
"Selamat pagi semua!" Sapa Dimas ramah.
"Pagi pak!" Sahut para peserta rapat. Termasuk Hafidz yang menjadi salah satu peserta rapat. Hafidz datang bersama Ziva dan Rian. Keduanya masuk dalam tim Hafidz.
"Pagi ini saya akan mengenalkan pemimpin baru dalam proyek di kota X. Dia yang akan memimpin langsung proyek tersebut. Mungkin dia masih belajar, tapi saya percaya. Dia mampu menjadi pemimpin yang bijak!"
"Baik pak!" Sahut semua serempak.
Dimas sengaja mengumpulkan rekan kerja perusahaan Anggara. Akan ada perombakan kepemimpinan dalam tubuh perusahaan Anggara. Lebih tepatnya pemimpin anak cabang perusahaan Anggara. Nampak Nissa duduk tepat di samping Dimas. Sedangkan Hafidz duduk berjejer dengan Ziva dan Rian.
"Hafidz, aku dengar yang akan menggantikan tuan Dimas itu cucu perempuannya. Menurut gosip yang kudengar. Selain dia cantik, dia juga pintar dan tegas. Banyak hati yang patah, karena cintanya ditolak. Sudah lama aku ingin mengenalnya, tapi tak pernah ada kesempatan. Dia pribadi yang sederhana, tidak suka terekspos!" Bisik Rian pada Hafidz, seketika Hafidz menoleh. Dia menatap heran ke arah Rian.
"Kamu serius!"
"Kapan aku bercanda? Tuan Dimas akan menyerahkan sepenuhnya proyek ini pada penerusnya. Dia hanya akan mengawasi. Sukses atau gagal proyek ini, tergantung pada kebijakan cucunya. Aku sungguh tak sabar ingin mengenal penerus keluarga Anggara!"
"Tidak mungkin, tadi pagi dia tidak bicara apapun!" Gumam Hafidz, Rian menoleh ke arah Hafidz. Sekilas dia mendengar perkataan Hafidz, meski suara Hafidz tidak jelas. Rian berpikir Hafidz mengenal cucu keluarga Anggara.
"Kamu mengenalnya!"
"Apa?" Sahut Hafidz bingung, Rian menepuk jidatnya pelan. Dia melihat Hafidz bak orang yang kehilangan akal. Seakan dia tak peduli pada perkataan Rian.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Sebentar lagi aku akan melihat bidadari cantik!" Ujar Rian lirih, penuh antusias.
"Sayang, semoga bukan kamu yang Rian maksud. Jika benar kamu, aku harus bagaimana bersikap? Tidak lucu, jika kita bekerja dalam satu proyek. Seandainya aku pura-pura tak mengenalmu. Pasti kamu akan marah, sedangkan amarahmu membuatku kehilangan akal. Sebaliknya jika aku, mengatakan kita suami istri. Apa yang akan orang pikirkan? Aku mohon, jangan sampai kamu yang menjadi pengganti kakek Dimas. Apalagi mendengar Rian memujimu. Sungguh aku tak sanggup melihat laki-laki lain menganggumimu. Semoga bukan kamu, semoga Rian salah akan pendapatnya!" Batin Hafidz bingung.
Kreeeekkkk
Suara pintu ruang rapat terbuka, semua mata tertuju pada pintu. Terdengar langkah kaki yang begitu anggun menyentuh lantai marmer gedung. Dimas dan Nissa tersenyum menatap ke arah pintu. Ada kejutan besar yang sengaja diberikan pada para peserta rapat. Sebaliknya Hafidz menunggu dengan cemas. Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi bila dugaannya benar?
"Dialah Hanna Ramaniya Santika, cucu perempuanku yang akan memimpin rapat hari ini!" Ujar Dimas mengenalkan Hanna. Sontak Hafidz mendongak, dia terkejut saat melihat Hanna berdiri tepat di samping Dimas.
"Berakhir sudah!" Batin Hafidz lirih.
"Kenapa dia yang menggantikan tuan Dimas?" Ujar Ziva dingin.
"Kamu mengenalnya!" Ujar Rian, Ziva mengangguk pelan.
"Bagus kalau begitu, kamu bisa mendekatkan aku padanya!" Ujar Rian lantang, Hafidz dan Ziva kompak diam. Seolah mereka sudah berjanji tidak mengatakan, siapa Hanna sebenarnya? Lebih tepatnya hubungan Hanna dengan Hafidz.
"Selamat pagi, saya Hanna Ramaniya Santika. Anda sekalian bisa memanggil saya dengan Hanna. Sebenarnya saya tidak berkompeten dalam bidang ini. Namun terkadang, kita harus bekerja sembari mengenal. Kala tuntutan akan kewajiban mendasarinya. Jadi dengan kerendahan hati, saya mohon bimbingannya!" Ujar Hanna ramah, lalu membungkuk pelan. Memberikan salam penghormatan pada para peserta rapat.
Hanna duduk tepat di samping Nissa. Dengan tatapan penuh wibawa, Hanna melihat semua peserta rapat. Tak terkecuali Hafidz dan timnya. Bahkan Hanna tersenyum ke arah Rian. Saat Rian mengangguk menyapanya. Hanna mencoba profesional dengan pekerjaannya.
"Maaf semuanya, saya hanya ingin menambahkan sedikit. Hanna bukan pembisnis, dia seorang dokter. Namun siapapun Hanna dulu? Dia sekarang pemimpin proyek ini. Jadi satu hal yang saya inginkan. Hargai Hanna dengan ketidaktahuannya, sebaliknya patuhi Hanna dengan keputusannya. Apapun hubungan dan permasalahan kalian di luar kantor dengan Hanna. Tidak akan merusak kerjasama ini!" Ujar Nissa tegas, Dimas mengangguk setuju dengan Nissa.
"Hanna mungkin awam dalam bisnis, tapi tugas kalian para senior melatih dan mendidik Hanna. Kalian akan menjadi tim yang kuat. Tentu saja di bawah pengawasan kami!" Sahut Dimas tak kalah tegas. Hafidz menunduk menatap lantai. Dia tak sanggup menatap Hanna. Sebaliknya Ziva terlihat penuh emosi. Saat melihat Hanna berada di depannya. Bahkan Hanna yang akan menjadi rekan kerjanya sekarang.
Dimas dan Nissa meninggalkan ruang rapat bersama. Hanna menggantikan Dimas memimpin rapat. Sedangkan Rian terus menatap kagum ke arah Hanna. Dengan pesona Hanna saat ini. Tidak akan ada satu laki-laki yang menolak menganggumi Hanna. Terlihat jelas pesona Hanna yang begitu anggun dan terpelajar. Berbeda dengan Hanna yang selalu acuh pada penampilannya.
"Mari kita mulai rapat pagi ini!" Ujar Hanna tegas, hafidz hanya bisa diam. Dia melihat istrinya kini menjadi pemimpinnya.
"Hafidz, dia tidak hanya cantik. Kharismanya jelas terasa. Dia mungkin seorang wanita, tapi dia jelas bisa menjadi pemimpin yang bijak!" Bisik Rian, Hafidz mengangguk pelan.
Sekitar satu jam lebih rapat berlangsung. Hanna mendengarkan penjelasan dari semua bagian. Termasuk dari Ziva, orang yang langsung mengurus lapangan. Hanna mencatat semua yang penting dan mengoreksi yang menurutnya tak sesuai. Selama rapat Hanna fokus pada layar laptopnya. Dia tidak peduli, siapa yang sedang bicara? Bagi Hanna bukan wajah pembicara, tapi isi dari laporannya yang penting. Hanna baru melihat pembicara, saat laporan sudah selesai dijabarkan.
__ADS_1
"Baiklah, saya rasa semua sudah mengerti dengan tugas masing-masing. Maka dari itu, rapat hari ini saya akhiri!" Ujar Hanna lantang, lalu berdiri mengangguk pelan. Hanna memberikan salam hormat pada peserta rapat. Hanna mempersilahkan, semua orang meninggalkan ruang rapat.
"Hanna!"
"Iya, ada yang bisa saya bantu!"
"Rian Adiguna Wirawan!" Ujar Rian sembari mengulurkan tangan. Hanna menyambut tangan Rian. Keduanya saling berjabat tangan, Hafidz menatap kesal ke arah Rian.
"Hanna!" Sahut Hanna singkat, lalu melepaskan tangannya. Hanna meninggalkan Rian, tanpa menoleh ke arah Hafidz dan Ziva.
"Tunggu!"
"Ada apa?"
"Bisa kita makan siang bersama. Sebagai tanda pertemanan!"
"Maaf, saya ada janji dengan tuan Dimas!" Sahut Hanna santai.
"Aku bisa menunggu, kita bisa menjadi teman. Setidaknya kita bisa saling mengenal. Agar kerjasama kita berjalan lancar!"
"Maaf tuan Rian, saya tidak terbiasa mengenal laki-laki!" Ujar Hanna ramah, lalu berbalik menjauh dari Rian.
"Dasar Rian playboy, sudah tahu Hanna itu dingin. Masih saja ingin mengejarnya, tapi Hanna tetaplah Hanna. Tidak akan mudah membuatnya melihat ke arahmu. Aku saja harus berjuang keras. Agar Hanna melihat keberadaanku!" Batin Hafidz kesal. Melihat Rian sangat ingin mengenal Hanna. Rian tak hanya ingin mengenal Hanna, tapi ingin menjadikan Hanna sebagai tambatan hatinya.
"Tunggu, aku tidak berniat jahat!" Ujar Rian lantang, sembari mengejar Hanna.
"Kenapa anda ingin mengenalku?"
"Karena kamu berbeda!"
"Kamu tak menganggapku ada!"
"Memangnya siapa kamu? Sampai aku harus menganggapmu penting. Kita hanya rekan kerja, tidak lebih dari itu!"
"Ini yang aku suka dari kamu. Sikap acuh yang menganggap laki-laki semua sama. Tak memandang ketampanan!"
"Maaf, anda salah orang!"
"Aku mohon, izinkan aku mengenalmu!" Ujar Rian memaksa, Hanna menghentikan langkahnya.
Hanna menoleh ke belakang. Dia menatap Hafidz yang tengah berjalan berdampingan dengan ziva. Hanna mulai kesal melihat sikap Rian yang pemaksa. Hanna ingin sekali memukul wajah Rian. Namun dia harus menjaga wibawanya. Dia tidak ingin, Dimas atau Nissa malu dengan sikap kasarnya.
"Kak Hafidz!"
"Hmmmmmm!" Sahut Hafidz lirih, sembari menatap Hanna. Rian menoleh tak percaya, ketika mendengar Hanna memanggil Hafidz mesra.
"Kalian saling mengenal!" Ujar Rian tak percaya.
"Kakak jauhkan dia dariku atau kakak tidak boleh pulang!"
"Tapi dia bukan anak kecil!"
"Aku hitung sampai tiga. Jika kakak tidak mengajaknya pulang. Aku pastikan kakak akan tidur di luar nanti malam!" Ujar Hanna lantang, Hafidz menggeleng lemah.
"Kalian saling mengenal!" Ujar Rian heran.
__ADS_1
"Satu!"
"Rian, kita pulang sekarang!" Ujar Hafidz lantang, Rian tetap berdiri di depan Hanna.
"Dua!"
"Ayolah Rian!" Ujar Hafidz tegas, Hafidz menarik tangan Rian.
Namun sia-sia, Rian tak bergeming. Dia tetap berdiri di depan Hanna. Rian tak lagi peduli akan Hanna. Dia hanya penasaran hubungan Hanna dengan Hafidz. Rian bak orang bodoh yang tidak tahu apa-apa? Sedangkan Hafidz tetap bungkam, karena dia mengingat perkataan Nissa.
"Tiga!"
"Tunggu, ada hubungan apa diantara kalian? Kenapa kalian sangat akrab?"
"Nanti aku jelaskan, kita pulang sekarang!"
"Aku tidak akan pergi, sebelum kamu katakan siapa Hanna sebenarnya?"
"Kak Hafidz!" Sapa Hanna, Hafidz menoleh ke arah Hanna yang berdiri beberapa langkah di depannya. Jelas Hanna sangat kesal, Hanna tidak pernah suka bila dipaksa. Ghibran sahabat Arkan tak pernah bisa mendekatinya. Meski bertahun-tahun mencoba mengambil hati Hanna.
"Aku sudah mengajaknya!" Sahut Hafidz lirih, Hanna berjalan menghampiri Hafidz. Hanna menatap Hafidz dengan tajam. Seolah Hanna ingin membunuh Hafidz dengan tatapannya.
"Terlambat!" Ujar Hanna tepat di depan Hafidz. Rian semakin heran dengan kedekatan Hafidz dan Hanna.
Buugghh
"Aaaaaaa!" Teriak Hafidz kesakitan, sesaat setelah Hanna menginjak kaki Hafidz keras.
"Sayang sakit!" Ujar Hafidz lirih.
"Sayang!" Ulang Rian tak percaya.
"Kamu tidur di luar!" Ujar Hanna ketus, lalu membalikkan badan. Hafidz menggeleng lemah, Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak percaya, saat Hafidz memanggil Hanna sayang.
"Kalian saling mengenal!" Ujar Rian lagi.
"Aku istrinya!" Sahut Hanna ketus
"Tidak mungkin!"
"Aku tidak peduli, kamu percaya atau tidak. Jangan pernah menggangguku!" Ujar Hanna langsung menjauh.
"Sayang, kamu tidak serius dengan acaman yang tadi!"
"Aku sangat serius, kakak akan tidur di luar!"
"Sayang, ini tidak adil!" Teriak Hafidz.
"Kakak diam saja melihat Rian mengangguku. Apa itu adil bagiku? Jadi jangan menuntut hak, ketika kewajiban melindungiku belum kakak penuhi!" Ujar Hanna lantang, lalu meninggalkan Hafidz yang bengong.
"Hafidz, maaf aku tidak tahu dia istrimu!" Ujar Rian lirih, Hafidz diam membisu. Dia membayangkan hukuman yang dikatakan Hanna. Tidak akan mudah baginya, bila tidur jauh dari Hanna. Hafidz kalut mendengar keputusan Hanna.
"Aku heran pada kalian. Kenapa bisa terpesona dengan Hanna yang tomboy dan acuh!" Ujar Ziva, Hafidz dan Rian menoleh heran.
"Sebaliknya, kenapa kamu merendahkan Hanna? Padahal dia seorang wanita, sama sepertimu!" Sahut Rian ketus, Ziva terdiam membisu.
__ADS_1
"Karena dia yang membuatku harus mengubur dalam-dalam cintaku. Mengakui, jika dia jauh lebih baik dariku!" Batin Ziva.