Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Rapat


__ADS_3

"Permisi!" ujar Arkan ramah, seraya membuka pintu. Arkan mendapat panggilan darurat dari kepala rumah sakit.


Arkan mendapat pesan agar segera datang menuju ruang rapat. Pimpinan rumah sakit yang tak lain Bayu kakeknya sendiri. Meminta Arkan datang untuk membahas sesuatu. Dengan langkah tergesa-gesa. Arkan berjalan menuju ruang rapat. Tepat saat langkah pertama Arkan masuk ke dalam ruangan itu.


Kedua bola mata Arkan membulat sempurna. Seakan keduanya hendak meloncat keluar. Arkan terperanjat ketika melihat beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Entah kenapa tubuh Arkan enggan melangkah lagi? Arkan berdiri tegak di samping pintu. Dia diam mematung menatap beberapa orang yang sedang menunggunya.


Lama Arkan terdiam, tak ada suara yang terdengar. Hanya suara jam dinding berdetak begitu keras. Memutar memori Arkan lima belas tahun lalu. Setiap kata yang terucap dari bibir Salma. Teringang nyata ditelinga Arkan. Rasa takut akan amarah yang siap meledak. Membuat Arkan ragu melangkah menemui mereka.


Tak ada sedikitpu hasrat Arkan menemui orang-orang dari masa lalunya. Orang-orang yang terus merendahkan dan menyalahkan Tika. Wanita yang menjadi alasan hidupnya. Lalu tanpa banyak bicara, Arkan membalikkan badan. Dia memutar tubuhnya 180°, Arkan melangkah menjauh dari ruang rapat.


"Dokter Hanif Arkan Khairullanam!" panggil Nissa lantang. Arkan tersentak dan seketika menghentikan langkahnya. Arkan diam menatap lorong di depannya. Beberapa saat Arkan berpikir, kemudian Arkan memutar tubuhnya perlahan. Dia menatap lurus ke arah Nissa dan Bayu bergantian. Tanpa ingin melihat orang lain yang berada di ruangan itu.


"Jika kamu seorang dokter, maka mendekatlah. Namun jika yang berdiri di depanku. Hanif cucuku yang hilang lima belas tahun yang lalu. Maka keluarlah dari ruangan ini. Sebab bukan kamu orang yang ingin aku temui!" ujar Nissa tegas dan lantang, Arkan menunduk merasa bersalah. Dia sangat mengerti arah pembicaraan Nissa.

__ADS_1


Arkan terdiam melihat sikap tegas Nissa. Sebagai seorang pemimpin, Nissa tidak bisa diragukan lagi. Dia sangat tegas dan tak pernah pilih kasih. Tidak ada staf yang diistimewakan. Meski dia masih kerabat Nissa. Sebaliknya Nissa akan semakin tegas bila keluarga dekatnya melakukan kesalahan. Namun Nissa sangat hangat, saat berada di rumah. Sikap Nissa selalu sesuai dengan tempatnya berdiri.


"Maaf!" sahut Arkan lirih, seraya membungkuk pelan. Arkan merasa bersalah telah mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Arkan berjalan perlahan mendekat ke arah Nissa.


Arkan melihat beberapa dokter senior berada di dalam ruangan yang sama. Bayu dokter yang menjadi pembimbingnya. Duduk tepat di samping kanan Nissa. Sedangkan di samping kiri Nissa, terlihat Ilham yang tak lain ayah kandung Agam.


Arkan duduk tepat di depan Salma. Sedikitpun Arkan tidak mengangkat wajahnya. Dia tidak ingin melihat sosok yang menghancurkan masa kecilnya. Arkan mencoba bertanggungjawab dengan pekerjaannya. Tapi disisi lain, Arkan tidak ingin melihat Salma ataupun Zalwa yang sedang duduk di depannya.


"Dokter Arkan, ambil berkas yang ada di depanmu. Berikan aku pendapat dan cara penanganan yang terbaik untuk pasien itu. Dengan satu syarat, jawablah jika memang kamu yakin. Jangan campur masalah pribadimu dengan keselamatan pasien. Ingat sumpah saat kamu menjadi dokter!" ujar Nissa tegas dan lantang. Arkan mengangguk mengerti perkataan Nissa.


Dengan teliti Arkan membaca rekam medis Agam. Arkan mulai memahami penyakit yang diderita Agam. Kerusakan ginjal yang dialami Agam. Bukan hanya karena kelelahan dalam bekerja dan kurangnya Agam mengkonsumsi air putih. Namun lebih kepada ketergantungan Agam akan obat-obatan penenang yang dikonsumsinya.


Nissa dan Bayu mencoba mengamati Arkan. Mereka melihat keseriusan Arkan dalam membaca rekam medis Agam. Keduanya melihat sosok Arkan sebagai seorang dokter. Bukan seorang putra yang menyimpan rasa kecewa pada Agam.

__ADS_1


"Dokter Arkan, bagaimana pendapat anda?" ujar Bayu ramah, Arkan mendongak menatap Bayu. Arkan meletakkan rekam medis Agam.


"Saya hanya dokter magang. Tidak sepantasnya saya memberikan pendapat. Apapun keputusan dokter Bayu dan dokter-dokter senior. Saya akan setuju!" ujar Arkan ramah, Bayu tersenyum tipis. Lalu menoleh ke arah Nissa.


Bayu dan Nissa sudah membicarakan kondisi Agam. Mereka juga sudah mencari solusi lain untuk penyembuhan Agam. Bahkan jawaban Arkan saat ini. Sudah bisa ditebak oleh Nissa dan Bayu.


"Maaf dokter sekalian, silahkan keluar dari ruangan ini selain dokter Arkan!" ujar Nissa.


Setelah semua dokter keluar. Tinggalah Arkan berhadapan dengan keluarga ayahnya. Orang-orang yang tanpa sengaja menghancurkan masa kecilnya.


"Arkan, aku bicara denganmu sebagai seorang kakek. Sekali lagi aku mohon, bantulah papamu melewati semua ini. Dia membutuhkanmu buka obat-obatan yang hanya akan merusak tubuhnya!" ujar Ilham lirih memelas pada Arkan.


"Bukankah sebagai seorang dokter, sudah menjadi kewajibanmu menyelamatkam nyawa pasien. Dengan cara apapun, bahkan mungkin melupakan kepentingannya sendiri!" sahut Salma sinis, sontak sikap Salma mendapat tatapan tajam dari Ilham. Seolah Ilham meminta Salma untuk tetap diam dan tidak ikut campur. Bila hanya menambah keributan saja.

__ADS_1


"Arkan, katakan apa keputusanmu? Kondisi Agam sudah sangat buruk. Kita harus segera mengambil keputusan. Nenek menyadari rasa kecewamu terlampau besar, sampai hatimu begitu dingin dan beku. Dia ayah kandungmu, bukan orang lain!" ujar Nissa ramah, Arkan hanya diam membisu.


"Kenapa harus bertanya pada orang yang bahagia melihat putraku hancur? Aku yakin dia tidak akan membantu Agam, dia menganggap Agam orang lain!" ujar Salma menusuk ke hati Arkan.


__ADS_2