Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Savira Sahabatku


__ADS_3

"Savira!"


"Hanna, kamu sadar!" Sahut Savira histeris. Kedipan mata Hanna jawaban pertanyaan Savira.


Savira mendekat ke arah Hanna, menatap bahagia sahabat terbaiknya. Savira mengusap wajah Hanna, memeluk erat tubuh Hanna yang sempat mendingin. Hanna diam menerima pelukan Savira. Tulangnya terlalu lemah, untuk membalas pelukan Hanna. Savira mencium kening Hanna, mengusap bulir-bulir bening di ujung mata Hanna.


"Kamu akan baik-baik saja, aku akan menjagamu. Keponakanku akan lahir dengan selamat. Dia tidak akan kehilanganmu, aku akan berjuang mempertahankanmu!" Bisik Savira lirih, Hanna mengangguk perlahan.


Savira melepaskan pelukannya, dia memeriksa tubuh Hanna. Dengan seksama Savira memeriksa kondisi Hanna. Savira dan Arkan berjuang bersama menjaga Hanna. Mereka bergantian menemani Hanna. Tak sedetikpun Hanna ditinggal sendiri. Arkan dan Savira tidak ingin kehilangan Hanna. Mereka siap berjuang demi kesembuhan Hanna.


"Dimana dia?"


"Mushola!" Sahut Savira dingin.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia baik-baik saja!" Sahut Savira santai.


"Dia sudah tahu kondisiku!"


"Jika kamu yang tidak sadar, dia tahu. Kalau keadaanmu yang sebenarnya, dia sekadar tahu. Sejak kamu masuk rumah sakit. Dia jadi pendiam, nampak jelas rasa bersalah di wajahnya!" Sahut Savira sinis, Hanna mengutas senyum disela rasa sakitnya.


Kekesalan Savira nampak jelas dari setiap perkataannya. Cara bicara Savira, menunjukkan betapa besar rasa kecewanya. Semua amarah ada, tak lain karena rasa sakit yang dialami Hanna. Kebodohan Hafidz yang tak peka akan sakit Hanna. Jelas membuat Savira kecewa, sangat kecewa.


"Jangan pernah salahkan dia, karena dia tak salah dan tak pernah salah!"


"Itu pendapatmu, tapi bagiku dia salah. Kebodohannya alasan sakitmu saat ini. Ketidakpekaannya yang akhirnya membuatmu sendiri menahan sakit. Dia tidak hanya salah, tapi bodoh!" Sahut Savira sinis penuh emosi.


"Savira, dia suamiku. Apa kamu lupa akan statusnya? Aku bisa marah padamu, jika kamu terus menyalahkannya!" Ujar Hanna lirih dan lemah, Savira menoleh menatap Hanna lekat.


"Itulah kamu, dalam kondisi seperti ini. Hanya dia yang kamu pikirkan. Kamu melupakan lukamu, demi baiknya. Kamu menahan sakitmu, agar dia tenang. Kamu terus mengalah dan diam, semua tak lain karena takut akan gelisahnya. Sampai kapan Hanna? Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Kamu lupa cara membela diri. Kamu tak lagi sanggup melawan. Kamu tak bisa lagi tertawa lepas. Setiap langkahmu tertata, takut salah dan melukainya. Semua demi dia, orang yang tak pernah peka akan kebutuhanmu!" Tutur Savira menggebu.

__ADS_1


Amarah Savira telah mencapai puncaknya. Kekecewaannya terlalu besar, sampai dia tak lagi bisa menahannya. Ketakutan Savira menemui ambang batas. Dia tak sanggup bila harus kehilangan Hanna. Apalagi jika semua itu, karena sikap Hafidz yang tak pernah peduli. Baik Savira atau orang-orang yang menyayangi Hanna. Takkan pernah sanggup kehilangan Hanna. Mereka menyalahkan Hafidz, meski bukan dia yang bersalah.


"Savira!" Ujar Hanna lirih, Savira menunduk.


Sekilas Hanna melihat Savira mengusap kedua matanya. Tanpa Savira sadari, air matanya jatuh menetes. Hatinya benar-benar sakit. Jiwanya terluka, bukan hanya kecewa yang kini dirasakan Savira. Ketakutan akan kehilangan Hanna, menjadi alasan utama gelisah hatinya. Air mata yang lama ditahan, menetes tanpa permisi. Savira yang kuat dan teguh, kini rapuh dan hancur. Ketenangan Hanna tidak lagi mampu membuat Savira lega. Sebaliknya senyum Hanna, bak belati tajam yang mengiris hatinya tipis. Senyum yang nyata akan menghilang, senyum yang menjadi isyarat perpisahan Hanna padanya. Savira tak lagi sanggup menahan sakitnya.


"Savira!" Panggil Hanna kedua kalinya.


Savira diam tak bergeming, tak ada sahutan dari bibir mungilnya. Hanna menatap lekat sahabatnya. Lemah tulangnya terasa semakin lemah. Kala ketakutan Savira nampak jelas di mata Hanna. Savira sahabat yang paling tangguh, penopang diri lemahnya. Kini rapuh tanpa mampu menopangnya. Ada rasa kalut dalam hatinya. Ketakutan akan duka orang yang begitu menyayanginya. Savira bisa hancur, apalagi orang yang begitu dekat dengannya. Hanna diam menatap Savira yang tak lagi kuat.


"Aku baik-baik saja!" Ujar Hanna lemah, tangannya menggenggam erat Savira.


Dengan sisa tenaganya, Hanna menggapai tangan lembut sahabatnya. Tangan yang selalu mengelus lembut perutnya yang membuncit. Tangan yang dengan sabar, merawat tubuh Hanna yang semakin melemah. Tangan yang menepuk pundak Hanna pelan. Menenangkan dan terus memberi semangat. Agar Hanna kuat dan percaya semua baik-baik saja.


Namun kini tepat di sampingnya. Tangan kuat itu telah lemah, tak lagi mampu menguatkannya lagi. Tangan itu tak bertulang, rapuh termakan rasa takut. Tangan itu tak lagi hangat, dingin terisi rasa gelisah. Tangan Savira tak lagi bisa menopangnya. Malah tangan itu butuh penopang. Semua telah berubah, sakit Hanna nampak jelas. Ketakutan Savira tak lagi bisa ditutupi.


Hanya ridho-NYA yang mampu mengubah semuanya. Mengembalikan senyum yang tertutup air mata. Mengembalikan hangat yang terganti dingin ketakutan. Kepasrahan yang sesungguhnya tak mampu terucap. Ikhtiar yang tak lagi memiliki harapan. Semua terkumpul menjadi satu, dalam doa tulus yang penuh harap. Menghiba pada sang pemilik hidup satu kesempatan menatap senyum Hanna.


"Aku tak pernah kalah, selama ada kamu di sampingku. Hidup dan mati, bukan kalah atau menang. Kita tak memiliki kemampuan untuk mengalahkan atau mengalah dari sang pemilik hidup. Jika aku bisa, aku akan berjuang mengalahkan takdir-NYA. Aku tidak akan mengalah pada ketetapan-NYA. Namun kamu menyadari benar, kita hanya hamba tanpa daya. Semua hanya DIA yang berhak, tak ada yang mampu menuntut!"


"Kenapa kamu bisa setenang ini?"


"Aku takut Savira, sangat takut. Aku sedih, lebih sedih darimu. Aku kecewa, ketika aku mengingat takdir yang akan terjadi padaku. Ketetapan yang membuatku harus berpisah dengan putraku. Tanpa aku bisa melihat atau menggendongnya. Aku ingin marah, jika bisa aku ingin mengutuk. Namun semua tak mungkin, aku hamba tanpa daya!"


"Hanna!" Ujar Savira, lalu berhambur memeluk Hanna yang terbaring lemah. Menghapus air mata Hanna yang menetes. Suara hati terdalam Hanna terkuak, membuka mata hati Savira. Menunjukkan betapa Hanna hancur akan kondisinya.


"Aku baik-baik saja, selama kamu setia merawatku. Aku kuat, saat kamu kuat. Aku rapuh, ketika kamu rapuh. Bantu aku melawan sakit ini. Jika aku tak mampu tersenyum, setidaknya jangan biarkan aku melihat air matamu. Percayalah, kita mampu melawan semua ini. Berjuanglah agar aku bisa melihat keponakanmu lahir dan tumbuh dengan selamat!" Bisik Hanna dengan sisa tenaganya.


Savira mengangguk dalam pelukan Hanna. Keduanya saling menguatkan, meski sesungguhnya mereka lemah tanpa tenaga. Savira takut kehilangan Hanna, sebaliknya Hanna takut pergi meninggalkan buah hatinya. Ketakutan yang sama, dengan cinta yang berbeda.


"Aku akan menemani saat sakitmu. Aku akan terjaga, meski kedua matamu terlelap. Kedua mataku akan lupa akan lelah. Selama itu bisa menghapus sendirimu!" Sahut Savira.

__ADS_1


"Terima kasih!"


"Tidak ada kata terima kasih dalam persaudaraan kita. Namun ada satu hal yang mengangguku!"


"Apa itu?" Sahut Hanna heran.


"Kenapa kamu begitu mencintai Hafidz? Kamu diam menahan penolakan bunda Hafidz. Hanna sahabatku tak selemah itu!"


"Karena dia laki-laki pertama yang mengajarkanku arti kasih sayang. Cinta yang dia tawarkan membuka mata hatiku yang tertutup. Ketulusannya menerangi jiwaku yang gelap. Dia imam yang menggetarkan dinding hatiku yang gelap. Ijab qobul yang terucap, menggetarkan tiang-tiang Arsy. Janji pertanggungjawaban yang tak mudah telah di tanggungnya. Menjaga dan membimbingku, dengan saksi para malaikat penjaga Arsy. Janji suci yang takkan pernah aku ingkari. Akan kujaga sampai napas terakhirku!" Tutur Hanna, Savira termenung Hanna.


"Hanna!"


"Iya Savira, jika dia siap menanggung semua dosaku. Hal yang sama siap kulakukan demi membalas besar cintanya. Janji dunia akhiratnya jauh lebih besar. Dibandingkan sakit dan lukaku sekarang!"


"Aku bangga padamu!" Ujar Savira tegas, sembari mengacungkan jempol ke arah Hanna.


"Seandainya tak ada kak Ghibran di hatimu. Mungkin akan kuminta kamu menikah dengan kak Hafidz. Menitipkan dia dan putraku padamu. Setidaknya mereka akan baik-baik saja bersamamu!"


"Hanna, kamu mengigau!" Sahut Savira kaget, dia menggeleng menolak permintaan Hanna.


"Sebab itu aku tidak memintanya padamu. Aku tidak ingin kamu menikah tanpa cinta. Besar cintamu pada kak Ghibran, takkan bisa tergantikan oleh siapapun?"


"Aku menolak bukan karena alasan itu, tapi karena aku yakin kamu baik-baik saja!" Sahut Savira tegas.


"Aku takkan pernah mengkhianati ikatan cinta kita. Aku takkan bisa menggantikan dirimu dengan cinta yang lain!"


"Kak Hafidz!" Ujar Savira dan Hanna hampir bersamaan.


"Tidak perlu kamu mencarikan aku cinta yang lain. Karena selamanya aku akan memegang cinta kita!" Sahut Hafidz dingin, Hanna tersenyum melihat Hafidz berdiri tepat di depan pintu.


"Akhirnya aku bisa melihatmu disisa napasku!" Batin Hanna pilu.

__ADS_1


__ADS_2