
"Pagi dokter Hanna!" sapa Hafidz ramah, Hanna menoleh seraya menghentikan langkahnya.
Hanna tengah berjalan di koridor rumah sakit. Kebetulan pagi ini Hanna mendapat tugas jaga di poli. Dia menjadi asisten dokter yang membantu Arkan. Sengaja Arkan menugaskan Hanna di sampingnya. Arkan tidak ingin Hanna melakukan kesalahan. Sebab itu Arkan memilih mengawasi sekaligus melatih Hanna.
"Sedang apa di rumah sakit!" sahut Hanna dingin, Hafidz tersenyum seraya menatap Hanna. Hafidz melihat Hanna memakai masker. Mungkin kejadian semalam, membuat Hanna sakit.
"Aku hanya ingin memberikanmu ini!" sahut Hafidz ramah, sembari memberikan sebotol air mineral. Hanna mengeryitkan dahinya heran melihat pemberian Hafidz.
Hanna menerima air meneral yang diberikan Hafidz. Meski dalam hati Hanna tidak mengerti maksud Hafidz. Hanna membolak-balikkan air meneral yang dipegangnya. Hanna benar-benar tidak bisa menerka maksud pemberian Hafidz. Seorang CEO sekelas Hafidz, memberikan Hanna sebotol air meneral. Bukan minuman lain yang jauh lebih mahal atau setidaknya minuman yang manis.
"Air meneral!" sahut Hanna lirih, seakan dia tak lagi bisa menahan rasa herannya. Hanna benar-benar tidak bisa diam, menanti Hafidz mengatakan maksudnya.
Hafidz mengangguk seraya tersenyum simpul. Dia sudah menduga Hanna tidak akan pernah mengerti maksudnya memberikan air mineral. Hafidz menatap lekat Hanna, semakin Hafidz ingin mengenal Hanna. Semakin besar rasa sayangnya pada Hanna. Seorang wanita yang memilih hidup sederhana, dalam kemewahan yang ada.
Hanna dokter cantik tanpa polesan tebal. Rambut hitam legamnya terurai indah, terkadang Hanna menggulung menjadi satu sanggulan. Tanpa berpikir rapi atau menarik, hanya rasa nyaman saat kepanasan. Saat angin berhembus menyentuh tengkuknya yang kepanasan. Make up polos dan natural, menampakkan kecantikan alami Hanna.
"Iya, air mineral!"
"Untuk apa?" ujar Hanna sembari mengeryitkan dahinya.
"Aku tidak ingin kamu lupa minum air putih. Air mineral itu layaknya diriku, hambar tanpa dirimu melengkapinya. Namun air itu yang akan menghapus dahagamu. Seperti cintaku yang kelak mengisi kosong hatimu yang sepi!" ujar Hafidz lantang dan tegas.
Hanna menggelengkan kepalanya tak percaya. Rayuan maut Hafidz mampu meluluhkan hati siapapun yang mendengarnya? Namun rayuan Hafidz seakan tak terdengar di telinga Hanna. Sedikitpun tak menyentuh hati Hanna yang dingin.
__ADS_1
"Jadi cintamu hanya sebotol air mineral ini. Apa kamu yakin? Air ini akan menghilangkan dahagaku. Kalau dilihat, air ini tak lebih dari 600 ml. Sedangkan aku harus minum air putih sebanyak 2 L setiap harinya!" sahut Hanna mencoba menggoda Hafidz.
Hafidz tersenyum, dia melihat keteguhan hati Hanna yang tak ingin disentuh. Hati yang buta oleh rasa sakit masa lalu. Hanna pribadi yang menarik, Hafidz merasa tertantang sekaligus kagum pada Hanna. Tidak mudah menaklukkan hati Hanna, artinya tidak akan mudah pula Hanna melepaskan cinta yang digenggamnya.
"Aku sengaja memberimu 600 ml, jika aku memberikan air di dalam lautan sekaligus. Tidak akan ada lagi alasan diriku menemuimu. Cintaku tak sedalam lautan, tak setinggi gunung, tak sepanas api, tak seluas langit, tak sebesar bumi. Namun cintaku tulus tanpa batasan, sejauh kamu melangkah. Disana cintaku akan mengikuti!"
"Pantas kamu menjadi CEO hebat. Cara bicaramu sa1ngat lugas dan menyakinkan. Sungguh papa tidak salah menilaimu!" ujar Hanna lirih, sembari tangannya membuka tutup botol di tangannya.
Hanna hendak meminum air mineral di dalam botol. Tepat saat bibir Hanna mendekat di mulut botol. Hafidz dengan sigap menempelkan telunjuknya di bibir Hanna. Mengisyaratkan Hanna untuk tidak meminumnya. Hafidz menggelengkan kepalanya lemah, sontak Hanna menurunkan botol air mineral yang dipegangnya. Hafidz menuntun Hanna duduk di kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Lagi dan lagi Hafidz lupa akan batasan diantara mereka. Bukan sengaja melanggar yang batasan, entah kenapa Hafidz selalu merasa pantas menuntun Hanna? Meski dia terpaksa melanggar batasan. Hafidz merasa hatinya telah menyatu dengan Hanna.
"Tidak baik minum sambil berdiri. Lebih baik duduk, bukankah secara medis ada akibat yang tidak baik!" Hanna melongo menatap Hafidz. Ada rasa aneh dihati Hanna, terasa hangat dan menyejukkan. Perkataan Hafidz sederhana, tapi membuat Hanna tersadar akan salahnya. Nasehat sederhana yang selalu diharapkan Hanna selama lima belas tahun terakhir.
"Terima kasih!" ujar Hanna lalu berdiri. Dia memberikan botol air mineral pada Hafidz. Hanna tidak menghabiskan air yang ada di dalam botol. Hafidz terdiam menerima botol yang masih berisi setengah air.
"Aku akan belajar membagi yang aku suka dan aku benci denganmu. Aku mulai dengan air itu. Aku tidak ingin dahagaku hilang, tapi kamu kehausan!" ujar Hanna lirih, Hafidz memegang erat botol air mineral. Hafidz menatap penuh tanda tanya pada Hanna.
"Aku sengaja memberikan air itu, aku ingin melihat sikapmu. Akankah kamu jijik menerima sisaku? Ataukah sebaliknya, kamu akan menganggap pemberianku layak dihargai. Aku tidak ragu akan kepedulianmu padaku. Namun hidup bersama tidak semudah mengatakannya. Butuh rasa saling menghargai, melebihi kepedulian semata. Maafkan aku, jika aku bersikap sejauh ini. Menguji rasamu padaku dengan cara yang tak pantas. Bukan untuk sebuah rasa percaya akan rasa cinta tulusmu. Namun kayakinan, jika kelak kita akan saling menghargai satu sama lain. Tanpa membedakan status wanita dan laki-laki. Atau anggapan makmum yang harus mengikuti langkah imam. Walau aku sadar, suami surga seorang istri. Persamaan yang ingin aku buktikan, hanyalah sebuah keyakinan. Jika kelak kamu akan menerimaku dengan lemah dan kuatku. Menuntunku menuju yang baik, menjauh dari yang buruk. Tanpa harus menghina ketidaktahuanku!" batin Hanna was-was.
Gleekk Gleekk Gleekk
"Terima kasih!" ujar Hafidz, sesaat setelah meminum seluruh air dalam botol.
__ADS_1
"Kamu tidak risih meminum air bekasku!"
"Kenapa aku harus risih? Kamu sendiri yang memberikannya dengan niat tulus. Sangat bodoh bila aku menolak ketulusanmu!" sahut Hafidz lantang, Hanna menunduk malu. Ada rasa bahagia di hatinya, sekaligus ada rasa menyesal. Karena telah bersikap sejauh itu pada Hafidz.
"Maaf, aku bersikap kurang sopan!" ujar Hanna lirih, Hafidz menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak pernah merasa terhina dengan sikapmu. Justru aku bahagia, karena kamu mulai bersikap hangat padaku. Kamu membagi air yang sejatinya belum tentu cukup menghapus dahagamu!"
"Maksudmu?"
"Hanna, aku sengaja membeli satu botol air putih. Agar kamu menyadari, jika aku dan kamu satu. Kita hanya akan minum dari satu botol yang sama. Karena aku tidak akan sempurna tanpa dirimu bersamaku. Dahagaku akan hilang, saat aku yakin kamu tidak kehausan. Aku tidak akan pernah lapar, selama kamu tidak merasa lapar. Cintaku bukan rasa yang sempurna, tapi cintaku akan selalu melindungimu!"
"Kenapa kamu begitu yakin padaku?"
"Hatiku yang memilihmu, cintaku yang menuntunku menghampirimu. Aku percaya, kelak hatimu akan terketuk dan hangat!" ujar Hafidz.
"Terserah padamu, aku harus ke poli sekarang?" ujar Hanna, Hafidz mengangguk. Hanna berjalan menjauh dari Hafidz.
"Hanna, kamu hanya minum 300 ml air. Masih tersisa 1700 ml. Aku akan datang mengantarkan sisanya. Aku tidak akan membiarkanmu kehausan. Sebab aku hanya akan minum saat bersamamu!" ujar Hafidz lantang, Hanna menoleh seraya menggeleng.
"Jika kamu terus datang mengantar air, kapan aku bekerja? Aku bisa menjaga diriku. Sebaliknya jaga diri dan hatimu untukku. Agar tak ada wanita lain yang mengisinya!" sahut Hanna lantang, Hafidz melongo mendengar perkataan Hanna.
"Kamu menerimaku!"
__ADS_1
"Belum, sampai orang tuamu menerimaku!" ujar Hanna sembari berlalu.