
"Mama!"
"Hai Davin sayang!" sahut Hanna ramah, seraya merentangkan kedua tangannya.
Davin berlari menghampiri Hanna yang baru saja datang di rumah keluarga Anggara. Malam ini ada perjamuan besar di rumah megah keluarga Anggara. Sebuah pesta perayaan hari jadi pernikahan antara Dimas dan Nissa. Dua orang yang berjasa dalam hidup seorang Kartika Putri Anggara. Perjamuan mewah yang diadakan hanya untuk beberapa kerabat terdekat.
"Davin merindukan mama!"
"Mama juga merindukan Davin!" ujar Hanna lantang, lalu memeluk erat Davin.
Suara tawa Hanna dan Davin terdengar begitu nyaring di halaman tempat acara perjamuan. Sebuah kehangatan yang jarang terlihat, tapi mampu membuktikan sebuah ikatan kuat yang tak terpisahkan. Ikatan antara anak dan ibu kandung yang akan terus kuat. Meski waktu dan jarak mencoba memisahkan satu dengan yang lainnya. Sebuah kehangatan yang sejak awal mencuri perhatian sepasang mata. Dua mata yang seolah berharap menjadi bagian dari kehangatan itu.
"Kamu terluka Hafidz!" sapa Arkan membuyarkan lamunan Hafidz. Nampak sebuah anggukan kepala, isyarat Hafidz mengiyakan perkataan Arkan.
"Aku sangat terluka, terasa begitu sakit. Bak ribuan pisau menancap di hatiku. Kebahagian yang seharusnya kurasakan. Kini aku hanya bisa menatapnya. Aku tidak akam pernah menjadi bagian dari hidup Hanna lagi!" ujar Hafidz.
"Mungkin ini luka, tapi bukankah luka ini yang akan membuatmu sadar. Hanna atau Qaila yang membuatmu nyaman!"
"Apapun yang kurasakan pada Qaila? Itu tak lebih dari kesalahan dan aku mengakui itu. Namun cinta dan hati ini hanya milik Hanna. Tak ada nama lain, hanya Hanna!" ujar Hafidz dengan nada emosi, Arkan diam menatap lekat Hanna.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada Hanna? Memaksanya kembali, merasakan pahit pernikahan yang tak menemukan kedamaian. Hafidz, semua yang terjadi bukan karena lemah cinta kalian. Namun restu yang tak kunjung ada, alasan hubungan kalian selalu pada titik retak!"
"Mungkin!" sahut Hafidz lirih.
"Ayolah Hafidz, lupakan sejenak masalah diantara kalian. Uluran pertemanan yang ditawarkan Hanna. Itu lebih baik, daripada jauh darinya!" ujar Arkan lalu meninggalkan Hafidz sendirian.
Hafidz terdiam melihat kehangatan Hanna dan Davin. Ada sedikit rasa ngilu dihatinya, ketika menyadari dirinya tidak ada dalam kebahagian Hanna dan Davin. Namun hubungan pertemanan yang ditawarkan Hanna. Kini menjadi hal paling membahagiakan dalam hidup Hafidz saat ini. Apalagi melihat tawa Davin bersama Hanna. Semakin membuat Hafidz bahagia.
"Kak!"
"Apa kabar Qaila?" sapa Hanna ramah, Qaila tersenyum simpul. Qaila datang bersama Agam dan Tika.
"Aku baik, kabar kakak?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, kakak baik-baik saja. Selamat Qaila atas keberhasilanmu. Kakak bahagia mendengar kamu menjadi kepala rumah sakit papa!"
"Kenapa kakak tidak bekerja di rumah sakit?"
"Kakak tidak sehebat dirimu. Kakak lebih bahagia mengabdi pada masyarakat!" ujar Hanna tegas, Qaila mengangguk pelan.
"Maafkan Qaila!"
"Untuk!" sahut Hanna lirih.
"Kehadiranku membuat kakak harus jauh dari keluarga. Hubungan kakak dengan Hafidz memburuk. Maafkan aku, maaf telah hadir dalam hidup kakak!"
"Tidak perlu meminta maaf, kamu berhak atas posisi itu. Sekian tahun kamu kehilangan kasih sayang papa. Apapun yang kamu dapatkan hari ini? Semua itu hakmu yang dulu pernah aku miliki. Sudah saatnya kamu dekat dengan papa!" ujar Hanna, Qaila menunduk. Agam melihat Hanna tengah berbicara dengan Qaila. Entah kenapa Agam merasa Hanna mulai menjauh darinya? Semenjak Hanna keluar dari rumahnya. Agam jarang bertemu dengan Hanna.
"Tapi, kehadiranku menghancurkan kebahagianmu!"
"Qaila, aku sekarang bahagia. Memang kini aku sendiri, jauh dari Hafidz dan Davin. Namun sendiriku jauh lebih baik, daripada kebersamaanku dengan keluarga. Hanya akan membuat semua orang semakin tersakiti!"
"Qaila, hubungan yang aku tinggalkan. Jagalah hubungan itu, jaga papa dan mama. Senantiasa buat mereka bahagia, jika mungkin buat mereka lupa telah memiliki putri bernama Hanna!"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Haruskah kamu menjauh dari papa? Katakan pada papa, jika memang papa salah!" sahut Agam, Hanna dan Qaila menoleh. Nampak Agam berjalan menghampiri mereka. Hanna langsung mundur beberapa langkah. Qaila merasakan jarak yang sengaja diciptakan Hanna.
"Hanna, jangan menghindar dari papa!"
"Maafkan Hanna, banyak tamu yang menunggu papa. Hanna harus bertemu dengan nenek Nissa. Hanna belum sempat mengucapkan kata selamat!" ujar Hanna menghindar, Agam menggelengkan kepalanya.
"Kak, biarkan Papa bicara denganmu!"
"Sayang!" sapa Agam lirih, Hanna menoleh ke arah Agam.
"Maafkan papa, jangan menjauh dari papa!" ujar Agam, Hanna menunduk menatap tanah tempatnya berpijak.
"Hanna belum siap, banyak yang mengganjal di pikiran Hanna. Kelak Hanna akan datang menemui papa, saat semuanya membaik dan jauh lebih baik!"
__ADS_1
"Tapi!"
"Pa, Hanna sekarang baik-baik saja. Maafkan Hanna, jika dalam bahagia dan tenang Hanna tidak ada kalian sebagai keluarga. Hanna ingin belajar mandiri, berhenti bergantung pada harta papa!"
"Tapi semua itu hakmu sayang!"
"Tidak pa, semua itu milik Qaila. Putri yang kini mengisi dan memberi kebahagian untuk papa!"
"Maafkan papa sayang, kekhilafan papa membuat Qaila hadir. Jangan pernah salahkan Qaila, semua ini murni kesalahan papa!" ujar Agam, Qaila menunduk seolah kehadirannya tak diharapkan.
"Mas Agam, hentikan pembicaraan ini sekarang. Jangan terus menekan Hanna, biarkan dia terbang bebas. Hanna berhak menentukan jalannya!" ujar Tika, Agam menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi sayang!"
"Mas Agam!" ujar Tika menghentikan perdebatan.
"Hanna, mama tidak akan memaksamu. Namun hubungan keluarga, tidak sepantasnya dilupakan begitu saja!"
"Mama!" ujar Hanna, Tika mengangguk pelan. Lalu, menarik tubuh Hanna dalam pelukannya.
"Hanna, tidak mudah lari dari luka. Namun alangkah bijaknya, jika Hanna belajar membuka diri. Hubunganmu dengan Hafidz, mungkin terasa nyaman. Namun jauh dalam hati Hafidz, hubungan ini menyiksa. Mama percaya, cintamu masih ada untuk Hafidz. Jangan terus menutup diri, jika nyatanya hatimu terasa sakit!"
"Mama, Hanna bahagia sekarang!"
"Namun tanpa Hanna sadari, ketenangan dan kebahagianmu. Membuat orang-orang yang mencintaimu tersakiti. Kemandirian yang kamu tunjukkan, seolah jarak yang sedang kamu ciptakan. Kembalilah pada kami keluargamu, jadikan kami bagian dalam bahagiamu!" ujar Tika hangat, Hanna diam dalam dekapan hangat Tika.
"Egoiskah Hanna, jika bahagia yang sekarang ada harus dibayar dengan jauh dari kalian. Jujur, Hanna marah dan cemburu. Ketika Qaila masuk menjadi bagian keluarga kita. Qaila dengan mudah menjadi ibu sambung bagi Davin. Qaila pernah ada dalam hati kak Hafidz. Bahkan kedekatan Qaila dengan bunda, bak tamparan keras dalam pernikahan Hanna. Salahkah Hanna, jika kini menjauh dari kalian yang telah menerima Qaila sepenuhnya!"
"Kamu tetap putri mama!"
"Jarak yang ada, menjadi cara Hanna bersyukur. Agar Hanna tak menjadi pribadi yang mengeluh. Menyadari, betapa besar Nikmat yang pernah Hanna rasakan. Hanya waktu yang Hanna butuhkan!"
"Mama mengerti sayang, mama akan diam menunggumu kembali!" sahut Tika, sembari terus mendekap hangat Hanna.
__ADS_1