa dia yang menjadi alasanmu berubah? Atau bagaimana kamu bisa sampai berubah? Namun siapapun kamu saat ini, aku tetap Savira yang sama. Sahabat yang bisa kamu percaya. Teman yang akan ada di kala susah dan senangmu. Mungkin saat ini kamu masih merasa nyaman dengan diam dan sendirimu. Kelak seandainya kamu mulai penat dengan diammu, sepi dengan sendirimu. Carilah aku, yakinlah Savira Indah sahabatmu akan setia menemanimu!" Batin Savira sembari menatap sendu Hanna.


"Kenapa terus menatapku? Aku bukan alien yang baru tiba di bumi. Tidak perlu setakut itu, aku tetap Hanna yang dulu. Hanya ada beberapa hal yang harus berubah. Seiring waktu yang semakin menua di sekelilingku!" Ujar Hanna tegas, tanpa menatap ke arah Savira.


Savira mengangguk sembari mengutas senyum. Sedangkan Hanna tetap pada posisi semula. Acuh akan perhatian dan kepedulian Savira. Akhirnya keduanya larut dalam dunia masing-masing. Hanna kembali pada tugas kuliahnya. Savira sibuk dengan ponsel pintarnya.


Jika dulu mungkin Hanna akan terus berbicara dan tertawa lepas bila bersama Savira. Kini semua berubah, Hanna lebih banyak diam. Tak ada tawa yang terdengar nyaring di telinga Savira. Entah karena Hanna sibuk dengan tugasnya? Atau memang Hanna telah jauh berubah. Siapapun Hanna saat ini? Savira mencoba memahami dan mengenal Hanna lebih dalam lagi? Demi persahabatan yang pernah ada diantara mereka.


"Kakak!" Teriak Savira sembari melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Terlihat sepasang muda-mudi berjalan ke arah Savira. Keduanya berpenampilan sangat rapi. Satu wanita berhijab dengan wajah yang sangat cantik. Sedangkan laki-laki tampan berwibawa dengan jas hitam yang melekat di tubuhnya.


"Apa kabar Savira?" Sapa Ziva sang kakak. Savira tersenyum seraya mencium punggung tangan Ziva. Lalu menangkupkan tangan pada teman laki-laki Ziva.


"Aku baik-baik saja sampai saat ini, tapi dia tidak!" Ujar Savira menggoda, seraya mengedipkan mata ke arah Hanna yang tetap menunduk.


Hanna tak mendongak meski dia mendengar kedatangan Ziva. Dia tetap fokus pada laptopnya. Hanna tak peduli atau penasaran dengan siapa Ziva datang? Hanna larut dalam sepi hidupnya. Seakan waktu berhenti berputar disekitarnya.


"Maaf kakak membawa teman, tadi selesai rapat. Sekalian saja dia kakak membawanya kemari!"


"Tidak masalah, silahkan duduk. Tapi maaf, Hanna sedang tidak baik. Jadi kalau merasa dia mengacuhkan kalian. Tidak perlu diambil hati!" Ujar Savira lirih, Ziva mengangguk mengerti.


Savira menempel pada Ziva, dia berbisik ingin mengenal laki-laki yang dibawa Ziva. Laki-laki pertama yang dikenalkan Ziva pada keluarganya. Seketika saja Savira berpikir, jika laki-laki tersebut bukan teman biasa.


"Hafidz, kenalkan dia adikku Savira!" Ujar Ziva lantang, sontak Hafidz mematikan ponselnya. Kebetulan Hafidz sedang menerima panggilan. Saat mendengar Ziva memanggil, Hafidz langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Hafidz!" Batin Hanna, seraya memegang dadanya yang berdetak cukup hebat. Hanna tetap menunduk, tanpa berpikir ingin menatap Hafidz. Hanna menenangkan hatinya yang bergemuruh.


"Savira!"


"Hafidz!" Sapa Hafidz ramah, seraya menangkupkan kedua tangannya. Savira meminta Ziva dan Hafidz duduk.


"Kita pesan makan sekarang. Sejak tadi aku menunggumu. Pantas kakak lama, kakak sibuk bersama kak Hafidz!" Goda Savira, Ziva tersenyum bersamaan dengan Hafidz. Senyum yang tak terdengar, tapi nyata terasa sakit di hati Hanna.


"Maaf, tadi rapatnya lambat. Terpaksa aku dan Ziva terlambat kemari!" Ujar Hafidz ramah, Savira mengangguk mengerti.


"Santai saja kak Hafidz, aku tidak ada kesibukan. Menunggu calon pasangan pengantin, aku akan setia dan sabar!"


"Diam kamu Savira, kami hanya berteman!" Sahut Ziva malu-malu. Hafidz tersenyum seakan perkataan Savira benar adanya.


"Doakan saja yang terbaik, tapi saat ini kami hanya berteman!" Sahut Hafidz, Savira tersenyum sembari menyenggol-nyenggol tangan Ziva. Sedangkan Ziva tersipu malu dengan perkataan Hafidz.


Tak berapa lama, seorang pelayan datang membawa napan berisi makanan. Lama dia berdiri, merasa bingung harus meletakkan dimana semua pesanan yang ada?


Braaakkk


"Silahkan dilanjutkan makan malamnya. Aku harus ke rumah sakit. Kebetulan dinas jaga malam!" Ujar Hanna ramah, sembari menutup laptopnya.


"Hanna!" Sapa Hafidz lirih, Hanna mengangguk seraya mengutas senyum.


"Kamu serius!"


"Setengah jam lagi aku masuk. Besok kita bertemu lagi!" Sahut Hanna pada Savira, lalu memeluk Savira erat.

__ADS_1


"Kak Ziva, aku tunggu undangan pernikahannya. Aku pastikan hadir menjadi saksi kebahagian kakak!" Ujar Hanna lantang, tanpa menatap Hafidz.


"Doamu untuk kebahagianku atau kehancuranku" Batin Hafidz.


__ADS_2