
"Kurang ajar!" Ujar Shaila marah, tangannya terangkat. Dengan amarah yang menggebu, Shaila ingin menampar Hanna.
"Shaila!"
"Jangan berani menamparnya. Dia istriku sekaligus kakak iparmu!" Ujar Hafidz lantang sembari menahan tangan Shaila. Lalu menghempaskannya kasar. Hafidz sangat marah mendengar kata-kata kasar Shaila pada Hanna. Sikap kasar Shaila tak pernah dibayangkan Hafidz.
"Kak Hafidz!" Ujar Shaila gugup. Dia melihat Hafidz berdiri tepat di belakangnya.
"Apa maksudmu bersikap kasar pada Hanna? Dia istriku yang harus kamu hormati. Bukannya bersikap sopan, kamu malah kurang ajar!"
"Tapi dia yang memulainya!" Ujar Shaila membela diri, Hanna diam tak peduli dengan perkataan Shaila. Baginya tidak penting berurusan dengan Shaila.
"Diam kamu Shaila, dia kakak iparmu. Jaga sikapmu padanya. Apa kamu lupa cara bicara dengan orang yang lebih tua? Tak sepantasnya kamu bersikap seperti ini!"
"Kak Hafidz, aku tidak berbohong. Dia yang memancing emosiku. Dia mengungkit tentang penghasilan kakak yang diberikan padaku dan bunda. Dia tak suka, jika kakak membantu kami!" Ujar Shaila menggebu, Hafidz menoleh ke arah Hanna. Tak ada suara yang terdengar dari bibirnya. Tak ada sanggahan atau pembenaran yang terucap dari Hanna. Seolah Hanna tak peduli akan pemikiran Hafidz dan Shaila.
"Hanna, kenapa kamu diam sekarang? Tadi kamu sangat lantang mengatakan semuanya. Sekarang bicaralah pada kak Hafidz. Katakan padanya, jika kamu tak terima penghasilan kak Hafidz untuk kami!" Ujar Shaila kasar, Hanna tersenyum seraya menatap Shaila. Sikap kasar Shaila tak sesuai tempatnya menurut Hanna. Hafidz diam menunggu sanggahan Hanna.
"Sayang!" Sapa Hafidz lirih, Hanna menoleh tanpa menyahuti. Hafidz menghela napas panjang, dia tak percaya melihat diam Hanna.
"Dia tidak akan bicara. Dia takut kakak marah padanya. Dia tak lebih dari wanita munafik. Dia baik di luar, tapi busuk di dalamnya!"
Plaaakkk
"Kak Hafidz!" Ujar Shaila lirih, seraya memegang pipinya yang panas.
Hafidz tak lagi mampu menahan amarahnya. Telinganya terasa panas mendengar perkataan Shaila. Diam Hanna semakin membuatnya kesal. Dia merasa sakit, melihat Hanna yang seakan menerima semua hinaan Shaila.
"Kenapa kakak menamparku?"
"Aku bukan menamparmu, aku menampar mulutnya yang semakin tak terkontrol. Hanna istriku dan sudah sepantasnya kamu menghargainya. Bukan malah terus memojokkannya!"
"Tapi aku bicara kebenaran. Buktinya dia diam saja, seolah dia membenarkan perkataanku!" Sahut Shaila kesal, tangannya terus memegang pipinya yang terasa sakit.
"Hanna, kenapa kamu diam?" Ujar Hafidz lirih, Hanna menatap lekat dua bola mata Hafidz. Hanna membaca kejujuran rasa sakit Hafidz yang terlihat di dua mata indahnya.
"Aku sengaja diam, agar kak Hafidz melihat sendiri siapa yang salah? Aku tak perlu membela diri. Jika nyatanya aku memang benar. Sebab aku percaya kebenaran itu akan selalu menang. Meski kak Hafidz menyalahkanku, aku tidak akan marah. Namun jangan pernah berharap, aku akan meminta maaf. Jika aku tak merasa bersalah!"
"Diammu membuatku takut!"
"Kak Hafidz, apapun yang terjadi diantara kalian berdua. Bukan hakku ikut campur. Aku tak ingin menjadi alasan kerenggangan hubungan antara adik dan kakak. Sikap kasarmu pada Shaila barusan, murni amarahmu bukan karena hasutanku!"
"Sayang, kenapa kamu diam saat dia menghinamu? Kamu berhak membela diri, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku akan pastikan berada di tengah antara kamu dan Shaila!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng tak setuju.
"Jangan pernah posisikan dirimu harus memilih. Sebaliknya buat tanganmu mampu merangkulku dan keluargamu. Aku tak merasa dihina dengan perkataan Shaila. Sebab aku tak pernah merasa melakukan semua itu. Tuduhan Shaila padaku hanya angin lalu. Terasa dingin menusuk tulangku, tapi takkan membuatku tumbang dan sakit!"
"Maaf!"
"Tidak ada yang salah, kak Hafidz seorang kakak yang harus melindungi Shaila dan bunda!" Ujar Hanna pada Hafidz, seketika Hafidz menggenggam tangan Hanna. Hafidz mencium lembut tangan Hanna. Rasa sayang yang teramat besar, bercampur dengan rasa kagum akan ketenangan Hanna.
"Dasar munafik!"
"Shaila!" Teriak Hafidz emosi.
"Di depan kakak dia tak mengungkit masalah penghasilan. Saat kakak tidak ada, dia bicara seolah aku dan bunda yang menghabiskan jerih payah kakak selama ini. Dia menghinaku dengan mempertanyakan suamiku. Dia mengejekku yang telah hidup dengan penghasilanmu!"
"Jelas Hanna mengatakan semua itu. Kak Hafidz suaminya, sebesar apapun penghasilan kak Hafidz? Sepenuhnya hak Hanna sebagai istrinya. Apa kabar dirimu yang menuduh Hanna memaksa kakakmu bekerja keras demi hidup mewahnya? Padahal kamu tak mengenal Hanna, tapi seenaknya kamu menuduh Hanna sekeji itu!" Sahut Savira lantang, dia berjalan mendekat ke arah Hanna. Savira merangkul tangan Hanna, dia menjadi sandaran terkokoh Hanna saat ini.
"Savira, diamlah!" Ujar Hanna lirih, Savira menggeleng tak setuju. Savira menoleh ke arah Hafidz yang syok mendengar perkataan Savira.
__ADS_1
"Kakak terkejut mengetahui alasan perdebatan Hanna dan Shaila!"
"Sayang, apa yang dikatakan Savira benar adanya?" Ujar Hafidz lirih tak percaya. Hanna diam menunduk, dia tak ingin menyulut amarah Hafidz lagi. Tamparan Hafidz lebih dari cukup, tak perlu lagi Shaila melihat amarah Hafidz.
"Kamu siapa berani ikut campur!" Teriak Shaila lantang, sembari menjulurkan tangan hendak mendorong tubuh Savira.
"Jangan libatkan sahabatku. Aku diam saat kamu menghinaku, tapi aku takkan tinggal diam. Jika kamu menyakiti sahabatku!" Ujar Hanna lantang, seraya menahan tangan Shaila. Hanna memegang tangan Shaila begitu keras. Tanpa Hanna sadari, dia membuat Shaila kesakitan.
"Aaawwwssss!" Teriak Shaila, sesaat setelah Hanna menghempaskan tangannya kasar. Nampak Shaila memijat pelan pergelangan tangannya.
"Kak Hafidz lihat sendiri, dia mulai memperlihatkan sifat aslinya!" Ujar Shaila mengadu, Hafidz menoleh ke arah Hanna yang sangat tenang. Tak nampak sedikitpun kecemasan di kedua mata indahnya. Hanna sangat santai dan tenang. Seolah tak terjadi sesuatu yang penting.
"Shaila, lebih baik kamu pulang. Kita bicarakan ini nanti saja!"
"Kakak jahat, kakak membela wanita munafik itu. Jelas-jelas dia yang salah, kenapa aku yang harus mengalah? Dia yang mulai mempertanyakan pemberian kakak pada bunda. Padahal jelas dia tahu, bunda jauh lebih berhak daripada dia!" Ujar Shaila lantang penuh emosi, Hanna tersenyum menatap Shaila yang tak bisa lagi mengendalikan amarahnya.
"Kamu memang tak tahu malu. Jelas kamu yang memulai pertengkaran ini. Malah sekarang kamu menuduh Hanna yang tidak-tidak!" Ujar Savira lebih lantang dari Shaila. Dia tak terima mendengar Hanna terus disudutkan.
"Kenapa kak Hafidz diam?" Ujar Hanna lirih, memecah kesunyian yang tiba-tiba tercipta.
Hafidz menunduk terdiam, ketika Shaila dan Savira terus berdebat. Bukan Hafidz mempercayai perkataan Shaila dan meragukan kesaksian Savira. Namun Hafidz tak pernah membayangkan, ada masalah yang tercipta hanya karena penghasilannya. Sejak dulu Hafidz selalu memenuhi kebutuhan Shaila dan bundanya. Namun semua tak pernah Hafidz pikirkan, ketika dia menikah dengan Hanna. Hafidz tak pernah membicarakan besar penghasilan atau berapa dia memberikan penghasilannya pada keluarganya.
"Apa yang ingin kamu dengar dariku? Aku rasa kamu memiliki alasan yang tepat. Saat kamu mengatakan semua itu. Sebaliknya Shaila adikku selalu terpancing emosi. Jika ada yang mengungkit tentang suaminya. Dia merasa orang itu telah menghina harga diri suaminya!"
"Aku tak mengharapkan apapun darimu. Aku juga tak ingin mendengar pemikiranmu. Baik aku dan Shaila merasa benar dengan sikapnya. Jadi tidak ada yang salah dan benar!"
"Sayang, apa kamu keberatan dengan keputusanku?"
"Tentang!"
"Tetap memberikan nafkah pada Shaila dan Bunda!" Ujar Hafidz lirih, Hanna menggeleng lemah.
"Lalu kenapa kamu dan Shaila berdebat?"
"Jelas Hanna marah, Shaila menuduh Hanna alasan kak Hafidz kerja keras!"
"Savira, aku mohon diamlah!"
"Shaila, apa semua itu benar?"
"Dia bohong, aku hanya bertanya kenapa dia tidak belanja? Padahal kakak sudah kerja keras, tentu kakak sanggup memenuhi hidup mewahnya!" Ujar Shaila santai, Hafidz menggeleng tak percaya.
"Kamu keterlaluan Shaila, dia kakak iparmu. Kenapa kamu bisa berkata sekasar itu? Tanpa jerih payahku, Hanna mampu hidup mewah. Sebab dia lahir dari keluarga yang tak biasa. Toko yang kamu injak sekarang, salah satu usaha yang dimiliki oleh keluarga Hanna. Dia tidak perlu uang, jika ingin membeli pakaian dari toko ini!"
"Kak Hafidz berbohong!"
"Sudah tidak perlu diperpanjang, aku tidak ingin menjadi tontonan. Lebih baik kak Hafidz antar Shaila pulang. Aku dan Savira akan pulang, setelah membayar pakaian Savira!"
"Sayang, pakai kartu ini!" Ujar Hafidz menyerahkan sebuah kartu berwarna gold. Dengan sopan Hanna menolak pemberian Hafidz. Hanna menggeleng seraya tersenyum.
"Aku masih ada uang jajan yang seminggu lalu kakak berikan padaku!"
"Bukankah itu tidak banyak, kenapa masih ada sisa?" Sahut Hafidz tak percaya.
"Aku mungkin lahir dalam keluarga kaya. Hidupku tak pernah kekurangan. Bahkan mungkin selalu berlebih, tapi ada satu hal yang tak pernah kalian pahami. Aku tak pernah menganggap kelebihan itu sebagai sesuatu.yang spesial. Aku sangat terbiasa hidup sederhana dan apa adanya? Tak perlu bersaing dengan orang lain. Jika hanya untuk menghambur-hamburkan uang!"
"Kamu dengar Shaila, Hanna tidak pernah berfoya-foya. Apalagi membeli barang yang tidak dibutuhkannya!" Teriak Savira lantang, nampak jelas kekesalannya pada Shaila.
"Itu hanya kata dia, kita tidak pernah tahu kebenarannya!"
__ADS_1
"Kamu mungkin tidak tahu, tapi kakakmu jelas mengetahui. Sebarapa banyak isi lemari pakaianku!"
"Munafik!"
"Shaila, diam!" Ujar Hafidz marah, tangannya mulai terangkat untuk kedua kalinya.
Shaila menutup wajahnya, saat melihat Hafidz mengangakat tangannya. Shaila masih merasakan sakit tamparan Hafidz. Sangat tidak mungkin Shaila sanggup menerima tamparan yang kedua kali. Shaila benar-benar takut, dia melihat dua bola mata Hafidz memerah. Sikap Shaila sangat keterlaluan, Hafidz tak lagi mampu menerima sikap kasar Shila.
Saat Shaila ketakutan melihat amarah Hafidz, Hanna dengan sigap menahan tangan Hafidz di udara. Hanna menahan tangan Hafidz, agar Hafidz tak menampar Shaila. Dengan gelengan kepala, Hanna meminta Hafidz mengurungkan niatnya. Hanna tidak ingin melihat kekerasan, meski Shaila pantas diperlakukan kasar.
"Cukup kak Hafidz!" Ujar Hanna, sembari melepaskan tangan Hafidz. Savira merasa geram mendengar kata-kata kasar Shaila.
"Hanna, biarkan saja dia ditampar. Sudah sepantasnya dia diberi pengertian. Dia harus memahami kesalahannya!" Ujar Savira, Hanna menggeleng lemah sembari menahan tangan Savira. Hanna meminta Savira untuk tak mendekati Shaila. Dia tidak ingin hubungannya dengan Shaila semakin keruh.
"Dia sudah sangat keterlaluan!" Sahut Hafidz geram, Hanna tersenyum menatap Hafidz.
"Jangan gunakan tanganmu untuk memukulnya. Jika memang Shaila salah, ajari dia dengan kasih sayang. Kekerasan takkan pernah bisa membuatnya mengerti. Malah dia akan semakin membenciku. Sudah cukup dia membenciku, jangan buat dia menyalahkanku. Karena telah membuatnya jauh dari kakak kandungnya!"
"Kamu dengar Shaila, Hanna membelamu. Masih saja kamu berpikir buruk tentangnya!" Ujar Hafidz emosi, Shaila diam membisu. Dia merasa malu, bukan merasa bersalah. Namun Shaila merasa bodoh telah diperlakukan kasar oleh Hafidz kakaknya. Selama ini, Hafidz selalu membelanya. Shaila semakin marah, melihat Hanna disanjung oleh Hafidz.
"Kak Hafidz, antar dia pulang!" Ujar Hanna, lalu memutar tubuhnya menjauh dari Hafidz
"Sayang, kita pulang bersama!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng menolak.
"Savira, kita pulang sekarang!" Ajak Hanna ramah, Savira mengangguk mengiyakan.
"Shaila, belajarlah mengenal Hanna sahabatku. Sebelum kamu kehilangan kasih sayangnya. Bahkan mungkin kamu akan kehilangan kak Hafidz!" Ujar Savira lantang, Shaila mendongak menatap Savira tajam. Jelas dia marah mendengar perkataan Savira yang memojokkannya.
"Sayang, kita pulang bersama!" Pinta Hafidz sekali lagi, Hanna menggeleng lemah.
"Shaila, belajarlah untuk menerima pilihan kakakmu. Setidaknya kamu belajar percaya pada keputusannya. Kakakmu berhak bahagia, entah itu denganku atau wanita lain? Hargai pilihannya, seperti kakakmu yang selalu mendukungmu dengan salah dan benarmu. Jangan sia-siakan kasih sayangnya. Kamu tidak pernah merasakan sepi jauh dari kakak kandungmu. Aku pernah merasakannya dan percayalah semua itu sangat tak mudah dan sakit. Jangan sampai semua itu terjadi, sebagai awal kehancuran hubungan kalian!" Tutur Hanna lirih.
"Hubunganku dengan kakak baik-baik saja. Sampai kamu hadir diantara kami!" Sahut Shaila ketus.
"Maafkan diriku, jika kebersamaan kami telah mengusik ketenanganmu. Namun apapun yang terjadi aku istri sahnya sekarang!" Ujar Hanna lirih, lalu menjauh meninggalkan Hafidz dan Shaila.
"Sayang!"
"Jaga Shaila baik-baik. Tuntun Shaila dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan!"
"Mbak Hanna, permisi sebentar!"
"Ada apa mbak?" Ujar Hanna menyahuti perkataan salah satu pegawai toko.
"Pakaian untuk panti asuhan mbak Hanna sudah ada. Haruskah saya kirim langsung atau mbak Hanna yang akan membawanya!"
"Tolong kamu antar ke sana. Namun jangan sampai mereka tahu, aku yang mengirimkannya. Kirim seperti biasa, tanpa menggunakan nama!" Ujar Hanna, lalu menandatangani pembayaran nota.
"Terima kasih mbk Hanna!"
"Sama-sama!" Sahut Hanna sembari menganggukkan kepalanya pelan. Hanna melihat beberapa dus pakaian yang sudah dibelinya.
"Sayang, kenapa kamu tidak bicara tentang kegiatanmu ini?"
"Sama halnya kak Hafidz yang masih diam tentang memberikan penghasilan pada bunda. Seperti itu pula, aku diam tentang kegiatanku sejak dulu!"
"Sayang kamu marah!"
"Aku tidak marah, tapi aku kecewa. Ketika aku menyadari, masih ada rahasia yang kakak simpan. Namun lama aku merenungi, akhirnya aku sadar. Amarahku salah dan tak sepantasnya aku kecewa padamu. Karena masih banyak waktu, untuk kita saling mengenal!"
__ADS_1
"Kamu benar sayang, masih banyak waktu untuk kita saling mengenal!" Batin Hafidz sembari menatap punggung Hanna yang menjauh.