
"Kenapa tidak masuk? Hanna butuh kak Hafidz!" Sapa Aura ramah, Hafidz menunduk. Tatapannya kosong tak berarah. Hembusan dingin malam tak sedikitpun mengusik tulangnya.
"Dia butuh Hafidz yang kuat, bukan Hafidz lemah dan tak berdaya sepertiku!" Sahut Hafidz, sesaat setelah menggelengkan kepala.
"Siapapun yang dibutuhkan Hanna? Sudah sepantasnya, kakak ada di sampingnya. Genggaman tangan kakak yang mungkin membawa Hanna kembali. Suara hati kakak yang kelak menyadarkan Hanna. Hembusan napas kakak yang menjadi penghangat tubuh dinginnya. Guratan cinta yang tak mungkin digantikan oleh siapapun? Ikatan hati yang tak bisa diubah dengan hubungan apapu? Percayalah kak, Hanna tidak tidur dan dia selalu menunggumu. Mungkin jasad Hanna terlelap, tapi jiwa dan hatinya terjaga. Menanti cahaya silau kehadiranmu. Menyadarkan dirinta dari tidur panjangnya!" Tutur Aura tegas, Hafidz diam membisu.
Ketika semua orang tenang, bahkan tegar menerima kondisi Hanna. Hafidz satu-satunya orang yang hancur dan rapuh. Ketakutan akan kehilangan Hanna. Kecemasan akan kepergian Hanna. Kegelisahan akan rasa sakit Hanna. Nyata membuat tulang belulang Hafidz remuk. Tubuh tegapnya tak lagi mampu berdiri tegak. Ambruk menghantam lantai marmer rumah sakit. Bersandar pada dinding kokoh rumah sakit yang terasa hampir runtuh menghantam tubuhnya.
Aura berjalan perlahan menghampirinya. Aura melihat Hafidz hancur tanpa pegangan. Semua orang berdiri menopang tubuh mereka yang melemah. Tak ada lagi yang peduli pada kehancuran Hafidz. Sebaliknya Aura merasakan, kesepian yang dirasakan Hafidz. Dukungan yang dinantikan Hafidz, di kala tak ada lagi yang ingin mendukungnya.
"Aura, mungkinkah semua itu!"
"Selama kita percaya, tak ada kata tidak mungkin. Apa kak Hafidz lupa? Kun fayakun, terjadi maka terjadi. Dimana keimanan kak Hafidz, sampai terbersit keraguan akan kekuasaan-NYA!" Ujar Aura mantap, Hafidz semakin terdiam.
Aura duduk bersandar di dinding yang sama dengan Hafidz. Menatap langit-langit rumah sakit, berbanding terbalik dengan Hafidz yang tengah menunduk menatap lantai rumah sakit. Meski dalam posisi yang tak sama, tapi kecemasan dan ketakutan mereka sama. Kejadian menegangkan yang beberapa jam lalu terjadi. Masih jelas terbayang di benak Aura dan Hafidz.
Tepat pukul 00.00 WIB, Hanna dilarikan ke rumah sakit. Kondisi Hanna tiba-tiba memburuk, Hanna mengalami penurunan kesadaran. Tekanan darah yang terlalu tingga, membuat kondisi Hanna memburuk. Apalagi kehamilan Hanna yang sudah memasuki trimester ketiga. Menjadi momok menakutkan bagi keluarga Hanna. Ketakutan itu terjadi malam ini. Tengah malam yang takkan terlupakan, bagi Hafidz dan orang-orang yang menyayangi Hanna.
Setelah hampir dua jam Arkan berjuang, akhirnya kondisi Hanna membaik. Meski Hanna tak sadarkan diri saat ini. Namun organ vital Hanna semakin membaik. Setidaknya Hanna masih akan terus berjuang dengan kondisinya. Melawan rasa sakit, demi buah hati yang disayanginya. Pelita harapan dalam hidup Hanna yang gelam. Secercah cahaya penyemangat Hanna dalam melangkah. Tumpuan Hanna di masa tuanya kelak. Bukti nyata cinta tulus Hanna pada Hafidz yang tak bisa lagi diragukan.
Setelah semua ketegangan yang terjadi, akhirnya nampak kelegaan yang begitu besar. Tak lagi ada kecemasan di mata Agam, kala kedua matanya melihat kesakitan yang dialami Hanna. Tak nampak kegalauan Tika, rasa gelisah akan kehilangan putri kecilnya yang malang. Tak terlihat lagi kegusaran Arkan sang kakak, tangis ketakutan Savira sahabat dekat Hanna. Semua musnah kala Arkan keluar dari ruang IGD. Seolah sang fajar yang menyinari pagi. Arkan keluar membawa secercah harapan yang hampir memudar.
"Aura, kenapa semua terjadi padaku? Kebahagian yang kunantikan akan segera hadir. Lantas haruskah semua hilang? Jika aku harus memilih, antara putraku atau Hanna? Lebih baik aku tidak memilih, aku tidak akan pernah siap memilih!"
"Namun hidup harus memilih, karena tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Di sisi terang, selalu ada gelap yang menyapa. Di kala bahagia, ada duka yang menyergap. Di saat tawa, air mata datang mengikuti. Semua ada ketimpangannya, karena itu warna dan hakikat hidup sebenarnya. Egois jika kakak ingin kesempurnaan tanpa kecacatan. Percaya atau tidak air mata ada dengan hikmahnya. Air mata terkadang datang untuk membersihkan mata hati kita. Mengingatkan kita akan kebahagian yang tak terbatas, karena di saat kita menangis dan terluka. Saat itulah kita ingat akan Allah SWT, kita ingat akan besar nikmat yang sudah terasa. Nikmat yang tanpa sadar terlah kita ingkari!" Tutur Aura hangat, Hafidz diam membisu.
Hafidz mencoba mencari cahaya terang dalam perkataan Hanna. Hafidz merasa ada tamparan keras menyentuh hati dan jiwanya. Hafidz malu akan kekufurannya selama ini. Dia mulai lupa akan hubungannya dengan Allah SWT. Hafidz larut dalam kehidupan dunia. Sibuk mengejar kebahagian yang nyata semakin menjauh dari hidupnya.
"Apa ini teguran atas kelalaianku?" Ujar Hafidz lirih, Aura menoleh. Tatapan Aura datar, seolah bingung harus menjawab apa? Namun satu hal yang pasti, Apa yang terjadi memang harus terjadi?
__ADS_1
"Jika ini teguran untuk kelalaianmu, lalu yang terjadi padaku apa? Aku tak pernah lupa akan kewajibanku, aku menyebut nama Allah SWT dalam setiap suka dan duka di hidupku. Aku memanjatkan doa dalam sujud, menghiba keridhoan-NYA akan kebahagian dalam pernikahanku. Namun nyatanya aku harus menerima diriku tak sempurna. Aku tak dapat menolak sedih ini. Aku juga tidak bisa meraih kebahahian itu. Hukumankah ini atau ini bentuk kasih sayang Allah SWT padaku?"
"Aura!" Sahut Hafidz lirih.
Aura menoleh seraya mengedipkan kedua mata indahnya. Ada senyum simpul di balik cadarnya. Dia melihat tatapan Hafidz yang mulai menyadari kesalahannya. Aura merasakan jelas kegalauan hati Hafidz. Sekaligus pengertian yang mulai ada di hati Hafidz.
"Iya kak Hafidz, aku dan kakak mengalami hal yang sama. Namun dalam kondisi yang berbeda, rasa lemah yang sama dengan harapan yang tak sama. Namun percayalah, semua ada di posisi yang seharusnya. Jika kita percaya akan ketetapan-NYA. Niscayakita juga yakin akan kebaikan dan hikmah di balik rasa sakit itu. Kelak kita akan menyadari, betapa Allah SWT sangat menyayangi kita? Walau terkadang rasa sayang itu dengan teguran atau rasa sakit. Kesakitan yang kelak menuntun kita kembali mendekat pada-NYA. Bersyukurlah kak Hafidz, saat Allah SWT terus menguji imanmu. Jika Allah SWT berkenan, DIA tidak akan menguji atau mengingatkanmu. Melainkah Allah SWT akan menjauh darimu, karena sejatinya kita yang membutuhkan pertolongan-NYA. Bukan Allah SWT yang mengharapkan iman kita!"
"Aura!"
"Hemm!"
"Bodohnya aku!"
"Kak Hafidz tidak bodoh, tapi dunia telah membuat kakak lupa akan hakikat hidup sebenarnya. Kakak mengejar sesuatu yang telah tertulis, rezeki yang sudah ditetapkan untukmu. Rezeki yang seolah kurang, meski sesungguhnya rezeki kakak melebihi orang lain. Jika Hanna diam dengan sakitnya, itu tak lain karena diri kakak yang berubah. Hafidz yang menggetarkan hatinya dulu, imam yang teguh akan iman. Sedangkan hari ini aku melihat, Hafidz yang lupa akan iman. Bukan ingkar akan Allah SWT, tapi kakak menempatkan Allah SWT setelah urusan dunia. Bukan kak Hafidz ini yang aku kenal, jika mungkin kembalilah. Temukan kembali iman yang dulu ada di hatimu. Keteguhan yang tak mudah goyah oleh dunia!"
"Hanna tidak kecewa dengan perubahanmu. Namun hanna menyesal telah menjadi alasan perubahanmu. Dulu saat kakak bertemu dengan Hanna, sosokmu begitu santun dan pribadimu tegas. Kini setelah mengenal Hanna, kakak perubah lebih buruk. Alasan Hanna kecewa, menyalahkan dirinya sendiri!" Ujar Aura tegas, Hafidz diam membisu.
"Maafkan aku Hanna, maaf!" Ujar Hafidz.
"Katakan itu pada Hanna, dia menanti dan merindukan suaramu. Buktikan pada Hanna, kamu tak berubah. Kamu tetap Hafidz yang dulu, kuat menghadapi apapun!" Ujar Aura, sembari berdiri.
Aura berdiri menjauh dari Hafidz, kala dia melihat Arkan berjalan perlahan ke arahnya. Aura tidak ingin ada salah paham, meski Aura sudah menjaga batasan diantara mereka. Namun hubungan masa lalu dengan Hafidz, takkan dengan mudah terlupakan. Akan ada rasa kecewa di hati Arkan, walau kata tak terucap.
"Aura, salahkah jika aku tak mampu kuat di depan Hanna!" Ujar Hafidz, Aura menoleh lalu menggeleng.
"Jika Hanna alasan lemah kakak, sebaliknya lemah kakak alasan rapuh Hanna!"
"Aku tak sanggup bersikap tenang. Hanna segalanya dalam hidupku. Membayangkan kehilangan Hanna saja aku tak mampu. Aku begitu takut kehilangannya!"
__ADS_1
"Berwudhulah kak, sholat dua rakat. Sebut nama Hanna di sujud malammu. Pinta Hanna di sepertiga malammu. Hanya pada-NYA sang pemilik hidup semua akan kembali. Maka menghiba pada-NYA, agar Hanna kembali di samping kita. Istri mampu mengorbankan segalanya demi suami, karena ridho suami penolong istri dunia akhirat!" Ujar Aura, Hafidz mengangguk pelan. Mengerti makna yang tersirat dari perkataan Aura.
"Hafidz, Hanna sudah baik-baik saja. Savira masih terus menjaganya. Jika kamu ingin menemuinya, masuklah. Mungkin kamu bisa membantu Hanna tersadar kembali!"
"Kak Arkan!" Sapa Hafidz lirih dan lemah.
"Percayalah, aku akan berusaha sekuatku. Hanna bukan hanya istrimu, dia adik kecilku. Sepenuh jiwa aku akan menolongnya!"
"Terima kasih kak!" Sahut Hafidz, sembari memeluk Arkan.
"Kak Arkan!" Sapa Aura, sesaat setelah Hafidz pergi.
"Hemm!"
"Kak Arkan marah!"
"Aku tidak marah, tapi hati ini terasa sakit. Entahlah sayang, kenapa hatiku sakit melihatmu dekat dengan Hafidz? Dia laki-laki yang dipercaya abah menjadi imammu!" Ujar Hafidz lirih.
Hafidz berjalan menuju ruang IGD. Tepat di depan pintu, langkah kakinya terhenti. Air mata Hafidz menetes, kedua kakinya gemetar. Tak lagi Hafidz mampu melangkah. Tanpa dia sadari tubuhnya terhuyung.
"Berwudhu Hafidz, tenangkan dirimu. Hanna akan baik-baik saja. Jika kamu lemah, siapa yang akan menjaga putra kalian? Demi Hanna dan putramu bertahanlah. Kamu kuat, harus selalu kuat!" Bisik Agam sembari menopang tubuh lemah Hafidz.
"Papa!"
"Papa tahu, temui Hanna setelah kamu tenang. Kami akan menjaga Hanna, percayakan Hanna pada kami!"
"Baik pa!" Sahut Hafidz disertai anggukan kepala.
"Sayang, maafkan aku!" Batin Hafidz pilu.
__ADS_1