
"Hanna!" Sapa Arkan lirih. Suara Arkan terdengar serius dan tegas.
"Ada apa kak Arkan?" Sahut Hanna ramah, sontak Hanna menghentikan langkahnya. Dia menunggu Arkan datang menghampirinya.
"Rumah sakit kekurangan tenaga medis. Kamu bisa tidak? Sementara membantu di rumah sakit. Setidaknya sampai ada dokter baru yang masuk!" Ujar Arkan lirih, Hanna diam menelaah perkataan Arkan.
Arkan menatap Hanna lekat, dia sangat berharap Hanna bersedia membantu di rumah sakit. Namun Arkan berjanji tidak akan memaksa. Sepenuhnya keputusan ada di tangan Hanna. Sebab Hanna tak lagi berpikir menjadi dokter. Dia memilih menjadi pengusaha, menggantikan Agam yang mulai menua.
Hanna hanya ingin menggantikan Agam saat ini. Bagi Hanna sudah saatnya menggantikan Agam. Usia Agam mungkin tak terlalu tua. Namun selama ini dia sudah sangat lelah. Berjuang dengan luka akan kehilangan Tika. Setelah saat ini mereka bersama. Hanna tak ingin melihat Agam bekerja dan kehilangan banyak waktu dengan Tika.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa? Hari ini aku mulai kuliah lagi. Jika aku kembali menjadi dokter. Lantas siapa yang akan menggantikan papa nanti?" Sahut Hanna bimbang, Arkan diam menelaah perkataan Hanna. Dengan perlahan Arkan mengangguk setuju dengan perkataan Hanna.
Arkan hanya bisa pasrah mendengar jawaban Hanna. Meski harapannya besar agar Hanna kembali menjadi dokter. Namun perkataan Hanna tidaklah salah. Ketika seorang anak ingin berbakti pada orang tuanya. Memberikan kesempatan pada orang tuanya untuk bahagia.
"Kamu serius ingin menjadi pengusaha!" Ujar Arkan tak percaya, bukan ragu tapi semuanya seolah tak mungkin.
"Kenapa tidak? Dimana ada niat, pasti ada jalan. Sebenarnya bukan masalah aku serius atau tidak. Namun lebih tepatnya, aku harus menjadi seorang pengusaha. Sudah saatnya papa pensiun, menghabiskan waktunya bersama mama!" Ujar Hanna lantang, Arkan mengangguk setuju. Arkan mengacungkan jempol ke arah Hanna. Tanda dia sangat bangga dengan keputusan Hanna.
"Kamu benar Hanna, sudah saatnya papa dan mama menghabiskan waktu berdua. Sudah cukup perpisahan diantara mereka. Kini saatnya mereka bersama. Menghabiskan waktu penuh dengan tawa dan canda!" Sahut Arkan lantang, Tika menggeleng lemah. Tika menghampiri Hanna dan Arkan. Tika ingin mengutarakan ketidaksetujuannya. Dia tidak akan pernah ingin menjadi beban putrinya.
Namun tanpa mereka sadari, Tika berdiri tak jauh dari mereka. Awalnya Tika tidak sengaja lewat, tapi saat melihat Arkan dan Hanna bicara sedikit serius. Tika memutuskan menghentikan langkahnya. Mendengar percakapan kedua kakak beradik yang tak pernah nyata terlihat olehnya. Tika hanya ingin mendengarkan, tanpa berpikir ingin ikut campur. Namun semua berubah, kala Hanna menyinggung namanya. Bukan marah pada Hanna, tapi Tika tak ingin menjadi beban Hanna. Apapun keputusan Hanna, murni demi kebaikan Hanna bukan demi dirinya.
"Mama sudah bahagia dengan kondisi sekarang. Jadi tidak perlu kalian memikirkan mama. Jalani kehidupan kalian, melihat kebahagian kalian. Sudah cukup buat mama!" Sahut Tika, Arkan dan Hanna menoleh serempak. Mereka melihat Tika berjalan mendekat.
"Mama!" Sapa Arkan dan Hanna bersamaan.
"Hanna, kamu sudah menikah. Jadi saat memutuskan apapun? Minta pendapat Hafidz, jangan kamu putuskan semuanya sendiri!"
"Bukankah kak Hafidz sudah tahu. Jika Hanna akan kuliah jurusan bisnis. Kenapa Hanna harus bicara pada kak Hafidz? Hanna yakin, kak Hafidz setuju!"
"Belum tentu Hanna, mama ada benarnya. Bisa saja Hafidz tidak setuju!" Sahut Arkan tegas, Hanna menggeleng tidak setuju.
"Sejak awal Hanna memutuskan untuk kuliah. Jadi tidak ada hak kak Hafidz untuk melarangnya. Meski statusnya kini suamiku!" Ujar Hanna tegas, Tika dan Arkan terdiam. Mereka melihat sikap tegas Hanna yang sangat tidak masuk akal. Keras kepala yang seolah benar, meski sebenarnya sikap Hanna salah.
"Hanna, kamu tidak pantas bicara seperti itu!" Ujar Tika lirih, Hanna diam tak menanggapi. Dengan santainya Hanna berjalan menuju meja makan.
Tak berapa lama Hafidz berjalan menuju meja makan. Tika dan Arkan seketika menghentikan perdebatan. Mereka tidak ingin Hafidz mengetahui perdebatan yang baru saja terjadi. Hafidz duduk di sebelah Hanna. Pagi ini Hafidz berangkat kerja dari rumah Hanna. Hafidz dan Hanna belum memutuskan akan tinggal dimana? Entah di rumah Hanna atau Hafidz? Atau malah mereka akan tinggal di rumah mereka sendiri. Hidup mandiri jauh dari keluarga mereka.
"Hafidz, hari ini kamu ada rapat dengan perusahaan Anggara?" Ujar Agam lirih, Hafidz mengangguk pelan.
"Papa dengar, kamu dan Ziva satu tim yang hebat. Kepintaran Ziva dan ketegasan kamu dalam memimpin perusahaan. Menjadi satu kekuatan yang tak terkalahkan. Bahkan perusahaan papa kalah tender dengan perusahaanmu!" Ujar Agam santai, Hafidz menggeleng tak setuju.
Hafidz melirik ke arah Hanna yang terus terdiam. Ada rasa tak enak di hati Hafidz. Saat Agam menyebut nama Ziva. Apalagi Agam memuji cara kerja Ziva yang memang sangat bagus. Hafidz takut Hanna berpikir yang tidak-tidak. Meski sebenarnya Hafidz percaya, Hanna sudah sangat mengerti hubungannya dengan Ziva seperti apa?
"Kebetulan saja pa, kami tidak sehebat itu!" Sahut Hafidz, Agam tersenyum simpul sembari menatap Hafidz dan Hanna bergantian.
Agam merasa sikap rendah diri Agam, tak lebih karena takut melihat Hanna cemburu. Diam Hanna seolah sebuah pembenaran akan pemikiran Hafidz. Agam merasa bahagia, saat melihat putrinya bisa merasakan cemburu. Bagi Agam rasa cemburu Hanna. Sebuah pertanda jika hati putrinya tak lagi gelap. Sebab ada cinta Hafidz yang meneranginya kini.
"Kamu merendah, nyatanya perusahaan papa memang kalah. Kamu dan Ziva tim yang begitu tangguh!" Ujar Agam memanasi, Hafidz menghela napas panjang.
Hafidz tak pernah menyangka, jika Agam akan terus membahas Ziva. Nama yang sedikit banyak akan mengusik ketenangan Hanna. Sebaliknya disaat Hafidz gelisah akan rasa cemburu Hanna. Sikap diam dan seolah tak peduli diperlihatkan oleh Hanna. Seakan perkataan Agam tentang hubungan Hafidz dan Ziva tak mampu membuatnya gelisah. Hanya Tika dan Arkan yang mulai cemas. Bukan karena kecemburuan Hanna, melainkan sikap keras kepala Hanna.
"Mas Agam, bisa kita sarapan dengan tenang?" Ujar Tika menengahi, Agam mengangguk pelan.
Seketika suasana meja makan menjadi sangat sunyi. Hanya suara piring dan sendok yang beradu. Tak ada satu katapun yang terucap. Semua bibir terkunci rapat, hanya terbuka saat mengunyah makanan. Hafidz berkali-kali melirik ke arah Hanna. Namun tak sekalipun Hanna menoleh, sekadar menanyakan menu apa yang ingin dimakan Hafidz? Hanna benar-benar acuh, sikap yang membuat Hafidz semakin gusar.
"Sayang, kamu ikut denganku ke kantor!" Bisik Hafidz, tanpa ragu Hanna menggeleng.
"Bukankah semalam kamu setuju ikut denganku!"
"Aku sibuk!" Sahut Hanna tegas, Hafidz menelan ludahnya kasar.
Gleeekkk
Sikap spontan dan dingin Hanna menciutkan nyalinya. Hafidz semakin yakin, jika Hanna marah dengan perkataan Agam. Hafidz tak tahu lagi cara menghadapi sikap Hanna yang mudah merajuk. Terkadang Hanna begitu dewasa, tapi terkadang Hanna layaknya anak kecil yang susah dimengerti.
"Sayang!"
__ADS_1
"Makanlah, nanti terlambat ke kantor. Kasihan kak Ziva menunggu terlalu lama!" Sahut Hanna dingin.
"Sayang!"
"Makan atau aku pergi!" Sahut Hanna lirih, sontak Hafidz menunduk.
Dia mulai mengunyah makanan yang ada di depannya. Hafidz menelannya dengan susah payah. Entah kenapa makanan lezat di depannya terasa hambar dan keras? Sikap dingin Hanna nyata membuat Hafidz kalang kabut.
"Hanna!" Ujar Tika lirih, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Tika memberikan isyarat pada Hanna. Agar menjaga sikapnya pada Hafidz.
"Kak Hafidz, mulai pagi ini aku kuliah jurusan bisnis!"
"Secepat itu?" Ujar Hafidz terkejut, Hanna mengangguk pelan.
"Kenapa terkejut? Kak Hafidz tidak mengizinkanku kuliah lagi!" Sahut Hanna lirih, Hafidz menggelengkan kepalanya.
"Lantas kenapa terkejut?" Ujar Hanna lagi.
"Tidakkah terlalu cepat kamu memutuskan. Kita menikah baru dua hari. Kamu sudah sibuk dengan kuliahmu!"
"Jadi aku harus apa? Duduk diam di rumah, menanti kak Hafidz pulang kerja!" Sahut Hanna dingin.
"Bukan begitu maksudku!" Ujar Hafidz serba salah.
"Lantas?"
"Sayang, tidak bisakah kamu kuliah setelah satu bulan. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Setidaknya kita bisa jalan-jalan, setelah aku pulang kerja. Aku tidak ingin kamu kelelahan!"
"Jika permintaan itu aku kembalikan pada kakak. Apa jawaban kak Hafidz?"
"Maksudmu apa?"
"Jika aku minta kakak bekerja setelah satu bulan lagi. Akankah kakak sanggupa!"
"Sayang, itu dua hal berbeda!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng lemah.
"Itu sama kak, tidak ada yang berbeda. Aku percaya, kakak akan bekerja dengan baik. Aku yakin, tidak akan ada hubungan yang lebih antara kakak dengan kak Ziva. Sebaliknya, aku juga butuh kepercayaan itu!"
"Sayang, kamu kenapa?" Sahut Hafid lirih, saat menyadari sikap Hanna mulai tak wajar.
"Aku baik-baik saja!"
"Apa perutmu terasa sakit? Jika memang iya, kita ke rumah sakit. Aku akan membatalkan rapat dengan perusahaan Anggara!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng seraya menepis tangan Hafidz.
"Aku baik-baik saja!"
"Sayang!" Ujar Hafidz lirih.
"Kak Hafidz mengizinkan atau tidak!"
"Aku mengizinkan!" Ujar Hafidz tegas, Hanna mendongak menatap Tika. Hanna menatap lekat Tika, seolah ada banyak kata dalam tatapannya.
"Mama, aku sudah meminta izin. Jadi aku tidak salah, bila aku memilih kuliah!" Ujar Hanna dingin, Tika mengangguk pelan.
"Terima kasih, sudah belajar menjadi istri yang baik. Mama bangga padamu!" Sahut Tika hangat.
"Kak Hafidz, aku akan pergi sendiri!"
"Sayang, aku antar!" Tawar Hafidz, Hanna menggeleng lemah.
"Aku akan berangkat sendiri. Kalau kak Hafidz mengantarku, takutnya kak Ziva menunggu terlalu lama!"
"Sayang, kenapa kamu bicara tentang Ziva?"
"Karena sejak tadi papa membicarakan tentang kak Ziva!" Sahut Hanna tegas.
"Papa yang bicara, kenapa aku yang disalahkan?"
__ADS_1
"Siapa yang menyalahkan kak Hafidz?"
"Sayang, aku mohon. Kita berangkat bersama. Aku tidak akan terlambat, Ziva berangkat sendiri. Dia tidak akan menungguku!"
"Sekarang kakak malah menyebut nama kak Ziva!" Ujar Hanna dingin, seketika Hafidz menepuk pelipisnya pelan. Tika dan Agam mulai merasa nyaman diantara Hafidz dan Hanna. Sebab mereka melihat kasih sayang bukan pertengkaran. Cara mengenal satu sama lain yang unik.
"Sayang, aku mohon!" Ujar Hafidz sembari menangkupkan tangan. Hafidz mengaku kalah bila harus berdebat dengan Hanna. Hafidz takkan sanggup menerima sikap dingin Hanna.
"Tidak!"
"Sayang!" Ujar Hafidz memelas.
"Hanna pergilah dengan Hafidz. Kakak pinjam mobilmu, sebab mobil kakak ada di bengkel!"
"Kak Arkan, jangan mencari alasan!" Ujar Hanna tak percaya.
"Kamu jangan pelit Hanna. Mobil kakak memang di bengkel. Kalau tidak percaya kamu periksa di garasi. Ada tidak mobilku?" Ujar Arkan memaksa sembari mengambil kunci dari Hanna.
"Kak Arkan!" Teriak Hanna kesal.
"Hafidz, Hanna kalau cemburu menakutkan!" Ujar Arkan menggoda.
"Aku tidak cemburu!"
"Kamu tidak cemburu, tapi kamu takut tersaingi!" Sahut Arkan menggoda.
"Kak Arkan jelek!" Teriak Hanna kesal, saat melihat Arkan pergi tanpa merasa bersalah.
"Hanna!"
"Hafidz!" Sapa Agam bergantian, sontak Hanna dan Hafidz menoleh. Mereka melihat Agam dan Tika sudah berdiri. Agam merangkul Tika mesra, seolah Agam sedang berpacaran dengan Tika.
"Kami masuk ke kamar lebih dulu. Kalian lanjutkan perdebatannya!" Ujar Agam, lalu mengajak Tika masuk. Keduanya mulai pusing melihat perdebatan yang penuh cinta. Hafidz yang begitu hangat, sebaliknya Hanna yang dingin dan kaku. Bak kutub utara dan selatan yang takkan bertemu, tapi sebenarnya sama dan satu.
"Sayang, kita pergi sekarang!" Ujar Hafidz, sesaat setelah Agam dan Tika masuk ke dalam kamar.
"Hmmmmm!"
"Sayang, jangan cemburu!"
"Aku tidak cemburu, apalagi untuk laki-laki seperti kak Hafidz!"
"Sayang, jangan marah!"
"Aku tidak marah!"
"Kamu lebih segalanya dibanding Ziva!" Ujar Hafidz mesra di telinga Hanna.
"Jangan bandingkan aku dengan kak Ziva!" Ujar Hanna dengan tatapan dingin.
"Salah lagi!" Ujar Hafidz seraya menggelengkan kepalanya lemah.
"Kakak memang salah!"
"Iya sayang, cintaku yang manis. Aku memang salah!" Ujar Hafidz final, berharap amarah Hanna mereda.
"Itu baru benar, kak Hafidz memang salah. Karena telah menuduhku cemburu pada kak Ziva!"
"Hmmmm!"
"Kak Hafidz, satu hal yang harus kakak ingat. Hanna Santika Ramaniya tidak akan pernah cemburu. Sebab cemburu hanya untuk orang yang tak mampu bersaing!" Ujar Hanna tegas, lalu berjalan menjauh dari Hafidz. Hanna berjalan menuju mobil, tanpa menunggu Hafidz lagi.
"Beruntung aku sangat mencintaimu. Jika tidak!"
"Jika tidak kenapa? Kakak akan pergi meninggalkanku!" Sahut Hanna sembari menoleh menatap Hafidz. Hanna menghentikan langkahnya saat mendengar Hafidz bergumam.
"Sayang, aku akan bersamamu!" Sahut Hafidz final.
__ADS_1
"Sayang, apapun yang kamu katakan? Aku akan mempercayainya. Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu. Senyum manismu takkan kubiarkan hilang, tergantikan air mata. Jangan Ziva, puluhan wanita cantik takkan mampu menggantikan posisimu di hatiku. Takkan pernah ada nama lain di dinding hatiku. Hanya nama indahmu yang terpatri jauh dalam relung hatiku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" Batin Hafidz penuh kelegaan.