
"Sinta!"
"Tika!" Sahut Sinta ramah, Tika tersenyum di balik cadarnya.
Tika meletakkan satu keranjang buah di meja dekat Sinta. Tika menjenguk Sinta di rumah sakit. Kondisi Sinta mulai membaik, meski banyak yang harus diperiksa kembali. Hampir seminggu lebih Sinta dirawat. Meski Tika baru saja menjenguk Sinta. Namun tak pernah Tika telat mencari tahu kondisi Sinta dari Arkan?
"Maaf aku baru bisa menjengukmu. Mas Agam baru pulang dari luar kota. Tanpa izinnya aku tidak bisa datang kemari!"
"Tidak apa-apa? Aku sudah lebih baik. Terima kasih sudah memperhatikanku!"
"Aku bisa melihat kondisimu semakin membaik!" Sahut Tika ramah, Sinta mengedipkan kedua mata indahnya.
Kreeekk
"Tante Sinta, saatnya minum obat!"
"Selama ada dia, aku akan segera sembuh!" Ujar Sinta lantang, Tika menoleh ke arah pintu.
"Dia!"
"Iya Tika, dia yang merawat dan menemaniku selama ini!" Ujar Sinta tegas.
Tika mengangguk menyapa wanita berhijab. Penampilannya sangat anggun. Nampak jelas dia bukan wanita sembarangan. Di balik cadar Tika tersenyum. Menyapa hangat wanita yang ada di depannya.
"Kenapa kamu diam?" Ujar Sinta dingin.
"Aku terpana melihat kecantikannya. Jelas hatinya secantik wajahnya. Sangat bodoh bila ada seorang laki-laki menolaknya!" Sahut Tika lirih dan ramah.
"Maksud kamu apa?"
"Wanita berwajah cantik dan berhati mulia. Sangat jarang ditemukan, apalagi aku melihat ketegasan yang luar biasa darinya!"
"Kamu benar!" Ujar Sinta menyesal.
"Diakah wanita yang kamu bandingkan dengan Hanna putriku!" Ujar Tika santai, Sinta mengangguk tanpa bersalah. Seakan jawabannya takkan melukai hati Tika.
"Dia baik dan cantik. Idaman setiap mertua!"
__ADS_1
"Apa kabar mbak?" Ujar Tika sembari mengulurkan tangannya. Tika bingung saat ingin menyapa. Sebab Tika tidak pernah tahu, siapa nama dari wanita yang ada di depannya?
"Saya Ziva tante!" Sahut Ziva ramah, sembari menerima uluran tangan Tika.
"Kartika Putri, ibu dari Hanna!"
"Tante, putri tuan Dimas Anggara!" Ujar Ziva ramah. Tika mengangguk mengiyakan.
"Senang bertemu dengan anda!" Ujar Ziva sesaat setelah menjabat tangan Tika.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Semoga kamu segera pulang dan sehat kembali!"
"Tunggu Tika, dimana Hanna? Sudah seminggu lebih aku di rumah sakit. Tak pernah satu kalipun Hanna menjengukku!"
"Dia sedang ke luar kota!"
"Kenapa lama sekali? Apa Hanna lupa statusnya sebagai seorang istri!" Ujar Sinta sinis.
"Hanna tidak pernah lupa statusnya sebagai seorang istri. Malah sebaliknya, kamu yang mulai lupa statusmu sebagai ibu mertuanya!"
Tika semakin tak percaya mendengar perkataan Sinta. Kebencian yang nyata ada untuk putrinya. Sebuah penilaian yang takkan mudah berubah. Tertutup dengan rasa tidak suka yang tak berdasar. Tika hanya bisa pasrah mendengar putrinya dihina. Diragukan ketulusannya sebagai seorang istri yang tulus mencintai suaminya.
"Kamu benar Sinta, Hanna pergi terlalu lama. Meninggalkan semua kewajibannya sebagai seorang istri. Namun kamu lupa satu hal Sinta. Langkah seorang istri halal, jika suami mengizinkan. Jauh sebelum kamu menyalahkan Hanna. Seharusnya kamu bertanya pada putramu. Dia mengizinkan Hanna pergi atau tidak?" Sahut Tika dengan nada tenang dan bijak.
"Apapun alasannya, Hanna pergi meninggalkan tanggungjawabnya!"
"Tidak akan ada seorang istri yang sanggup jauh dari suaminya. Sebaliknya tidak ada seorang wanita yang sanggup bertahan. Ketika dirinya dibandingkan dan diragukan. Alangkah bijaknya, jika kamu memahami hati seorang wanita. Sebelum kamu menyalahkan dan meragukan ketulusan cintanya!"
"Apa yang ingin kamu katakan? Kenapa aku merasa kamu sedang menyindiriku? Apapun yang aku katakan itu semua fakta. Sejauh ini, Hanna belum bisa menjadi seorang istri yang baik. Dia melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Hafidz merawat dirinya sendiri, tanpa ada Hanna yang melayani!" Ujar Sinta emosi, Tika tersenyum dibalik cadarnya. Tika menoleh ke arah Ziva yang selalu setia menemani Sinta. Jika Shaila tidak ada, terlebih jika Hafidz sangat sibuk. Seperti hari ini, Hafidz harus memimpin rapat.
"Jika kamu merasa tersindir. Jauh dari lubuk hatiku, aku minta maaf. Namun sebagai seorang istri, aku tahu batasan yang salah dan benar. Hanna juga memahami batasan. Dia memilih kebencianmu, daripada pujianmu. Hanya agar kamu segera pulih. Hanna menjauh hingga ribuan kilometer, hanya demi memenuhi asa di hatimu. Hanna memilih berpisah jarak dan waktu dengan Hafidz. Agar putramu kembali bersamamu, merawat lukamu sampai sembuh. Masih adakah pengorbanan yang kamu rasa kurang!"
"Hanna tak sebaik itu!"
"Memang benar Sinta, dia tak sebaik itu. Namun dia juga tak seburuk pemikiranmu. Sampai kamu terus menyalahkan dan meragukannya. Berpikir Ziva jauh lebih pantas dari Hanna. Jika memang hatimu seyakin itu. Kenapa tidak meminta Hafidz mengabulkan impianmu? Agar Hanna tak lagi bekorban!"
"Kamu hanya ingin membela putrimu. Tanpa peduli kebenaran yang ada!" Ujar Sinta sinis, Tika menggeleng lemah.
__ADS_1
"Tak pernah aku ingin membela Hanna, karena aku percaya putriku sanggup menghadapi semua ini. Sejak kecil Hanna terdidik tangguh, semenjak jauh dariku. Meski dia layaknya lidah buaya yang keras di luar, tapi lembut di dalam. Hanna takkan pernah mengeluh atau menangis. Justru aku bicara demi kebaikanmu dan Ziva. Sudah saatnya kamu menyadari kesalahanmu. Sebelum semuanya semakin terlambat!"
"Apa salahku? Aku tidak melakukan apa-apa? Aku ibu yang menginginkan kebahagian putranya. Salahkah aku jika aku berharap seperti itu!"
"Kamu tidak salah bila mengharapkan kebahagian Hafidz, tapi salah jika meletakkan Ziva diantara Hafidz dan Hanna. Kamu tidak hanya menyakiti hati Hanna, tapi kamu menghancurkan hidup Ziva. Perlahan tapi pasti, Ziva akan hancur dengan harapan palsu yang kamu berikan!"
"Aku tak pernah meletakkan Ziva di tengah-tengah mereka. Jauh sebelum Hanna ada, Ziva sudah ada di samping Hafidz!"
"Ziva memang ada dihati Hafidz, tapi bukan di hati Hafidz. Harapan yang sengaja kamu ciptakan dalam benak dan hati Ziva saat ini. Akan membawanya pada luka yang cukup dalam. Karena jika memang Hafidz menyadari arti Ziva. Tidak perlu Hafidz menunggu Hanna menikah dengannya. Dia sudah bisa menjadikan Ziva istri idaman!" Tutur Tika tenang. Sinta dan Ziva terdiam, seakan mereka sedang merasakan tamparan yang begitu keras dipipinya.
"Ziva, kamu anak yang baik. Jauh di lubuk hatimu, ada rasa lelah dengan kondisi saat ini. Bertahan atau mengalah bukan sebuah pilihan, tapi diam tanpa menyanggah atau mengiyakan. Bukan sebuah solusi yang baik. Akan banyak pendapat tentang cintamu yang suci. Mereka bukan menganggumimu malah akan merendahkanmu. Tante berpesan satu hal padamu, jadilah wanita yang berharga diri tinggi. Agar tak ada siapapun yang meremehkamu? Karena sampai kapanpun? Seorang wanit yang salah, sedangkan laki-laki akan selalu benar. Ketika ada hubungan terlarang yang terjadi!" Ujar Tika, Ziva menunduk malu. Ada rasa gelisah di hati Ziva setelah mendengar perkataan Tika.
Kreeekkk
"Mama!"
"Kamu sudah datang Hafidz!" Sapa Tika ramah.
"Baiklah mama pamit pulang. Jaga bundamu dengan baik!"
"Mama!"
"Ada apa Hafidz?" Sahut Tika, seraya menoleh ke arah Tika.
"Hanna?"
"Jika dia tidak menghubungimu, tentu dia tidak akan menghubungiku!"
"Tapi kenapa?"
"Karena kamu jauh lebih penting daripada kami. Jadi Hanna sanggup menjauh darimu, tentu dia jauh lebih sanggup menjauh dariku. Sabar Hafidz, Hanna pasti kembali!" Ujar Tika final.
...☆☆☆☆☆...
Hai readers.....
Maaf author baru muncul, selama beberapa hari author sakit. Malam ini saja author paksakan menulis, karena author merindukan sapaan hangat para readers. Lagi dan lagi author mengecewakan. Sekali lagi terima kasih dan selamat membaca. Maafkan author ya readers 🤗🤗🤗.
__ADS_1