Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sarapan yang Berkesan


__ADS_3

"Selamat pagi bunda!"


"Pagi Hanna!" Sahut Salma dingin, Hanna tak terkejut dengan sikap dingin Salma.


Dengan santai Hanna duduk di depan Salma. Hanna membalik piring, lalu mengisinya dengan sehelai roti lapis coklat. Segelas susu segar, sudah tersedia di samping Hanna. Tanpa banyak bicara, Hanna memakan sarapannya pagi ini. Sikap yang sama selama beberapa bulan terakhir. Dingin tanpa ada yang bicara. Saling mengacuhkan dan tak mengusik satu dengan yang lain.


Hafidz yang selalu datang telat saat sarapan. Sempat berpikir Hanna yang tak pernah lagi ingin sarapan bersamanya. Namun semua pemikirannya salah. Kebenarannya tak lain, karena sikap dingin Salma. Sikap yang membuat Hanna tak lagi betah berlama-lama di meja makan. Hanna tak pernah keberatan, Salma tinggal di rumahnya. Hanna bukan tipe menantu yang egois. Dia tidak akan membuat seorang ibu jauh dari putranya. Sebaliknya Hanna pribadi yang tak suka diusik. Hanna menghargai keberadaan Salma, sebaliknya Hanna berharap Salma tak mengusik hidupnya.


"Bagaimana kondisi kehamilanmu? Apa cukup sepotong roti untuk pertumbuhannya?" Ujar Salma santai, Hanna diam tanpa menatap Salma. Hanna tak merasa terusik dengan sindiran Salma.


Sikap santai Hanna, seolah jawaban sikap dingin Salma. Jika pendapat Salma takkan pernah berpengaruh dalam hidupnya. Selama ini Hanna hidup dengan baik tanpa perhatian Salma. Begitupun hari ini, Hanna akan baik-baik saja tanpa kasih sayang Salma.


"Kenapa kamu diam? Aku bertanya padamu!" Ujar Salma ketus.


"Maaf, aku pikir bunda hanya basa-basi saja. Tanpa peduli jawaban yang akan kuberikan!"


"Apa maksud perkataanmu? Anak yang ada dalam kandunganmu itu cucuku. Darah daging putraku Hafidz. Aku berhak mengetahui kondisi kesehatannya. Jika sepotong roti yang kamu makan. Gizi cucuku tidak akan terpenuhi!" Tutur Salma sinis, Hanna tersenyum tipis. Hanna merasa perkataan Salma itu lucu. Perhatian yang terlambat dan sangat terlambat.


"Sepotong roti yang aku makan, sudah lebih dari cukup untuk putraku. Dia baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja. Takkan ada sedikitpun kekurangan dalam hidupnya. Aku ada untuk melindungi dan menjaganya!"


"Bagus kalau begitu, kamu harus menjaga keturunanku. Dia penerus keluargaku!"


"Sejak kapan bunda berhak mengakui putraku? Mungkin dia ada di rahimku, karena setetes darah putramu. Namun tak lantas ada hak bunda mengakuinya!" Sahut Hanna dingin, Salma menatap Hanna lekat.


Dua bola mata Salma membulat sempurna. Salma marah mendengar perkataan Hanna. Sebuah ucapan yang seolah tak memperbolekannya mengakui putra Hanna sebagai cucunya. Salma semakin meradang, kala raut wajah Hanna biasa saja. Seakan perkataannya benar adanya. Bukan perkataan yang tanpa sengaja terlontar dari mulut Hanna.


Braakkk


"Jaga sopan santunmu!" Ujar Salma lantang.


"Tidak perlu bunda menggebrak meja. Kak Hafidz akan terkejut, dingin hubungan diantara kita sudah cukup menyiksanya. Jangan biarkan pertengkaran diantara kita, menjadi alasan hancurnya. Bunda bukan anak kecil, bersikaplah layaknya orang tua. Dewasa dan tenang dalam menanggapi masalah, bukan dengan emosi!"


"Hanna, tutup mulutmu!"


"Maaf jika perkataanku melukai harga diri bunda. Namun semua yang kukatakan benar, bunda tak memiliki hak mengakui putraku. Darah putramu, tak cukup menjadikanmu nenek dari putraku!"


"Kamu!" Ujar Salma emosi, tangannya menunjuk Hanna. Perkataan Hanna bak belati yang menancap tepat di jantungnya.


Buuugh

__ADS_1


"Kamu tega!" Ujar Salma lirih, sesaat setelah tubuhnya terduduk di meja makan. Salma memegang dadanya yang mulai terasa sakit. Hanna menatap dingin Salma, tak ada sikap hangat Hanna. Tak ada rasa sayang Hanna pada Salma mertuanya.


"Hanna!" Teriak Hafidz, Hanna menoleh santai. Hafidz berlari ke arah Salma, menopang tubuh Salma yang melemah.


Perkataan Hanna membuat Salma hancur. Sikap kasar Hanna nyata melukai hati Salma. Hanna dengan tegas melarang Salma mengakui darah daging Hafidz sebagai cucunya. Seorang nenek yang dilarang mengakui keturunannya, takkan mampu lagi berdiri tegas.


"Bunda!" Ujar Hafidz lembut, menghapus keringat dingin yang menetes. Hafidz terkejut sekaligus terluka dengan sikap Hanna. Tak pernah Hafidz menyangka Hanna akan bersikap seperti itu.


"Lebih baik aku pergi!"


"Tunggu Hanna!" Panggil Hafidz menghentikan langkah kecil Hanna. Seketika Hanna berhenti, menoleh ke arah Hafidz. Hanna melihat sikap hangat Hanna pada Salma. Diam menahan luka, sikap yang selalu Hanna tunjukkan.


"Ada apa?" Sahut dingin, Hafidz menatap nanar Hanna. Sikap tenang Hanna berbanding terbalik dengan gelisah Hafidz. Tatapan Hafidz mengunci sosok Hanna.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kedua kakimu bengkak, apa tidak terasa sakit? Aku mohon mengeluh dan bersandar padaku. Setidaknya biarkan aku melihat sakitmu. Mungkinkah amarah pada bunda, tak lebih dari kekesalanmu padaku. Kekecewaan akan sosok suami yang tak mampu melihat sakit istrinya? Kebodohan seorang imam yang tak pernah bisa menuntun makmumnya? Ketidakmampuan seorang ayah menjadi pelindung putranya? Hanna sayang, itukah alasanmu melarang bunda mengakui putraku? Hanya bundakah yang tak pantas mengakui putramu? Ataukah kelak aku juga tak pantas menjadi ayahnya? Apa yang harus kulakukan? Seandainya semua itu benar adanya!" Batin Hafidz galau, sembari terus menatap kaki Hanna yang bengkak. Nampak jelas di kedua mata indahnya. Betapa sakit dan susahnya Hanna melangkah.


"Minta maaf pada bunda!"


"Untuk?" Sahut Hanna dingin.


Suara dingin Hanna membekukan hati Hafidz. Sikap keras Hanna mengusik jiwa Hafidz. Mendidihkan darah yang semula hangat, menggetarkan tubuh yang semula terdiam. Hafidz berjalan perlahan menghampiri Hanna. Dua bola mata Hafidz mengunci sosok Hanna. Menampakkan jelas amarah yang tiba-tiba terpanggil.


"Seorang cucu bisa diakui, ketika wanita yang melahirkannya dianggap sebagai menantu. Jika memang putra dalam rahimku keturunan keluargamu. Tanyakan pada bunda, sejak kapan bunda mengakuiku sebagai menantu? Sekalinya bunda menanyakan kondisi putraku, hanya saat bunda ingin menyalahkanku. Menganggapku tak lebih dari ibu yang bodoh. Tak mampu mencukupi atau melindungi darah dagingnya!" Ujar Hanna lantang.


"Hanna, tutup mulutmu!" Sahut Hafidz lantang.


Tangannya terangkat hendak menampar pipi Hanna. Namun entah kenapa tangannya terhenti di udara? Sebaliknya Hanna tak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Hanna menantang Hafidz, saat ingin menamparnya.


"Kenapa berhenti? Lakukan apa kakak inginkan? Aku siap menerima tamparanmu!" Tantang Hanna, Hafidz mengepalkan tangannya. Amarah merasuki jiwanya.


Bugh Bugh Bugh


"Kamu berubah Hanna!" Ujar Hafidz lirih, sesaat setelah meninju dinding rumahnya. Melampiaskan amarah yang menggebu dalam dirinya.


"Aku tak pernah berubah, kakak yang tak pernah mengenalku. Semut kecil akan menggigit, ketika dia merasa terancam. Hal yang sama akan kulakukan, saat aku merasa tersakiti. Aku mulai lelah dengan semua ini!" Sahut Hanna dingin, Hafidz menggelengkan kepalanya pelan. Hafidz tak percaya mendengar perkataan Hanna.


"Aku tak lagi mengenalmu!" Ujar Hafidz tak percaya.


"Aku tahu itu, tak perlu kakak menjelaskannya!"

__ADS_1


"Bunda, kelak akan kukembalikan putramu. Kelak kasih sayang kak Hafidz akan menjadi milikmu sepenuhnya. Namun saat itu terjadi, bunda tidak berhak mengakui putraku sebagai penerusmu. Putraku akan tetap menjadi penerus keluarga besarku. Keluarga kandungku yang berhak atas putraku!" Tutur Hanna lantang, seketika Hafidz menoleh.


"Apa maksud perkataanmu? Aku bukan pinjaman yang perlu dikembalikan. Aku suamimu Hanna, apa sekarang kamu juga lupa akan diriku?" Ujar Hafidz emosi, sembari menahan tangan Hanna. Menggenggam erat pergelangan tangan Hanna. Tanpa Hafidz sadari, Hanna merasakan sakit saat tangannya diremas oleh Hafidz.


"Aku tak pernah lupa, jika kakak suamiku. Namun aku juga tak pernah lupa. Jika bunda tak pernah menganggapku menantu. Kakak bukan barang pinjaman yang kelak harus kukembalikan. Sebaliknya aku bukan wanita penghasil keturunan. Wanita yang harus menyerahkan buah hatinya, setelah dia terlahir. Darahmu mengalir dalam nadinya, tapi di rahimku putraku tumbuh. Dengan bertaruh nyawa aku melindunginya. Jadi hakku memutuskan yang terbaik untuknya. Bunda sama sekali tidak berhak atas putraku, karena dia tak pernah menganggapku ada!"


Plaakkk


"Cukup Hanna, kamu melewati batas!" Ujar Hafidz, sesaat setelah menampar Hanna.


"Hafidz!"


"Om Dirga!" Sapa Hafidz terkejut.


"Sejak kapan tanganmu terangkat pada wanita? Hanna istrimu, ibu dari anak-anakmu. Seharusnya kamu melindunginya, bukan malah menyakitinya!"


"Maafkan Hafidz khilaf!"


"Aku berangkat dulu, Assalammualaikum!" Pamit Hanna, Hafidz menahan tangan Hanna.


"Sayang, maafkan aku!"


"Lupakan saja, aku tidak akan menangis hanya karena satu tamparan!"


"Sayang, aku mohon!"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan!" Sahut Hanna lirih, sembari menepis tangan Hafidz. Hanna berjalan menjauh dari Hafidz. Meninggalkan Hafidz dengan penyesalan yang teramat besar.


"Bencilah aku kak Hafidz, agar kelak mudah bagimu melupakanku!" Batin Hanna.


"Selamanya kamu takkan berubah. Kamu takkan pernah bisa mengerti. Jika Hanna alasan bahagia putramu. Kelak kamu orang pertama yang menangis. Ketika Hanna pergi meninggalkan Hafidz. Saat itu air mata darahmu, takkan mampu menolong putramu!" Ujar Dirga dingin.


"Om Dirga, apa maksud perkataan Om?"


"Hanya orang yang tulus menyayangi, mampu mengerti arti yang tersirat dari perkataanku. Satu hal yang harus kamu tahu, Hanna tak pantas disakiti!" Sahut Dirga tegas.


...☆☆☆☆☆...


MAAF SEBELUMNYA, JIKA BOLEH AUTHOR INGIN BERTANYA.

__ADS_1


"KENAPA SETIAP KALI AUTHOR UP? JARANG SEKALI ADA YANG KOMENT. APA TULISAN AUTHOR JELEK? ATAU TULISAN AUTHOR TAK BISA DIMENGERTI? MAAF JIKA TULISAN AUTHOR TAK LAYAK DIBACA. MAKLUM SAJA PENULIS ABAL-ABAL....MAAF YA PARA PEMBACA YANG BAIK HATI🤗🤗🤗TERIMA KASIH


__ADS_2