
"Mama!" teriak Hana dan Hanif. Mereka berlari menghampiri Tika yang duduk. Tika menoleh ke arah si kembar yang berlari menghampirinya. Terdengar tawa riang keduanya. Wajar jika Hana dan Hanif merindukan Tika. Hampir seminggu keduanya tinggal bersama Agam.
Setelah mencium punggung tangan Tika, Hana dan Hanif langsung berebut memeluk Tika. Mereka sangat merindukan Tika, sebab itu semalam mereka merengek pada Agam untuk bertemu Tika. Kebetulan hari ini Agam ada pertemuan dengan Tika. Jadi sekalian Agam membawa Hana dan Hanif.
"Kalian sedang apa? Kemana papa atau mbak Nina?" ujar Tika lirih, sontak Hanif menoleh sembari menunjuk Agam dan Nina. Terlihat keduanya berjalan perlahan menghampiri Hana dan Hanif. Tika mengangguk mengerti ketika melihat Agam dan Nina berjalan menuju ke arahnya.
Akhirnya Tika meminta Hana dan Hanif duduk di sampingnya. Tika memesan beberapa makanan kesukaan Hana dan Hanif. Tika juga memesan makanan kesukaan Agam. Sedangkan Tika meminta Nina memesan makanan untuk dirinya sendiri. Tika sudah menduga, jika Hana dan Hanif belum makan siang. Kebetulan pertemuan diadakan di restoran. Langsung tanpa bertanya, Tika memesan makanan untuk si kembar dan Tika.
"Kalian makan dengan tenang. Setelah selesai baru bermain dengan mama!" ujar Tika, Hana dan Hanif mengangguk mengerti. Keduanya langsung makan siang bersama Agam. Sebab Tika sudah memesan makanan kesukaan Agam. Sempat terlihat raut wajah heran Agam. Ketika Tika lebih memilih memesan makanan untuk dirinya, tapi tidak untuk Tika sendiri. Tersisip rasa bahagia dalam hati Agam. Tika masih mengingat makanan kesukaannya.
"Kenapa kamu tidak makan? Kita bisa makan bersama-sama!" ujar Agam lirih, Tika menggeleng lemah. Agam hanya bisa pasrah menerima sikap dingin Tika. Benteng yang dulu pernah Agam runtuhkan. Kini seakan berdiri kokoh kembali. Tak lagi mampu diterjang dan ditaklukkan.
"Terima kasih, kalian saja yang makan. Aku sedang puasa!" sahut Tika, Agam manggut-manggut mengerti. Sebenarnya Agam berharap bisa makan bersama Tika. Namun sspertinya semua harus terkubur bersama jawaban Tika.
__ADS_1
Tika melihat Hana dan Hanif makan dengan tenang. Keduanya makan dengan sangat lahap. Selama seminggu Tika jauh dari Hana dan Hanif. Hidup Tika seolah hampa dan bercahaya. Hana dan Hanif laksana cahaya dalam gelap jalan hidup Tika. Namun demi keduanya Tika harus mampu bertahan. Tika tidak akan menangis meski hatinya menjerit. Takkan pernah Tika mengeluh. Meski Tika merasa lelah melewati semuanya. Tika akan selalu tegar bak karang di tepi laut. Hanya demi senyum Hana dan Hanif.
Sembari menunggu Hana dan Hanif makan. Tika kembali membuka laptopnya. Tika mencurahkan seluruh waktunya pada pekerjaan. Bukan demi kesuksesan, Tika ingin melupakan rasa sakit yang tak pernah bisa dilupakan. Tika seakan berlari dari kenyataan pahit yang sedang dia alami. Namun bukan dengan cara yang salah. Tika merubah dirinya menjadi pribadi yang berguna untuk semua orang. Tak pernah Tika larut dalam luka hatinya.
Setelah Hana dan Hanif selesai makan. Tika mematikan laptopnya. Dia menepati janjinya pada Hana dan Hanif. Tika memanggil Randy asistennya. Tika meminta dia yang menggantikan rapat dengan Agam. Terlihat Zalwa juga datang. Dia selalu berada di samping Agam sebagai rekan dan teman yang baik. Tak ada lagi rasa marah atau cemburu dihati Tika. Semua Tika pasrahkan pada kehendak-NYA. Kini hanya Hana dan Hanif alasan Tika bertahan dan tetap tersenyum.
"Tika, aku ikut dengan kalian! Aku akan meminta Zalwa yang menggantikanku!" ujar Agam, Tika menggeleng lemah. Sekilas Tika melihat raut wajah kecewa Agam. Namun semua sudah tak sama. Secara hukum mungkin Agam dan Tika masih suami istri. Sedangkan secara Agama dan batin. Keduanya tak lagi terikat satu dengan yang lain. Pertemuan diantara keduanya hanya demi pekerjaan dan Kedua buah hati mereka.
"Tidak perlu, aku akan mengajak Nina. Dia yang akan membantuku mengasuh Hana dan Hanif. Kami hanya pergi ke beberapa toko. Setelah itu aku akan mengantar mereka ke rumahmu. Banyak hal yang telah berubah, semua tak lagi sama seperti yang kamu harapkan. Maaf aku tak lagi bisa membuka hati untukmu. Kita akan mengenal sebagai seorang teman dan rekan. Kita akan membesarkan Hana dan Hanif dengan penuh kasih sayang!" ujar Tika, Agam menunduk lemah.
Agam melihat Hana dan Hanif berjalan bersama. Punggung mereka semakin menjauh dari pandangannya. Tika menggendeng kedua tangan mungil Hana dan Hanif. Nina mengekor dibelakangnya, mereka masuk ke dalam salah satu toko. Meski tubuh Hana dan Hanif ada bersama Agam. Namun hati mereka seakan bersama Tika. Kebimbangan Agam yang membuat Hana dan Hanif membagi dirinya. Tak lagi utuh, semua hanya karena keegoisan para orang dewasa.
"Kartika Putri Anggara!" sapa seseorang dengan lantang, sontak Tika menoleh. Terlihat seseorang dengan penampilan yang sangat rapi. Tika menatap lekat laki-laki yang sedang menyapanya. Dengan senyum paling ramah, dia melihat ke arah Tika.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Tika, dengan perlahan dia berjalan menghampiri Tika. Bukan maksud Tika menatap laki-laki itu. Tika hanya ingin mengetahui, siapa laki-laki yang menyapanya? Sekilas terlihat dia bukan orang sembarangan. Penampilannya yang rapi, kacamata yang melekat di kedua mata indahnya. Seakan ingin menunjukkan, kepintaran dan wibawanya.
"Dirgantara Eka Mahendra!" ujarnya lirih, sembari mengulurkan tangan pada Tika. Sontak Tika menangkupkan tangan. Dengan raut wajah heran, Tika mencoba mengingat nama yang seakan pernah dia dengar. Nama yang asing, tapi sangat familiar dalam ingatannya.
"Mama!" teriak Hana dan Hanif, lalu memeluk erat kaki Tika. Dirga langsung menoleh ke arah Tika.
"Putramu!" ujarnya lirih, Tika mengangguk pelan.
Hana dan Hanif berlari menghampiri Tika. Mereka melihat Tika berbicara dengan seseorang. Maka dari itu dia kembali menghampiri Tika. Dirga tersenyum ramah pada Hana dan Hanif. Dengan senyum dan tatapan teduh, Hana dan Hanif membalas senyum Dirga.
"Kalian anak-anak yang manis. Bolehkah om Dirga memeluk kalian?" pinta Dirga, sembari berjongkok dan merentangkan tangan pada Hana dan Hanif. Tanpa bertanya pada Tika, Hana dan Hanif mengangguk. Mereka keluar dari balik kaki Tika. Menghampiri Dirga yang merentangkan tangan. Tika heran melihat sikap ramah Hana dan Hanif. Mereka bukan tipe anak yang mudah, sangat sulit dekat dengan Hana dan Hanif. Dirga memeluk mereka erat, lalu mencium kepala mereka bergantian. Jelas terlihat ketulusan dari tatapan Dirga.
"Aku sepupu jauh Silvia Mahendra. Aku mengenalmu, tapi kamu tidak mengenalku. Aku sempat ragu menyapamu. Namun harum parfum yang sama membuatku yakin. Aku tidak salah mengenali orang!" ujarnya lirih, menjawab rasa heran Tika.
__ADS_1
"Anak manis, jaga mama kalian. Dia sangat berharga, jangan buat mama sedih. Kalian semangat dan senyumnya!" ujar Dirga, Hana dan Hanif mengangguk mengerti.
"Senang bertemu denganmu, salam untuk suamimu. Laki-laki beruntung yang bisa menjadi imammu!"