Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dunia yang sempit


__ADS_3

"Pagi dokter Arkan!" sapa Hafidz, Arkan menoleh seraya mengangguk. Dia melihat Hafidz datang menghampirinya. Arkan sengaja datang ke kantin rumah sakit untuk menemui Aura.


Arkan menepatu janjinya sarapan bersama Aura di kantin rumah sakit. Arkan datang lebih awal dari jam yang ditentukan. Lalu tiba-tiba Hafidz datang menemuinya. Dia sengaja menghampiri Arkan. Hafidz ingin menanyakan kebenaran rasa Arkan pada Aura. Meski Hafidz kecewa, tapi pertemuannya dengan Hanna. Membuat hati Hafidz bergetar.


"Pagi kak Hafidz, silahkan duduk!" ujar Arkan ramah. Hafidz membalas sikap Arkan dengan mengutas senyum simpul. Arkan diam menatap Hafidz yang duduk tepat di depannya. Keduanya saling diam, bermain dengan pikiran mereka.


Arkan menyeruput kopi yang dipesannya. Sejujurnya Arkan sangat lelah. Dia ingin segera pulang dan beristirahat. Namun dia terlanjur berjanji pada Aura. Meski tubuhnya lelah, Arkan harus bisa menemani Aura. Arkan tidak ingin melihag Aura kecewa.


"Dokter Arkan atau Arkan? Panggilan mana yang kamu inginkan!" ujar Hafidz, Arkan mendongak tidak mengerti. Arkan menatap Hafidz, laki-laki yang menjadi pesaing mendapatkan restu Abi Salim.


"Arkan, panggil aku Arkan saja. Aku tidak sedang bertugas!" sahut Arkan ramah, Hafidz mengangguk pelan. Lalu duduk di depan Arkan. Kedua laki-laki hebat dalam bidang yang tak sama.


Hafidz melihat Arkan duduk sendiri di kantin rumah sakit. Seketika Hafidz menghampiri Arkan. Hafidz ingin bicara dari hati ke hati dengan Arkan. Menjelaskan masalah yang ada diantara mereka.


"Bagaimana kabar hubunganmu dengan Aura? Kapan kamu akan melamarnya?" ujar Hafidz santai tanpa beban. Sontak Arkan mendongak menatap tak percaya. Dia tak menduga Hafidz menyadari rasanya pada Aura. Bahkan perkataan Hafidz seakan menyetujui rasanya pada Aura.


Arkan menunduk terdiam, seandainya Arkan mampu. Hari ini dia ingin menggenggam tangan Aura. Menjadikan Aura separuh hidupnya. Namun semua masih sangat samar, tatkala Arkan tak berani mempertemukan Aura dengan Tika. Keinginan Tika akan pernikahan Arkan dengan Vahira. Membuat Arkan ragu mengenalkan Aura pada Tika.


"Kenapa kamu diam? Aku sudah ikhlas melepaskan Aura. Abi Salim telah mengatakan semuanya padaku dan orang tuanku. Rencana perjodohan kami sudah dibatalkan. Tak ada lagi yang menghalangi kisah kalian. Kecuali masih ada ganjalan dihatimu!" ujar Hafidz penuh tanda tanya, Arkan mengangguk pelan.

__ADS_1


Arkan menatap Hafidz dengan perasaan gelisah. Rasa cemas yang tak pernah Arkan katakan pada orang lain. Rasa cemas yang sesungguhnya tak pernah nyata adanya.


"Menikah dengan Aura menjadi harapan terbesarku. Namun restu yang kuharap belum kudapatkan. Entah kapan aku bisa menikah dengan Aura? Satu hal yang pasti, saat restu itu ada. Saat itu juga aku meminang Aura. Tak ingin aku menunda menjadikannya makmum dunia akhiratku!" ujar Arkan tegas, Hafidz mengangguk pelan. Dia mengacungkan dua jempol ke depan wajah Arkan.


"Aku percaya, kalian akan segera bersatu. Aku melihat ketulusan dalam cintamu. Takkan hati salah memilih, selama yang kita lakukan benar!" ujar Hafidz, Arkan mengangguk pelan.


"Terima kasih!" sahut Arkan, Hafidz mengedipkan kedua matanya perlahan. Hafidz merasa bahagia, akhirnya dia bisa melihat Aura bahagia. Wanita yang hampir saja menjadi makmum dunia akhiratnya. Nyata kini telah menemukan imam dunia akhiratnya. Rasa cinta yang hadir tanpa ada yang bisa mengendalikannya. Akhir jawaban dari sujud di sepertiga malam dua insan yang saling menyayangi.


"Kak Arkan!" sapa Aura lirih, Arkan dan Hafidz menoleh bersamaan.


Semalam Arkan dan Aura berjanji bertemu di kantin rumah sakit. Setelah membantu Abi Salim sarapan, Aura segera pergi ke kantin rumah sakit. Dia takut Arkan menunggu terlalu lama. Sebab itu Aura bergegas pergi ke kantin. Tiba di kantin, Aura melihat Arkan dan Hafidz duduk di meja yang sama. Aura menghentikan langkahnya. Aura tertegun saat mendengar Arkan dan Hafidz tengah membicarakan dirinya.


Ketiganya diam membisu, sampai akhirnya mereka memutuskan sarapan bersama. Sesekali Hafidz melirik ke arah Arkan yang tengah mencuri pandang. Hafidz terkekeh melihat Arkan yang masih malu-malu mengakui rasanya pada Aura. Sebaliknya Aura seakan canggung berada begitu dekat dengan Arkan.


"Kak Arkan, aku merindukanmu!" teriak Hanna lantang.


Hanna memeluk erat Arkan, Aura dan Hafidz tercengang melihat sikap agresif Hanna. Terlebih Hafidz yang tak mengetahui status hubungan Arkan dan Hanna. Hafidz dibuat terdiam tak bersuara. Ada rasa sakit yang tak biasa. Melihat kedekatan Arkan dan Hanna. Wanita yang tiba-tiba mengusik harinya.


"Hanna, kenapa dia ada disini? Mungkinkah dia sakit? Tapi tidak mungkin, dia terlihat ceria dan bahagia bertemu Arkan. Apa hubungan diantara mereka? Mungkinkah Hanna wanita yang mencintai Arkan, saingan Aura. Kenapa harus Arkan yang dicintai oleh mereka? Sesempit inikah dunia, sampai hidupku berputar diantara Arkan. Seandainya Hanna memang wanita yang mencintai Arkan? Mampukah aku bertemu Arkan lagi? Dia laki-laki yang jelas dipilih oleh dua wanita yang kucintai!" batin Hafidz.

__ADS_1


"Hanna, lepaskan pelukanmu. Ada kak Hafidz dan kak Aura. Mereka akan salah paham!" ujar Arkan, Hanna menggeleng tak setuju. Dia tidak peduli pada pendapat Hafidz atau Aura. Seakan Arkan hanya miliknya seorang. Hanna menganggap sikapnya sangat wajar sebagai seorang adik.


"Memangnya siapa mereka? Apa peduliku bila mereka salah paham? Kecuali kak Aura istrimu, aku akan menuruti perkataanmu. Nyatanya dia hanya temanmu!" sahut Hanna sinis, sontak Aura menunduk malu. Dia canggung saat melihat Hanna. Meski kini dia mengetahui, jika Hanna adik kandung Arkan.


"Hanna, orang akan berpikir kita pasangan kekasih. Sikapmu terlalu berlebihan, apalagi ada kak Hafidz. Sekarang lepaskan pelukanmu!" ujar Arkan tegas, Hanna melepaskan pelukannya. Hanna duduk tepat disamping Hafidz. Sedikitpun Hanna tidak canggung duduk di samping Hafidz. Sebaliknya Hafidz salah tingkah berada di dekat Hanna.


"Kak Arkan tidak seru!" sahut Hanna, lalu meminum kopi milik Arkan.


"Kakak!" teriak Hafidz lantang mengulang perkataan Hanna.


"Iya, kak Arkan kakakku. Ada masalah?" ujar Hanna dingin dan ketus. Seketika Arkan melotot ke arah Hanna. Arkan tidak suka dengan sikap Hanna. Sikap kasar Hanna sangat tidak pantas. Sebagai wanita yang berpendidikan, Hanna terlalu ceplas-ceplos.


"Maaf!" sahut Hanna lirih, sesaat setelah melihat tatapan tajam Arkan. Hanna pribadi pembangkang, tapi sejak bertemu Arkan dan Tika. Hanna menjadi pribadi yang penurut. Hanna tidak ingin kehilangan mereka lagi.


Hafidz menatap Arkan dan Hanna bergantian. Rasa tak percaya masih memenuhi hatinya. Hafidz tak menduga, jika suami calon istrinya. Kini menjadi calon kakak iparnya. Hafidz menggelengkan kepala tanpa henti.


"Kamu putra tuan Agam!" ujar Hafidz, Arkan mengangguk tanpa ragu.


"Aku putra pertama tuan Abdillah Abqari Agam. Sedangkan Hanna adik kembarku. Dia manja padaku, karena selama belasan tahun kami terpisah!"

__ADS_1


" Dunia sangat sempit!" ujar Hafidz lirih.


__ADS_2