Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Nasi Goreng


__ADS_3

Tiga bulan sudah Hanna tinggal sendiri. Memilih hidup dalam kesederhanaan. Jauh dari kata mewah yang ditawarkan Hafidz atau keluarganya. Hanna memilih hidup sebagai pribadi yang biasa. Keputusan besar yang diambil Hanna. Semenjak dia memutuskan mengakhiri kisah cintanya dengan Hafidz. Hanna memilih pergi, bukan menjauh atau lari dari kenyataan. Hanna mencoba mencari jati diri yang hilang.


"Alhamdulillah!" ujar Hanna lirih, seraya membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu.


Hanna membuka pintu rumah yang dibelinya tiga bulan yang lalu. Rumah yang dia beli menggunakan uang dari hasil jerih payahnya selama ini. Rumah tempat Hanna melepaskan lelah setelah bekerja seharian. Rumah sederhana dengan satu kamar dan kamar mandi. Rumah tanpa perabotan mewah, hanya ada karpet biru sebagai alas duduk di ruang tamu. Meja kecil di sudut, tempat Hanna menyimpan makanan.


Kreeeeekkk


Suara gesekan daun pintu dengan kusen, menandakan betapa rapuh rumah yang kini ditempati Hanna. Namun entah kenapa rumah sederhana inilah? Rumah yang paling nyaman bagi Hanna saat ini. Rumah yang berada diantara beberapa rumah sederhana lainnya. Berada di ujung gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Rumah yang tak pernah ada dalam bayangan Hanna. Berbanding terbalik dengan rumah Hafidz atau keluarganya dulu.


"Kamu baru pulang Hanna!" ujar Hafidz, Hanna menoleh ke belakang.


Nampak Hafidz dengan pakaian lusuhnya. Jelas dia lelah, setelah seharian bekerja. Hanna tidak terkejut dengan kedatangan Hafidz. Hampir dua atau tiga hari sekali Hafidz datang mengunjunginya. Hubungan mereka membaik sebagai seorang teman. Meski sidang perpisahan mereka belum selesai meja hijau. Hanna dan Hafidz memilih menjadi teman, semua demi putra mereka Davin.


"Iya, ada pasien gawat darurat!" ujar Hanna ramah, Hafidz mengangguk pelan.


Hanna masuk ke dalam, lalu mengambilkan segelas air putih untuk Hafidz. Hanna mempersilahkan Hafidz duduk, bukan di dalam rumahnya. Melainkan teras rumah Hanna, tempat Hafidz dan Hanna saling bicara. Sekadar bertukar pikiran dan berbagi kisah tentang Davin. Setidaknya hanya itu hubungan yang mampu Hanna tawarkan pada Hafidz saat ini.


"Minumlah kak, aku belum membersihkan diri. Sebentar lagi waktu magrib habis. Aku belum sempat sholat magrib. Jika tidak keberatan, tunggulah sebentar. Aku akan membuatkan makan malam untuk kita!" ujar Hanna, Hafidz mengangguk tanpa banyak bicara.


Entah siapa yang memulai? Hubungan keduanya membaik seiring berjalannya waktu. Tetangga kanan dan kiri Hanna mengenal Hafidz. Mereka juga mengetahui hubungan Hanna dan Hafidz. Namun keramahan dan kesopanan Hafidz, membuat warga sekitar percaya akan hubungan yang terjalin diantara keduanya. Bahkan Hafidz bisa bertamu sampai larut, itupun hanya sebatas di depan rumah Hanna.


"Hanna, senyaman itukah kamu tinggal di rumah ini? Sampai kamu tak pernah ingin tinggal di rumahku atau papa!" ujar Hafidz lirih, Hanna menoleh seraya mengutas senyum simpul.

__ADS_1


"Mungkin inilah kenyamanan setelah luka hati. Rumah ini membuatku jauh dari Davin dan keluargaku. Namun rumah inilah yang membuatku menyadari, betapa beruntungnya aku yang memiliki banyak cinta dari kalian? Sekarang biarlah semua seperti ini. Tidak ada yang perlu kita sesali, kakak bahagia hidup bersama Davin dan papa bahagia hidup bersama Qaila!"


"Sedangkan kamu?"


"Aku bahagia hidup bersama kenangan yang pernah ada!" sahut Hanna singkat, Hafidz menunduk. Tak ada lagi kata yang mampu membantah Hanna. Tak ada lagi Hanna yang pendiam, dia kini tegas dengan cara pandangnya dulu.


Hanna masuk ke dalam rumah sederhananya. Sedangkan Hafidz duduk menatap langit dari teras rumah Hanna. Sengaja Hafidz berjalan kaki masuk ke dalam rumah Hanna. Sebab mobil Hafidz, hanya bisa masuk sampai jalan depan. Mobil Hafidz terpaksa diparkir di halaman masjid. Kebiasaan yang entah mulai kapan itu terjadi? Lama Hafidz menunggu Hanna, sampai tanpa sadar Hafidz tertidur sembari duduk. Tubuh lelahnya seolah menemukan tempat paling nyaman untuk istirahat. Keras kursi tempatnya bersandar. Mengalahkan empuk kasur busa miliknya.


"Dia sangat lelah. Nampak jelas dari dengkurannya. Kak Hafidz, seharusnya kamu pulang? Bukan malah datang menemuiku!" batin Hanna tak percaya, ketika melihat Hafidz tertidur sembari duduk.


"Kak Hafidz, bangun dan makanlah!" ujar Hanna lirih, membangunkan Hafidz dari tidur ternyamannya.


"Maaf, aku ketiduran!"


"Kamu mengusirku!"


"Aku tahu kakak lelah, Davin mungkin sedang menunggumu!" ujar Hanna ramah, tidak terganggu dengan perkataan Hafidz yang seolah ingin menyalahkannya.


"Tapi aku nyaman di rumahmu!"


"Kalau begitu tinggallah, tapi maaf kak Hafidz. Jam 20.00 WIB, akan ada pengajian di masjid depan. Jadi terpaksa aku akan meninggalkan kakak sendirian!" ujar Hanna ramah, Hafidz menunduk seakan kecewa dengan perkataan Hanna.


"Baiklah, aku akan pulang!" ujar Hafidz, lalu mengambil makanan yang sengaja dibuatkan Hanna untuknya.

__ADS_1


"Kamu tidak makan!"


"Aku sudah makan di dalam, kakak makanlah. Aku akan mengambilkan air putih. Maaf kak Hafidz, aku hanya bisa membuatkanmu nasi goreng!"


"Setidaknya nasi goreng ini yang akan membuat hatiku tenang!" ujar Hafidz lirih, Hanna menggelengkan kepalanya pelan.


"Bersujud dan berdoa, jalan sesungguhnya mencari kata tenang. Nasi goreng buatanku hanya akan menghilangkan laparmu, tapi tidak akan menghilangkan gelisahmu. Lebih baik kakak makan dulu, setelah itu kita bicara!" ujar Hanna final, lalu masuk ke dalam rumah. Hanna ingin mengambilkan minuman untuk Hafidz.


"Jelas kamu bahagia tanpaku Hanna. Perkataanku tentang kenangan kita. Arti hadirmu dalam hidupku. Tak sedikitpun membuatmu tertarik ingin mengenangnya. Kamu mengacuhkan setiap hangat cintaku. Kamu berubah menjadi Hanna yang dulu. Periang dan hidup tanpa beban. Jujur Hanna, aku bahagia ada di sampingmu. Meski hanya sebagai teman. Namun jauh dalam relung hatiku. Aku takut kamu mengenal cinta lain dan akhirnya melupakan cintaku selamanya. Masih mungkinkah kenangan diantara kita Hanna? Ataukah hubungan kita akan selamanya menjadi teman tanpa ada kata cinta dan kesempatan kedua!" batin Hafidz pilu, sembari terua menatap langit malam yang terang.


"Nasi gorengnya tidak enak!" ujar Hanna membuyarkan lamunan Hafidz. Seketika Hafidz menggelengkan kepalanya.


"Terlalu enak, sampai aku merasa tidak tega memakannya!"


"Makanlah kak, maaf aku hanya bisa membuat itu. Qaila jauh lebih pandai dalam hal memaksa. Tentu kamu akan terawat, jika Qaila yang membuatkan masakan untukmu!" ujar Hanna lirih, Hafidz diam membisu.


"Jujur Hanna, aku tidak peduli kamu pandai memasak atau tidak? Kamu pinta atau tidak? Kamu cantik atau tidak? Sebab bukan itu yang membuatku mencintaimu. Namun hati ini yang memilih dirimu. Rasa yang tak mungkin bisa diberikan pada orang lain. Ketika hatimu tak lagi menghendakinya!"


"Maksud kakak apa?"


"Hubungan pertemanan ini membuatku bahagia, sekaligus tersiksa. Namun hatiku jauh lebih sakit, saat dengan santainya kamu memintaku menerima Qaila adikmu. Aku tahu kamu tidak menginginkan cintaku, tapi aku mohon. Jangan terus melukai hati rapuhku dengan menjodohkanku dengan cinta yang lain!"


"Maaf kak!" ujar Hanna merasa bersalah, lalu tersenyum ke arah Hafidz. Hanna menyodorkan minuman ke arah Hafidz.

__ADS_1


"Senyum yang semakin menyiksa hatiku. Sebab senyum itu hanya ada dengan kata teman, bukan cinta!" batin Hafidz hancur melihat senyum Hanna yang begitu manis.


__ADS_2