Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Siapa Dia...?


__ADS_3

"Zahro, tolong antarkan makan malam pada mbak Zalwa. Aku melihatnya baru pulang kerja. Mungkin dia belum makan malam!" ujar Tika, Zahro menggeleng. Tika menatap tajam ke arah Zahro. Tika marah melihat Zahro bersikap tak pantas pada Zalwa. Bagaimanapun Zalwa tamu yang harus dihormati?


"Mbak Tika, dia datang kemari untuk mengusik rumah tangga mbak Tika. Aku tidak ingin menghormati orang, yang tak layak untuk dihormati. Maaf mbak Tika, aku merasa kedatangan mbak Zalwa dengan maksud tertentu!" ujar Zahro kesal, Tika memukul pelan pundak Zahro.


"Sudah jangan banyak bicara, berikan saja makan malam ini. Aku akan menemui mas Agam, dia juga baru pulang!" ujar Tika sembari melangkah menuju kamarnya.


Apa yang dikatakan Zahro tidaklah salah? Sebelum semua orang berpikir buruk tentang Zalwa. Tika orang pertama yang merasakan firasat aneh. Semenjak kedatangan Zalwa, sikap Agam sedikit berubah. Dia jauh lebih pendiam, seakan ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Namun Tika tetap diam, menunggu jalan yang tertulis.


"Mas Agam, mandilah setelah itu aku siapkan makan malam!" ujar Tika, Agam menggeleng lemah. Tika melihat Agam berdiri di depan jendela kamarnya. Jendela yang tepat memandang ke arah paviliun tempat Zalwa tinggal. Ada sedikit rasa ngilu, saat tatapan Agam terfokus pada bangunan di depannya. Namun hanya diam yang bisa Tika lakukan sekarang.


"Entah kenapa aku merasa tatapan itu seakan penuh dengan makna? Aku pernah melihat tatapan yang sama. Ketika pertama kali kita saling menatap. Wahai imamku, siapa sebenarnya Zalwa Ainun Azizah? Berartikah dia dihidupmu, hingga kamu mengacuhkan keberadaan diriku!" batin Tika.


"Baiklah kalau begitu, Tika ke bawah. Sengaja tadi Tika meminta Zahro mengantar makan malam ke paviliun. Aku takut mbak Zalwa belum makan malam. Namun sepertinya kalian berdua sudah makan malam bersama!" ujar Tika, seketika Agam menoleh dengan terkejut. Tika sudah tahu jawaban dari perkataannya!


"Tika, kamu jangan salah paham. Kami memang makan malam bersama, tapi tidak berdua. Hampir seluruh staf kantor ikut bersama kami. Jadi jangan pernah berpikir macam-macam!" ujar Agam, Tika menggeleng lemah. Tatapan Agam sudah mampu menjawab semua kegelisahan Tika. Hanya hati seorang istri yang bisa merasakan hal yang berbeda.


"Aku tidak akan pernah salah paham. Selama hati ini yakin akan janji suci kita. Jika dulu aku tetap percaya padamu meski Annisa ada diantara kita. Namun entah sekarang percaya itu masih ada atau sudah berganti keraguan. Satu hal yang pasti, sekali tangan kita terlepas. Aku tak mungkin ingin menggenggamnya lagi!" ujar Tika, Agam berjalan mendekat ke arah Tika. Terlihat Tika duduk di tepi tempat tidur. Tika menatap kedua buah hatinya yang sedang tertidur lelap.


"Sayang, tidak akan pernah kepercayaan itu berganti. Aku tetap Agam yang dulu, Zalwa bukan siapa-siapa? Aku dan dia tidak pernah saling mengenal!" ujar Agam, Tika menatap wajah Agam. Dengan mengutas senyum, Tika memegang tangan Agam. Lalu dengan lembut Tika mencium punggung tangan Agam.

__ADS_1


"Izinkan diriku mencium tangan ini. Tangan yang entah sampai kapan akan menjadi milikku? Zalwa mungkin bukan siapa-siapa? Tapi jauh sebelum nama Tika ada, nama Zalwa yang tertulis dalam hatimu. Tatapanmu seolah mengatakan, wajahnya yang lebih dulu kamu lihat sebelum wajahku. Penolakanmu semata-mata hanya rasa takut, akan hadirnya ikatan jauh sebelum aku ada!" ujar Tika, Agam menunduk bingung mendengar perkataan Tika.


"Mas Agam, diammu semakin meyakinkan hatiku. Zalwa bukan orang lain dalam hatimu. Jangan bimbang dengan hubungan kita. Jika memang rasamu padanya, menggantikan rasamu padaku. Insyaallah aku ikhlas, takkan ada air mata yang menetes. Hakikatnya sebuah cinta itu suci!" ujar Tika, Agam menggeleng lemah.


"Kamu terlalu jauh berpikir, aku dan Zalwa hanya berteman. Tidak akan pernah lebih, dulu atau sekarang. Jadi jangan terlalu mudah memutuskan!" ujar Agam, Tika tersenyum tipis. Dia melihat keraguan dalam perkataan Agam. Sebuah kebimbangan akan pilihan yang dipilih dalam hidupnya.


"Perkataanmu barusan menjawab semua keraguanku. Beberapa menit yang lalu, kamu berkata tidak mengenalnya. Baru saja kamu mengatakan, tidak akan ada hubungan dulu atau sekarang. Jangan berbohong pada hati yang tulus mencintaimu. Sebab hati yang tulus takkan pernah takut terluka. Dia akan selalu ikhlas menerima. Sebab hati tulus tak pernah balasan. Kita hentikan pembicaraan ini, mas Agam pasti lelah!" ujar Tika, Agam menggeleng menahan tangan Tika.


"Aku hanya ingin melihat bik Asih dan Zahro. Aku tidak akan menangis, sebab air mataku sudah mengering. Biarkan waktu yang menjawab semua keraguan ini!" ujar Tika, Agam mengangguk pelan. Memaksa kehendak pada Tika bukanlah cara yang tepat. Agam sudah mengenal watak Tika lebih dari siapapun?


Tika menemui Zahro dan bik Asih, Tika meminta mereka menyimpan makan malam. Sebenarnya Tika belum makan malam, dia menunggu Agam pulang. Pertama kalinya Agam melupakan kebersamaannya untuk makan malam. Tika bukan pribadi yang lemah, dia tidak akan mengeluh hanya karena makan malam.


"Masukkan semua bik, aku masih kenyang. Nanti malam saja jika aku lapar. Mas Agam sudah makan malam!" ujar Tika, Bik Asih mengangguk mengerti. Terlihat Zahro membawa kembali nampan berisi makanan.


"Mbak Tika, wanita itu sudah makan malam. Sekarang makanan ini untuk apa?" ujar Zahro kesal, Tika mengangkat kedua bahunya. Tika masuk ke dalam kamar menemani kedua buah hatinya. Zahro menatap sendu pada Tika. Dia dan bik Asih, dua orang yang mengerti dan mengenal Tika. Mereka seolah merasakan, apa yang Tika rasakan? Meski Tika tak pernah mengeluh.


"Bik Asih, tolong buatkan aku kopi. Nanti tolong antarkan ke ruang kerjaku!" ujar Agam, bik Asih mengangguk pelan. Sebenarnya Agam ingin meminta bantuan Tika, tapi dia urungkan. Agam melihat Tika sudah tertidur, sembari memeluk kedua buah hatinya.


"Bik, mbak Tika tidak makan malam. Kenapa semua makanan disimpan di lemari pendingin?" ujar Zahro lantang, bik Asih menggeleng lemah. Zahro pribadi yang periang dan jujur, dialah yang menjadi pelipur lara Hana.

__ADS_1


Suara lantang terdengar oleh Agam. Seketika tubuh Agam kaku, bibirnya kelu dan telinganya seolah tuli. Perkataan Zahro ibarat sebuah tamparan. Lagi dan lagi Agam membuat istrinya tidur dalam kondisi lapar. Agam mengusap wajahnya kasar, dia gusar mengetahui Tika tidur dalam keadaan lapar.


Sebenarnya bisa saja Tika makan terlebih dahulu, tapi Tika selalu menunggu Agam. Selarut apapun Agam pulang. Tika tidak ingin melihat makan sendirian. Kecuali Agam menghubunginya, mengatakan akan makan malam di luar. Namun malam ini, Agam seolah lupa akan hadirnya Tika. Dia mengunyah makanan tanpa sedikit mengingat akan lapar istrinya.


"Mas Agam, ini kopinya!"


"Bik Asih, mbak Tika belum makan malam?" ujar Agam, bik Asih menggeleng.


"Kenapa?"


"Mbak Tika tidak akan bisa makan tanpa melihat mas Agam makan!" ujar bik Asih dingin, Agam tertegun mendengar perkataan bik Asih.


"Baru beberapa hari mas, mbak Zalwa berada di sampingmu. Kamu sudah melupakan kebiasaan kita. Siapa dia mas? Sampai membuatmu lupa akan Tika gadis penyuka senjamu. Mungkin aku telah lalai, hingga aku harus menerima ujian ini. Jika memang tanganmu tak lagi mampu kugenggam. Aku ikhlas mas, cinta tulusku takkan pernah terluka. Karena cintaku bukan melukai, tapi menyayangi!" batin Tika sembari melihat agam. Tika sengaja turun mencari Agam. Dia melihat agam sedang berada di ruang kerjanya.


"Mbak Tika!"


"Zahro, aku baik-baik saja. Selama kamu ada disampingku!"


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2