Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Diakah?????


__ADS_3

Sebulan lebih sejak kedatangannya ke peaantren. Sebulan lebih pula, Arkan tak bertemu atau menghubungi Aura. Arkan sangat sibuk di rumah sakit. Setelah Arkan dinyatakan lulus, Arkan mendapatkan tawaran kerja di rumah sakit terbaik dan terbesar. Sementara waktu Arkan menerima tawaran rumah sakit. Setidaknya sampai dia bisa menyakinkan Tika, untuk kembali ke negara asal mereka. Berkumpul bersama orang-orang dalam masa lalu mereka.


Arkan mungkin masih sangat muda. Pengalaman dalam pekerjaannya masih sangat sedikit. Namun sebagai seorang dokter dengan kepintaran yang tak terduga. Arkan dengan mudah menjadi terbaik. Tanpa melupakan rasa hormat pada para senior. Arkan pribadi yang tak sombong. Dia mengerti cara bergaul yang baik. Meski sikapnya sedikit dingin, tapi kharisma yang diturunkan Agam. Membuatnya terlihat bijak dan hangat.


Setelah semalam dia mendapat giliran jaga malam. Tanpa dia duga, Arkan harus lanjut jaga pagi. Salah satu dokter tiba-tiba izin sakit. Dengan terpaksa, Arkan harus kerja lembur. Dengan mata sayu Arkan kembali bekerja. Namun biasanya Arkan masih bisa tidur beberapa jam sebelum masuk poli.


"Dokter, ini data pasien yang harus dikunjungi!" ujar salah satu perawat. Arkan menghentikan langkahnya. Arkan menerima berkas dari perawat, dengan teliti Arkan memeriksa satu demi satu nama yang tertera.


Dengan memakai jas putih kedokteran. Arkan terlihat mempesona dan berkharisma. Ketampanan Arkan membius para pekerja rumah sakit. Bukan hanya perawat yang terkesima dengan Arkan. Beberapa rekan dokter juga menyimpan rasa kagum pada Arkan. Namun tak satupun yang mampu menarik hati Arkan. Sikap dingin Arkan menjadi benteng pertahanan dirinya.


"Aku akan memeriksanya nanti. Ingatkan aku satu jam sebelum masuk poli!" ujar Arkan lirih, sembari memberikan berkas pada perawat.


Lama Arkan menyodorkan berkas, tapi sang perawat tidak juga mengambilnya. Terlihat perawat sedang melamun. Dia termangu menatap ke arah Arkan saat memeriksa berkas. Sampai dia tidak menyadari Arkan telah selesai memeriksa. Seketika Arkan menjentikkan jari di depan perawat. Arkan melakukankannya berkali-kali sampai sang perawat sadar. Sontak sang perawat menunduk merasa bersalah dan malu. Lalu mengambil berkas dari tangan Arkan.


"Kamu bekerja di bidang jasa yang berhubungan dengan nyawa seseorang. Sekali kamu melamun saat bekerja. Tanpa kamu sadati nyawa seseorang sedang kamu pertaruhkan!" ujar Arkan tegas dan dingin, perawat mengangguk pelan tanpa menatap Arkan.


"Maaf dokter Arkan!" ujar perawat lirih.


"Kata maafmu tidak akan berguna. Bila nyawa seseorang yang dipertaruhkan. Ketahuilah aku tidak bisa bekerja dengan perawat yang mengagumi ketampananku. Pikirkan itu baik-baik!" sahut Arkan dingin, perawat hanya bisa mengangguk merasa bersalah.


Tanpa menoleh lagi, Arkan berjalan menjauh dari perawat. Arkan berjalan menuju rumah istirahat yang disediakan rumah sakit. Tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Arkan terhenyak kaget saat dia merasakan dua tangan sedang melingkar memeluknya. Seketika Arkan mencengkram tangan yang memeluknya. Arkan menarik tangan yang memeluknya kasar dan penuh emosi.


"Kakak!" sapa Hanna manja, Arkan terhenyak kaget. Melihat Hanna berdiri tepat di depannya.

__ADS_1


Hanna gadis kecilnya tersenyum manja ke arahnya. Sengaja Hanna datang menemui Arkan. Setelah lebih dari satu bulan Arkan tidak kembali untuk menemuinya. Tanpa memberi kabar pada Arkan. Hanna datang dengan segala persiapan. Termasuk memberikan kejutan kepada Arkan di rumah sakit.


Arkan melepaskan cengkramannya pada tangan Hanna. Amarah Arkan sedikit mereda, meski sejujurnya Arkan tidak suka dengan kejutan Hanna. Pelukan Hanna di depan pintu masuk rumah sakit sangat tidak pantas. Arkan tidak ingin ada spekulasi yang tidak baik dengan kedatangan Hanna.


Namun sikap sebaliknya ditunjukkan Hanna. Sesaat setelah Arkan melepaskan tangannya, Hanna langsung memeluk erat Arkan. Hanna melepaskan kerinduan pada Arkan. Seakan tidak orang lain yang melihatnya. Sedangkan Arkan melihat beberapa orang sedang memperhatikannya.


"Hanna, lepaskan pelukanmu!" ujar Arkan lirih, Hanna menggeleng lemah. Arkan menghela napas panjang.


Arkan tidak mungkin memaksa Hanna melepaskan pelukannya. Hubungan keduanya baru saja membaik. Sangat tidak mungkin Arkan merusak hubungan yang sudah membaik. Dengan membuat Hanna kecewa. Suka tidak suka Arkan harus menerima pelukan Hanna.


"Kak Arkan aku merindukanmu. Biarkan aku memelukmu sebentar saja!" ujar Hanna, Arkan diam membisu. Arkan menunggu Hanna sedikit lama memeluknya. Lalu dengan lembut Arkan menarik tubuh Hanna.


Arkan menatap wajah adik kecilnya. Hanna merasa kecewa dengan sikap Arkan. Meski sebenarnya dia mengerti kenapa Arkan bersikap seperti itu? Arkan mengelus rambut hitam legam Hanna. Dengan penuh kasih sayang, Arkan membelai kepala Hanna.


"Hanna, bukan maksud kakak melarangmu. Hakmu jika ingin memeluk kakak kapanpun? Tapi tidak di tempat umum. Akan ada pendapat berbeda-beda tentang hubungan kita. Satu hal lagi, kamu bukan anak kecil yang pantas bermanja pada kakak. Ada batasan yang harus kamu jaga!" tutur Arkan lirih, Hanna menunduk dengan raut wajah cemberut. Hanna merasa Arkan tidak senang melihat kedatangannya.


"Dik, kakak tidak melarang atau marah melihat kedatanganmu. Namun sebagai seorang dokter, kakak harus bisa bersikap profesiaonal. Ada batasan dalam bersikap yang harus kakak jaga. Sekarang lebih baik kamu ikut kakak. Kita akan bertemu mama sekarang!" ujar Arkan, Hanna mengangguk dalam dekapan Arkan.


"Salahkah, setelah lima belas tahun kita terpisah. Hari ini aku membalas lima belas tahun yang hilang. Seandainya aku boleh jujur, pelukan ini hanya mengobati sedikit kerinduanku padamu. Egoiskah aku, jika ingin memilikimu sepenuhnya hari ini. Meski semua di luar batas wajar. Setidaknya sebagai seorang adik, aku ingin bersama kakak yang kutemukan setelah lima belas tahun. Sejujurnya ingin aku membencimu, tapi kenyataannya hanya pelukanmu yang kurindukan!" batin Hanna, lalu melepas pelukan Arkan.


Arkan menatap Hanna lekat, lalu dengan lembut Arkan menarik tangan Hanna. Arkan membawa Hanna keluar dari rumah sakit. Arkan akan mengantar Hanna menemui Tika. Seorang ibu yang sangat merindukan Hanna. Putri kecil yang dia tinggalkan sebagai bukti tulus cintanya pada Agam.


"Dik, kopermu dimana? Kamu akan tinggal bersama kakak bukan?" ujar Arkan, Hanna menggeleng. Arkan mengeryitkan dahi heran. Hanna tidak mengenal siapapun? Lantas bersama siapa dia akan tinggal di negara yang asing?

__ADS_1


"Aku tinggal di hotel bersama papa. Dia sedang ada pekerjaan dengan perusahaan adik angkat kakak!" sahut Hanna ketus.


"Vahira!" sahut Arkan, Hanna mengangguk pelan. Rasa tersisih Hanna akan keberadaan Vahira jelas terasa. Selama ini Vahira yang ada di samping Tika dan Arkan. Sebab itu Hanna merasa cemburu dengan keberadaan Vahira.


Tak berapa lama terdengar suara sirine ambulans. Arkan sengaja mengacuhkannya, sebab Arkan sudah bebas tugas. Arkan yakin jika ada dokter jaga yang akan menolong pasien gawat tersebut.


Arkan terus menggandeng Hanna menuju tempat parkir. Arkan akan membonceng Hanna menuju rumahnya. Arkan tidak memiliki mobil, dengan terpaksa Arkan akan mengantar Hanna dengan sepeda motor.


"Pegangan yang erat, takut kamu terjatuh!" ujar Arkan, dengan senang hati Hanna memeluk Arkan. Keduanya berboncengan keluar dari rumah sakit. Orang akan berpikir mereka sepasang kekasih. Sebab keduanya terlihat serasi sebagai sepasang kekasih.


"Kak Aura!" ujar Arkan lirih, saat melihat Aura turun dari ambulans. Sebaliknya Aura menatap lekat Arkan. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, ketika dia melihat Arkan berboncengan dengan seorang wanita.


"Diakah wanita yang membuatmu lupa padaku. Diakah wanita yang membuatmu ragu akan diriku. Diakah wanita yang akan menjadi makmummu. Diakah tulang rusukmu, wahai imam yang kudambakan!" batin Aura pilu, sembari menekan dadanya pelan. Terasa ngilu dan sesak. Aura hancur tak tersisa, dia terluka dua kali dalam satu waktu.


Ciiiiitttttt


"Kakak!" teriak Hanna histeris saat Arkan mengerem mendadak. Arkan langsung berlari menghampiri Aura, tanpa peduli pada Hanna. Arkan panik memikirkan orang yang sedang berada di dalam ambulans.


"Abi Salim!" teriak Arkan panik. Aura mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin mendekat pada Arkan. Bagaimanapun keduanya belum mukrim? Batasan diantara keduanya masih jelas adanya.


"Kak Aura, apa yang terjadi pada Abi?" ujar Arkan cemas, Aura diam membisu. Sedikitpun Aura tidak menghiraukan keberadaan Arkan.


"Abi terjatuh saat berada di kamar mandi!" sahut Hafidz, Arkan mendongak heran. Saat melihat Hafidz berlari menghampiri Arkan.

__ADS_1


"Suster, segera bawa ke ruang IGD. Aku segera kesana!" teriak Arkan lantang. Rasa khawatir dan cemburunya bercampur menjadi satu. Keberadaan Hafidz sedikit mengusik hati Arkan. Tanpa menoleh pada Aura, Arkan berlari menuju ruang IGD.


"Awalnya kupikir diammu, karena rasa cemas yang mengusai hatimu. Namun saat aku melihat dia ada di sampingmu. Aku menyadari, diammu tak lebih dari isyarat. Jika kamu tidak membutuhkanku. Aku terlalu percaya diri, jika rasaku terbalas. Aku rapuh saat melihat air matamu, tapi tanganku terlalu lemah untuk menghapus air matamu. Mungkin dia yang pantas mendampingimu, menghapus air mata yang menetes dari dua mata indahmu. Maafkan aku wahai makmum yang kurindukan!" batin Arkan sesaat sebelum dia berlari menuju IGD. Arkan menatap Aura dan Hafidz yang berdiri berdampingan. Tampak serasi dengan kelebihan yang mereka miliki.


__ADS_2