
Arkan duduk bersila di dalam masjid pesantren. Dia sedang memegang Al-Quran. Arkan memutuskan berdiam diri di dalam masjid. Setelah Abi Salim memintanya untuk menginap di rumahnya. Arkan lebih memilih tidur di dalam masjid. Daripada harus tidur di bawah atap yang sama dengan Aura.
Abi Salim mempersilahkan Arkan pergi ke masjid. Dengan catatan Arkan menghabiskan makan malam yang disediakan olehnya. Ibarat makan buah simalakama, Arkan harus mengiyakan syarat dari Abi Salim. Semua demi menjauh dari Aura dan tidak mendekati zina. Arkan akhirnya memutuskan mengaji. Agar hatinya merasa tenang dan damai.
Hampir setengah jam lebih, Arkan mengaji di masjid. Tanpa Arkan sadari, Abi Salim duduk di teras masjid menunggunya. Beliau mendengarkan suara merdu Arkan saat mengaji. Abi Salim menutup mata sembari bersandar pada tiang penyangga masjid. Jam sudah menunjukkan tepat pukul 02.00 dini hari. Sebentar lagi sebagian santri akan bangun melaksanakan sholat tahajud.
"Arkan!" sapa Abi Salim, sontak Arkan menoleh ke belakang. Dia melihat Abi Salim duduk di teras. Seketika Arkan menutup Al-Quran yang dipegangnya. Arkan mencium dengan lembut Al-Quran yang baru saja dibacanya.
Dengan berjalan setengah membungkuk. Arkan mendekat ke arah Abi Salim. Arkan mencium punggung tangan sang guru. Arkan duduk tepat di depan Abi Salim dengan perasaan heran. Meski Arkan mengetahui, jika Abi Salim akan terjaga di jam seperti ini. Sebab para penghuni pesantren terbiasa melakukan sholat malam.
"Abi, ada ada menghampiriku? Jika ada perlu denganku, Abi langsung saja menghubungku. Jadi Abi tidak harus repot-repot menghampiriku!" ujar Arkan sopan, Abi manggut-manggut mengerti. Dengan mengutas senyum, Abi Salim menatap wajah tampan Arkan.
Abi Salim menatap lekat raut wajah Arkan. Salah satu santri terbaiknya yang terpaksa keluar dari pesantren. Sebelum Arkan mampu menyelesaikan pendidikan di pesantren. Arkan harus mengikuti ujian masuk universitas kedokteran. Hanya demi mengejar beasiswa yang diinginkannya. Perpisahan Arkan dan Abi Salim terasa sangat menyakitkan. Namun itulah kenyataan yang harus terjadi. Abi Salim kehilangan salah satu santri yang bisa membanggakannya.
"Arkan, suaramu menenangkan pikiran dan hatiku. Aku mengingat hari dimana kamu pergi dari pesantren ini. Hari dimana aku harus melepas santri terbaikku. Calon pemimpin yang kuharapkan mampu memimpin pesantrenku kelak. Namun aku harus melupakan anganku, ketika aku melihat harapan besar yang terpancar di kedua matamu. Keinginan menjadi seorang dokter yang seolah takkan pernah bisa berubah!" tutur Abi Salim, Arkan menunduk tanpa bisa menatap kedua mata sang guru.
Abi Salim mengelus lembut rambut Arkan. Dengan penuh kasih sayang, Abi Salim menatap wajah Arkan. Ada rasa kehilangan yang pernah dia rasakan. Namun semua menghilang saat dia bertemu Hafidz. Laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi imam dunia akhirat Aura.
"Arkan, dulu kamu pergi dan aku tidak mencegahnya. Kamu pergi tanpa bertanya atau mendengar pendapatku. Hari ini aku ingin kamu pergi, tapi setelah kamu menjawab semua pertanyaanku. Aku ingin mengetahui kenyataan yang tersimpan dalam benakmu!" ujar Abi Salim tegas dan dingin, Arkan menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
Arkan hanya seorang santri. Tidak ada hak dalam dirinya berkata terlalu jujur pada sang guru. Abi Salim bukan hanya guru bagu Arkan, beliau juga seoran ayah baginya. Arkan sangat menghormati Abi Salim, tidak pernah dalam hati dan pikirannya untuk membangkang kata-katanya.
"Abi, apa Arkan melakukan kesalahan? Jika iya, katakan padaku. Supaya aku bisa memperbaikinya. Maafkan Arkan, jika tanpa sengaja membuatmu marah dan melakukan kesalahan!" ujar Arkan lirih dan penuh penyesalan.
"Abi rasa kamu sudah mengenal Hafidz. Laki-laki yang akan aku jodohkan dengan Aura. Laki-laki yang aku harap bisa menjadi pemimpin pesantren ini!" ujar Abi Salim, Arkan mengangguk pelan.
Terdengar suara helaan napas panjang Abi Salim. Napas yang seakan berat mengingat usia Abi Salim yang tak lagi muda. Sunyi malam terasa nyata, hanya dingin yang terasa menusuk tulang Arkan.
"Abi, apa yang sebenarnya ingin Abi katakan? Aku memang mengenal kak Hafidz. Sejauh aku mengenalnya, dia pemuda yang baik. Lantas apa hubungannya denganku? Aku hanya pernah mengenalnya, tapi aku tak sedekat itu untuk pantas berpendapat!" ujar Arkan, Abi Salim terdiam membisu.
Hafidz Arif Shaleh putra bungsu dari keluarga terpandang. Salah satu santri di pesantren yang lulus dua tahun yang lalu. Jika Arkan keluar dari pesantren, sebelum dia menyelesaikan pendidikannya. Sebaliknya Hafidz keluar dari pesantren, untuk menempuh pendidikan agama lebih dalam lagi. Hafidz seorang penghapal Al-Quran layaknya Aura. Arkan pernah mengenalnya, sebab keduanya pernah satu kamar.
Arkan mengingat percakapannya dengan Aura tadi. Sesungguhnya Arkan tidak pernah menyangka. Aura akan langsung bicara dengan Abi Salim. Arkan sangat takut, bila Abi Salim salah paham dengan perkataannya pada Aura. Apa yang dikatakan pada Aura? Semata hanya pendapat akan masalah yang dipikirkan Auram Bukan ingin mengajari Aura untuk bersikap tidak sopan.
"Jika Abi sudah memilih kak Hafidz, tentunya dia laki-laki terbaik untuk kak Aura. Aku tidak mengenal laki-laki yang lebih baik darinya!" ujar Arkan tegas, sembari menunduk. Abi Salim menatap Arkan yang tetap tenang. Tak terlihat rasa cemburu atau amarah di kedua mata Arkan. Ketenangan yang menyimpan berjuta pemikiran.
"Jika memang dia yang terbaik. Lantas kenapa Aura menolaknya? Aura mengatakan ada laki-laki lain yang menarik hatinya. Seseorang yang aku rasa tidak pantas mendampingi Aura!" ujar Abi dingin, Arkan semakin menunduk.
"Aku harap kak Aura tidak mengatakan sesuatu yang salah. Siapapun laki-laki yang memikat hatinya? Aku berharap dia mampu membahagiakan kak Aura!" batin Arkan.
__ADS_1
"Karena kak Aura pantas bahagia. Kak Aura pantas memilih pada siapa dia bergantung? Namun tetap dengan restumu. Maaf Abi Salim; bukan maksudku menasehati Abi. Namub alangkah baiknya, jika membiarkan kak Aura mengenal kak Hafidz. Sedangkan Abi mengenal laki-laki yang membuat kak Aura terpikat. Agar hubungan Abi dan kak Aura tetap membaik. Mendengarkan bukan hal yang buruk. Setidaknya Abi bisa melihat sisi lain dari pilihan kak Aura!" ujar Arkan lirih.
"Jika itu kamu, sisi mana yang ingin kamh tunjukkan padaku?" sahut Abi Salim, Arkan menggeleng tidak percaya.
"Yakinlah Abi, bukan aku laki-laki itu!" ujar Arkan tegas.
"Kamu memintaku mendengarkan, saat aku melakukannya. Kenapa kamu malah tidak percaya?"
"Sebab aku tidak pantas menjadi imam kak Aura. Ilmu yang dimilikinya, terlalu berat aku tanggung. Pundakku terlalu rapuh, untuk menopang pengetahuannya. Tangan dan kakiku terlalu lemah, agar bisa menggandeng dan melangkah bersama dengan kak Aura!" sahut Arkan.
"Kamu menolak Aura?" ujar Abi Salim singkat dan dingin.
"Aku mengangguminya, sebab itu aku menolaknya. Aku merasa belum pantas menjadi imamnya. Aku takut hanya akan menyakitinya. Kak Aura wanita baik dan pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan laki-laki berhati gelap sepertiku!" ujar Arkan lagi.
"Abi, munafik jika aku tidak tertarik pada kak Aura. Pribadinya yang baik, kelak mampu menjadi istri dan ibu yang baik. Sebaliknya hatiku masih dipenuhi rasa takut. Sebab itu aku tidak ingin berharap lebih. Jika kelak akan membuatnya menangis!"
"Kamu memang imam terbaik!" ujar Abi Salim, seraya menepuk pelan pundak Arkan.
"Maksud Abi?"
__ADS_1
"Bukan ilmu atau harta sepadan yang akan membuat putriku bahagia. Pengertian dan rasa pedulimu akan masa depannya yang kelak akan membuatnya bahagia. Aku tidak butuh menantu yang berilmu tinggi atau berharta melimpah. Aku butuh hati yang mengerti akan air mata dan senyum putriku. Temuilah Aura dengan keberanian. Layaknya dirimu yang memintanya berani menemuiku. Putuskan yang terbaik diantara kalian. Sepenuhnya aku akan mendukung keputusan kalian!"