Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pesta Meriah


__ADS_3

Seminggu lebih Arkan berada di negara orang. Arkan melewati ujian tanpa ada halangan. Namun hasil ujian akan diumumkan satu bulan ke depan. Arkan tidak diperkenankan keluar negeri atau pergi menemui Hanna. Arkan harus tetap berada di negara ini. Setidaknya sampai hasil ujian diumumkan. Lebih tepatnya Arkan mendapatkan gelar doktor yang dikejarnya.


Selama menunggu hasil ujiannya. Arkan sementara tinggal bersama Tika. Sebab Vahira telah kembali ke dalam keluarga besarnya. Vahira menjadi satu-satunya pewaris. Sehingga suka atau tidak suka. Vahira harus kembali mengambil kendali perusahaan keluarganya.


Sangat mudah bagi Arkan mendapatkan pekerjaan. Kepintarannya sudah diakui oleh banyak pihak. Pribadi Arkan yang rendah diri. Membuatnya tak pernah memilih pekerjaan. Arkan melakukan pekerjaan apapun selama itu halal. Tika tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan Arkan. Bagi Tika hanya rasa nyaman dan bahagia Arkan yang penting. Selama ini Tika dan Arkan belajar hidup sederhana. Jadi sangat mudah bagi mereka. Menyesuaikan kebutuhan dengan penghasilan yang mereka dapatkan.


Arkan selalu bekerja di dua tempat berbeda. Arkan tidak pernah merasa lelah atau puas bila hanya bekerja di satu tempat. Bukan penghasilan yang semata Arkan kejar. Namun kepuasan saat Arkan mampu melakukan pekerjaan yang jauh dari bidangnya.


Malam ini Arkan harus datang ke sebuah pesta. Bukan sebagai tamu undangan, melainkan Arkan datang sebagai salah satu waitress. Kebetulan pemilik hotel tempat acara. Masih teman kuliah Arkan. Jadi dengan bantuannya Arkan menjadi salah satu waitress di pesta malam ini.


"Arkan!" sapa Steve, sontak Arkan menoleh dengan mengutas senyum. Arkan terlihat memakai seragam waitress sama dengan yang lain. Steve sengaja menghampiri Arkan. Dia masih merasa tak enak hati. Melihat penampilan Arkan seperti ini. Arkan bukan orang yang pantas bekerja sebagai waitress. Gelar doktor yang dikejarnya jauh lebih bisa membuat Arkan merasa terhormat.


"Ada apa?" sahut Arkan singkat, Steve menangkupkan tangan di depan Arkan. Seolah memohon pada Arkan. Agar berhenti menjadi waitress.


"Aku mohon, jangan melakukan ini. Aku bisa membuatmu menjadi manager. Seandainya kamu bersedia menerimanya. Jangan bekerja sebagai waitress. Aku tidak tega melihatmu seperti ini!" ujar Steve lirih, Arkan menangkup tangan Steve. Menurunkan perlahan tangan sahabatnya. Dengan tersenyum hangat, Arkan menjelaskan pada Steve. Alasan sebenarnya dia ingin bekerja sebagai waitress.


"Steve, terima kasih atas tawarannya. Kamu tidak perlu merasa tak enak hati. Menjadi seorang waitress bukan pekerjaan hina. Malah sebaliknya dengan menjadi waitress. Aku bisa merasakan susahnya manjadi seorang waitress. Ingatlah Steve, kedudukan kita sama. Hanya iman yang membedakan diantara kita!" ujar Arkan tegas, lalu pergi menghampiri teman seperjuangannya.


Acara malam ini akan dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Dilihat dari dekorasi megah pesta. Arkan yakin ini bukan pesta yang sederhana. Namun Arkan tak pernah peduli dengan kemeriahan atau kemegahan pesta. Arkan hanya peduli pada dedikasinya menjadi seorang waitress. Steve mengangguk mengerti, sekaligus bangga dengan kerendahan hati Arkan. Kebijaksanaan Arkan membuatnya menyadari. Pekerjaan apapun pantas untuk dihargai. Selama itu tidak merugikan orang lain.


"Kemarilah!" teriak salah satu tamu ke arah Arkan. Dengan membawa nampan berisi minuman. Arkan berjalan menghampiri tamu yang memanggilnya. Dengan sopan Arkan menawarkan minuman yang dibawanya.


Sang tamu mengambil minuman yang dibawa Arkan. Dengan penuh kesombongan, dia meminum segelas wine. Arkan menjauh setelah merasa sang tamu tidak membutuhkannya. Namun kesombongan orang kaya, seakan ingin menunjukkan kekuasaannya.


"Pelayan, aku belum selesai!" bentaknya pada Arkan. Dengan langkah perlahan, Arkan mendekat lagi. Tidak ada amarah atau rasa sakit hati. Arkan tidak mempermasalahkan sikap sang tamu.

__ADS_1


Byuuuurrrr


Suara air yang menyembur wajah Arkan Terdengar nyaring melukai harga diri Arkan. Dengan menahan amarah, Arkan membasuh wajahnya dengan sapu tangannya. Sang tamu yang mulai mabuk. Menyiram segelas air ke arah Arkan. Terlihat amarah sang tamu, seakan Arkan telah melakukan kesalahan fatal.


"Kamu hanya pelayan. Beraninya kamu menatap ke arahku. Harga sepatu yang aku kenakan. Jauh lebih mahal dari harga dirimu!" teriak sang tamu penuh amarah. Arkan diam membisu, dia diam menerima hinaan sang tamu. Bukan merasa bersalah, hanya ingin menjaga nama baik Steve sahabatnya.


"Maaf tuan saya tidak bermaksud. Jika diperbolehkan, bisakah saya pergi. Saya tidak ingin terjadi keributan!" ujar Arkan ramah, sang tamu meradang. Bukan menyadari kesalahannya, dia malah berjalan menghampiri Arkan. Dengan tangan kuatnya, dia mencengkram leher Arkan.


Pesta mulai panik, semua orang dibuat tegang. Hanya Arkan yang terlihat tenang. Dia diam menerima sikap kasar sang tamu. Bukan ingin terlihat lemah. Arkan melakukannya hanya karena ingin menjaga kondisi agar tetap tenang. Namun entah kenapa ketenangan Arkan? Semakin membuat sang tamu meradang. Dengan sekuat tenaga, dia mencekik leher Arkan. Sampai-sampai Arkan mulai batuk dan mengalami sesak napad.. Anehnya semua tamu diam, tak ada yang mencoba membantu. Kondisi sang tamu yang berada di bawah pengaruh minuman. Sedikit membuat nyali para tamu menciut.


"Lepaskan tanganmu, jika tidak ingin kuhancurkan perusahaanmu!" teriak Agam penuh amarah. Sontak sang tamu melepaskan cekikannya. Arkan terbatuk-batuk sesaat setelah terlepas dari cekikan maut. Steve berlari menghampiri Arkan. Namun dengan isyarat tangan, Arkan menghentikan langkah Steve. Arkan mencoba mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Tuan Agam, dia hanya pelayan. Kenapa anda membelanya!" sahut sang tamu santai, Agam menatap lekat sang tamu.


Agam meradang. Dia mencoba melayangkan pukulannya ke arah tamu. Namun dengan sigap Arkan menghentikannya. Arkan menggeleng lemah ke arah Agam. Dia tidak ingin melihat sikap arogant Agam.


"Pelayan, diam kamu. Bukan tempatnya kamu bicara!" sahut sang tamu.


"Kamu yang seharusnya diam. Pelayan yang kamu rendahkan. Dia putra sekaligus salah satu pewaris keluaga Anggara. Jadi jaga bicaramu!" ujar Agam semakin kesal. Arkan mendengar. Betapa bangganya Agam pada harta dan kesuksesannya.


"Apa tuan Agam tidak salah? Dia hanya pelayan, tidak mungkin putramu menjadi pelayan disini!" ujar sang tamu tak percaya.


"Jika tidak percaya, sentuh dia sekali lagi. Akan kubuktikan ucapanku besok!" ujar Agam emosi, sontak nyali sang tamu menciut. Dengan perlahan dia menjauh dari hadapan Arkan dan Agam.


Steve mencoba menenangkan para tamu. Steve meminta maaf atas keributan yang terjadi. Agam meminta Arkan duduk bersamanya. Lalu sang tuan rumah mendekat ke arah Agam dan Arkan.

__ADS_1


"Arkan, kamu baik-baik saja. Kenapa kamu diam menerima dia menghinamu?" ujar Vahira cemas, Arkan mendongak melihat ke arah Vahira. Tangan Vahira tertahan di udara. Dia menyadari batasan yang ada diantara dirinya dan Arkan. Kecemasannya hanya sebatas kata. Dia tidak bisa membantu meringankan rasa sakit Arkan.


"Vahira, sedang apa kamu disini?" ujar Arkan bingung.


"Vahira, ayo temui para tamu. Mereka datang ingin bertemu denganmu. Malah kamu disini mencemaskan pelayan!" ujar Sashi sinis, Vahira menggeleng lemah menolak. Dia ingin tetap berada di samping Arkan. Vahira sangat cemas akan keadaan Arkan.


"Ternyata kamu sang bintang pesta. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu. Pelayan sepertiku tak pantas mendapatkan rasa kasihanmu!" ujar Arkan, Vahira menggeleng. Sembri menangis Vahira menangkupkan tangan. Memohon pada Arkan, agar dia bisa berada di samping Arkan.


"Pergi!" ujar Arkan tegas dan final. Teriakan Arkan membuat tubuh Vahira membeku. Dia terdiam melihat sikap dingin Arkan yang tak pernah berubah. Dengan langkah gontai, Vahira menjauh dari Arkan. Agam melihat sikap keras Arkan hanya kamuflase. Agam melihat Arkan mencoba menyembuyikan kepeduliannya pada Vahira.


"Arkan, bukankah kamu mencintainya. Kenapa kamu menolaknya dengan sangat lantang?"


"Sejujurnya semua ini bukan urusan anda. Namun akan kukatakan alasan sebenarnya. Agar anda tidak berpendapat lain!"


"Arkan aku papamu, tidak bisakah kamu memanggilku papa. Meski itu hanya sekali!" ujar Agam, Arkan menggeleng tegas.


"Maaf aku belum bisa!"


"Kenapa?" sahut Agam penasaran.


"Karena aku tak pernah merasa nyaman di dekatmu. Kita berbeda, sangat berbeda. Dalam pesta malam ini, jelas terlihat perbedaan diantara kita. Aku hanya waitress, sedangkan anda seorang tamu besar. Vahira sang bintang pesta. Aku pelayan yang dibayar untuk melayaninya!"


"Arkan, kamu angkuh!"


"Aku memang angkuh. Seĺama bertahun-tahun aku hidup tanpa anda. Jadi kenapa hari ini aku harus menerima bantuan darimu? Dengan menjadi pelayan aku hidup. Selamanya aku bangga menjadi pelayan!" sahut Arkan dingin, lalu berjalan menjauh dari Agam.

__ADS_1


"Satu hal lagi, aku dingin pada Vahira. Karena aku tidak ingin menyakiti Vahira. Rasa sayangku ingin melindunginya bukan menyakitnya. Keluarganya akan menentang hubungan diantara kami. Sehingga akan ada perselisihan dua keluarga. Cukup anda yang kalah oleh cinta. Aku tidak ingin ada Tika lain yang merasakan sakitnya mencinta tanpa restu orang tua!" ujar Arkan lalu pergi menjauh.


"Tika sayang, dekatkan aku dengan putra kita!" batin Agam pilu.


__ADS_2