
Hari ini Tika ada janji bertemu dengan pemilik perusahaan penerbit. Selama ini Tika selalu berhubungan dengan asisten pribadi pemilik perusahaan penerbit. Khusus hari ini mereka mengundang Tika bertemu langsung dengan sang pemilik.
Seperti biasa Tika selalu menyamar saat bertemu dengan pihak penerbit. Tika selalu memakai masker, tapi kali ini sengaja Tika menggunakan cadar. Agar identitasnya tidak pernah diketahui. Semenjak menikah dengan Agam, Tika membatasi pergaulannya dengan lawan jenis. Tika hanya mengenal Zahro dan bik Asih, selain mereka pertemuannya dengan Rayhan sedikit mengembalikan teman masa kecilnya.
Tika berjanji bertemu di restoran yang lumayan terkenal. Sengaja Tika datang setengah jam lebih dulu. Agar dia bisa leluasa melihat sosok yang akan dia temui. Restoran ini cukup nyaman dan rapi. Ada sekat di tiap meja, sehingga para pengunjung tidak akan saling berdesakkan. Tiap meja dibatasi dengan pembatas kayu, yang menutupi sisi sampingnya. Sehingga tiap pengunjung memiliki privasi meski masih terbuka.
Lama Tika menunggu, tapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Demi melawan kebosanan, Tika mengeluarkan laptop miliknya. Jari-jari indahnya mulai bermain di atas keyboard laptop. Tika menulis menuangkan ide-idenya.
Samar terdengar suara dari balik kayu penyekat. Suara yang sangat dikenalnya. Jantung Tika berdegub hebat, seakan dia berlari mengejar sesuatu. Tika terdiam membisu, mendengarkan kata demi kata yang terucap. Tubuh Tika seolah membeku, mematung mendengar sesuatu yang tak seharusnya dia dengar.
"Agam, ada apa kamu memanggil kami kemari. Kamu juga sengaja mengajak Salwa kemari. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Katakan dengan jelas, agar kami mengetahuinya!" ujar Ilham yang tak lain ayah Agam.
Siang ini di hari yang sama dengan Tika. Agam meminta bertemu dengan orang tuanya. Perkataan Nissa dan Dimas kedua orang tua Tika. Membuka mata hati Agam, bahwa semua sudah harus diputuskan. Jika memang Agam tak lagi mampu melindungi Tika. Sudah sepantasnya Agam melepaskan Tika. Sebuah pemikiran yang menakutkan bagi Agam. Tak pernah dia berpikir sejauh itu, untuk pernikahannya. Namun sikap orang tua Agam, tak sepantasnya orang tua. Jika memang akan ada yang terluka. Itu bukan Tika, tapi agam yang harus hancur dan terluka.
"Ayah, Agam sengaja mengundang kemari. Sebab Agam sudah membuat keputusan. Agam sudah lelah dan tak sanggup menjalani pernikahan yang mulai dingin. Hari ini Agam sengaja menemui kalian berdua. Agam ingin meminta restu untuk mengembalikan Tika pada orang tuanya!" ujar Agam lirih, kedua bola mata orang tua Agam membulat sempurna. Mereka terkejut sekaligus senang, akhirnya Agam membuat keputusan besar. Salwa sedari awal menunduk, dia penyebab runtuhnya pondasi rumah tangga Agam dan Tika.
Sebaliknya Tika yang mendengar keputusan Agam, tanpa sadar meneteskan air mata. Bibirnya bergetar hebat di balik cadar yang dia pakai. Tika mengeluarkan air mata dari dalam hatinya. Tangan Tika meremas meja di depannya. Tubuhnya limbung tak bertulang. Dengan kedua telinganya, dia mendengar Agam akan melepaskan tangannya.
"Agam, kamu serius dengan perkataanmu. Akhirnya kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Bunda senang jika setelah mengembalikan Tika. Kamu langsung meminang Salwa. Jadikan dia istrimu, ibu dari anak-anakmu!" ujar bunda Fatma bahagia, lagi dan lagi Tika mendengar kenyataan yang menyakitkan. Bukan hanya akan kehilangan Agam. Orang tua Tika ingin dia pergi meninggalkan buah hati yang dia perjuangkan. Air mata Tika sudah tak mampu lagi terbendung. Cadar yang dipakainya sudah basah oleh air mata. Bukan hanya kedua matanya yang menangis, hatinya juga ikut menangis. Kebencian orang tuanya mengalahkan cintanya.
__ADS_1
"Bunda, mungkin aku melepas Tika. Namun selamanya aku tidak akan menikah dengan wanita lain. Dengan aku mengembalikan Tika pada orang tuanya. Aku telah menghancurkan hati Tika dan kedua buah hatiku. Jadi dengan alasan yang sama, aku akan menutup diri dari wanita manapun. Aku tidak akan menikah dengan Salwa. Cintaku dengannya sudah berakhir setelah malam perpisahan itu!" ujar Agam lirih, Salwa menunduk penuh sesal Bukan Agam yang meninggalkan Salwa. Namun Salwa pergi tanpa pamit pada Agam. Meniggalkan Agam dengan hati hang terluka.
"Lalu jika kamu memang tidak ingin menikah dengan Salwa. Lalu untuk apa kamu melepas Tika. Sejujurnya aku akan sulit menerima Tika, tapi dia melahirkan cucu-cucuku!" ujar bunda Fatma, Agam menggeleng lemah. Tak pernah dia berlikir, terbuat dari apa hati orang tuanya? Sampai tidak pernah melihat kebahagaian putranya. Entah apa yang pernah dilakukan Tika? Sehingga orang tuanya begitu membencinya. Tika bukan wanita sembarangan, terlahir dari keluarga yang mampu. Agam tak pernah mengerti Alasan dibalik kebencian orang tuanya akan Tika.
"Aku akan mengembalikan Tika pada orang tuanya. Mereka sudah mengatakan, aku bisa mengembalikan Tika. Jika memang aku sudah tak mampu lagi melindunginya. Tika dan kedua putraku akan kembali hidup dalam keluarga Anggara. Takkan lagi ada hak untuk kalian memanggil si kembar. Mereka bukan cucu kalian lagi, mereka cucu keluarga Anggara!" ujar Agam, Kedua orang tua Agam menggeleng tak mengerti. Agam sudah memutuskan akan melupakan Tika dan hidup dalam penyesalan.
"Agam, kamu melantur! Sampai kapanpun mereka keturunan keluarga kita. Tidak ada hakmu melarang mereka menjauh dari kami. Lagipula untuk apa ada pernikahan bila tanpa ada keturunan? Kamu tidak akan menikah dengan Salwa, jadi belum tentu kamu akan memberikan kami cucu. Kecuali kamu menikah dengan Salwa, kami siap melupakan putra-putramu dengan Tika!" ujar bunda Fatma, Agam menggeleng lemah. Hati orang tuanya dipenuhi rasa benci tak beralasan. Hanya karena sikap angkuh mengakui kelebihan Tika. Mereka membenci Tika sampai sebegitu dalamnya.
"Salwa, bersediakah kamu menikah dengan Agam. Kamu akan menjadi menantu satu-satunya keluarga kami!" ujar Ilham, Salwa membisu mematung. Dia bimbang ingin mengatakan iya. Tuntutan untuk memiliki keturunan, hal yang sangat mustahil bila pernikahannya tanpa cinta. Sedangkan secara nyata Tika jauh lebih sempurna dari diriya. Salwa tidak lagi berharap bisa bersama dengan Agam.
"Kalian sungguh orang tua yang sangat kejam. Ayah dan ibu lebih rela aku menikah dengan orang yang pernah meninggalkanku hanya untuk sebuah karir. Sebaliknya kalian begitu tidak suka melihatku bahagia bersama keluarga kecilku. Tika istri yang tak pernah meninggikan suaranya di depanku. Dia selalu diam, saat aku melukainya dengan membawa dua wanita dalam rumah tangga kami. Tika seorang menantu yang selalu menunduk menghormati kalian. Meski kalian datang membawa belati tajam, seakan ingin membunuhnya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar dia mengeluh tentang kalian. Semua itu alasan aku ingin meninggalkannya, aku tak sanggup lagi melihatnya terluka. Tika berhak bahagia tanpa pecundang sepertiku!" ujar Agam sembari menunduk. Tika mendengar semua perkataan Agam. Tak ada lagi yang mampu dipertahankan. Pondasi rumah tangganya telah hancur. Takkan lagi ada sebuah kata harmonis dalam rumah tangga yang sudah berakhir.
"Aku tidak pernah merasa mereka merendahkanku. Mereka menghargaiku layaknya seorang putra. Sebaliknya kalian yang menganggap Tika seperti musuh. Jika dalam dunia bisnis, papa Dimas dan bunda Nissa tidak akan pernah membedakan. Mereka menganggap kami semua sama. Jika kami layak dihargai, mereka akan menghargai. Takkan ada yang lebih istimewa meski dia menantu keluarga Anggara!"
"Setidaknya mereka akan menjadikanmu pemimpin dalam setiap proyek tanpa seleksi. Mereka menyeleksimu seolah, kamu tak layak mengerjakannya!" ujar Ilaham.
"Sudahlah tidak ada gunanya perdebatan ini. Selamanya kalian akan menganggap keluarga Anggara buruk. Sebab hati kalian dipenuhi rasa iri dan dengki. Sekali lagi Agam akan mengatakan, jika kelak Tika kembali pada orang tuanya. Kalian tidak akan punya hak memanggil kedua putraku sebagai cucu. Sepenuhnya mereka milik Tika, buah hati yang diperjuangkan Tika dengan bertaruh nyawa. Jika kalian berharap masih bisa menganggap putraku sebagai cucu kalian. Bawa pulang Salwa dari rumahku. Jangan pernah lagi meragukan kebahagianku!" ujar Agam lirih, Salwa menunduk merasa tak berdaya. Ada cinta yang kuat untuk Agam, tapi ada keraguan untuk tetap bertahan. Kedua orang tua Agam menunduk bimbang.
"Aku yang akan memilih jalan hidupku bukan kalian!" ujar Tika berdiri tepat disamping Agam dan keluarganya. Mereka menoleh secara bersamaan. Terlihat wanita menggunakan cadar berdiri di samping mereka. Seketika Tika melepas cadar yang dipakainya.
__ADS_1
"Tika!" panggil mereka serentak. Agam langsung menunduk melihat wanita yang dicintainya berdiri tepat disampingnya.
"Bukan kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Aku sendiri yang akan memilih jalan untukku dan kedua putraku. Ini cincin yang tersemat dijariku. Detik ini aku melepasny, aku melepas ikatan yang ada diantara kita. Sudah cukup aku diam mendengarkan hinaan keluargamu padaku. Selama ini aku diam, berharap kelak hati mereka terketuk menerima sepenuhnya diriku. Namun hari ini aku mendengar jelas, bukan hanya mereka menolakku tapi mereka meragukan keluargaku. Aku akan diam bila itu menyangkut diriku. Namun aku akan terluka bila keluargaku terhina. Papa melepas tanganku untuk bersamamu, untuk bahagia bukan terhina dan membuat mereka hina. Mas Agam maaf, jika aku harus menjadi istri durhaka. Tak lagi aku bisa mengharapkan sebuah surga, bila surgaku harus menjauh dari surganya. Aku ikhlas melepasmu, melepas harum surgaku. Semoga kamu bahagia!" ujar Tika lirih.
"Mbak Salwa, semoga mbak bahagia bersama dengan mas Agam. Aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan kata selamat. Undanglah aku dalam pesta pernikahanmu. Aku berdoa semoga lukaku, tak menjadi lukamu!"
"Ayah dan bunda, mungkin ini terakhir kali aku memanggil kalian. Namun sebelum kalian semakin membenci keluargaku. Ada yang harus kalian ketahui. Papa dan bunda tidak pernah menganggap mas Agam bawahan. Sebab mas Agam tidak bekerja pada mereka, mas Agam rekan kerja layaknya orang lain. Semua itu bentuk menghargai, kerena tanggungjawab mas Agam padaku. Tak pernah mereka memberikan sesuatu pada mas Agam untuk hidupku. Orang tuaku selalu percaya keringat mas Agam mampu membahagiakanku dan melindungiku. Semenjak aku menikah dengan putramu, mereka tak pernah menganggap aku putrinya. Tak pernah sepeserpun mereka memberiku uang, jika kelak akan membuat suamiku hina. Tak pernah mereka menyalahkan kala melihat air mataku. Sepenuhnya mereka percaya mas Agam mampu menjadi imamku. Kini nyata terdengar oleh telingaku, betapa hinanya mereka di depanmu. Sebagai seorang istri aku harus aku bisa diam, tapi sebagai seorang anak aku akan berontak. Semoga kalian bahagia atas pernikahan mas Agam dan Salwa!" tutur Tika, orang tua Agam menunduk. Tak ada lagi yang mampu mereka katakan. Tika pergi meninggalkan orang-orang yang seakan menyalahkan statusnya. Meninggalkan hati yang sudah terluka.
"Sayang, haruskah semua ini terjadi!" ujar Agam lirih, Tika menoleh.
"Kamu sudah membuat keputusan, aku juga telah mengambil keputusan. Satu niat sudah terucap, takkan lagi mampu untuk disatukan. Kamu memintaku dengan baik-baik, maka kembalikan diriku dengan baik pula. Aku akan pulang mengemas semua barangku. Aku tidak akan membawa harta yang kamu miliki. Bukan ingin menghinamu, aku merasa tak pantas lagi memilikinya!"
"Tika!" sapa Rayhan, Tika menoleh. Dia menghampiri Rayhan, mengisyaratkan dia untuk ikut dengan Tika.
"Aku pulang, assalammualaikum!" ujar Tika ramah tanpa lagi menoleh.
"Kalian menang, kalian berhasil menandatangani surat kehancuran putramu!" ujar Agam dingin.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊