Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Davin Al-Haq Zulkarnain


__ADS_3

"Mama, Hanna belum sholat isya. Kalau boleh Hanna ingin sholat di mushola depan rumah. Baru saja Hanna mendengar suara azan!"


"Kenapa tidak sholat di rumah? Hafidz yang akan menjadi imam. Mereka sedang bersiap-siap. Alangkah baiknya, kamu belajar mengenal keluargamu. Berusaha menghapus keraguan yang ada dihatimu!" Ujar Tika menjawab permintaan Hanna.


Hanna menunduk tepat setelah mendengar jawaban Tika. Sebuah penolakan yang jelas nampak di wajah Hanna. Tika menghampiri Hanna, dengan pelan Tika menepuk pundak Hanna. Membuyarkan lamunan Hanna, pergulatan batin yang tak pernah Hanna tahu alasannya. Hanna mendongak menatap Tika, tatapan penuh kebimbangan. Seakan bertanya jawaban yang benar dari pergulatan batinnya.


"Katakan pada mama, alasan kebimbanganmu. Mama merasa ada ganjalan besar di hatimu. Keraguan atau rasa khawatir, entah apapun itu? Katakan dengan jujur pada mama. Insyaallah mama akan membantumu. Sekadar memberi masukkan, demi ketenangan hatimu!" Tutur Tika hangat, Hanna menatap nanar ibu yang melahirkannya. Sosok yang menghilang dari ingatannya. Bahkan bayangan akan masa lalu yang tak pernah muncul dalam benaknya.


"Maafkan Hanna, tapi berada di ruangan yang sama dengan kak Hafidz. Hanna merasa tak pantas. Hanna merasa ada hubungan diantara kami di masa lalu. Namun melihat Davin putranya, aku yakin kak Hafidz sudah memiliki kebahagiannya. Sebagai seorang muslimah, Hanna merasa canggung menjadi makmumnya!"


"Kenapa kamu tidak mencari tahu hubungan diantara kalian?" Sahut Tika, mencoba memancing ingatan masa lalu Hanna.


"Tidak akan!" Ujar Hanna tegas, seraya menggelengkan kepala. Tika menatap heran gelengan kepala Hanna. Seolah bukan jawaban ini yang diharapkan Tika.


"Kenapa?"


"Hanna tidak ingin mengingat masa lalu, bukan takut akan kesedihan atau melupakan kebahagian di masa lalu. Namun Hanna ingin hidup dalam ketenangan. Menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi banyak orang. Terbangun dari tidur setelah dua tahun koma. Seolah pertanda, Hanna harus memanfaatkan hidup yang baru. Berusaha mensyukuri kebahagian yang dulu pernah Hanna rasakan. Berhenti mengeluh akan rasa sakit yang mungkin pernah terasa oleh hati Hanna!"


"Termasuk melupakan orang-orang yang menyayangimu atau orang-orang yang kamu sayang!"


"Mama, rasa sayang itu akan selalu ada di hati terdalam Hanna. Meski ingatan Hanna menghilang, tapi rasa itu akan ada. Walau saat ini Hanna tak mengenalinya. Kelak saat Allah SWT mengembalikan masa lalu Hanna, insyaallah Hanna akan bahagia menyambutnya. Namun jika Hanna harus melupakan kenangan itu selamanya. Hanna ikhlas, karena semua itu yang terbaik untuk Hanna!"


"Allah SWT telah merebut waktu dua tahunmu bersama kami. Namun Allah SWT mengembalikan Hanna yang dewasa. Hanna yang penuh keikhlasan. Maafkan mama yang tak bisa mengerti hatimu!" Ujar Tika hangat, Hanna mengangguk pelan.


Hanna bersandar pada tubuh Tika. Hanna mencari sandaran, di kala hatinya rapuh dan lemah. Suara napas Hanna, terdengar meneduhkan di telinga Tika. Kebahagian akan kembalinya Hanna, kebahagian kecil yang sempat hilang. Senyum yang hilang tertelan oleh tidur panjang.


"Mama tidak akan memaksamu, mengingat setiap keping kenangan yang menghilang. Mama hanya berharap semua segera kembali seperti semula. Mama tak sanggup menatap mata Davin. Mata yang selalu bertanya, dimana mama? Siapa mama? Kenapa mama pergi? Bagaimana Davin tanpa mama? Apa yang sedang dilakukan mama? Pertanyaan dari mata yang terus merindukanmu. Mama sanggup menunggu kamu mengingat semuanya. Namun sampai kapan Davin kehilangan kasih sayangmu?" Batin Tika pilu.


"Pergilah sayang, hati-hati di jalan. Kembalilah begitu kamu selesai sholat. Kita akan makan malam bersama. Qaila adikmu akan datang, malam ini kita akan berkumpul bersama!" Ujar Tika lembut, Hanna mengangguk.

__ADS_1


Hanna mengambil tas kecil miliknya. Tas yang berisi perlengkapan sholat dan satu stel baju gantu. Hanna berjalan keluar dari dapur. Tepat di depan pintu dapur, Hanna merasa ada yang menarik hijabnya. Sontak Hanna menghentikan langkahnya. Hanna menoleh, nampak dua bola mata Davin menatapnya lekat. Tangan mungil sang bocah memegang erat ujung hijabnya. Meski merasa heran, Hanna membungkuk lalu berjongkok di depan bocah tiga tahun itu.


Deg Deg Deg


Hanna memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak hebat. Mata indah Davin mengingatkannya akan mata indah Hafidz. Namun secara keseluruhan wajah Davin sangat mirip dengannya. Lama Hanna menatap Davin, mencoba mencari hubungan yang terlupa diantara dirinya dan Davin. Namun semua sia-sia, waktu seolah tak ingin kembali mengingatkan hubungan yang terjadi diantara mereka.


"Siapa dia? Lagi dan lagi jantungku berdetak menatapnya. Napasnya terasa hangat menyentuh hatiku. Apa hubunganku dengan bocah tampan ini? Kenapa aku merasa sangat dekat? Seolah dia sangat berarti dalam hidupku. Pertama kali aku melihatnya, ada yang beda. Hatiku terasa begitu dekat dengannya!" Batin Hanna.


"Ada apa tampan?"


"Tante tidak boleh pergi!" Ujarnya dengan suara khas anak-anak, Hanna mengutas senyum simpul. Wajah tampan Davin menghangatkan hati Hanna. Seolah Hanna mendapatkan kebahagian yang tak terkira.


"Tante tidak pergi, tante hanya ingin sholat berjamaah di mushola depan rumah!"


"Kenapa tidak di rumah?" Ujar Davin polos.


"Tante tidak suka papa!" Sahut Davin, kedua mata membelalak. Seolah tak percaya akan pertanyaan Davin.


"Tante,....!" Ujar Hanna mengambang dan bingung.


"Tante cantik jahat!"


"Davin, tidak boleh bicara sekasar itu. Tante Hanna ada keperluan di luar. Jadi tante sekalian sholat isya di luar. Setelah sholat, tante Hanna akan kembali ke rumah!" Sahut Hafidz, Davin memoyongkan bibirnya.


Buuugh Buuugh Buuugh


"Papa nakal!" Ujar Davin sembari menghentakkan kakinya ke lantai.


Hafidz menggeleng tak percaya, kekesalan Davin menggelitik hati Hafidz. Sedangkan Hanna termenung menerima amarah Davin. Hanna merasa tak bersalah, sehingga Hanna merasa tak membuat Davin kesal. Sebaliknya Tika tersenyum, ada sedikit rasa bahagia di hatinya. Davin mampu mengenali Hanna, meski belum sepenuhnya. Namun ikatan batin keduanya, seolah ingin menunjukkan hubungan diantara mereka.

__ADS_1


"Dia mengenali ibu kandungnya. Hal yang sama seharusnya kamu rasakan Hanna. Putramu mengenalimu dengan kepolosannya. Seharusnya hatimu bisa mengenalinya juga. Dia darah dagingmu, putra yang sembilan bulan tumbuh dalam rahimm**u. Tidakkah kamu mengenalinya? Tidak mungkin hatimu tak bergetar mendengar suaranya? Jauh sebelum dia lahir, suaramu yang terdengar oleh telinganya. Sedingin itukah hatimu, sampai lembut tangannya tak menghangatkannya. Hanna, dia putramu yang selalu kamu belai dengan penuh cinta. Dekapanmu yang melindunginya selama ini. Jangan kamu mengingkari suara hatimu, meski benakmu tak mengenalinya. Dia putramu dulu, sekarang atau yang akan datang. Takkan bisa diubah, meski dua tahun tidurmu melupakannya!" Batin Tika penuh rasa haru.


"Sayang, anak tampan. Papa benar, tidak boleh bicara kasar. Apalagi pada orang yang lebih tua. Terutama pada papa yang selalu melindungi kamu. Sekarang minta maaf pada papa!"


"Tante, jangan pergi!"


"Anak tampan, tante hanya sholat di mushola. Tante janji akan makan malam bersamamu!" Ujar Hanna menenangkan.


"Janji!" Sahut Davin lantang, sembari mengangakat jari kelingkingnya. Hanna mengangguk, lalu mengaitkan jarinya.


"Insyaallah tampan, tante akan datang!" Sahut Hanna, lalu berdiri hendak melangkah. Hanna berjalan menjauh, suara azan sudah lama berkumandang. Hanna takut terlambat, untuk berjamaah.


"Horeeeee!" Teriak Davin kegirangan, Hanna menoleh ke arah Davin. Dia melihat Davin bersorak kegirangan. Suara lompatan Davin menggema di rumah megah Agam. Kegembiraan yang lama dirindukan.


"Davin Al-Haq Zulkarnain!"


"Maksudnya!" Sahut Hanna heran.


"Bocah yang terus merengek, memintamu tetap di rumah. Dia Davin putraku!" Ujar Hafidz hangat.


"Davin, nama yang bagus. Pemuda berani nan gagah, penuh dengan keberuntungan. Semoga kelak dia bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat!" Ujar Hanna ramah, Hafidz mengangguk.


"Aaamiin!"


"Tidak ada yang lebih berharga bagi putraku. Selain doa darimu Hanna. Ibu yang melahirkannya, ibu yang senantiasa berdoa demi kebaikan dunia dan akhiratnya dalam sadar dan lupamu. Terima kasih Hanna, kamu tetap baik-baik saja. Meski kamu melupakanku, setidaknya aku masih halal menatap wajahmu!" Batin Hafidz, sembari menatap punggung Hanna yang menjauh.


"Tenangkan dirimu Hafidz, setidaknya Hanna masih ada di samping kita!" Ujar Arkan menguatkan.


"Kakak benar!"

__ADS_1


__ADS_2