
"Hanna masih tidur!" Tanya Agam, Hafidz mengangguk pelan.
"Biarkan saja, mungkin Hanna kelelahan. Tadi mama sempat melihat kaki Hanna membengkak. Hari persalinannya semakin dekat. Hal itu yang membuat Hanna mudah kelelahan!" Sahut Tika, Hafidz terkejut. Kedua matanya terbelalak, kala dia mendengar kondisi Hanna yang sebenarnya.
"Hanna!" Teriak Hafidz, hendak berlari menuju kamar Hanna. Hafidz berniat melihat kondisi Hanna. Namun langkahnya terhenti oleh sebuah tangan kekar.
"Kak Arkan!" Sapa Hafidz lirih, Arkan mengangguk seraya mengutas senyum simpul.
"Kenapa kakak menghentikanku?"
"Biarkan Hanna istirahat, dia baik-baik saja. Apa yang terjadi pada Hanna? Dialami semua ibu, termasuk ibumu saat mengandungmu. Duduklah bersama kami, tenangkan dirimu dulu. Saat kamu tenang, temui Hanna tanpa rasa cemas atau kasihan. Hanna jauh lebih baik, saat melihatmu baik-baik saja!" Tutur Arkan, lalu menarik tangan Hafidz menuju sofa ruang tengah.
Arkan menuntut Hafidz duduk tepat di sampingnya. Berhadapan langsung dengan Agam dan Tika. Nampak jelas kecemasan Hafidz, rasa khawatir ketika mendengar kondisi Hanna yang tak baik-baik saja. Arkan menatap nanar Hafidz. Kegelisahan Hafidz benar adanya. Hanna bukan orang lain, dalam rahimnya tumbuh putra buah cinta mereka. Sehingga sangat pantas Hafidz cemas, takut terjadi sesuatu pada Hanna.
Hafidz menunduk terdiam, tangannya menggenggam sempurna. Bukti kegelisahan yang tak lagi bisa ditenangkan. Keringat dingin Hafidz menetes dari pelipisnya. Tika melihat besar cinta Hafidz. Rasa yang membuat Hanna bertahan menahan semua luka. Semua orang diam membisu, tak ada suara yang terdengar. Napas Hafidz yang memburu, menggema di seluruh ruangan. Suara yang begitu lirih, seolah terdengar begitu keras. Kala hati dan pikiran diliputi rasa cemas akan orang yang paling disayangi.
__ADS_1
"Mama merasakan kecemasan hatimu, tapi percayalah semua baik-baik saja. Kondisi Hanna saat ini, sangatlah biasa pada ibu hamil. Mama yakin Hanna mengetahui kondisinya. Hanna mungkin keras pada dirinya, tapi dia takkan sanggup mengorbankan putranya!"
"Kenapa Hanna menyimpan sakitnya sendiri? Ataukah aku yang lalai sebagai suami? Sampai aku tak pernah menyadari kondisi Hanna!" Ujar Hafidz, Arkan menepuk pundak Hafidz pelan. Sekilas Arkan menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan salahmu atau Hanna. Keadaan yang membuat kalian harus bersabar. Hanna pribadi yang tegas dan keras. Bukan ingin melihatmu lemah tak berdaya. Hanna melakukan semua ini, agar semua tetap tenang. Hanna cukup bahagia melihatmu tersenyum. Kecemasanmu hanya akan membuat Hanna lemah!"
"Kak Arkan!" Ujar Hafidz tak mengerti, Arkan mengedipkan pelan. Agam dan Tika mengangguk, menyetujui perkataan Arkan.
"Hanna lemah saat melihatmu lemah, dia akan kuat selama kamu bahagia. Sejak dulu Hanna tak pernah mengeluh. Sekali dia mengeluh pada kami. Saat Hanna melihatmu bimbang dan gelisah akan pendapat Salma tentangnya!"
"Kenapa kami harus marah? Hak setiap ibu merasa takut kehilangan kasih sayang putranya. Air mata dan tetes keringat seorang ibu saat mengandung dan melahirkan. Selamanya takkan pernah bisa ditebus oleh harta atau kasih sayang putranya. Rasa sakit yang terasa oleh bundamu, takkan sanggup kamu tanggung. Biarkan hari ini Hanna merasakan sakit itu. Meneteskan air mata dan keringat yang sama seperti bundamu. Agar Hanna putriku, memahami alasan Salma bersikap seperti itu!" Tutur Tika lembut dan hangat, Hafidz menunduk semakin dalam.
"Maaf atas duka yang dirasakan Hanna. Tak sepantasnya Hanna merasakan semua ini. Kebahagian yang kujanjikan pada Hanna, tak lagi bisa kutepati. Cinta tulus yang kutawarkan pada putri kalian. Ternoda oleh keegoisan ibu yang melahirkan. Ketakutan tanpa alasan, membuat bunda berpikir Hanna akan merebut posisinya dalam hidupku!" Ujar Hafidz lirih penuh penyesalan.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang salah atau benar saat ini. Apa yang dirasakan Hanna? Tak pernah membuat kami menyesal menyerahkannya padamu. Bersamamu Hanna semakin dewasa, dia belajar memahami luka orang lain. Hanna putriku tak lagi sama, dia bahagia bersamamu. Cintamu membuatnya memahami arti mencintai. Putriku hangat dan penuh cinta!" Sahut Agam tegas, Arkan mengangguk tanpa ragu.
__ADS_1
Tika tersenyum di balik cadarnya. Pengertian yang dikatakan Agam. Membuat hati Tika bergetar, dia melihat kasih sayang Agam yang begitu tulus pada Hanna. Bukan mengingkat atau memaksakan kehendak. Melainkan melindungi tanpa ikut campur. Layaknya sikap orang tuanya dulu, selalu percaya pada keputusan Tika. Yakin jika suatu saat putri kecilnya akan bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Betapa rendahnya aku, sebaliknya betapa hebatnya keluarga ini. Semua yang dirasakan Hanna, takkan dengan mudah dipahami oleh keluarga lain. Mereka akan langsung menghakimi, bahkan mungkin menjauhkan Hanna dariku. Sebaliknya keluarga ini selalu mendukungku ada di samping Hanna. Tanpa melihat sakit putri yang disebabkan oleh keluargaku!"
"Hafidz, kehadiranmu bagai cahaya dalam hidup Hanna. Kamu menjadikan hari-hari Hanna berwarna. Memang benar Hanna kami tersakiti, tapi tak bisa kami pungkiri. Kamu laki-laki yang membuat Hanna kami bahagia. Jadilah kuat demi Hanna, jangan lemah hanya karena melihat luka Hanna. Istrimu bukan wanita tanpa hati, sehingga tega memisahkan ibu dari putranya. Namun putriku bukan wanita pemberani, dia butuh kuatmu untuk bersandar!"
"Papa, maafkan aku!" Sahut Hafidz, Agam menggeleng lemah.
"Aku mengatakan semua ini bukan untuk mendengar kata maafmu atau melihat rasa bersalahmu. Aku ingin melihat Hafidz menantuku kuat dan selalu percaya akan cinta Hanna putriku. Jika kami saja yakin Hanna bahagia bersamamu, lantas kenapa kamu pesimis akan kebahagian dalam pernikahan kalian?" Tutur Agam bijak.
"Pertemuanmu dengan Hanna bukan tanpa alasan. Pernikahan kalian bukan sekadar hubungan dalam pandangan orang. Kalian berdua bersatu dalam pertalian halal. Semua atas kehendak-NYA. Jadi percayalah Allah SWT menyatukan kalian, karena kalian ada untuk saling melengkapi!" Ujar Arkan tegas, Hafidz diam lalu mengangguk pelan.
"Ya Rabb, kebaikan apa yang pernah aku perbuat? Sampai Engkau mempertemukanku dengan keluarga sebaik dan sebijak ini. Memang sempurna itu tak pernah ada. Namun keluarga ini terlihat sempurna dalam pandangan dan pikiranku. Betapa beruntungnya aku mengenal dan menjadi bagian keluarga mereka. Salahku tak pernah membuat mereka marah, malah membuatku merasakan kasih sayang tulus mereka. Aku menantu dalam keluarga ini, tapi aku seolah putra kandung mereka. Ya Allah, seandainya aku bisa meminta. Biarkan aku terus menjadi bagian keluarga ini. Jangan jauhkan aku dari nikmat terindah-MU, aaamiin!" Batin Hafidz dalam lamunannya.
"Terima kasih kak Arkan selalu mendukungku. Aku tidak akan berjanji, tapi aku akan berusaha membahagiakan Hanna. Dia alasan bahagiaku, ibu dari anak-anakku kelak!" Ujar Hafidz tegas, Arkan menggangguk sembari menepuk pundak Hafidz pelan.
__ADS_1
"Aku serahkan kebahagian putri kecil kami padamu!" Sahut Arkan lantang, di sambut anggukan kepala dan tawa dari Agam dan Tika.