Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Maafkan Keegoisanku


__ADS_3

"Papa!" ujar Tika lirih sembari menggenggam tangan Dimas. Tika mencium punggung tangan yang mulai menua. Meski usia Dimas tak lagi muda, tapi gurat ketampanan masih nyata terlihat.


Tepat setelah Arkan mengantar Vahira menuju penginapan. Tika langsung masuk ke dalam ruang ICU. Dia menemani papa tercintanya. Laki-laki yang takkan pernah mengkhianatinya. Dimas bukan laki-laki seperti Agam yang tak pernah tegas. Cara Dimas mempertahankan cinta masing-masing berbeda. Agam tidak mengerti akar masalah yang akhirnya membuat pernikahan diantara mereka hancur.


Cincin yang tersemat manis di jari Tika telah terlepas. Status Tika bukan lagi istri sah Agam. Ketuk palu saat itu menandakan status yang tak lagi sama. Hubungan Tika dan Agam kini sebatas rekan dalam mengasuh Hanna dan Arkan. Tak lagi ada hubungan cinta diantara mereka. Meski rasa cinta itu ada, semua telah berubah menjadi rasa saling membantu dalam pengasuhan kedua buah hatinya.


Perceraian sesuatu yang sangat dibenci dan salah. Namun akan terasa benar, ketika ego dan angkuh menguasai hati. Kisah cinta dosen dan mahasiswanya kini telah berakhir. Menyisakkan dua hati yang terpisah dan dua hati yang saling terpaut. Hati Agam dan Tika yang tak lagi bersama. Serta hati Hanna dan Arkan yang takkan terpisah selamanya.


Tika menatap wajah tirus Dimas. Air mata Tika terus menetes. Seakan membayar lima belas tahun yang terlewat. Tika mencurahkan segala penyesalan dan pembenarannya. Alasan paling dasar, kenapa Tika mampu pergi tanpa ingin ditemukan? Hanya pada tubuh lemah Dimas kini Tika bersandar.


FLASH BACK OFF


"Ada apa anda ingin bertemu denganku? Sebentar lagi putusan hakim. Sepenuhnya aku akan mengembalikan putramu. Tidak perlu lagi anda merasa ketakutan ditinggalkan mas Agam. Aku yang pergi menjauh darinya!" ujar Tika tegas dan dingin.


"Sebab itu aku datang menemuimu. Aku ingin meminta belas kasihanmu. Seorang ibu datang padamu meminta nyawa dan hidup putranya darimu!" ujar ibunda Agam, Tika mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


Tika menatap ibunda Agam lekat. Berharap ada makna yang tersirat dari perkataannya. Tika mencari teka-teki yang coba dikatakan ibunda Agam. Namun usaha Tika sia-sia, ibunda Agam mampu menyimpan rahasia yang sedang dipikirkannya. Tak dapat Tika menebak.raut wajah ibunda Agam.


"Katakan apa yang anda harapkan dariku? Sejujurnya aku lelah dengan semua ini. Aku tak sanggup lagi berada dalam pusaran kemelut hubungan anda dengan mas Agam. Anda sudah menghancurkan semua yang kumiliki. Tak ada lagi yang tersisa. Lantas apa yang anda harapkan dariku!" ujar Tika dingin dan ketus, ibunda Agam terdiam.

__ADS_1


Jelas ibunda Agam menyadari, betapa dia telah menghancurkan kebahagian putranya. Namun meminta Tika kembali bersama Agam. Seakan hatinya tidak sanggup mengatakannya. Kecemburuan yang dirasakannya membutakan mata hatinya. Ketakutan kehilangan Agam harus dibayar dengan kehancuran Agam.


Semenjak surat perceraian Tika dan Agam masuk di pengadilan. Agam mulai sering diam melamun. Tak ada lagi hidup yang dirasakan Agam. Jangankan senyum yang terutas, sekadar untuk makan saja. Agam sudah tak lagi bersedia. Agam menghabiskan waktunya di meja kerja. Dia melupakan hari yang berputar di sekitarnya. Tak ada air mata yang menetes dari kedua mata Agam. Namun sikap diam Agam sudah cukup mengatakan kehancurannya. Dia tidak lagi mengingat ibu dan ayahnya. Semua terlupakan bersama dengan perpisahan dirinya dan Tika.


Ibunda Agam terpuruk melihat kehancuran Agam. Tak ada semangat yang terlihat dari putranya. Agam hancur tak bersisa semua, karena perpisahan yang dia ciptakan. Dengan tangannya sendiri, dia menghancurkan hati putranya. Tangan yang dulu membelai dan mendekap hangat Agam. Kini tangan itulah yang menghancurkan hidup Agam.


"Tika, maafkan aku yang telah membuatmu dan Agam berpisah. Seandainya aku bisa berharap. Bersediakah kamu membatalkan perpisahan ini!" ujar ibunda Agam, Tika diam membisu. Ada rasa tidak percaya mendengar permintaan ibunda Agam.


Orang yang sangat ingin perpisahan dirinya dengan Agam. Tidak mungkin dengan mudah memintanya kembali. Jika tanpa ada imbalan untuk kebaikan itu. Tika merasa takut akan kebahagian yang ditawarkan ibunda Agam. Kebahagian yang sudah sejak lama diperjuangkan tanpa ada kepastian. Kini nyata ditawarkan oleh orang yang ingin menghancurkan.


"Apa yang anda harapkan sebagai imbalan atas kebaikan itu? Aku tidak percaya bila semua itu gratis!" ujar Tika tegas dan dingin, ibunda Agam tersenyum sinis. Seakan membenarkan perkataan Tika. Sontak saja Tika menunduk sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Sudah kuduga!" ujar Tika lirih hampir tak terdengar.


"Tandatangani berkas itu. Semua yang aku inginkan ada di dalam. Termasuk kamu harus bersedia menerima Zalwa sebagai istri kedua Agam. Satu hal lagi, hapus nama keluarga Anggara yang ada di belakang namamu!" ujar ibunda Agam sinis, Tika menggeleng seraya menyodorkan kembali berkas ke arah ibunda Agam.


"Aku tidak berhak melarang mas Agam menikah dengan Zalwa. Jadi tidak perlu anda menerimaku dengan syarat itu. Satu hal lagi, aku terlahir dari keluarga Anggara. Jadi tidak akan pernah aku meninggalkan mereka. Seandainya mas Agam meminta itu beberapa tahun yang lalu. Aku akan melakukannya, tapi tidak akan pernah aku lakukan sekarang!" ujar Tika tegas.


"Jadi kamu menolak semua persyaratanku!" ujar ibunda Agam, Tika mengangguk tegas. Tika menggeser kursi yang didudukinya. Tika memutuskan untuk pulang. Berbicara sesuatu yang sudah pasti hasilnya. Hanya akan membuang-buang waktu.

__ADS_1


"Tunggu Tika, jika memang kamu tidak ingin kembali pada Agam. Tinggalkan dia bersama kedua buah hatimu. Aku tidak sanggup melihat putraku mati perlahan. Sekarang saja dia hidup, tapi seolah mati. Seandainya Hanna dan Hanif tinggal bersamamu. Putraku akan benar-benar tiada dalam kehancuran dan kesedihannya!" ujat ibunda Agam dengan suara serak.


Tika melihat air mata seorang ibu yang menetes demi sang putra. Tika iba melihat ibunda Agam mengemis demi kebahagian Agam. Namun keangkuhan jelas membentengi ibunda Agam. Tika diam tertunduk memikirkan perkataan ibunda Agam. Sudah jelas bila Tika dan Agam terpisah. Hak asuh Hanna dan Hanif akan berada di tangan Tika. Apalagi Agam terbukti bersalah, karena kedekatannya dengan Zalwa.


"Kenapa anda baru tersadar sekarang? Ketika air mata anda tak lagi berarti. Kehancuran putramu nyata ada di depan pelupuk mata anda Meski aku meninggalkan Hanna dan Hanif bersama mas Agam. Belum tentu Agam putramu kembali hidup!" ujar Tika.


"Aku mohon padamu Tika!" ujar ibunda Agam sembari menangkupkan tangan di depan dadanya.


FLASH BACK OFF


"Papa, mungkinkah yang kualami saat ini. Tak lain jalan sama yang dulu papa lewati. Aku merasakan sulitnya hidup jauh dari keluarga. Betapa kosongnya aku tanpa kedua buah hatikua? Namun aku hanya wanita biasa yang tak sanggup terus terluka. Kini aku kembali bukan untuk bersama dengan mas Agam. Aku kembali hanya demi dua buah hatiku dan kalian orang tuaku!" ujar Tika lirih, pada tubuh Dimas yang terbaring tak sadarkan diri.


Tanpa sadar air mata Tika menetes membasahi punggung tangan Dimas. Air mata penuh rasa bersalah telah egois pergi meninggalkan Dimas dan Nissa. Tika merasa malu telah membuat keluarganya hancur. Kini penyesalannya tak lagi berguna, semua berakhir dengan lemah tubuh Dimas.


"Maafkan Tika, maaf!" ujar Tika seraya menangis.


"Tidak ada yang bisa menilai benar dan salah. Hanya Allah SWT sang khalik yang berhak menilaimu. Semua yang terjadi, jadikan pembelajaran diri. Sekarang yang harus kamu lalukan. Perbaiki yang ingin kamu perbaiki, tapi jangan merusak sesuatu yang telah rusak. Hanna membutuhkanmu, amarahnya tadi seolah pantas. Mengingat kamu meninggalkannya dengan memilih pergi dengan Hanif!" ujar Nissa.


"Sesungguhnya Hanna tidak perlu kecewa. Aku tidak pernah memilih pergi bersama siapa? Karena keduanya darah dagingku. Tidak pernah aku berpikir memisahkan mereka. Sebab keduanya sesungguhnya satu, tapi Hanif yang memilih ikut bersamaku. Hidup dalam kesederhanaan yang jauh dari kata mewah!"

__ADS_1


"Dimana selama ini kamu?" ujar Nissa.


"Di tempat dimana tidak ada yang mengenalku? Hidup tanpa nama keluarga Anggara. Melupakan luka yang pernah ada dan aku kembali tanpa sedikitpun luka. Tak ada lagi air mata yang akan menetes. Semua lukaku telah sembuh tak berbekas!" ujar Tika.


__ADS_2