Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Tengah Malam


__ADS_3

"Selamat datang kembali dokter cantik!" Saoa Savira ramah, Hanna mengedipkan kedua matanya.


Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Tidur panjangnya membuat tulang-belulangnya kaku. Ditambah kondisi fisiknya yang belum pulih sepenuhnya. Hanna terbangun tepat saat tengah malam. Arkan dan Savira memutuskan menghentikan pemberian obat penenang pada Hanna. Saat mereka merasa, Hanna sudah stabil.


"Aku harus memanggilmu dokter cantik atau bumil cantik!" Ujar Savira menggoda Hanna. Lagi dan lagi hanya kedipan mata yang diperlihatkan Hanna. Namun kali ini sekilas nampak senyum di wajah Hanna. Seolah perkataan Savira menyiratkan kebahagian di hati Hanna.


"Dimana dia?" Ujar Hanna lirih dan lemah.


Savira tersenyum mendengar pertanyaan Hanna. Ada rasa bahagia, sekaligus cemburu di hati Savira. Saat Hanna menanyakan orang lain, bukan dirinya yang selalu ada di sampingnya.


"Dia baru saja keluar, mungkin sedang membeli kopi. Sejak dia mengetahui kondisimu, tak ada senyum yang tersirat di wajahnya. Sekilas aku melihat tetesan bening air matanya. Ketegarannya hancur tergantikan rapuh dan lemah. Merutuki kebodohannya yang tak mengetahui kondisimu!"


"Bagaimana dengan bunda?"


"Beliau sudah keluar dari rumah sakit. Namun beliau harus kontrol dan melakukan terapi berkala. Agar kekuatan kedua kakinya kembali dengan cepat!"


"Aku harap beliau baik-baik saja!"


"Beliau akan baik-baik saja, selama kamu baik-baik saja. Jangan pikirkan orang lain. Putramu butuh ibu yang kuat. Jangan kalah oleh lemahmu, kamu harus berjuang demi dia lahir dengan selamat!" Ujar Savira tegas, Hanna mengiyakan perkataan Savira dengan isyarat mata. Lemah tubuhnya masih sangat terasa. Obat penenang masih mengusai kesadarannya.


Tak berapa lama, Hanna meminta bantuan Savira untuk duduk. Dengan sigap, Savira meninggikan tempat tidur Hanna. Agar Hanna bisa istirahat dalam posisi duduk. Hanna merasa punggungnya pegal. Beberapa hari dalam posisi tidur. Nyata membuatnya semakin sakit dan lelah.


"Kamu sudah tahu, bagaimana kondisinya? Apa kak Hafidz tahu tentang dia?"


"Dia baik-baik saja sampai saat ini. Kamu seorang dokter sekaligus ibu yang hebat. Aku percaya kamu bisa menjaganya melebihi aku atau dokter lain. Mengenai kak Hafidz, tak seorangpun yang mengatakan kabar gembira itu. Dia berhak mendengarnya darimu!"


"Terima kasih sudah menyimpan berita itu. Setidaknya sampai kak Hafidz tenang. Aku tidak ingin melihatnya gelisah. Saat ini bunda jauh lebih butuh kak Hafidz!" Ujar Hanna lemah, Savira menatap nanar Hanna. Banyak hal yang tak dimengerti Savira. Dalam hati Savira berpikir, Hanna yang ada di depannya sangatlah bodoh.


"Kamu bodoh atau polos. Memang tante Sinta butuh kak Hafidz, tapi kamu jauh lebih butuh kak Hafidz. Putra yang ada di rahimmu, ada karena cinta kalian. Jadi sudah sepantasnya kak Hafidz bertanggungjawab. Apalagi kamu mengalami kesulitan selama masa kehamilan. Bahkan akan berisiko fatal, jika kamu salah menjaga diri!" Ujar Savira lantang dan emosi.


"Savira, mungkin aku bodoh telah mengalah daro bunda Sinta. Mungkin juga aku polos, karena berpikir akan ada hari saat bunda Sinta menerimaku. Namun satu hal yang pasti, aku calon ibu yang merasakan perjuangan saat hamil. Setiap rasa sakit, setiap tetes keringat yang jatuh. Seakan terasa begitu berat dan tak mudah. Bukan untuk satu atau dua bulan, sembilan bulan lebih seorang ibu menahan rasa sakit itu. Jadi sudah sepantasnya aku mengalah, jika disandingkan dengan bakti anak pada ibunya!"


"Hanna, kamu berbeda!" Ujar Savira tak percaya, Hanna diam seraya menatap sendu Savira.

__ADS_1


"Aku tak pernah berbeda, aku tetap Hanna yang sama. Egois dan tak ingin mengalah, merasa mampu tanpa siapapun? Namun nyatanya aku merasa lemah tanpa kak Hafidz. Aku rapuh tanpa pegangannya. Hidupku berputar di sekitar kak Hafidz!" Ujar Hanna lirih, Sekilas Savira tersenyum. Ada rasa bahagia, mendengar kejujuran hati seorang Hanna Santika Ramaniya. Melihat nyata besar cinta seorang Hanna yang dingin. Savira bahagia saat Hanna bahagia.


"Jika kak Hafidz segalanya, kenapa kamu menjauh darinya? Menutupi kabar bahagia yang selalu ditunggunya. Menyimpan duka dan sepi yang hanya bisa diobati oleh kehadirannya. Jika kamu katakan ini bukti cinta. Jujur aku takut untuk jatuh cinta. Menahan rasa sakit sendirian, aku tidak akan sanggup!" Sahut Savira santai, Hanna menggeleng lemah.


Banyak hal yang baru dia mengerti setelah hamil buah cintanya dengan Hafidz. Pengertian yang menjadi jawaban dari rasa kecewanya selama ini. Pemahaman sederhana dari sebuah pengorbanan seorang ibu. Hanna merasakan sakit dan bahagia dalam waktu bersamaan.


"Kelak kamu akan siap menahan semua itu. Kala kamu mengerti arti mencintai yang sesungguhnya. Tak perlu keberanian menahan sakit itu, karena kuat itu ada dengan sendirinya. Ketika hati tak lagi bisa berpaling pada yang lain!"


"Kamu terlalu mendramarisir, tapi aku bahagia melihat Hanna yang sekarang. Penuh dengan semangat dan rasa kasih sayang. Aku akan berdoa demi kebahagianmu!"


"Terima kasih Savira, selalu ada di saat rapuhku!"


"Sama-sama cantik, kamu bukan hanya sahabatku. Senyum dan tawamu menjadi mentari dalam hidupku. Kita akan terus bersama, karena tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Namun aku marah padamu!" Ujar Savira, Hanna melotot tak mengerti perkataan Savira.


"Kenapa kamu marah?" Sahut Hanna tak mengerti.


"Kenapa kamu menutupi kabar kehamilanmu dariku? Seharusnya aku orang pertama yang tahu. Dia bukan hanya putramu, tapi dia keponakan tercintaku!" Sahut Savira kesal, sembari tersenyum. Hanna menatap penuh haru Savira. Kasih sayang Savira nampak jelas padanya. Penuh kehangatan dan ketulusan, tanpa ada rekayasa atau paksaan.


"Karena aku juga baru menyadarinya. Namun saat aku sadar, fisikku mulai lemah. Aku mengalami trimester pertama yang tak mudah. Apalagi aku ada beberapa keluhan. Sampai akhirnya aku tak kuat lagi berdiri tegak dan tumbang!"


"Apa yang kuketahui hanya sebuah teori? Sedangkan yang kualami adalah anugrah tak terhingga. Tidak mudah kita mengetahui rejeki yang sengaja di simpan oleh-NYA. Kapan kita menyadari atau mengetahui rejeki itu ada? Hanya saat DIA mengizinkan, ketentuan yang tak bisa kita tawar atau ganggu gugat!"


"Betapa bijaknya kamu Hanna? Namun kenapa aku merasa kebijakanmu hanya untuk dirimu sendiri? Bukan untukku orang yang seharusnya bahagia dengan kondisimu saat ini!" Sahut Hafidz dingin, seketika Savira menutup mulutnya dengan tangan. Dia terkejut sekaligus tidak percaya melihat Hafidz yang tengah berdiri bersandar pada pintu.


"Hanna, aku pergi ke kantin. Mataku mulai mengantuk, aku butuh secangkir kopi!" Pamit Savira, Hanna mengedipkan mata mengiyakan. Hanna menyadari, Savira sengaja pergi agar dia ada waktu bersama Hafidz.


"Kenapa berdiri di sana? Kak Hafidz tidak merindukanku!" Ujar Hanna ramah, Hafidz terdiam menatap lekat Hanna.


Hafidz merasa Hanna sangat egois dengan sikapnya. Menutupi kehamilan yang menjadi kabar paling bahagia dalam hidupnya. Namun rasa kecewa Hafidz yang paling besar. Saat Hanna menyimpan rasa sakitnya sendiri. Menjauh darinya demi pemikiran yang tak sepenuhnya benar.


"Tanyakan pada hatimu, masihkah aku berhak ada di sampingmu. Setelah sekian waktu kamu menjauh dariku. Menjadikan aku orang asing dalam hidupmu!" Sahut Hafidz dingin penuh dengan kekecewaan. Hanna diam membisu, jelas dia merasakan amarah Hafidz.


"Aaawwwwsss!" Teriak Hanna lirih, tangannya meremas perutnya pelan.

__ADS_1


Suara rintihan Hanna mengisyaratkan rasa sakit yang teramat. Sontak Hafidz berlari, dengan sigap Hafidz menggenggam tangan Hanna. Hafidz mengusap perut Hanna pelan, raut wajah Hafidz cemas. Rintihan Hanna seketika membuat Hafidz panik.


"Sayang, kamu baik-baik saja. Aku akan memanggilkan dokter!" Ujar Hafidz cemas. Hafidz mengusap lembut perut rata Hanna. Dengan sigap Hanna menahan tangan Hafidz. Perlahan Hanna menganggkat tangan Hafidz. Meletakkan tangan Hafidz tepat di dadanya. Sesaat setelah Hanna mencium tangan Hafidz mesra.


"Hatiku yang sakit, bukan perutku. Jika kak Hafidz berpikir aku bahagia jauh darimu. Kakak salah besar? Sama halnya dirimu yang sakit, hatiku jauh lebih sakit menahan rindu padamu. Apalagi putramu sangat mengharapkan belaian tanganmu. Kerinduan yang semakin menyiksa batin dan jiwaku. Aku rapuh tanpa senyummu, tapi aku jauh lebih lemah tanpa genggaman tanganmu. Setelah sekian lama kita terpisah. Haruskah sekarang kita saling menyalahkan!"


"Hanna tidak lucu, kesehatanmu bukan permainan. Aku tidak suka, jika kamu bermain dengan nyawamu. Aku lebih rela sakit, daripada melihatmu terbaring tak berdaya!"


"Kak Hafidz, maafkan aku yang telah menyiksa hatimu. Namun percayalah, keputusanku yang terbaik untuk kita saat ini. Aku mungkin membutuhkanmu, tapi bunda jauh lebih membutuhkan putranya!"


"Kenapa kamu bekorban begitu besar?"


"Karena aku ingin membayar dosaku pada seorang ibu. Ketulusan cinta seorang ibu yang pernah kuragukan. Kebencian yang kutanam dalam hati. Nyata sebuah kesalahan terbesar; ketika aku menyadari betapa besar pengorbanan seorang ibu!" Ujar Hanna lirih, lalu menutup matanya pelan. Hafidz melihat setetes bening air mata Hanna.


CUUUUP


"Mama tidak pernah menyalahkanmu!" Ujar Hafidz lirih sesaat setelah mencium kening Hanna mesra. Tangannya mengusap air mata Hanna yang menetes. Genggaman tangan Hanna, jelas mengisyaratkan luka yang tak biasa.


"Mungkin mama tak pernah menyalahkanku. Namun kekecewaanku salah, ketika aku merasakan sendiri, betapa berat dan sakitnya jauh dari orang yang kita sayangi!"


"Sayang, terima kasih kamu memahamiku!" Ujar Hafidz lirih, Hanna mengangguk pelan.


"Sayang, jangan pernah menyimpan dukamu sendiri. Aku mungkin seorang putra, tapi aku suami sekaligus calon ayah. Tidak akan aku menyisihkanmu demi bunda. Sebaliknya tidak akan pernah aku menjauh dari bunda demi kamu. Sekuat tenaga akan kurangkul kalian secara bersama. Percayalah sayang, aku mampu menanggung beban ini. Tanpa harus kamu bekorban sebesar ini!"


"Aku selalu percaya padamu!" Sahut Hanna lantang dan tegas.


"Kepercayaanmu segalanya, kita bisa melewati semua ini bersama. Tidak akan ada celah kita terpisah. Jangan pernah lagi pergi dariku. Napasku terhenti tanpa kehadiranmu. Kamu dan calon buah hati kita semangat dan tujuan hidupku!" Ujar Hafidz hangat, Hanna mengedipkan mata. Isyarat dia mengiyakan perkataan Hafidz.


"Aku mencintaimu, aku merindukanmu!" Ujar Hanna lantang, dengan tubuh yang masih lemah.


Cup


"Aku sangat mencintaimu, jauh darimu bisa membunuhku!" Bisik Hafidz tepat di telinga Hanna. Hafidz meniup pelah daun telinga Hanna. Seketika desiran hangat mengalir dalam nadi Hanna.

__ADS_1


"Kak Hafidz, aku geli!" Teriak Hanna keras, sembari mendorong tubuh Hafidz menjauh. Hanna mencoba menjauh dari tubuh Hafidz. Agar kerinduannya tak semakin menjadi.


__ADS_2