Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Janji yang Terucap


__ADS_3

"Hanna sayang, kamu sudah datang? Dimana Hafidz?" Sapa Tika ramah, Hanna tersenyum simpul menjawab semua pertanyaan Tika. Tak ada kata yang layak menjawab semua kegelisahan yang terucap dari bibir Tika.


"Aku berangkat dari kantor. Mungkin sebentar lagi kak Hafidz menyusul. Tadi aku sempat menghubunginya!"


"Baiklah kalau begitu, masuk dan bersihkan dirimu. Istirahatlah sebentar, mama akan kembali ke dapur. Saat makan malam siap, mama akan membangunkanmu!" Tutur Tika lembut penuh kasih sayang.


Hanna mengangguk mengiyakan semua perkataan Tika. Dengan senyum simpul Tika membalas anggukan putrinya. Isyarat dalam sebuah diam yang hanya bisa dimengerti ibu dan anak. Tika jelas memahami galau hati Hanna, sebaliknya Hanna tak sedikitpun ingin menunjukkan lelah batin yang dialaminya pada Tika. Pengertian yang membuat keduanya saling mengenal satu dengan yang lainnya. Ikatan yang tak mudah dipisahkan, meski waktu pernah memisahkan raga mereka.


"Hanna sayang mama!" Bisik Hanna lembut, dengan pelukan hangat ke arah Tika yang tiba-tiba. Tika terhuyung ke belakang, ketika Hanna memeluknya tiba-tiba.


Namun pelukan Hanna sebagai jawaban suara gelisah hati Tika. Kegelisahan seorang ibu yang terjawab, jika sang putri tak baik-baik saja. Dengan penuh kehangatan Tika membelai rambut Hanna yang tertutup hijab. Tika mencoba menjadi sandaran dalam galau hati Hanna. Dekapan hangat Tika, sesaat menghadirkan ketenangan dalam jiwa Hanna.


"Bersandarlah sayang, mama selalu ada untukmu. Jika bibirmu tak mampu mengatakan kegelisahanmu. Setidaknya biarkan tubuh lelahmu bersandar pada mama. Agar gelisah hati mama terobati. Sejatinya hati seorang ibu, akan merasakan lelah sang putri. Firasat yang nyata membuat seorang ibu hancur. Sebab ada batasan yang membuatnya tak lagi berhak ikut campur. Sejak papa menyerahkan tanganmu pada imam pilihan hatimu. Sejak saat itu mama kehilangan hak menghapus air matamu. Hak yang tak pernah bisa mama serahkan pada siapapun? Sebab air mata yang selalu kamu simpan dalam senyum. Bisa mama rasakan tanpa ada air mata yang menetes. Terima kasih sayang, kamu rela membagi dukamu pada mama. Pelukan ini isyarat, mama masih menjadi tempatmu mencari ketenangan. Pelukan ini sudah sangat cukup mengobati rindu dan gelisah mama. Selamanya mama percaya, kamu kuat menjalani ujian dalam rumah tanggamu. Mama takkan pernah bertanya atau memaksamu bicara, karena diammu isyarat kamu sanggup menjalaninya. Doa mama selalu bersamamu. Jalani pernikahan ini sebagai ibadah karena Allah SWT. Hanya ridho-NYA yang kamu nantikan. Putri mama kuat, akan selalu kuat dan sabar!" Batin Tika sembari mendekap hangat Hanna. Merasakan lelah yang kini dirasakan Hanna putrinya.


Cup


"Hanna, masuklah ke kamarmu. Ambil wudhu dan sholatla. Setelah itu istirahatlah, tubuhmu lelah setelah seharian bekerja!" Pinta Tika, sesaat setelah mengecup puncak kepala Hanna.

__ADS_1


Dalam dekapan Tika, Hanna mengangguk pelan. Hanna melepaskan pelukannya, perlahan berjalan menjauh meninggalkan Tika. Langkah kecil Hanna yang tampak oleh Tika. Menggetarkan hati Tika, menyadarkan Tika putrinya telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Langkah kecil Hanna dulu, karena tubuhnya yang masih kecil. Sebaliknya langkah kecil Hanna saat ini, karena tubuhnya tengah mengandung seorang putra. Anugrah seorang wanita yang sangat dinanti. Rejeki yang teramat besar. Status yang selaku diharapkan oleh wanita bersuami.


"Putri kita kini dewasa. Dia akan segera menjadi ibu. Bukan tangisnya yang akan mengisi hari kita. Melainkan tangis cucu yang akan menggema di rumah ini!" Bisik Agam sembari memeluk Tika dari belakang. Kepala Agam bersandar di pundak Tika. Tangannya memeluk erat tubuh ramping Tika. Sesaat Agam teringat masa mudanya dulu. Saat hatinya terpaut akan satu sosok yang begitu memikatnya.


"Mas Agam mengagetkanku!" Ujar Tika kesal. Tika mencoba melepaskan pelukan Agam, tapi usahanya sia-sia. Dekapan Agam terlalu kuat, Tika tak mampu melepaskan diri dari cengkraman Agam.


"Aku memahami kecemasanmu, tapi percayalah pada Hanna. Selama dia diam, itu artinya Hanna mampu menyelesaikan semuanya. Putriku kuat, dia mampu melewati semua ini. Meski saat ini kita harus melihat lelahnya. Kelak kita akan menjadi saksi kebahagiannya. Aku bangga pada Hanna, dia melakukan apa yang tak pernah mampu kulakukan? Aku percaya, kegagalan yang pernah kita alamai. Takkan dialami oleh Hanna dan Hafidz, karena pengertian diantara mereka. Awal dibangunnya rasa percaya, pengokoh cinta mereka yang terus diuji!" Tutur Agam tepat di telinga Tika.


"Aku tidak salah dengar, kenapa aku merasa tak mengenalmu?" Ujar Tika menggoda Agam.


"Tuan Agam, seandainya bijak ini ada saat lima belas tahun yang lalu. Mungkin Hanna dan Arkan memiliki adik yang lain. Namun waktu yang memisahkan kita, bukan hanya menyisakan duka dalam hatiku. Melainkan telah mengembalikan Agam imam yang kupilih!"


"Maaf!" Ujar Agam lirih, Tika menggeleng lemah. Tika berjalan maju ke arah Agam, menangkup wajah tampan Agam yang menua.


Cup


"Aku tak pernah marah dengan sikap lemahmu. Sebaliknya aku selalu bangga dengan ketulusan hatimu. Mungkin yang pernah terjadi takkan pernah bisa diubah. Waktu yang hilang takkan pernah kembali. Namun percayalah, cinta kita akan abadi. Jika bijakmu tak pernah aku ada untukku. Aku berharap, bijakmu ada untuk melindungi Hanna dan Arkan. Bimbing mereka dalam langkah hidupnya. Jadilah ayah yang mampu menjadi sandaran, bukan orang tua yang arogant dengan pemikiran benarnya!" Tutur Tika lirih, sesaat setelah mengecup kening Agam.

__ADS_1


"Tika!"


"Aku tak pernah lelah menunggu kedewasaanmu. Hal yang sama tengah dilakukan Hanna. Menunggu keikhlasan seorang ibu membagi kasih sayang putranya!"


"Aku mencintaimu Tika!"


"Aku tahu itu!" Sahut Tika sembari mengangguk.


"Aku tahu besar cintamu mas Agam. Alasan aku terus bertahan dengan rasa ini. Meski dulu aku rasa ini harapan yang tak pasti. Namun aku selalu percaya. Kita akan bersama kembali, karena sejatinya kita dua hati yang terpaut dan saling melengkapi. Kini cinta kita menjadi perisai dan sandaran buah hati kita. Agar mereka mampu melewati semua ujian hidup dengan tegak tanpa air mata atau keluhan. Sebesar cintamu padaku, sebesar itu pula rasa percaya dan cintaku padamu. Tak ada kata selamanya dalam hidup, tapi selama napasku berhembus. Akan kupegang teguh rasa ini. Janji suci yang terucap akan tetap suci, karena saat janji itu terkhianati. Air mataku akan menetes, bukan meratapi melainkan menyucikan kembali asa yang ternoda. Mas Agam, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Aku mencintaimu dengan kurang dan lebihmu!" Batin Tika, sembari berjalan tanpa menoleh ke arah Agam.


Tika berjalan menuju dapur, meninggalkan Agam yang terus menatap punggung Tika. Masa lalu yang kelam takkan pernah bisa diubah. Namun masa depan bisa direncanakan, agar tak menjadi kegagalan yang kedua kali.


"Terima kasih atas kesabaranmu!" Batin Agam.



MOHON DUKUNGANNYA...TERIMA KASIH?🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2