
"Kak Ziva, aku tunggu undangan pernikahannya. Aku pastikan hadir menjadi saksi kebahagian kakak!" Ujar Hanna lantang, tanpa menatap Hafidz.
Ziva menggeleng lemah, dia tidak mengizinkan Hanna pulang. Tatapan Hafidz pada Hanna, tanpa sengaja terlihat oleh mata Ziva. Secara naluri Ziva merasa ada hubungan diantara keduanya. Sikap dingin Hanna yang tiba-tiba ingin pulang. Menambah rasa penasaran di hati Ziva. Ada rasa cemburu menelisik jauh ke dalam relung hati Ziva.
"Jika kamu menganggapku sebagai kakak. Duduklah kembali, kita makan malam bersama. Sudah lama kakak tidak bertemu denganmu. Banyak yang ingin kakak tanyakan padamu!" Ujar Ziva lirih, Hanna menggeleng lemah.
"Aku harus dinas di rumah sakit!"
"Hanna, kakak tahu kamu hanya dokter pengganti sekarang. Sejak kecelakaan yang hampir merebut nyawamu. Keluargamu memutuskan kamu hanya akan menjadi dokter pengganti, bukan dokter wajib!" Sahut Ziva tegas dan lantang, Hanna menunduk terdiam. Sebaliknya Savira histeris mendengar kecelakaan yang menimpa Hanna.
Savira menarik tubuh Hanna menghadap ke arahnya. Savira membolak-balik tubuh Hanna. Memeriksa bekas luka yang ada di tubuh Hanna. Namun tak terlihat satupun luka di tubuh Hanna. Dengan perasaan lega, Savira memeluk Hanna sahabatnya.
"Maafkan aku Hanna. Saat kamu terluka aku tidak ada disampingmu. Kamu sendirian menahan rasa sakit itu!" Ujar Savira lirih tepat di telinga sahabatnya.
"Aku baik-baik saja. Semua terjadi beberapa bulan yang lalu. Aku sudah kembali pulih, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan!" Ujar Hanna, Savira mengangguk mengerti. Hafidz terdiam mendengar setiap tutur kata Hanna. Tak sekalipun Hanna menoleh ke arahnya. Hafidz merasakan dingin sikap Hanna padanya. Tubuhnya kaku menahan diam Hanna yang perlahan membuatnya lumpuh.
"Baiklah kak, aku akan makan malam bersama kalian!" Sahut Hanna dingin, Savira tersenyum sembari merangkul pundak Hanna.
Hanna duduk kembali, tapi kini dia berhadapan dengan Hafidz. Savira ingin berhadapan dengan Ziva. Sebab itu dia berganti tempat dengan Hanna. Mereka berempat makan malam hangat bersama. Pertemuan setelah berbulan-bulan terpisah. Seakan terasa begitu membahagiakan.
"Hanna!"
"Iya kak Ziva!" Sahut Hanna lirih, Hanna mendongak menatap Ziva. Tanpa sengaja mata indahnya bertemu dengan mata Hafidz. Sontak Hanna menunduk dengan raut wajah canggung.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Hafidz?" Ujar Ziva santai, seketika Hanna mendongak menatap Ziva tak mengerti. Bukan hanya Hanna yang heran, Savira juga tidak mengerti. Kenapa Ziva bertanya seperti itu?
Ziva tersenyum saat Hanna menoleh ke arahnya. Lalu Hanna menatap. Hafidz yang duduk di depannya. Hanna melihat Hafidz yang begitu tenang. Seolah dia tak mendengar atau keberatan dengan pertanyaan Ziva. Sikap yang seakan membenarkan Hanna dab Hafidz saling mengenal.
"Kenapa diam Hanna? Apa hubungan kalian? Aku mengenal Hafidz juga dirimu. Sangat mudah bagiku mengetahui ada hubungan diantara kalian!" Ujar Ziva lirih dan tegas, Hanna menggeleng lemah. Sedangkan Hafidz tetap tak peduli. Hafidz seakan menunggu jawaban dari Hanna. Status yang ditunggu Hafidz, pengakuan Hanna akan keberadaan dirinya.
"Kak Hafidz, dia teman kak Arkan dan kak Aura. Selain dia teman kakakku. Aku mengenalnya juga, karena papa dan kak Hafidz ada kerjasama. Jadi kami sering bertemu, tapi beberapa bulan yang lalu. Sebelum aku mengalami kecelakaan!" Ujar Hanna lirih, Hafidz menunduk. Terdengar helaan napasnya lirih. Hafidz merasa kecewa dengan jawaban Hanna.
"Tidak ada hubungan yang lain. Kamu tidak berbohong Hanna. Kakak tidak ingin hubunganku dengan Hafidz, membuatmu sakit hati!" Ujar Ziva dingin, Hanna menggeleng lemah.
"Percayalah kak, aku dan kak Hafidz tidak ada hubungan apa-apa? Mungkin hubungan yang paling dekat diantara kami. Saat kak Hafidz mendonorkan darahnya padaku!" Ujar Hanna tegas.
"Kamu mengetahuinya!" Ujar Hafidz menyahuti perkataan Hanna. Dengan perlahan Hanna mengangguk, mengiyakan perkataan Hafidz. Rasa terkejut bercampur bahagia. Nyata terlihat di raut wajah Hafidz.
"Maaf, aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikan kakak dibalas oleh Allah SWT!" Sahut Hanna hangat, Hafidz mengangguk dengan senyum yang tersirat nyata di wajahnya.
Ziva melihat hubungan yang begitu spesial antara Hanna dan Hafidz. Namun dia tidak bisa memungkiri perasaannya. Beberapa bulan dia dekat dengan Hafidz. Rasa cinta itu nyata tumbuh di hatinya. Ziva tidak akan merebut Hafidz dari Hanna. Jika seandainya memang ada hubungan spesial diantara keduanya.
"Kamu yakin Hanna, hubungan kalian sebatas teman!" Ujar Ziva meragukan perkataan Hanna.
Lagi dan lagi Hanna mengangguk tanpa ragu. Keputusan final yang sejak dulu diambil Hanna. Bukan karena penolakan ibunda Hafidz. Melainkan trauma yang nyata tak pernah hilang dari benak Hanna. Hafidz terlihat menunduk, dia sudah menduga akan jawaban Hanna. Hafidz menyadari pertemuannya dengan Hanna. Menghangatkan hati dinginnya, tapi sikap Hanna nyata membuat Hafidz tak lagi berharap.
"Kak Ziva sangat mengenal Hanna. Sejak aku berteman dengan Savira. Kak Ziva menganggapku sebagai adik. Semenjak itu pula, kakak mengetahui lemah dan rapuhku. Alasan terbesarku tak ingin menikah. Jadi kakak tidak perlu ragu akan jawabanku hari ini. Belum ada cinta yang bisa membuatku percaya. Jika pernikahan itu indah dan takkan ada air mata di dalamnya!" Tutur Hanna lirih.
__ADS_1
"Bukan cinta yang tidak ada, tapi hatimu yang memungkiri keberadaan cinta itu. Hatimu nyata tertutup oleh rasa takut dan trauma. Keraguan yang nyata tak pernah nyata!" Sahut Hafidz dingin, tanpa menoleh ke arah Hanna.
"Kak Ziva dan kak Hafidz mungkin benar dengan pendapat kalian. Namun air mata dan sepi Hanna itu bukan kebohongan. Lima belas tahun, Hanna sepi tanpa kasih sayang seorang ibu. Lima belas tahun, Hanna duduk di bawah guyuran hujan. Mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Namun harapan itu tak pernah nyata dan kini kalian memaksa Hanna percaya akan bahagia itu!"
"Savira, tidak perlu diperpanjang. Kak Ziva berhak bertanya. Agar dia yakin, jika aku dan kak Hafidz tidak ada hubungan apa-apa? Sebaliknya kak Hafidz, layak berpendapat begitu. Sebagai seorang laki-laki, dia merasa diragukan oleh wanita sepertiku!"
"Inilah Hanna yang aku tidak suka dari perubahanmu kini. Kamu mencoba menenangkanku, tapi hatimu sendiri bergemuruh. Mungkin orang lain percaya kamu baik-baik saja, tapi aku tidak akan percaya. Alasan terbesarmu duduk di bawah hujan. Bukan karena kamu suka air hujan. Namun kamu tutupi air matamu, menggantikannya dengan air hujan. Agar tak ada yang pernah melihat rapuhmu!" Sahut Savira lantang.
"Kak Ziva, apapun hubunganmu dengan kak Hafidz. Satu hal yang pasti, Hanna tidak ada hubungan dengan kak Hafidz. Aku menjamin itu!" Ujar Savira lantang.
Ziva melihat tatapan Hafidz yang berbeda kepada Hanna. Sebaliknya terlihat Hanna membuang muka dari Hafidz. Sikap yang seakan jelas menjawab keraguan Ziva. Bertahan dengan cintanya pada Hafidz, tapi dengan melihat tatapan penuh cinta Hafidz kepada Hanna.
"Maaf semuanya, aku harus segera ke rumah sakit. Terima kasih atas makan malamnya!" Pamit Hanna, Ziva dan Savira mengangguk setuju. Sedangkan Hafidz terdiam tak menyahuti perkataan Hanna.
Hanna berjalan menjauh dari mereka, Hanna melangkah tanpa berpikir menoleh kembali. Dia benar-benar pergi dan takkan kembali. Hafidz menunduk, sesaat setelah menatap punggung Hanna. Hafidz hancur melihat Hanna pergi.
"Jika kak Hafidz menyukai Hanna. Cobalah memahami rasa takutnya. Seandainya kak Hafidz ingin hidup bersama Hanna. Belajarlah mengerti kebiasaannya. Hanna pribadi penakut, dia tidak akan melangkah bila di tempat itu dia terluka. Hanna tak pernah ingin mengutarakan sakitnya. Sebab itu bersabarlah, agar dia percaya rasa kakak itu nyata!" Ujar Savira.
"Kenapa kamu mendukungku?" Ujar Hafidz lirih, Ziva menunduk terdiam. Pembelaan Savira pada Hanna, membuatnya cemburu.
"Karena kakak mencintai Hanna tanpa memaksa. Kakak tulus mencintai Hanna. Ketulusan itu yang akan membuat Hanna sahabat kecilku bahagia. Cukup sudah dia menangis, air mata Hanna mengering seiringi berjalannya waktu. Sekarang saatnya dia bahagia!"
"Terima kasih, aku akan mengenalnya kembali!" Sahut Hafidz lantang.
__ADS_1