Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Fakta mengejutkan


__ADS_3

"Hanna, kakak ingin bicara!"


"Ada apa? kenapa wajah kakak sangat serius!"


"Kita bicara di luar. Aku tidak ingin Hafidz mendengarnya, takutnya dia akan salah paham!" Ujar Arkan lirih, Hanna mengangguk mengiyakan.


Arkan dan Hanna berjalan beriringan ke luar rumah. Keduanya berjalan menuju taman di depan rumah. Lebih tepatnya mereka menuju gazebo yang ada di tengah taman. Hanna sempat mendongak ke arah langit. Tak terlihat bintang atau bulan bersinar. Sebaliknya langit terlihat merah, seolah langit ingin menumpahkan air matanya. Hanna merasakan dingin angin malam. Namun demi permintaan Arkan, Hanna mencoba menahannya.


"Ada apa kak? Kenapa kita harus menjauh dari kak Hafidz? Memangnya apa yang ingin kakak katakan?"


"Ghibran!" Ujar Arkan singkat, Hanna menoleh seraya mengeryitkan dahinya tak mengerti.


Hanna mencoba mencari hubungan antara Ghibran dengan pembicarannya dengan Arkan. Hanna mencari jawaban dari ketenangan Arkan. Sikap yang begitu tenang, sifat yang menurun dari Hanna. Tak pernah tergesa-gesa dalam memutuskan. Sebaliknya Arkan sangat tenang, meski hati dan pikirannya gelisah. Permasalahan yang akan dikatakan Arkan tidaklah mudah.


"Kenapa dengan dia? Dimana dia sekarang?"


"Di rumah sakit!" Sahut Arkan tegas, Hanna menoleh seraya menggeleng tak percaya. Hanna merasa perkataan Arkan hanya bualan semata.


"Kakak bercanda!"


"Dua hari lalu dia datang dari luar kota. Ghibran mengalami kecelakaan hebat. Rumah sakit disana tak sanggup menanganinya. Jadi mereka merujuk Ghibran ke rumah sakit kita!"


"Lantas, apa hubungannya Ghibran dengan diriku?" Sahut Hanna acuh, meski hatinya merasa gelisah.


Ada rasa tak biasa yang menyusup. Entah itu rasa kasihan atau sebuah rasa bersalah? Namun yang pasti, kehadiran Ghibran mulai mengusik ketenangannya. Hanna merasa kecelakaan Ghibran terjadi karena ada sangkut paut dengan dirinya. Kegelisahan hatinya semakin besar, saat Arkan membicarakan Ghibran secara pribadi dengannya.


"Hanna, maafkan kakak jika harus mengatakan semua ini. Kamu mengetahui, sebesar apa rasa Ghibran untukmu?"


"Maksud kakak?"


"Ghibran mengalami kecelakaan, tepat saat hari pernikahanmu. Dia melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ghibran ingin menghadiri pernikahanmu. Entah untuk mengucapkan kata selamat? Atau mungkin ingin merusak acaramu. Namun kekalutan Ghibran saat itu, membuatnya kehilangan akal. Kecepatan mobil Ghibran di luar batas. Sehingga mobil Ghibran menabrak dinding pembatas dan akhirnya terbalik!"


"Aku tidak ingin mendengarnya. Apapun yang terjadi pada Ghibran. Murni kelalaiannya, tidak ada hubungannya denganku!"


"Hanna, dengarkan perkataan kakak!"

__ADS_1


"Jika hanya ingin menyalahkanku. Aku tidak akan mendengarkannya. Aku tidak ada sangkut pautnya. Tidak ada kewajibanku untuk ikut campur!" Sahut Hanna dingin, Arkan menggeleng tak percaya.


"Hanna, kakak tak pernah menyalahkanmu. Setidaknya dengar perkataan kakak sebentar saja. Agar kamu mengetahui kondisi Ghibran. Kamu harus ingat, dia yang selalu ada di sampingmu dulu. Demi hubungan kemanusiaan, tahan rasa kecewamu!"


"Tapi!" Ujar Hanna ragu.


Arkan memohon pada Hanna. Akhirnya Hanna mengangguk lemah. Hanna setuju mendengarkan perkataan Arkan. Menceritakan kisah pilu Ghibran.


"Baiklah, aku akan mendengarnya. Namun kakak harus menghargai keputusanku, apapun itu?" Ujar Hanna tegas, Arkan mengangguk setuju.


"Kakak setuju!" Sahut Arkan singkat. Hanna mengangguk, tanda dia percaya akan janji Arkan.


"Aku percaya Hanna, hatimu tak sedingin itu. Mungkin aku salah telah mengatakan semua ini. Namun hanya kamu harapan terakhir kakak. Ghibran sahabat kakak, dia keponakan tante Zalwa yang masih ada hubungan kerabat dengan papa. Tidak mungkin kakak menutup mata akan lukanya. Kakak yakin, kamu bisa membedakan antara amarah dan kemanusiaan. Kakak tidak akan memaksa, tapi jauh di lubuk hati kakak. Ada harapan besar kamu membantu Ghibran!" Batin Arkan penuh harap.


"Ceritakan apa yang terjadi pada Ghibran?"


"Ghibran koma!"


Praaayyyrrr


Suara gelas yang jatuh dari genggaman Hanna. Nyata menunjukkan betapa Hanna tak percaya. Jika Ghibran mengalami hal seperti itu. Kondisi Ghibran membuat Hanna cemas, ada rasa iba sekaligus bersalah di hati Hanna. Meski bukan Hanna penyebabnya, tapi Hanna orang yang menorehkan luka teramat dalam di hati Ghibran.


"Sudah hampir satu bulan, Ghibran tak sadarkan diri. Sengaja tante Zalwa merawat Ghibran di rumah sakit lain. Dia tidak ingin melibatkan keluarga kita. Tante Zalwa tidak ingin merusak kebahagian keluarga kita. Namun kondisi Ghibran memburuk tiga hari terakhir. Sehingga tante Zalwa memutuskan, membawa Ghibran ke rumah sakit kita!"


"Bagaimana kondisinya sekarang? Kenapa tidak dirujuk ke luar negeri? Aku rasa keluarga Ghibran mampu membawanya!"


"Semua tidak semudah perkataanmu. Awalnya aku mengusulkan hal yang sama. Namun saat aku melihat Ghibran. Harapan itu takkan pernah ada. Bukan sembuh yang diharapkan Ghibran. Hanya tiada yang mungkin menjadi jalan terakhirnya!" Ujar Arkan lirih, Hanna menggeleng tak percaya. Dia tak mampu mendengar rasa sakit Ghibran lagi. Tubuhnya terasa lemah, Hanna merasa sesak mengingat semua sikap kasarnya pada Ghibran.


"Tidak mudah, tapi kita bisa mencobanya!" Sahut Hanna, Arkan menggeleng lemah.


"Hanya kamu harapan terakhir kami!"


"Maksud kakak!"


"Ghibran menunggumu, hanya namamu yang disebut dalam tidur panjangnya. Ghibran memanggilmu dalam setiap hembusan napasnya!"

__ADS_1


"Kenapa harus aku?"


"Hanna, kakak tahu semua ini salah. Namun kakak mohon, temui Ghibran sekali saja. Bangkitkan semangat hidupnya. Mungkin kehadiranmu mampu mrmbuatnya sadar dari koma!"


"Kenapa dia memanggilku?" Ujar Hanna lirih, Arkan menggeleng tak mengerti. Hanna berjalan menjauh dari Arkan. Rintik hujan jatuh membasahi wajahnya. Gerimis yang mewakili air matanya.


"Detak jantung Ghibran mulai melemah!"


"Tidak mungkin?"


"Kesadaran Ghibran semakin menghilang. Satu yang tetap sama, sejak dia tak sadarkan diri!"


"Apa itu?"


"Namamu yang selalu dipanggilnya. Air mata Ghibran yang merindukan kehadiranmu!"


"Aku tidak bisa!" Sahut Hanna lirih, setetes air mata Hanna jatuh. Hatinya sakit mendengar kondisi Ghibran.


"Baiklah, kakak paham itu. Besok tepat jam 12 WIB, kakak akan melepas alat bantu hidupnya. Semua keluarga sepakat mengakhiri rasa sakit Ghibran!" Ujar Arkan dingin dan tegas.


"Jangan lakukan itu? Dia pasti sembuh!"


"Maafkan Hanna, dia tak lagi bisa bertahan!"


"Kakak pasti bisa membantunya!"


"Kakak bukan Allah SWT yang bisa menyembuhkannya. Sebagai dokter kakak sudah berusaha!"


"Kakak pasti bisa!" Ujar Hanna menghiba, Arkan menggeleng lemah.


"Seandainya kakak bisa, tapi kakak tak mampu melawan takdir yang sudah tertulis. Mungkin jauh lebih baik, Ghibran lepas dari derita ini. Agar tak lagi dia merasakan sakit hati!"


"Kakak, maafkan aku!" Ujar Hanna lirih.


"Kamu tahu yang terbaik, tidak ada yang bisa menyalahkanmu dan memaksamu!" Ujar Arkam lantang, lalu menjauh meninggalkan Hanna sendirian.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakakan? Kamu dan aku tak lagi sama. Status kita berbeda, tidak semudah itu bila ingin menemuimu!" Gumam Hanna.


__ADS_2