
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
"Silahkan masuk kakak iparku yang cantik!" sapa Hanna ramah, Aura mengangguk seraya mengutas senyum paling manis. Arkan berdiri tepat di samping Aura. Keduanya datang bersama menggunakan mobil sport warna biru. Warna langit kesukaan Tika, orang yang paling disayangi Arkan selain Aura dan Hanna.
Arkan menjulurkan tangannya ke depan Hanna. Isyarat Hanna agar mencium tangannya. Dengan setengah hati Hanna mencium punggung tangan Arkan. Lalu bergantian dengan tangan Aura. Arkan terkekeh melihat raut wajah kesal Hanna. Arkan sengaja melakukan semua ini. Agar Hanna bisa memahami sopan santun kepada yang lebih tua. Meski semua itu terlambat, tapi Arkan harus berusaha melakukannya.
"Itu baru adikku yang cantik!" ujar Arkan sesaat setelah melihat Hanna mencium tangan Aura.
Hanna mengembik sembari mempersilahkan Arkan masuk ke dalam rumah. Sebuah rumah megah yang tak pernah Arkan tinggali. Rumah yang seharusnya terasa hangat dan penuh tawa. Nyata terasa dingin dengan air mata kepedihan. Arkan melangkah pelan memasuki rumah keluarga Agam. Rumah hasil jerih payah sang ayah. Ketegasan yang seakan terlambat, setelah bertahun-tahun dia menunggu.
Arkan merangkul Aura dengan sangat erat. Hanna melihat kehangatan dan besar cinta Arkan pada Aura. Wanita yang kini sah menjadi istri Arkan. Menantu yang dipilih Arkan untuk Tika dan Agam. Arkan menikah dengan Aura dengan bismillah. Demi sebuah impian dan langkah bersama menuju jannah-NYA. Arkan membuang jauh rasa takutnya. Menggantinya dengan keyakinan akan kebahagian sejati bersama Aura dan Tika.
"Selamat datang di rumah papa!" ujar Agam ramah, Arkan dan Aura mengangguk hampir bersamaan. Arkan mencium punggung tangan Agam, bergantian dengan Aura.
Agam memeluk Arkan erat, Agam meluapkan kerinduan yang lama terpendam di hati terdalamnya. Lima belas tahun menyimpan kerinduan, jauh dari Arkan dan Tika. Meninggalkan luka tak bernanah di hatinya. Agam kini mulai belajar memahami Arkan. Dia tidak akan memaksa Arkan mendekat padanya. Arkan bukan anak kecil yang harus dipaksa. Arkan bisa memahami benar dan salah.
"Papa, maaf Arkan terlambat!" ujar Arkan, Agam menggeleng lemah. Agam menarik tubuh Arkan menuju ruang makan. Sedangkan Hanna memeluk Aura. Hanna senang memiliki kakak ipar seperti Aura. Sikap pendiam dan tulus Aura menggetarkan hati Hanna. Kecemburuan Hanna akan Vahira. Tidak sedikitpun dirasakan pada Aura. Sebaliknya Hanna sangat menyayangi Aura. Layaknya saudara kandung yang baru saja berjumpa.
__ADS_1
"Arkan, rumah ini milikmu. Tidak ada kata terlambat untukmu datang. Pintu rumah ini terbuka lebar, kapanpun kamu akan datang? Kamarmu tetap sama, papa tidak pernah merubahnya. Rumah ini milikmu dan Hanna, papa yang menumpang pada kalian kelak. Disaat tubuh papa tak lagi kuat. Hanya padamu dan Hanna, tubuh papa bersandar!" tutur Agam lirih, Arkan menunduk lesu.
Perkataan Agam bak sayatan tipis dihatinya. Arkan menangis dalam hatinya. Kedua tangannya seakan lemah memilih. Dia ingin merangkul kedua orang tuanya. Namun perpisahan Tika dan Agam, menjadi batasan yang tak bisa dihancurkan Arkan. Memilih diantara Tika dan Agam. Sesungguhnya Arkan tidak mampu, tapi mengingat perjuangan Tika selama ini. Arkan tidak bisa pergi memeluk Agam dengan meninggalkan Tika sendirian.
"Maafkan Arkan, maaf!" ujar Arkan lirih seraya menunduk. Agam mengangguk seraya mengutas senyum. Agam merangkul tubuh Arkan erat. Agam memahami dilema hati Arkan. Bimbang yang pernah dirasakan Agam dan hanya Agam yang mengetahui sakitnya.
"Papa tidak berharap lebih. Kamu bersedia bertemu papa. Makan satu meja dengan papa. Tertawa bersama papa, duduk minum kopi dengan papa. Bagi papa semua itu sudah lebih dari cukup. Papa tidak akan berharap lebih, lima belas tahun papa jauh darimu. Sedetikpun papa tidak ingin kehilanganmu!" ujar Agam hangat, Arkan mengangguk. Keduanya berjalan menuju meja makan.
"Aura, silahkan duduk. Anggap rumah sendiri!" ujar Agam lirih, Aura mengangguk pelan. Agam duduk di kursi paling tengah. Arkan dan Aura duduk berdampingan. Sedangkan Hanna duduk tepat di samping Agam.
"Jangan diambil hati, kamu ada disini demi diriku. Tidak perlu kamu terluka hanya karena sikap tak pantas orang lain. Aku ada untuk menjagamu. Aku akan menghadang sakit demi dirimu!" bisik Arkan lirih, sembari menggenggam tangan Aura. Arkan tidak akan membiarkan Aura terluka oleh sikap Salma. Nenek yang tak pernah sependapat dengannya dan Tika.
"Ternyata dia tamu istimewamu Agam. Percuma aku menahan lapar, hanya demi mereka!" ujar Salma sinis, Agam menggeleng tak percaya. Sifat Salma sang ibu tetap sama, Hanna menoleh penuh amarah. Dia tidak suka bila Aura dihina. Layaknya Tika yang selalu dilihat sebelah mata oleh Salma.
"Nenek cukup, kak Aura bukan orang lain. Dia kakak ipar Hanna. Sekali saja nenek menghinanya. Hanna tidak akan tinggal diam. Hanna akan lupa kalau nenek lebih tua!" ujar Hanna ketus, Arkan menatap tajam ke arah Hanna. Seolah dia tidak suka dengan perkataan Hanna. Bagaimanapun nenek Salma orang yang lebih tua? Tidak sepantasnya Hanna berkata sekasar itu.
"Nenek Salma yang memulai, Hanna tidak suka melihatnya. Dimata nenek hanya harta yang paling penting. Sampai nenek buta melihat kesedihan papa. Sekarang nenek ingin menghina hubungan kalian. Aku tidak akan pernah membiarkannya!" sahut Hanna jauh lebih dingin dan ketus.
__ADS_1
Agam diam mendengarkan, isi hati Hanna pantas diutarakan. Hanna sudah menahan kekesalannya selama bertahun-tahun. Sudah waktunya Salma mendengarkan pendapat orang lain. Meski itu dari cucunya yang masih sangat muda. Mengingatkan jika harta tidak akan membawa kebahagian bila tanpa keluarga yang lengkap.
"Hanna cukup, kakak datang bukan untuk melihat amarahmu. Bersikap sopan pada nenek, dia jauh lebih tua darimu!" ujar Arkan mengingatkan.
Hanna diam menunduk, dia kesal melihat Arkan membela Salma. Namun perkataan Arkan tidak salah, nyata memang Salma bukan orang lain. Dia ibu yang melahirkan Agam. Orang yang seharusnya dihormati Arkan dan Hanna.
"Kamu yang diam, aku tidak butuh pembelaanmu. Aku mengenal Hanna lebih dari siapapun? Dia tidak akan berkata sekasar itu. Jika tidak ada yang menghasutnya. Kamu dan ibumu yang membuat Hanna menjauh dariku. Dia membenciku setelah kalian datang. Lagipula kenapa kamu datang kemari? Sudah bagus kamu pergi selama lima belas tahun. Apalagi kamu datang bersama wanita kampungan!" ujar Salma sinis, Agam berdiri dari kursinya. Arkan menahan tangan Agam, meminta Agam untuk duduk kembali.
"Arkan, papa sudah terlalu kenyang mendengar perkataan bunda. Lebih baik kita makan di luar. Kamu datang kemari, karena papa yang memintanya. Jadi tidak sepantasnya papa diam melihatmu dihina. Aura bukan orang lain, dia menantu papa. Sekaligus putri papa yang lain. Jadi sudah sepantasnya papa sakit melihat dia dihina!" ujar Agam, Salma berdiri. Dia meradang melihat Agam yang akan pergi meninggalkan meja makan.
"Agam!" teriak Salma, sontak Agam menoleh.
"Bunda, dulu Agam diam saat melihat Tika terus dihina olehmu. Hari ini Agam tidak akan diam. Arkan darah daging Agam, Aura putri menantu Agam. Tidak akan pernah Agam membiarkan bunda menghina mereka. Satu hal lagi, Tika bukan bunda yang akan memaksakan kehendak. Tika tidak pernah menuntut apapun pada Arkan. Asalkan Arkan bahagia menjalani hidupnya. Tidak seperti bunda yang lebih memilih air mataku, daripada senyumku!" ujar Agam dingin dan tegas.
"Papa keren!" sahut Hanna sembari mengacungkan dua jempol ke udara.
"Hanna, diam kamu!" ujar Arkan.
__ADS_1