Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sebuah Janji


__ADS_3

"Assalammualaikum!" sapa Arkan, Hanna mendongak menatap sang kakak. Hanna mengangguk pelan, mempersilahkan Arkan duduk di depannya.


"Waalaikumsalam!" sahut Hanna lirih. Arkan duduk tepat di depan Hanna. Kedua kakak beradik duduk dalam satu meja. Setelah lima belas tahun yang lalu terpisah.


"Apa yang ingin kamu katakan? Jika hanya ingin menyalahkan kepergian kami. Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan!" ujar Arkan tegas, Hanna diam mendengar suara dingin sang kakak.


"Kenapa?" ujar Hanna, Arkan mengeryitkan dahinya heran. Arkan tidak mengerti maksud pertanyaan Hanna.


"Maksudmu!" sahut Arkan, Hanna menoleh ke jalan besar. Dia melihat kendaraan berlalu lalang tanpa henti. Ramai tanpa henti, berneda dengan hatinya yang sepi.


"Kenapa kakak pergi meninggalkanku? Kenapa kakak melupakan aku? Kenapa kakak pergi dengan mama tanpaku? Kenapa kakak meninggalkan luka tak bernanah di hatiku? Kenapa kakak kembali bila tak ingin mengenalku? Kenapa? Kenapa?" cecar Hanna dengan linangan air mata. Tangannya mengepal menahan amarah.


Arkan terdiam menatap sang adik. Air mata Hanna menghancurkan hatinya. Suara lirih Hanna menggetarkan hatinya. Menusuk tepat ke dalam hati terdalamnya. Sekilas Arkan melihat Hanna menggigit bibir bawahnya. Kepalan tangan Hanna jelas mengatakan. Betapa hancur hatinya.


"Hanna!" sapa Arkan lirih, dengan pelan Hanna mendongak.


Kedua mata sendunya menatap Arkan lekat. Kebencian dan amarah Hanna mengusai hatinya. Begitu banyak pertanyaan dalam hatinya. Rasa sakit dan duka yang ada dalam hatinya tak lagi mampu ditanggungnya. Hanna tak mampu menahan air mata yang tertahan. Kesempatan terakhir Hanna mengetahui kebenaran yang tersimpan. Kepergian Arkan hari ini, menjadi hari terakhir dia mencari tahu.


"Jawablah! Aku mohon! Lima belas tahun aku menunggu. Pertanyaan dalam hatiku yang selama ini kusimpan rapat. Pertanyaan yang menjadi alasan kebencianku padamu dan mama!" ujar Hanna lirih, Arkan mengangguk pelan.


Arkan menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan hatinya. Menjawab pertanyaan Hanna sangatlah mudah. Namun mengingat kepingan-kepingan pahit hidupnya. Bukan sesuatu yang mudah. Arkan mencari kata-kata yang dia pikir takkan menyakiti Hanna. Perkataan yang takkan membuat Hanna terpuruk atau merasa bersalah.

__ADS_1


"Karena kami menyayangimu!" ujar Arkan singkat dan tegas. Hanna mendongak menatap tak percaya ke arah Arkan.


Hanna menggeleng lemah. Dia tak percaya pada jawaban singkat Arkan. Jawaban yang tka memberikan ketenangan dalam hatinya. Hanna semakin tak percaya melihat betapa tenang dan santainya Arkan menjawab.


"Kalian menyayangiku! Apa pergi tanpa pamit? Meninggalkanku seakan aku tak berguna! Itu yang kalian sebut sebagai rasa sayang!" ujar Hanna emosi, tangannya meremas gelas minuman di depannya. Kuat remasan tangan Hanna, membuat gelas bergoyang. Sebagian air keluar dari gelas.


Dengan tenang Arkan mengambil tissu. Mengelap meja yang basah karena air dari gelas Hanna. Lalu memegang tangan Hanna, melepaskan gelas dengan lembut. Arkan mengambil gelas dari Hanna, sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Hanna terperanjat ketika tangan Arkan menyentuh pergelangan tangannya. Sentuhan lembut Arkan menelisik ke dalam hati terdalam Hanna. Menghangat hati yang beku dan sepi. Seketika tubuh Hanna bergetar hebat. Kerinduan Hanna akan Hanif memenuhi benaknya. Serasa kepala Hanna ingin meledak menahan kerinduan yang teramat.


"Hangat, inikah tangan hangat seorang kakak. Kehangatan inikah yang kurindukan selama ini? Sentuhan pertama kali, setelah lima belas tahun. Terasa sangat hangat, bak sinar fajar menyentuh kulitku. Kak Hanif, dirimukah yang ada di depanku? Atau Arkan yang meninggalkanku dan ingin melupakanku!" batin Hanna sembari menepuk dadanya pelan.


"Katakanlah, setidaknya aku ingin mendengar pembelaan diri kalian. Aku sendiri di sini tanpa kalian, sepi tanpa kasih sayang kalian. Sudah seharusnya aku mendengar alasan dibalik kepergian kalian. Agar aku merasa benar dengan membenci kalian!" ujar Hanna dingin, Arkan mengangguk mengerti.


Arkan menyodorkan segelas air ke arah Hanna. Terlihat anggukan kepala Arkan ke arah Hanna. Seolah meminta Hanna meminum air yang diberikannya. Dengan perlahan Hanna menerima gelas dari Arkan. Tanpa bernapas Hanna meneguk air yang diberikan Arkan. Hanna merasakan tenggorokan dan hatinya terasa dingin. Setetes air mata Hanna menetes membasahi pipinya. Sesaat setelah Hanna meletakkan gelas di atas meja. Arkan melihat air mata Hanna pilu. Arkan menyadari kerinduan Hanna. Air mata Hanna, rasa sakit Hanna. Itu tidak salah, sebab Arkan merasakan semuanya tanpa ada yang menyadarinya.


"Lima belas tahun yang lalu. Kakak hanya anak laki-laki kecil yang tak mengerti apa-apa? Namun saat kakak melihat air mata mama, kakak merasa harus menjadi besar. Kakak harus menjaga mama dan selalu bersamanya. Mama meninggalkan kita, bukan karena dia membenci kita. Mama menyayangi kita dan papa. Mama memilih mengalah demi kebahagian kita, tapi aku memilih pergi demi menjaga mama. Bertahun-tahun aku dan mama hidup dalam kekurangan tanpa tujuan. Tangan halusmu tak sekasar tangan mama. Ketika harus menjadi buruh cuci demi hidup kami. Kulit putih tak seputih kulitku, sebab setiap hari aku harus membantu mama menjemur keripik dagangan. Hidup sulit kami, berbanding terbalik dengan hidup mudahmu. Pernah sepintas aku menyesal ikut dengan mama. Namun akhirnya aku sadar, aku harus bersama mama. Aku harus menghapus air mata mama yang tak pernah terlihat. Aku harus mengelap keringat mama yang terus mengalir demi hidupku. Aku harus menjadi senyum mama, ketika dia menangis merindukanmu. Hanna, ketegaran dan ketenangan mama yang kamu lihat. Hanya cara mama membuat semua orang merasa tenang. Ketika papa selalu menggunakan amarah, sebaliknya mama selalu tenang menyikapi masalah!" tutur Arkan panjang lebar.


"Aku tidak pernah membenci papa atau iri dengan kehidupanmu. Sebab mama mengajarkanku arti kata syukur. Aku selama ini bersikap acuh, karena dalam hatiku masih ada keraguan akan papa. Orang yang seharusnya melindungiku, masih tetap sama seperti dulu. Tidak pernah mampu mengambil sikap!" ujar Arkan, Hanna mendongak tak percaya.


"Kak Arkan salah, papa tidak seperti itu. Dia melindungiku dan menjagaku. Papa tidak lemah, dia sudah berubah!" ujar Hanna lantang.

__ADS_1


"Jika dia tegas, maka tidak akan tante Zahwa berada satu meja dengannya. Takkan nenek terus menghina mama. Bahkan saat pertama aku datang ke rumah megahmu. Papa diam melihatku terhina, meski saat itu aku hanya orang asing. Katakan padaku, dimana perubahan papa!"


"Kakak juga berubah, melupakanku setelah sekian lama!" ujar Hanna, Arkan menggeleng lemah.


Arkan berdiri menghampiri Hanna. Dia mengelus puncak kepala rambut Hanna. Tubuh Hanna bergetar hebat. Saat Arkan mengelus rambut Hanna. Dengan lembut Arkan mengelus berkali-kali rambut Hanna. Lalu mengecup pelan puncak kepala Hanna.


"Aku tidak pernah berubah, selamanya kamu adikku. Meski kita terpisah belasan tahun, tapi kentalnya darah takkan pernah mencair!" ujar Arkan sesaat setelah mengecup puncak kepala Hanna.


"Kakak!" ujar Hanna lirih.


"Maafkan kakak, sekarang hapus air matamu. Kakak harus pergi, setelah ujian kakak akan menemuimu!"


"Haruskah kakak pergi sekarang!" ujar Hanna lirih, Arkan mengangguk pelan.


"Ujian ini menentukan layak atau tidak kakak menjadi dokter. Dengan ilmu yang kakak miliki, kakak ingin menjadi orang yang berguna dan membanggakan mama!"


" Aku ikut!" ujar Hanna, Arkan menggeleng lemah. Dia melihat ketakutan Hanna akan kepergian Arkan. Hanna takut kehilangan kedua kalinya.


"Pulanglah, kakak akan kembali. Kakak akan membawa mama kembali. Kita akan berkumpul, dengan atau tanpa papa!" ujar Arkan.


"Kakak janji!" ujar Hanna, Arkan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2